Takdirku Bersama Denganmu

Takdirku Bersama Denganmu
Bab 21


__ADS_3

Episode 21


Dinda Pov


Aku keluar dari ruangan dan melihat Rafa sedang memilih beberapa pakaian.


"Ini pasti akan cocok untuk Dinda." ucap Rafa saat dia memilih lebih banyak pakian yang berjejer di depannya.


"Aku harus mengatakan kalau ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang pria senang membeli pakaian untuk istrinya." Vera berkata kepada Rafa.


"Tentu saja seorang pria harus senang jika membelikan beberapa pakaian baru untuk istrinya," balas Rafa dengan senyum di bibirnya.


"Tidak semua orang Tuan, Anda berbeda dan saya harap Anda akan terus memperlakukan istri Anda seperti sekarang ini," sahut Vera.


"Benar kah?" Tanya Rafa ketika dia memilih lebih banyak pakaian dari rak.


"Tentu saja" jawab Vera tanpa ragu.


Melihat perbincangan kecil ini membuatku berubah pikiran tentang apa yang akan aku katakan kepada Rafa. Kita telah setuju untuk memulai semuanya dari awal dan jika aku pergi meninggalkannya sekarang, itu hanya akan menciptakan lebih banyak masalah bagi kita, pikirku.


"Dan Vera apakah kamu tahu hadiah apa yang bisa aku dapatkan," aku mendengar Rafa bertanya lagi pada Vera.


"Apa untuk istrimu?" Vera menjawabnya dengan pertanyaan juga.


"Ya, kamu tahu sejak aku menikahinya, aku belum memberikan hadiah untuknya," balas Rafa dan karena itu Rafa membawaku ke sini untuk membelikanku gaun, dan aku merasa tersentuh.


Seperti yang dikatakan Vera, seorang pria hampir tidak pergi berbelanja dengan istrinya tetapi Rafa berbeda, dia telah membawaku ke sini dan dia juga memilih sendiri pakaian untukku, bahkan dia sekarang ingin memberiku hadiah lain.


"Menurut Anda apa yang dia butuhkan, Tuan," Vera bertanya kepada Rafa. Rafa diam sejenak seperti memikirkan sesuatu.


"Dulu aku menabraknya dan laptopnya jatuh bahkan rusak, padahal laptop itu dia gunakan untuk presentasi, aku ingat dia berharap laptopnya bisa hidup, dia telah memukul - mukul laptop itu berulang kali yang membuatku bertanya -tanya apakah itu salahku"


"Tentu saja itu salahmu Rafa" gerutuku dalam hati saat terus mendengarkan percakapan mereka.


"Haruskah aku membelikan laptop yang baru?" Rafa bertanya kepada Vera.


"Tidak! Gadis -gadis tidak peduli dengan hal semacam itu, Tuan, saya sarankan Anda memberinya kalung, cincin atau hal yang wanita sukai," jawab Vera memberi saran.


"Aku akan lebih suka laptop baru daripada cincin atau kalung mahal" sahutku dalam hati.


"Kamu benar dan terima kasih atas saranmu, aku akan mencoba untuk membelikan istriku sesuatu yang sesuai dengan keinginannya," sahut Rafa bersemangat.


"Biarkan aku pergi dan memeriksa kondisi istriku," tambah Rafa dan dengan cepat aku berlari kembali ke ruang istirahat, aku pura - pura bersandar sebelum Vera tiba.


"Apakah kamu sekarang sudah merasa baik?" Raka bertanya ketika dia berjalan masuk dan aku mengangguk dengan lembut.


Aku berdiri untuk pergi tetapi dia menghentikanku dengan cepat Rafa menarikku kembali dan memegang kedua tanganku.


"Apakah benar sudah baik - baik saja, setelah


belanja selesai, kita akan meninggalkan tempat ini," timpal Vera lalu aku mengangguk dan tersentuh oleh perhatian Rafa yang dia berikan untukku.


Ini adalah pertama kalinya aku melihat sisi lembut dari Rafa dan aku tidak akan menyangkal bahwa aku sangat menyukainya, hidup akan lebih baik jika dia selalu bersikap seperti ini padaku. Setelah selesai belanja kita bersama -sama keluar dari butik.


"Mengapa kita tidak melihat pemandangan dengan berjalan kaki," tanyaku pada Rafa.


"Kamu ingin jalan -jalan," Rafa membalik pertanyaan.

__ADS_1


"Ya, apakah itu berbahaya?" Tanyaku dengan cemas.


"Tidak, jika kita tidak bertemu dengan wanita gila tadi, maka tidak akan ada bahaya," jawab Rafa menenangkan.


"Bagus kalau begitu". sahutku senang.


Sementara Rafa sedang menyuruh sopirnya, aku berdiri melihat pemandangan sekitarnya. Saat itu aku melihat seorang anak laki -laki, dia terlihat kotor dan lusuh. Dia berlari ke arah mobil, memohon uang, aku merasa hatiku kasihan pada anak kecil itu dan yang paling menyakitkan adalah orang yang dia mohon, mendorongnya dan kemudian mengendarai mobilnya melaju pergi. Dengan cepat aku berlari ke anak kecil itu dan membantunya berdiri.


"Apakah kamu baik -baik saja nak?" Tanyaku lembut saat aku membersihkan tubuhnya yang kotor dengan saputangan.


"Ya," jawab anak itu singkat sambil mencoba menahan air matanya yang menggenang di pelupuk mata.


"Apa yang terjadi," sela Rafa saat dia datang ke arah kami.


"Dia telah meminta uang dan didorong oleh orang di dalam mobil," jelasku pada Rafa.


"Tapi mengapa dia meminta?" Rafa bertanya kebingungan.


"Untuk ibuku, dia sakit sekarang dan karena dia tidak punya pekerjaan, dia tinggal di rumah merawat dirinya sendiri, tetapi dia tidak sembuh tapi semakin memburuk," ucap anak itu sambil menangis keras.


"Mengapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit, tagihan gratis untuk kamu yang tidak bisa membayar," potong Rafa cepat.


"Aku memang sudah pergi ke rumah sakit tetapi mereka memberi tahuku kalau tagihannya sudah banyak jadi tidak boleh kesana lagi," balas anak kecil itu dengan air mata yang mengalir deras.


"Tapi itu tidak mungkin, Rumah Sakit Pulau Kain selalu bebas untuk penggunaan orang -orang yang tidak mampu yang tinggal di pulau ini," jawab Rafa memberi penjelasan.


"Itu bohong, semuanya telah berubah, pria yang bernama Rafa Arya Baskara sudah mengubah aturan itu," seru anak itu dengan brapi - api dan aku menatap Rafa.


"Mengapa kamu mengatakan itu?" Tanyaku penasaran.


"Dia adalah pemimpinnya namun mereka membiarkan orang miskin menderita, sejak ibuku kehilangan pekerjaannya, kami telah menderita, ibuku dan yang lain yang menderita karena kehilangan pekerjaan, mereka menulis surat untuk Rafa Arya Baskara ini tetapi dia tidak pernah membalasnya, kami menunggu berbulan -bulan dan ketika tidak ada tanggapan kami semua menyerah," paparnya dengan sedih.


"Martin cepat ke sini, ibumu, ini ibumu!" Kata seorang wanita sambil berteriak untuk anak kecil itu.


"Biarkan aku pergi," timpal anak kecil itu lalu dia berlari setelah wanita itu pergi dan aku mengejarnya juga.


Aku tidak tahu mengapabisa begini tetapi yang aku tahu adalah aku harus membantu anak kecil itu, bahkan panggilan Rafa tidak dapat menghentikanku.


Kami sampai di rumah kecil dan aku berhenti ketika aku melihat ibu anak itu di tempat tidur, tampak sangat pucat dan hampir tak bernyawa.


"Mommy tolong tetap kuat! Aku akan mendapatkan uang untukmu," kata Martin saat dia berlutut di depannya.


"Tolong ....rawat .... ........ Anak ini" kata wanita yang sakit itu melihat wanita yang datang untuk memanggil Martin sebelumnya.


"Tidak Citra kamu yang akan merawat anakmu ini," jawab wanita itu memegang tangan Citra.


"Bagaimana dia bisa sakit seperti ini?" aku memberanikan diri untuk bertanya pada wanita tadi.


"Sejak kami kehilangan pekerjaan, kami merasa sulit untuk mengatasinya dan kemudian Citra terkena flu ini dan karena sistem rumah sakit berubah dan kami tidak memiliki uang untuk membayar mereka, kami mulai tidak mendapatkan obat apa pun pada saat itu tapi dia tidak pernah sembuh dan itu hanya membuatnya lebih buruk, " jawab wanita itu.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit," ujarku cepat.


"Tapi biayanya sangat mahal, kami tidak mampu membayarnya," balas wanita itu.


"Ini lebih baik daripada dia semakin parah," seruku dan beberapa pria yang masuk dan dilihat dari pakaian itu, mereka adalah paramedis.


Dengan cepat mereka mengambil alih, membawa wanita yang sakit dan menempatkannya dengan aman di ambulans dengan wanita dan Martin bersamanya.

__ADS_1


"Bawa dia ke rumah sakit dan beri tahu manajemen di sana bahwa dia dikirim oleh saya," ucap Rafa menangani situasi ini dengan cepat. Begitu ambulans pergi, dia berbalik untuk menatapku.


"Kamu seharusnya tidak lari seperti itu," tegur Rafa, aku hanya bisa diam dan menunduk.


"Maaf, aku hanya kasihan pada Martin," jawabku takut - takut.


"Dia akan baik -baik saja sekarang dan aku yakin kalau dia dapat ditangani pada orang yang tepat juga ibunya akan baik -baik saja," balas Rafa panjang lebar.


"Tapi Rafa ini adalah masalah yang serius, mengapa ada orang miskin di sebuah pulau di mana ada cukup pekerjaan," aku bertanya dengan bingung.


"Itu salah satu alasan mengapa aku kembali kesini Dinda," jawab Rafa memberi tahuku alasannya dia kembali ke pulau ini.


"Perusahaan kami di sini menderita kebangkrutan, kami masih berusaha mencari tahu apa yang menyebabkannya, kebangkrutan telah membuat banyak orang menganggur," jelas Rafa dengan raut wajah sedih.


"Aku bisa memahami bagian itu tetapi bagaimana dengan rumah sakit gratis berubah menjadi swasta di mana orang miskin harus membayar sebelum dirawat"


"Yah, itu sesuatu yang harus aku tanyakan kepada Mama Bella," jawab Rafa terlihat sangat marah.


"Katakan padaku apa yang akan kamu lakukan untuk membantu orang miskin ini?" Tanyaku penasaran.


"Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk saat ini, kita masih memiliki jalan panjang," balas Rafa.


"Bagaimana dengan apa yang aku katakan tadi," cecarku


"Apa?"


"Tentang Hotel, jika kita bisa membukanya kembali maka itu akan membuka pintu pekerjaan bagi orang -orang ini, mereka akan dapat bekerja dan mendukung keluarga mereka," ucapku dengan penuh semangat.


"Aku sudah memberitahumu bukan! Kami tidak akan pernah melakukan itu, aku akan mencari cara lain," seru Rafa dan dia berjalan pergi dengan marah.


Kami kembali ke mansion dan bertemu kedua orang tuan Rafa di ruang keluarga. Ekspresi Mama Bella masih membuatku merasa tidak disukai tetapi senyum ayahnya membuatku merasa lebih baik.


"Aku senang melihatmu di sini Bu!" Kata Rafa.


"Apa yang terjadi! Sepertinya kamu akan menanyaiku," tembak Mama Bella dengan benar.


"Mengapa Mama mengubah kebijakan rumah sakit, Mama tahu betul bahwa itu dimaksudkan untuk bebas biaya untuk rakyat kecil," sahut Rafa to the poin.


"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" Tanyanya dengan terkejut.


"Apakah Mama menyembunyikan hal ini untuk aku tahu?" Rafa bertanya dengan datar dan Mama Bella tidak menjawab pertanyaan Rafa lalu Rafa melanjutkan ucapannya.


"Karena Mama, orang sakit yang miskin lebih suka tinggal di rumah dan menyembuhkan diri mereka sendiri daripada pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang tepat, aku tahu bahwa ada masalah di tanah itu tetapi itu tidak berarti kita harus membiarkan orang -orang Pulau ini menderita untuk itu,"


"Lakukan sesuatu untuk menghentikan kebangkrutan ini," sela ayah Leo.


"Aku sudah memberikannya semua yang ayah butuhkan" jawab Rafa.


"Itu tidak cukup, aku adalah orang yang meminta Mama kamu untuk mengubah kebijakan rumah sakit" potong ayah Leo cepat.


"Jadi ayah?" Rafa terkejut dengan pengakuan ayah Leo.


"Ya aku melakukannya dan itu karena kami tidak memiliki cukup banyak uang yang mengalir, aku tidak ingin mengganggumu dengan sesuatu yang sepele dan kamu meninggalkan pulau kota ini bahkan tidak ingin kembali untuk memeriksa perusahaan di sini, kami mengabaikan yang menyebabkan perusahaan jatuh sehingga kita harus menemukan cara untuk mendapatkannya kembali " jelas ayah Leo.


Cara satu -satunya di sana adalah apa yang disarankan untuk Rafa. Tapi dia terus menolak tetapi aku ragu apakah ayahnya akan menolak.


"Aku tahu cara yang bisa membuatmu keluar dari kebangkrutanmu," selaku kepada mereka dan ketiganya menatapku pada saat yang sama.

__ADS_1


T b c


Apa yang akan terjadi selanjutnya??? 🤔🤔🤔


__ADS_2