
Episode 59
Dinda POV
"Kamu, duduklah, aku hanya ingin menanyakan beberapa kata dengan kamu," ucap Tante Bella menepuk kursi yang ada di sebelahnya.
"Kurasa kita tidak ada lagi hal untuk dikatakan satu sama lain Tante," jawabku dingin.
"Sekarang bukan lagi Bu?" Balas Tante Bella lagi.
"Kamu bahkan tidak pantas untuk aku sebut dengan panggilan Ibu," sahutku lebih dingin lagi dan dengan sedikit emosi.
"Setelah mendapatkan ingatanmu, kamu menjadi lebih sombong," cibir Tante Bella.
"Kamu benar, sekarang aku tahu siapa musuhku dan siapa temanku," jawabku dengan tenang setelah aku berhasil memenangkan gejolak amarah yang ada di dalam hatiku saat mrendengar ucapan Tante Bella tadi.
"Yah jika kamu sudah tahu, aku harap kamu tidak menganggapku sebagai teman bukan?" Balas Tante Bella sambil menyeringai.
"Jangan khawatir, jika aku pernah memikirkanmu dengan hal itu, itu akan menjadi sebaliknya," sahutku dengan senyum miring.
"Aku berharap begitu," ujar Tante Bella sinis.
"Oke kembali ke pembicaraan tadi, mengapa kamu tidak memberi tahuku hal -hal yang sudah kamu ingat" cecar Tante Bella kembali mengulang pertanyaan yang sama.
"Aku yakin putramu pasti sudah memberitahumu tentang hal itu mengapa kamu di sini untuk menggangguku?" ketusku.
"Aku hanya ingin tahu seberapa banyak kamu ingat sehingga aku dapat memberi tahumu hal -hal yang tidak kamu ingat, seperti misalnya bagaimana anakku merencanakan dengan ayahnya untuk menyingkirkan kamu dan ibumu," ucap Tante Bella dengan senyum menjengkelkan.
"Apa kamu ingin tahu lebih banyak lagi? Kalau begitu, beri tahu aku hal -hal yang audah kamu ingay," sambungnya lagi dan karena aku ingin tahu apa yang direncanakan Rafa dengan ayahnya, aku pu memberi tahu Tante Bella setiap hal yang audah aku ingat.
"Benarkah hanya itu saja yang sudah kau ingat?" Tanya Tante Bella dengan mata memicing dan aku mengangguk dengan pelan.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku apa yang direncanakan Rafa dan ayahnya melawan ibuku dan aku," geramku.
"Saat di hari ibumu telah diberi racun ..."
"Dan kamu yang telah meracuninyakan!" sambungku dengan cepat dan Tante Bella menatapku dengan tatapan yang begitu aneh menurutku.
"Atas perintah siapa, apakah menurutmu aku hanya akan membunuh seseorang tanpa mendapatkan izin dari pamanmu?" Tante Bella berteriak padaku.
"Jadi kamu melakukannya di bawah perintahnya, kan?" Tanyaku dengan menggertakkan gigi.
"Tentu saja aku melakukannya karena dia yanh memintaku, dia sangat cemburu dan marah karena ibumu tidak bisa mencintainya seperti yang dia inginkan, dia juga sangat marah ketika ibumu kembali bersamamu, usahanya untuk merayu lagi gagal karena dia tidak ingin ada hubungannya dengan dia, jadi dia memintaku untuk menyelesaikan hal itu sesegera mungkin," balas Tante Bella dengan santainya.
"Apa hubungan Rafa dengan semua ini?"
"Menurutmu siapa yang meminta aku untuk menyingkirkanmu?" Tante Bella membalikkan pertanyaanku.
"Rafa?" Aku bertanya merasa terluka.
"Ya, Rafa memintaku untuk melakukannya, dia merasa bersalah dan dia ingin kamu segera keluar dari hidupnya, dia bilang dia sangat begitu benci saat melihatmu dan maka dari itu aku harus menyingkirkanmu dan aku tidak bisa menolak tawaran putraku itu dan jadi aku melakukannya itu," Terang Tante Bella dan hal itu membuatku begitu syok.
"Dia tahu kamu masih hidup, itulah sebabnya dia datang kepadamu, dari semua wanita yang bisa dia pilih untuk berpura -pura menjadi istrinya, dia memilihmu," sambung Tante Bella saat aku masih terdiam.
"Apakah kamu tahu kenapa?" Tanyaku saat aku sudah menguasai rasa terkejutku.
__ADS_1
"Dia melakukannya untuk melindungiku, dia ingin kamu berada di sekitarnya, sehingga dia akan tahu setiap gerakanmu, dia ingin tahu jika kamu ingat dan rencananya adalah membuatmu jatuh cinta padanya, sehingga ketika kamu melakukannya kamu tidak akan mengirimku ke penjara karena apa yang kamu rasakan untuknya," jawab Tante Bella dengan senyum penuh kemenangan.
"Kamu tahu apa yang kamu katakan adalah menempatkan kamu dalam bahaya," aku bertanya dan hal berikutnya yang dia lakukan mengejutkanku. Tante Bella berlutut di lantai dan menatapku, "Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku dengan mata membola.
"Alasan utama mengapa kamu datang adalah untuk meminta pengampunan darimu dan juga untuk memohon padamu agar kamu mau memaafkan Rafa, dia masih muda dan bodoh dan dia tidak pernah tahu benar dari kesalahan?" jawab Tante Bella dengan lirih.
"Dia tahu apa yang benar Tante Bella tetapi dia masih melakukan hal yang salah, kamu telah membuka mataku pada beberapa kebenaran, suamimu membunuh ibuku dan Rafa ingin aku mati," sahutku dengan nada penuh penekanan.
"Tolong jangan katakan seperti itu Dinda," jawab Tante Bella dengan cepat.
"Cara lain mana yang Tante ingin aku katakan, kamu sudah merusak kehidupan dua orang," seruku penuh amarah.
"Aku tahu dan menyesal itulah sebabnya datang dengan solusi," sambung Tante Bella.
"Solusi?" aku mengernyikan dahi.
"Rafa membuatmu tidak pergi, aku bisa membantumu," ujar Tante Bella dengan penuh keyakinan.
"Kamu bisa membantuku?" aku bertanya penasaran.
"Aku dapat membantu kamu pergi dan aku juga dapat membantu kamu bersembunyi darinya, aku tahu sekarang kalau kamu membencinya dan karena apa yang kamu derita di tangannya, kamu tidak ingin melihatnya atau dekat dengannya" Tante Bella berkata lagi.
"Mengapa kamu ingin membantuku?" aku bertanya penuh curiga.
"Untuk menyingkirkan diriku dari apa yang aku lakukan dan juga untuk menjaga Rafa dan suamiku dari kamu, apakah kamu percaya atau tidak, mereka akan mencoba menyakiti kamu untuk kedua kalinya," jawab Tante Bella dengan penuh keyakinan.
"Beri aku kesempatan Dinda," sambung Tante Bella lagi dan aku tidak bisa menjawabnya karena pintu terbuka dan seseorang masuk dengan tergesa - gesa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rafa saat dia sudah masuk ke dalam kamar. Tante Bella berdiri dan berbisik ke telingaku.
"Aku baru saja mengajukan pertanyaan, mengapa Mama berlutut di depan istriku," Rafa bertanyaku.
"Aku datang untuk meminta maaf kepada Dinda, apa yang kamu lihat sebelumnya adalah aku meminta maaf kepadanya," Tante Bella memberi penjelasan pada Rafa.
"Apakah seperti itu Dinda?" Tanya Rafa saat menatapku.
"Aku tidak berpikir kami berhutang penjelasan kepadamu," jawabku dengan angkuh.
"Bisakah kamu meninggalkan kami sendirian, Mama," ujar Rafa kepada Tante Bella.
Aku tidak ingin berada satu ruangan dengan Rafa, aku menatap Tante Bella, tetapi dia tidak melihat ke arahku karena dia sudah berjalan keluar dari kamar.
"Apa yang Mama lakukan denganmu? Kupikir aku menyuruhmu menjauh darinya?" ucap Rafa saat Tante Bella sudah tak terlihat lagi.
"Salah! Bukan dia, aku harus menjauh dari kamu," jawabku dingin.
"Dinda?" Rafa memanggil dengan lembut.
"Jangan panggil namaku! Kembalikan pasporku dan biarkan aku pergi, aku ingin meninggalkan tempat ini Rafa, aku ingin keluar dari tempat ini," aku berteriak padanya.
"Aku tidak berpikir itu akan mungkin, selain memikirkan keselamatan kamu juga memikirkan diriku sendiri," balas Rafa.
"Apa yang kamu maksud dengan itu?" Tanyaku ketus.
"Apa artinya aku tidak ingin kamu pergi, sebenarnya aku tidak pernah ingin kamu pergi dan selama aku tidak bisa melakukannya, aku akan membuatmu tetap di pulau ini untuk selamanya," jawab Rafa dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku Rafa!" seruku merasa marah.
"Kenapa aku tidak bisa? kamu adalah istriku dan orang tuamu telah memberikan dukungan mereka, kamu sudah menjadi milikku dalam segala hal dan aku memiliki setiap hak atas dirimu, aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan tempat ini dan itu adalah final" Rafa berucap dengan tegas.
"Kamu melakukan ini hanya akan membuatku lebih membencimu," raungku.
"Benci aku sebanyak yang kamu bisa, aku berharap suatu hari, cintamu akan kembali dan kita akan kembali ke cara kita sebelumnya," balas Rafa dan dia mulai keluar dari kamar.
"Itu tidak akan pernah terjadi Rafa, tidak akan pernah!" Teriakku ketika Rafa hendak menutup pintu.
Rafa POV
Segera setelah aku meninggalkan kamar, aku pergi mencari Mama Bella dan aku menemukannya di teras. Dia tampak senang dan bahagia seperti orang yang baru saja mendapatkan undian berhadiah.
"Apa yang kamu lakukan dengan Dinda?" Tanyaku langsung tanpa basa - basi.
"Apa yang kamu maksud dengan apa? Bukankah Mama sudah menjelaskan," jawab Mama Bella dengan seulas senyum.
"Berhenti dengan omong kosongmu Ma dan katakan padaku mengapa kamu bisa dekat dengan Dinda?" Aku berteriak padanya.
"Yah, aku hanya pergi untuk berbicara dengannya, aku pergi untuk meminta maaf padanya," balas Mama Bella santai.
"Kamu tidak akan melakukan itu jika kamu tidak merencanakan sesuatu, Dinda marah kepadaku dan sedikit dingin tetapi ketika Mama yang berbicara dengannya hari ini, dia menatapku seperti iblis, apa yang sudah Mama katakan kepada dia, Ma?," seruku.
"Kebenaran!" Mama Bella menjawab dengan senyum di wajahnya.
"Kebenaran apa?" balasku merasa frustasi.
"Kalau kamu dan ayahmu adalah dalang dari semua hal yang terjadi padanya dan ibunya," sahut Mama Bella dengan santai.
"Mengapa Mama melakukan hal seperti itu?" Aku berteriak pada Mama Bella yang menurutku sudah mulai gila.
"Untuk membuat kalian berdua melihat jika kamu tidak bisa begitu saja menyalahkanku, setiap hal yang aku lakukan saat itu adalah untuk kalian berdua tetapi kalian berdua tidak pernah menghargainya," teriak Mama Bella padaku.
"Kenapa kita harus membunuh ibunya Dinda! Membunuh adalah kejahatan yang sudah Mama lakukan," aku berseru tak kalah sengit dan beberapa saat Mama Bella menampar pipiku dengan keras.
"Aku telah membunuh hanya untuk menempatkan pikiranmu yang bermasalah dalam damai, Katakan padaku! Apakah kamu tidak bahagia ketika ibu Dinda meninggal?" Dia bertanya dan aku tidak bisa menjawab karena dia mengatakan yang sebenarnya.
Aku senang saat itu karena Siska telah meninggal dan tidak ada ancaman untukku akan dipenjara tetapi melihat kembali sekarang, aku telah menjadi pengecut saat itu tetapi tidak lagi," ucapku dengan penuh penyesalan.
"Sampai jumpa! kamu menyukai kenyataan jika aku menyingkirkan ancaman untukmu, jadi jangan datang ke sini menuduhku," teriak Mama Bella padaku.
"Baiklah, aku tidak akan menuduhmu lagi, yang aku inginkan darimu adalah meninggalkan Dinda sendirian," ucapku saat sudah meredam gejolak emosiku.
"Aku harus meninggalkannya sendirian?" Tanya Mama Bella.
"Ya "
"Aku ragu aku bisa melakukan itu sekarang, dia seperti mempercayai aku sekarang, apa pendapatmu tentang itu?" Mama Bella berkata dengan tersenyum aneh. Aku tahu saat itu dan di senyum Mama Bella sudah merencanakan sesuatu dan aku harus tahu apa itu sebelum semuanya terlambat.
T b c 👇
Akankah Dinda Menerima Penawaran Mama Bella 🤔
Apa yang kalian pikirkan tentang rencana Mama Bella 🤔
__ADS_1