
Episode 10
Rafa POV
Aku duduk di pesawat tetap diam, aku tidak tahu harus mulai dari mana dalam menjelaskan kepada Dinda tentang tempatku dibesarkan, di suatu tempat yang telah membawaku begitu banyak rasa sakit dan juga kesedihan yang tak berujung.
Aku sudah lama tidak kembali ke pulau itu karena Mama yang terus saja mendorongku untuk menikahi Ivanka dan juga karena hal -hal yang aku lakukan harus melalui pulau itu.
Hal -hal yang aku tahu jika dibiarkan, itu akan menghancurkanku untuk selamanya.
Tetapi aku tidak punya pilihan lain sekarang, aku harus kembali untuk mendapatkan perusahaan lagi dan juga menjelaskan kepada Mama bahwa aku tidak akan bisa menikah dengan Ivanka.
"Aku menunggumu untuk bercerita," kata Dinda, menyentakku kembali ke kenyataan.
Aku berharap dia tidak begitu tertarik mengetahui ke mana dia akan pergi tetapi setelah mengikutinya beberapa hari kemarin aku tahu jika Dinda wanita yang cerdas, dia tidak akan menyerah sampai dia tahu ke mana aku akan membawa pergi.
"Nama pulaunya adalah Kain," jawabku lembut.
"Kain! Mengapa sebuah pulau bernama Kain?" Dinda membalas dengan sedikit bingung.
"Aku juga tidak tahu, itu telah disebut seperti itu selama beberapa generasi dan ketika ayah tiriku mengambil alih, dia tidak diizinkan untuk mengubah nama" sahutku lembut.
"Apakah pulau itu sangat indah," Dinda bertanya lagi dan untuk kedua kalinya aku melihat senyumnya, senyum yang begitu indah dan memancarkan aura kecantikannya yang alami tanpa rekayasa.
"Ya, pulau itu sangat indah," jawabku spontan.
"Aku berharap dapat melihat pulau yang indah ini," Aku berharap bisa betah tinggal disana.
"Bagaimana dengan mengenal orang tuaku, ingatlah bahwa kamu ........."
"Pergi ke sana untuk meyakinkan mereka tentang pernikahan kita dan juga bagi mereka untuk percaya bahwa kamu menikah denganku karena kamu jatuh cinta denganku, aku tahu kamu tidak harus memberi tahuku setiap saat" Dita menyelesaikan ucapanku.
"Aku senang kamu sudah tahu, ayah tiriku adalah pria yang santai dan Mama ku adalah orang yang agak sulit untuk di dekati, kamu harus melakukan yang terbaik dalam menunjukkan kepadanya bahwa kamu benar -benar jatuh cinta padaku" Aku menjelaskannya.
"Dan mengapa itu hanya aku yang melakukan pekerjaan, mengapa kamu juga tidak bisa melakukan yang terbaik dalam menunjukkan kepadanya bahwa kamu sangat jatuh cinta padaku," Dinda membalik ucapanku.
"Wanita memang mudah terpancing emosi,
kamu hanya menunjukkan kepada orang tuaku dan Ivanka betapa kamu sangat mencintaiku,"
"Kamu tahu satu hal yang telah aku tahu tentang kamu yaitu kamu selalu membalik semua pertanyaanku padaku" seru Rafa frustasi mnghadapi Dinda yang dianggapnya begitu cerewet.
"Aku senang kamu mau mengenalku lebih dalam lagi," jawab Dinda dan dia juga memberi tatapan marah padaku.
"Apakah kamu masih ingin tahu lebih banyak tentang hidupku?" aku kembali mnanyakannya.
"Aku tidak minat lagi, kamu bisa menyimpan semuanya untuk dirimu sendiri," balasnya lalu di bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Kamu mau pergi kemana?" aku bertanya pada Dinda.
"Ke kamar, perjalanan ini akan jauh lebih baik jika aku tidak melihat atau berbicara dengan kamu," sahut Dinda dan berlalu pergi ke kamar tidur.
Aku menghela nafas ketika aku harus kembali melakukan pekerjaanku, aku berharap bahwa aku tidak bisa menyesali semua ini dan bahwa aku bisa menyelesaikan semua bisnisku di sana sebelum Dinda mengetahui hal -hal yang tidak seharusnya dia ketahui olehnya.
Dita Pov
Bergandengan tangan aku dan Rafa berjalan keluar dari pesawat.
Aku masih terhuyung -huyung saat turun dari pesawat karena jetlag, pesawat mendarat di helipad yang ada di atas cafe yang ada di pulau itu. Ini adalah pertama kalinya aku melihat
sebuah pulau yang dilengkapi fasilitas lengkap dan dimodernisasi.
"Apakah kamu menyukainya" Rafa bertanya ketika kita masuk ke mobil yang sudah menunggu kita.
"Harus aku akui, itu melampaui imajinasiku dan ini sangat indah seperti yang kamu katakan," jawabku menatap jalanan dan bangunan yang ada di luar jendela mobil.
"Ini hampir terlihat seperti kota kecil, sebagian besar pulau tidak terlihat seperti ini," ujarku pada Rafa.
"Ketika ayah tiriku mengambil alih, dia tidak ingin pulau itu hanya menjadi pulau, dia punya banyak harapan untuk itu, untuk membuatnya diketahui banyak orang karena itu dia mengubah pulau ini dan dia memang mewujudkannya," kata Rafa sambil tersenyum tipis.
"Dan sekarang kamu bertanggung jawab atas semua ini?" Tanyaku.
"Ya, aku sekarang bertanggung jawab atas segalanya, apa! Sekarang setelah kamu melihat kota asalku kenapa kamu tiba -tiba mengubah sikapmu padaku?" Rafa bertanya dengan menyelidik.
"Aku tegaskan sekali lagi Tuan , aku setuju untuk melakukan ini untuk menolong orang tuaku dan juga untuk membayar kembali uang yang sudah aku pinjam padamu, jadi yakinlah, aku tidak akan serakah pada uang yang kamu miliki, bahkan ketika aku masuk rumah sakit, aku tidak akan menerima uangmu, kamu sungguh brengsek!" ucapku dengan marah
"Seorang wanita pertama yang menolak uangku!" sahut Rafa dengan lembut.
"Kamu selalu menjadi wanita pertama yang selalu menolak semua yang aku miliki Dinda, kamu adalah satu - satunya perempuan yang menolak uangku?" Rafa kembali menambahkan.
"Dan kamu adalah pria pertama yang membuat aku berpikir bahwa semua pria menganggap semua perempuan itu sama, kamu lebih baik membuang jauh - jauh pikiran burukmu itu, dengan sikapmu yang selalu saja berpikir negativ seperti ini aku jadi ragu jika kamu akan mendapatkan seorang gadis yang akan mencintaimu apa adanya tanpa memandang siapa dirimu!" aku menyanggah ucapan Rafa yang selalu menilai perempuan itu matrealistis semua.
Untungnya kita berada di mobil yang ada penyekatnya jadi pengemudi tidak akan pernah mendengar percakapan antara aku dan Rafa.
"Dan apakah kamu yakin bahwa kamu tidak akan menjadi gadis yang matrealistis?" Rafa masih saja mencurigaiku dan bertanya begitu tiba -tiba dengan cepat aku menatapnya.
"Omong kosong apa yang kamu katakan," jawabku dengan suara yang meninggi.
"Aku senang kamu memberikan respon seperti itu," sahutnya tanpa melihat ke arahku.
"Kamu benar -benar begitu penuh dengan asumsimu sendiri, Nah, Tuan Rafa yang terhirmat, kamu bisa yakin bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu," seruku dan terus melihat pemandangan yang ada di balik jendela.
******************************************
Mobil itu berhenti dan aku tahu bahwa kita akhirnya sudah sampai di tujuan kita.
__ADS_1
Dia tidak langsung keluar dari mobil tapi dia masih saja tetap duduk dan menatapku.
"Ada apa?" ucapku ketus.
"Sebelum kita meninggalkan mobil ini, aku ingin memastikan bahwa kamu akan melakukan sandiwara ini dengan benar?" Rafa kembali mengingatkanku.
"Kamu sudah berulang kali bicara seperti itu, aku akan melakukannya dengan baik, yang harus kamu lakukan hanyalah memulainya dan aku akan mengikutinya," jawabku dengan malas.
"Itu bagus, sekarang mari kita mulai sandiwara pertama kita, '' sahut Rafa dan sebelum aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya, dia tiba - tiba saja menciumku.
Aku mencoba mendorongnya tetapi dia menarik tengkukku untuk memperdalam menciumannya menjadi lebih intim.
Dan kemudian dia melepaskanku dan aku mendorongnya pergi menjauh.
"Kenapa kamu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan? kamu selalu saja menciumku setiap ada kesempatan yang ada," sungutku kesal lalu aku menggosok - gosok bibirku yang sudah di cium oleh Rafa.
"Ini untuk dilihat keluargaku, jika kamu pergi ke rumah itu tampak seperti itu, mereka akan berpikir jika aku terlalu dingin terhadapmu dan semua orang tahu bahwa aku adalah pria berdarah dingin dan karena ada kesempatan maka akan aku lakukan dengan baik setiap kesempatan itu datang. Dan kamu akan menerimanya meskipun kamu membencinya," ujar Rafa lalu dia keluar dari mobilnya dengan tidak bersalah.
Aku menarik napas dalam -dalam dan tersenyum dan kemudian aku keluar dari mobil.
Hal pertama yang aku lihat adalah seberapa besar rumah itu, besar dan indah juga, pikirku saat aku terus menatap rumah yang ada di depanku.
Saat itu lengan Rafa merangkulku dan membawaku kembali ke kenyataan.
Aku melihat beberapa orang menunggu di dekat pintu untuk menyambut kita, beberapa adalah pelayan, aku bisa tahu dari seragam yang mereka kenakan dan kemudian ada dua wanita yang mengenakan pakaian yang begitu glamour berdiri menatap kita juga.
Yang satu sudah tua dan yang satu lagi masih muda yang terus melirik Rafa saat naik tangga.
Aku hanya menebak bahwa wanita tua itu adalah ibu Rafa sementara gadis muda itu adalah Ivanka, perempuan yang akan di nikahkan oleh Rafa.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi kecantikan gadis itu. Rafa sangat bodoh jika menolaknya, pikirku dalam hati merutuki kebodohan Rafa.
"Rafa sayang," kata Ivanka saat dia berlari ke arah kami dan sebelum Rafa menyadarinya, dia melompat ke arahnya lalu memeluknya denan erat.
"Aku sangat merindukanmu darl," ucap Ivanka dan tanpa aba - aba dia memberi Rafa ciuman dan aku begitu terkejut melihatnya.
Apakah dia mencoba menunjukkan kepadaku bahwa Raka adalah miliknya, jika saja dia tahu bahwa aku tidak terganggu oleh tindakannya itu.
Rafa dengan lembut menariknya pergi dan kemudian dia datang padaku lagi dan menggenggam tanganku.
"Halo Ma, Ivanka, aku ingin kalian berdua bertemu ..........."
"Dia tidak penting, aku yakin dia adalah seorang ****** yang mengikuti kamu di sini, jangan khawatir nak, segera setelah kamu selesai bermain - main dengannya, kamu bisa menikah dengan Ivanka di sini," kata Mama Rafa tanpa senyum di wajahnya.
"Itu tidak akan terjadi Mama karena gadis yang baru saja Mama katakan itu adalah istriku," jawab Rafa menjelaskan dan aku melihat mulut kedua wanita itu terbuka lebar karena terkejut.
T b c
__ADS_1
Bagaimana Ivanka dan Mama Rafa akan bereaksi 🤔🤔