
Malam semakin larut, tapi lampu kota tetap menyala menerangi tiap sudut jalan di kota ini.
Aku memandang jauh entah apa yang ku lamun kan hingga Aku sendiri tak dapat menjangkau bayangan itu...
Semoga besok Arti bisa ketemuan dengan ku, Aku ingin menceritakan semua tentang ku tiga hari bersama lelaki tua yang psikopat itu.
Aku terus saja terdiam tanpa kata hanya kesedihan yang ada dalam hati ku..
"Kia Kia Kiaaa?! Stephani membentak ku
"Ada apa Stephani?" apakah kau memanggilku?"
"Kau ini kenapa? apakah kau mau ke sambet Kunti lewat?" Stephani membuyarkan lamunanku.
Dengan memperlihat kan gaya nya dengan rambut yang di arahkan ke depan wajah nya dan ekpresi wajah menyeramkan.
"Tidak Stephani, Aku hanya bingung aku harus kerja kemana lagi karena Bu Tyas belum bisa membantu ku.
Mata Stephani melotot dan mulut nya menganga.
"Hah!" terus kamu itu ke sini ikut siapa? bukan kah ikut Bu Tyas?" tanya Stephani.
Aku bingung mau jawab apa, karna Aku memang ikut Bu Tyas tapi biaya sendiri jadi Bu Tyas hanya membantu carikan kerjaan.
"Iya sich, tapi kan Aku biaya sendiri step, jadi Bu Tyas hanya sekedar membantu ku cari kerja gitu." jawab ku dengan penjelasan yang panjang.
"Tapi..."
Belum sempat Stephani bicara lagi hp nya pun berdering...
"Hallo Bos, apa kabar? gimana gimana ada yang bisa Aku bantu?" tanya Stephani
Ku dengar kan Stephani bisa dengan seseorang yg di sebrang telepon, seperti nya bos nya. Kebetulan speaker volume nya di nyaring kan jadi aku bisa dengar.
"Aku minta tolong kamu Carikan karyawan Pub baru Aku di MJD City." kata Bos nya Stephani di ujung telpon sana.
Lho itu kan gak jauh tempat Arti kerja tapi sebelah mana ya. Kalau Stephani nanti betulan cari orang Aku mau daftar juga di Pub Bos nya Stephani.
"Baik Bos akan segera ku carikan, perlu berapa orang Bos? cari yang umur berapa, bebas aja ya yang penting yahuttt."
jawab Stephani mantap...
__ADS_1
Stephani tersenyum sambil mengedipkan mata nya pada ku seperti kode bahwa ada kerjaan yang menanti kami.
"Lu atur saja Phan yang penting body nya yang bagus ya dan jangan yang umur 35th ke atas, cari 4 orang aja dulu, masalah gaji nanti tunggu ketemuan aja."
Telepon pun selesai, kulihat Stephani memasukan kembali hand phone seluler nya ke saku nya, berjalan mendekati ku.
"Bagaimana Kia apa kamu mau? nanti Aku ikut juga kebetulan Roy juga lagi ke Singapura jadi Aku bebas." tanya Stephani pada ku penuh harap...
Roy adalah suami kontrak Stephani, tapi dia suami kontrak yang baik semua kebutuhan Stephani terpenuhi, dan dia sangat menyayangi Stephani tidak sepeti Anton yang jahat dan kejam.
"Aku mau banget step, tapi apa aku di terima kerja di Pub itu secara kamu tau kan Aku hanyalah seorang wanita yang sedang teraniaya. Aku takut aja Aku belum fokus." Jawab ku dengan mata tertutup merasakan kepedihan yang sangat dalam.
Stephani meraih tangan ku dan memeluk ku...
"Sudah lah Kia, Aku yakin kamu bisa melewati semua nya" sebenarnya apa sich yang membuat diri mu sampai terpuruk seperti ini?" Stephani bertanya sambil mengusap punggung ku dengan tulus.
"Besok aja step... sekarang kita tidur aja besok aku akan menemui Arti , Aku mau bercerita dengan nya.Kamu mau kan menemani ku?" Sambil melepaskan pelukan Stephani dan berjalan menuju tempat tidur.
***
Matahari mulai menampakkan sinar nya di balik tabir nya, walau belum sempurna sinar nya keluar dari peraduannya tapi nampak bercak cahaya yang dilukiskan sang pencipta nya di buku gambar besar yaitu langit biru.
Aku bangun dari ranjang sahabat ku yang sekarang aku tempati kost an nya, tapi...
di mana Stephani apa dia sudah bangun?
Aku berjalan keluar kamar dan mencari keberadaan an Stephani tapi sudah ku cari di setiap ruangan sampai ke kamar mandi tetap tidak ada, Kemana dia sepagi ini.
Tak lama suara drett pintu Terdengar seperti ada orang yang masuk tapi...
ada suara barang yang berjatuhan di depan dan suara pintu di banting siapa ya dan ada apa?
Akhirnya Aku langsung menuju ke arah suara itu dan...
"Stephani..step..kamu kenapa?"
Ku temukan Stephani yang terkulai lemas mungkin dia habis mabuk mabuk kan hingga tak sadarkan diri, tapi jam berapa dia pergi bukan kah semalam kami sama sama istirahat.
Tanpa berpikir lagi segera ku seret Stephani ke kamar dan ku buka baju nya dan ku ganti yang baru. Setelah itu Aku buat surat yang isi nya "Step maaf aku keluar dulu ya mau menemui Arti"
Surat ku selip kan di bawa piring, sengaja aku buat kan Stephani nasi goreng biar setelah dia sadar bisa makan dan segelas teh hangat.
__ADS_1
Kost an ku tidak jauh dari Kedai tempat Arti bekerja hanya beda blok dan lantai aja.
Dari jauh Aku lihat Arti sudah menyapu dan mengeluarkan meja dan kursi.
Arti dia seorang sahabat yang hanya ku kenal sebentar tapi membuat ku sangat nyaman dengan nya dia begitu welcome dan selalu bisa memberi solusi serta support buat ku.
Rambut nya yang sebahu, kulit nya yang kuning Langsat mata yang sipit serta hidung yang tidak begitu mancung tapi bila ia tersenyum tetap manis di pandang mata sambil menyelipkan rambut poni nya sedikit ikal di telinga kiri nya.
Aku berjalan kesana mendekati nya tapi aku tak mau menganggu nya kerja sepagi ini akhirnya aku pura - pura aja duduk biar bisa pesan minuman.
Arti mendekati ku dan langsung menyapa ku.
"Hai Kia pagi, tumben kamu pagi - pagi udah kesini" Tanya Arti pada ku dengan mengernyitkan kedua alis nya.
"Aku pengen cerita Arti, pengen curhat bisa?"
Arti terdiam sejenak , mungkin dia takut sama Majikan nya.
"Kalau gak bisa gak papa Arti" tukas ku, sambil menyembunyikan rasa kecewa ku.
"Baik lah, sebentar ya Aku ijin Aunty dulu"
jawab Arti dan masuk kedalam. Tak lama dia pun kembali keluar..
"Cerita lah Kia jika itu membuat mu lebih lega dan tenang, Aku yakin kau wanita kuat" Arti selalu memberikan support yang sangat ku sukai..
Belum sempat Aku bicara tapi mata ku sudah tak sanggup menahan tangis ku..
"Arti, kamu ingat kan pas terakhir kita berpisah di rumah Bu Tyas?" tanya ku pada Arti.
"Ya..ingat donk , pada saat itu aku hanya berharap semoga kau baik baik aja"
Arti menjawab ku dengan mata yang teduh dan seolah menunggu ku bercerita.
Ku tarik nafas yang dalam dan siap siap ingin menceritakan semua nya.
Tapi...
Bersambung
Seorang wanita memang lemah tapi dia tetap harus tegar walau terluka dan tersakiti...
__ADS_1