
"Arti besok kamu sudah kerja lagi ya, majikan kamu yang baru ini hanya tinggal berdua dan udah tua".
"Tapi.. "
"Tapi kenapa Bu?"
"Tapi, Kamu harus hati hati ya, dengan suami nyonya kamu itu, kalau ibu lihat seperti kurang baik cuma karna ibu lihat yang nyonya nya baik"
"Kalau Ibu sudah tahu di situ berbahaya kenapa saya harus ke situ Bu?"
"Karena Nyonya nya memaksa Ibu kata nya seminggu ini aja kita coba kalau memang tidak cocok boleh ambil balik, kata nya gitu Arti"
"Semoga aja semua baik baik aja ya Bu, Saya takut Bu Saya masih trauma dengan kejadian di rumah Aunty Helen"
"Semoga aja ya Arti, pokok nya nanti kamu telp Ibu ya misal nya Tauke kamu berniat ingin mengganggu mu."
"Tadi Nyonya nya kasih tahu ke Ibu kalau beliau mau ke Sibu dulu menemui anak nya, nah kamu di rumah bantu bantu suami nya buka warung sembako"
"Lho istri nya gak nginap kan Bu?"
"Nah itu ibuk gak tahu Arti, ya sudah kamu istirahat dulu aja" Nanti Ibu kabari lagi kalau mau berangkat ke sana".
Aku pun masuk ke kamar yang dulu pernah aku tempati di awal masuk ke sini..di dalam masih tetap sama tempat tidur lesehan yang lebar mungkin bisa menampung 5-6 orang TKW.. tapi hari ini kelihatannya sepi cuma Aku, Kia dan Ana.
Aku rebah kan tubuh ku yang begitu lelah hampir sebulan aku tidak merasakan ketenangan, tubuh ku terasa remuk sekali bagaikan kayu yang lapuk..
Baru saja aku merebah kan tubuh, tiba tiba..
ada terdengar suara mobil yang datang..
"Ana kira-kira siapa ya yang duluan berangkat ya dari kita bertiga?"
Tanya ku pada Ana yang dari tadi sedang asyik memainkan gitarnya seperti nya bukan gitar mungkin ukulele soal nya kecil..
Karena terlalu serius memainkan alat musik nya iya sampai kaget kalau Aku memanggil nya..
"I..i..iya Arti ada apa?"
sambil ia memasukkan alat musiknya kembali ke tempatnya.
Dia berbalik menghadapku.
"Aku dengar ada yang datang tapi gak tau mau menjemput siapa?
"Semoga aja Aku yang di jemput soal nya, Aku udah gak betah di sini, pengen cepet-cepet kerja biar bisa kirimin mbok di kampung"
"Tapi An, apa kamu udah ngabari keluarga mu pas mau berangkat ke Malaysia?"
__ADS_1
"Sudah Kia, yang antar aku ke batas kemarin itu pak lek ku, adik dari Mbok ku yang tinggal Di Sanggau".
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekati kamar kami, langkah kaki itu semakin dekat..dan.. tiba di kamar kami seorang laki laki paruh baya sekitar umur 60 an kelihatan dari rambut putih nya yang sudah nampak walau di tutupi oleh topi nya, tubuh nya masih tegap, kumis nya yang melintang di bawah hidung nya itu membuat nya nampak sangar..
"Kia.. sini sebentar"
Panggil Bu Tyas kepada Kia yang dari tadi hanya melamun entah apa yg dia pikirkan..
Kia pun berlalu pergi bersama Bu Tyas dan lelaki setengah baya itu. Apakah itu suami kontrak Kia, Ya..Allah semoga Kita baik baik aja. Pelan pelan Aku ikutin mereka
"Kia ini Suami kontrak mu, Tauke ini sudah membayar kontrak mu selama 6 bulan jadi kamu harus baik baik ya jangan bikin malu Ibu lagi, karna ini sudah menjadi keputusan mu"
"Iya Bu saya mengerti dan paham Bu"
"Lu masih perawan apa sudah janda?"
lelaki itu bertanya pada Kia sambil memainkan pipi Kia yang mulus dan langsung menarik Kia kedalam pelukan nya..
"Saya masih Gadis tapi tidak perawan Uncle".
Sambil menyembul kan badan nya dari pelukan Lelaki tua itu.. Aku merasa berdosa melihat pemandangan seperti ini ternyata, begitu besar pengorbanan nya buat adik adik nya..
Setelah selesai melakukan semua berkas nya dan sudah tanda tangan kontrak mereka pun pergi sebelum pergi Kia menghampiri Ku dan Ana..
"Arti kamu yang kuat ya.. jangan putus asa Aku yakin kamu nanti pasti dapat majikan yang baik dan sesuai hati mu."
Kia melepaskan pelukannya dengan ku dan berjalan mendekati Ana..
"Ana semangat ya, Aku doakan semoga kamu bisa kerja di restoran ya"
"Kia, kamu jaga kesehatan ya, baik baik di sana, semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi.."
Sambil ku elus-elus pundaknya..
Kia pun pergi dengan Lelaki tua itu dan Bu Tyas juga mengantarkan Kita sampai ke gerbang depan.
Setelah masuk Bu Tyas langsung menemui ku.
"Arti, malam ini kamu berangkat ke majikan kedua mu ya"
"Iya Bu terimakasih "
Akhirnya aku juga pergi malam ini, tinggal Ana sendiri di kamar.
"An, malam ini aku pergi doa in aku ya semoga majikan ini baik dan Aku bisa kerasan."
"Aamiin..semoga ya Arti tapi, kalau nanti ada yang menganggu mu, kamu harus hubungi Bu Tyas " sambil menepuk bahu ku..
__ADS_1
"Baik nona Ana, ha..ha.."
Aku dan Ana tertawa, membuang rasa sedih kami.
Malam pun tiba, setelah makan malam Bu Tyas mengantarkan Ku ke majikan ku yang baru.
Sesampai nya di sana di depan sebuah rumah berwarna hijau minimalis tapi bertingkat, di depan rumah ada dua lampu taman yang berwarna putih.
"Permisi, Saya mau ketemu dengan Pak Liang apa ada di rumah?"
Bu Tyas menanyakan dengan penjaga di depan rumah.
"Ada Encik silahkan masuk saja"
"Baik terimakasih pak"
Sampai di depan pintu rumah Pak Liang, Bu Tyas menekan bel rumah, Tak lama ada seorang wanita yang keluar dari dalam, usia nya mungkin kurang lebih Bu Tyas mungkin tua wanita itu dan tak lama di ikuti oleh seorang pria setengah baya tubuh kurus dan kepala botak.
"Masuk masuk Bu , Moy masuk bawa tas kamu, sapa nama mu?"
Tanya Majikan baru ku, kelihatan nya baik ni orang nya
"Arti, Aunty.."
"Ok..ok..Arti nanti saya antar lu ke kamar, sudah saya siapkan."
"Duduk dulu, nah ini saya punya laki, setiap hari dia yang jaga toko. Nanti tugas kamu bantu Uncle buka toko, setrika baju, masak juga ya."
"Baik Aunty nanti buatin daftar kerja nya aja"
Dari tadi Uncle melihat ku seperti tatapan yang nakal..
"Saya permisi dulu ya Nyoya, saya titip Arti"
"Arti kamu yang kerasan ya, jaga diri baik baik"
"Iya Bu Insyaallah "
Setelah Bu Tyas pergi Aku langsung masuk kamar, lagi pula sudah malam gak mungkin ada kerjaan. Baru saja Aku selesai menyusun baju tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamar ku.
"Arti kamu setrika baju dulu di atas ya besok aku mau ke Sibu jadi mau Aku pakai"
"Baik Aunty, sebentar lagi saya naik ke atas"
Ternyata tak sesuai yang kuharap kan, ku pikir malam ini aku bisa istirahat ternyata sudah di kasih kerjaan..
bersambung..
__ADS_1