
"ahh kemana perginya?!" keluh salah satu bodyguard.
"dia pasti sedang bersembunyi disuatu tempat sekarang, tidak mungkin sudah pergi jauh! jadi tetap cari sampai ketemu!" perintah salah satu dari mereka.
Keysa yg mendengarnya jadi gugup, bagaimana tidak orang-orang yg mengejarnya itu sedang berdiri tepat di samping Keysa bersembunyi. Keysa hanya bisa menahan nafasnya lalu menutup matanya erat-erat berharap dia tak terlihat.
"kumohon! jangan lewat sini kumohon sungguh!" pinta Keysa dalam hati.
"periksa setiap sudut jangan ada yg terlewat!" teriak pria berbadan kekar.
dengan cepat mereka membubarkan diri ke segala arah sedangkan pria yg tadi memberi perintah hanya berdiri diam. Telinganya seperti mendengar sesuatu tadi, dia menoleh ke samping kiri. Di sana ada belokan yg gelap, dengan perlahan langkahnya mulai mendekat.
"oh tidak ada suara langkah yg mendekati ku" pikirnya panik.
Keysa spontan menggenggam erat tangan pria itu yg masih setia membungkam mulut Keysa. Pria itu hanya menelan savilanya.
"tolong selamatkan aku" pinta Keysa dalam hati.
Tapi suara langkah itu semakin kencang, Keysa sudah makin memucat dan seett bodyguard tadi melesat cepat ke belokan yg dicurigai tadi. Ekspresinya berubah seketika melihat yg ada di depannya.
"kucing kawin?" ucap bodyguard itu sambil menepis keringat yg hampir menetes mengenai matanya.
"tapi yg ku dengar tadi berbeda! ahh husshh hushhh pergi! beraninya kalian berzina di hadapan jomblo ini!" usirnya dengan kesal.
kemana perginya Keysa juga pria misterius yg menyelamatkannya? kira-kira begitu kan yg kalian pikirkan kan!.
mendengar langkah kaki yg semakin dekat pria tadi memutuskan untuk menggendong Keysa di pundaknya lalu pergi tanpa suara. Kalau insiden kucing berzina itu cuma kebetulan saja.
Keysa teriak tertahan karena kaget dengan tindakan pria itu. Ia memegang erat pinggang pria itu berharap tak jatuh dari gendongan.
ketika tangannya menyentuh pinggang berbalut kaos tipis itu woww! sangat berotot! pikiran Keysa seketika melayang-layang.
"astaga tidak-tidak! apa yg kupikirkan ini!" batin Keysa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berharap kesadarannya kembali.
"tu—turunkan aku! aku bisa jalan sendiri" pinta Keysa.
pria itu menghentikan langkahnya lalu menurunkan tubuh Keysa. Akhirnya Keysa bisa bernafas lega, selama di bopong tadi perut juga dadanya terasa sesak karena tertekan.
"sakit?" tanya pria itu dengan tampang sedikit khawatir.
"ahh sakit sekali" jelas Keysa melebih-lebihkan.
melihat reaksi Keysa tentu saja dia tau dia hanya membual, Keysa lalu terkekeh pelan.
__ADS_1
"eh tapi tunggu! kenapa kau menolongku?! atas dasar apa?! kenapa!? why?!" pertanyaan sama yg bertubi-tubi itu menghantam gendang telinga di depannya.
"ssttt diamlah atau mereka akan menemukan kita" ucapnya pelan sambil membungkam mulutnya sendiri dengan telunjuk.
"ohh iya lupa" Keysa memelankan suaranya.
"sekarang jawab aku kenapa kau menolongku? jangan bilang kau mau menculik ku lagi lalu menjual ku secara ilegal!" bisik Keysa dengan sedikit menjauh dari pria itu (untuk jaga-jaga).
pria itu tak menjawab dan hanya menghela napas dengan malas. Keysa makin kebingungan lalu kembali membuat jarak.
"jangan berpikir yg aneh-aneh aku cuma mau menolong" jelas pria itu dengan tenang.
yaa pria yg menolong Keysa adalah Jovan kaki tangan dari Leo Waldy (catatan : pria yg menculik Keysa yg pernah muncul di eps awal-awal)
Keysa mengerutkan alisnya tak percaya. Pria itu memutar bola matanya.
"lagipula tadi aku juga belum tau kalau itu kau! artinya aku tidak punya motif tertentu kan?" ujarnya tegas.
Keysa mengangguk paham, pria itu lalu mengalihkan pandangannya setelah mengetahui respon Keysa.
"gawat!" ucap Jovan itu tiba-tiba.
Keysa jadi panik seketika dan langsung mengikuti arah pandangan Jovan, mulut Keysa langsung menganga lebar.
"huwaaaa" teriak Keysa histeris.
Keysa berlari sekuat tenaga. Jovan sampai tertegun dibuatnya, pasalnya wanita yg tadi digandengnya sudah melesat jauh melewatinya.
"tak kusangka masih menjadi pelari cepat" gumam Jovan dengan sedikit meringis.
Jovan menambah kecepatannya untuk mengejar Keysa yg sudah jauh didepannya bahkan sudah hampir tak terlihat.
jika digambarkan sekarang Keysa sedang memimpin lomba, Jovan berusaha mengejar Keysa yg dibarisan terdepan sedangkan peserta lomba lainnya ada di belakang mereka yaitu para bodyguard yg berjuang sekuat tenaga untuk mencuri garis finis.
"heyy tunggu kenapa malah jadi aku yg ditinggal!" teriak Jovan pada Keysa.
"haaah hahh ayo cepat lari atau aku akan tertangkap!" teriak Keysa menjawab Jovan.
para bodyguard itu terus saja mengejar dibelakang tanpa ada keinginan untuk menyudahinya begitu juga dengan Keysa dan Jovan.
"berhenti atau ku tembak kalian!" teriak salah satu bodyguard itu dengan senapan yg sudah di genggaman.
suara tembakan lepas melesat di udara sampai memekakan telinga. Keysa sampai terkejut dibuatnya dan mulai sedikit memelan.
__ADS_1
"ohh tidak aku tidak mau terkena timah panas itu!" Keysa menoleh ke belakang dan melihat Jovan yg masih berlari menghampirinya.
"kenapa berhenti" tanya Jovan dengan nafas tersengal-sengal.
"mungkin aku harus menyerah untuk menghindari pertumpahan darah" jawab Keysa pasrah.
"apa maksudmu! kita sudah lari sejauh ini kau ingin menyerah!" ucap Jovan tak terima.
"ya tapi—" kalimat Keysa terpotong saat Jovan menarik lengannya untuk pergi.
"berhenti!" teriak bodyguard itu lagi.
"cepat kita harus pergi dari sini" ujar Jovan dengan terus mencengkram lengan Keysa.
Duarr timah panas itu akhirnya melesat mengkoyak kaos di bagian lengan kiri Jovan yg tipis juga kulit dibaliknya. Jovan sontak memekik kesakitan.
Keysa menjerit meraup lengan Jovan yg sudah robek lalu menekannya kuat agar darah tak terus mengalir.
"ayo cepat pergi!" Jovan terus saja menarik Keysa untuk berlari bersamanya.
Keysa hanya pasrah mengikutinya sambil terus menakup lengan Jovan. Mereka terus berlari sampai akhirnya langkah mereka sampai di kota tempat yg ramai.
dengan cepat Keysa dan Jovan menelusup kedalam lautan manusia itu lalu mencari tempat persembunyian.
mereka berdua terduduk di sudut bangunan yg lumayan sepi dengan terhalangi oleh bak sampah hijau ukuran jumbo.
"apa sakit sekali?" tanya Keysa dengan ekspresi cemas.
Keysa terus menekan luka itu sambil menatap lukanya dengan rasa takut dan cemas. Jovan meringis menahan perih tapi tak lama fokusnya tertuju pada ekspresi Keysa yg tampak begitu khawatir dan terkesan lebay untuk luka yg tak begitu parah itu.
"kenapa kau se khawatir itu?" tanya Jovan kebingungan.
"ahh tidak apa-apa aku hanya sedikit trauma dengan darah dan peluru" jawab Keysa lalu mengalihkan pandangannya.
"kau harus berobat dulu ayoo" ajak Keysa mengulurkan tangannya setelah dia berdiri.
dengan senang hati Jovan menyambut tangan Keysa lalu mengikutinya mencari pengobatan.
"apa kau tak takut mereka bisa menemukanmu kalau kita pergi?" tanya Jovan sambil menatap sosok wanita dihadapannya.
"lupakan itu kita harus segera mengobatinya sebelum terjadi infeksi" saut Keysa tak menoleh dengan tatapan lurus kedepan.
Jovan Lubis
__ADS_1