Tawanan Mafia

Tawanan Mafia
eps 18


__ADS_3

siang yg terik menyengat itu Keysa berdiri didepan gerbang kampusnya. Dengan penuh keyakinan dia akhirnya melangkahkan kaki menuju kampusnya itu.


"kemana saja kau akhir2 ini? jangan karena orang tuamu orang penting kau bisa seenaknya"


"ma maaf pak, kemarin saya ada keperluan mendadak"


"hal ini tidak bisa saya toleransi lagi ini surat untuk kamu"


"hahh apa ini pak?"


"dengan berat hati kamu dikeluarkan dari kampus"


Mulut Keysa sontak menganga lebar, kampusnya tak memberi kesempatan apapun padanya dan langsung dikeluarkan begitu saja semudah itu!.


"pak pak saya mohon jangan keluarkan saya, saya tidak akan berbuat demikian lagi ini yg terakhir pak tolong beri saya satu kesempatan saja jangan langsung di DO begitu saja pak saya mohon" pinta Keysa dengan memelas.


"tidak bisa lagi Keysa satu minggu lebih tak absen kamu pikir kampus ini untuk main2! karena ulah murid yg seperti mu ini kampus ini bisa jadi terlihat buruk reputasinya" jelas dekan itu dengan penekanan.


Keysa menunduk sambil memeras kepalanya dengan putus asa lalu tak lama hp dekan itu berbunyi yg langsung disambar oleh pemiliknya. Sambil menunggu Keysa hanya duduk diam memegangi amplop coklat ditangannya.


saat menjawab telepon sesekali dekan itu melirik Keysa. Selesai mengangkat telepon dekan itu kembali duduk di kursinya menatap lekat bola mata Keysa.


"tadi kamu minta satu kesempatan lagi ya?" tanyanya ragu.


"ah iya pak bagaiman? bapak mau memberi kesempatan untuk saya?" jawab Keysa sambil menyeka air matanya.


"hmm begini tadi baru saja saya mendapat telepon dari donatur utama kampus ini"


"iya pak"


"dia meminta untuk mempertimbangkan mu lagi"


"beliau tau saya dari mana?"


"dia memang tertarik denganmu katanya kau adalah murid berpotensi dan dia ingin kamu bisa terus berada di sini"


"tiba-tiba? kenapa pak?"


"kamu mau tidak kesempatan ini?"


"i iya pak mau"


"tapi ada satu syarat" dekan itu memajukan kepalanya.


"syarat apa pak?" Keysa mengerjapkan matanya beberapa kali.


"semester ini kamu harus memenuhi IPK kami" si dosen tampak serius.


"berapa pak?" Keysa tampak ragu menanyakannya.


"3, 8" ucap dosen itu tanpa mengubah ekspresi sebelumnya.

__ADS_1


"hahh" tentu saja Keysa langsung tercengang mendengarnya.


"itu nilai yang hampir sempurna pak, mana bisa saya mendapatkannya" ucap Keysa.


"hmmm kalau gitu kamu harus di keluarkan" jawab dekan itu santai.


"pak kok gitu sihhh ga ada syarat lain gitu yang masih berada dibawah kemampuan saya?" Keysa kembali memohon.


"baiklah satu kesempatan lagi untuk kamu, setelah ini tidak ada lagi! kalau kamu masih protes besok jangan lagi datang ke kampus" ucap guru itu sambil melipat tangannya di depan dada.


Keysa mengangguk sambil terus memainkan jari jarinya sampai membuat jarinya putih pucat karena terus dia remas.


"kamu harus datang ke donatur terbesar kita untuk menemuinya, dia ingin melihat wajahmu. Kalau bisa buat dia bahagia supaya dia bisa terus menjadi donatur kita, jangan sampai kamu mengecewakannya" jelas si dekan.


Keysa hanya tertunduk sambil mengangguk paham. Dalam hati Keysa sebenarnya rada aneh dengan apa yang dikatakan dekan itu, kenapa harus menemui donatur? apa hubungannya dengan keluarnya dia? tapi dia tak mau memusingkan hal itu, yang penting dia tidak di DO itu sudah cukup.


✨✨✨


sampai pada hari berikutnya, hari dimana sudah di tentukan pertemuan antara Keysa dan si donatur yang misterius itu. Sepanjang perjalanan jantung Keysa berdegup tak tenang dia juga tak tau persis kenapa hal itu terjadi, kemungkinan karena dia merasa gugup.


hingga sampailah Keysa di sebuah restoran mewah, dia dituntun untuk duduk di kursi ruangan VVIP. Dia tak kaget dengan hal itu, yang mau dia temui saja orang hebat tentu saja tempatnya harus yang setara dengan gaya hidupnya.


beberapa saat Keysa menunggu, akhirnya ada suara pintu yang terbuka pertanda seseorang masuk. Keysa langsung menoleh tapi setelah menyaksikan siapa yang di lihatnya itu dia langsung mematung di tempat. Detakan jantungnya semakin tak beraturan, membuat dadanya sesak serasa mau mati saja.


bagaimana tidak, sosok yang sekarang berdiri dihadapannya adalah Daniel Radcliffe si manusia iblis itu. Apa yang sudah Keysa lakukan, dia malah dengan sengaja masuk ke kandang singa yang baru saja dia tinggalkan. Keysa menggerutu dalam hati membodoh bodohkan dirinya sendiri, seharusnya dia sadar dengan keanehan kemarin.


Daniel berjalan perlahan menuju tempat duduk dengan senyum manisnya itu, itu membuat Keysa sedikit terpana tapi Keysa langsung menolak perasaan itu. Keysa tertunduk ketakutan, dia tak mau kalau harus menjadi peliharaan iblis itu lagi, sudah cukup penderitaan yang dia rasakan sebelumnya.


"kenapa terlihat murung begitu? apa harimu tidak menyenangkan?" tanya Daniel tanpa dosa.


"iya, hariku buruk saat melihatmu" ketus Keysa dengan masih menunduk.


"hahahah" Daniel malah tergelak mendengar pengakuan jujur dari gadisnya itu.


"boleh aku duduk?" tanya Daniel.


"itu pertanyaan atau pernyataan" jawab Keysa sambil mengalihkan pandangannya ke arah samping.


"hahaha kenapa galak begitu" kekeh Daniel lalu duduk didepan Keysa.


Keysa bahkan tak memandang Daniel sama sekali padahal Daniel terus memandang ke arah Kesya semenjak dia masuk ke dalam ruangan itu. Nampaknya Keysa benar-benar sudah sangat kesal dan marah saat melihat keberadaan Daniel.


"hey kau tak ada niatan sedikitpun untuk menghiburku? jangan bilang dosen itu tak memberi tahu apapun tentang pertemuan kita ini" ucap Daniel.


Keysa mendongak lalu menatap mata cantik milik Daniel. Daniel yang ditatap begitu spontan langsung tersenyum manis, sudah lama rasanya tidak melihat sorot mata itu. Sorot mata yang penuh amarah bercampur rasa takut dan khawatir.


"tidak?" tanya Daniel lagi sambil menaikkan satu alisnya.


"sebenarnya apa maumu?" Keysa bertanya tanpa bisa menutupi rasa kesalnya.


"tidak mungkin kau tak tau apa mauku bukan?" Daniel berseringai.

__ADS_1


Keysa membenci itu, tatapannya seakan merendahkannya dan itu membuat Keysa sangat kesal.


"kembali kepadaku maka semua akan baik-baik saja" sambung Daniel.


"baik-baik saja kau bilang?" sahut Keysa tak terima.


"apa bedanya kalau aku kembali kerumah itu dengan di DO! aku sama saja tidak akan bisa kuliah dan aku lebih memilih dikeluarkan dari kampus dari pada harus tinggal bersama iblis sepertimu" emosi Keysa sudah di ubun-ubun.


"kau masih bisa berkuliah sayang, tenang saja. Aku sudah mempertimbangkan itu, kupikir lagi pendidikan sangatlah penting apalagi kau pasangan dari orang hebat sepertiku" ucap Daniel dengan nada yang sangat lembut.


"pasangan? haha siapa juga yang sudi menjadi pasanganmu! jangan mimpi! aku taka akan pernah kembali kepadamu! jadi pergilah jangan ganggu hidupku lagi" titah Keysa.


"mana bisa begitu sayang, disini aku adalah bosnya jadi apapun yang aku kehendaki pasti terjadi jadi pulanglah dengan tenang tanpa menimbulkan keributan oke" ucap Daniel dengan senyumnya.


"tidak akan pernah" Keysa menggebrak meja lalu beranjak dari tempat duduknya.


seketika itu masuklah beberapa pria berjas hitam dengan senjata api di tangan masing-masing. Keysa langsung terkejut dan keberaniannya langsung menciut.


"dengarkan aku, kembalilah bersamaku jika tidak ingin terjadi sesuatu disini" pinta Daniel dengan tenang.


Keysa terdiam, dia nampak sedang berpikir langkah apa yang harus dia ambil. Setelah beberapa saat terdiam akhirnya keberanian yang dimiliki Keysa kembali terkumpul. Dia menatap Daniel tajam penuh percaya diri.


"lebih baik mati daripada harus menderita karenamu!" ucap Keysa mantab.


"pilihan yang salah sayang" Daniel tersenyum.


"kematian itu sangatlah menakutkan kau tau itu? kau yakin ingin menemui ajalmu sekarang? padahal aku menawarkan kenikmatan duniawi" jelas Daniel.


"kenikmatan apa maksudmu! kau terus mengurungku, memasang tali anjing dileherku, memintaku selalu menurut padamu seperti anjing, itukah kenikmatan yang kau maksud!" Keysa sedikit berteriak.


"kau keberatan dengan hal itu?" tanya Daniel tanpa dosa.


"kau gila?!" ucap Keysa tak terima.


"baiklah lain kali akan kuperlalukan lebih baik" lagi-lagi Daniel berucap dengan santainya.


"lain kali! apa kau pikir aku akan memberikan kesempatan itu lagi! tidak akan! aku akan mati hari ini jadi tembak aku sekarang!" Keysa meluapkan semua kemarahannya.


"kau yakin?" Daniel berdiri menghampiri Keysa sambil mengambil Pistol yang ada dalam saku jasnya.


tanpa ragu Daniel langsung menyodorkan pistol itu tepat di kepala Keysa. Mata Keysa sedikit bergetar karena dia berusaha menyembunyikan gejolak takut dalam dirinya.


"bukannya kemarin kau memohon untuk tidak membunuhmu? tapi sekarang kau menyerahkan nyawamu begitu saja? kau terlalu labil sayang dan itu tidak baik" Ucap Danie dengan senyum devil andalannya.


Mata Keysa sudah memerah saking emosinya. Dia marah, takut, terkejut, semua bercampur menjadi satu tapi dia tetap berusaha menggerakkan tangannya yang sudah gemetar untuk memegangi tangan Daniel yang memegang senapan yang diarahkan padanya.


"cepat tarik pelatuknya!" teriak Keysa sambil menutup matanya, dan saat kelopak matanya itu terpejam setetes air mata terjatuh begitu saja.


Daniel yang melihat itu, menatap Keysa dengan sayu. Gadis ini begitu berani memberontak padahal badannya sudah gemetar ketakutan. Perlahan Daniel menurunkan pistolnya lalu menarik Keysa kedalam pelukan hangatnya.


Keysa berusaha memberontak di dalam pelukan Daniel tapi itu malah membuat dekapan Daniel semakin kuat. perlahan Daniel mengelus kepala Keysa saat merasa Keysa tak lagi memberontak dan sudah pasrah. Keysa menangis sejadi-jadinya, sebenarnya dia sangat ketakutan.

__ADS_1


orang-orang yang tadi masuk jadi kebingungan menyaksikan adegan tersebut lalu akhirnya memutuskan untuk keluar dan meninggalkan dua insan yang sedang sentimentil itu.


__ADS_2