
Mereka saat ini sedang duduk di kursi pinggir jalan. Ditangan Keysa sudah ada antiseptik yg dibelinya tadi dan juga kasa steril.
"kau bisa melakukannya?" tanya Jovan ragu.
Keysa menghentikan aktivitasnya lalu mendongak menatap mata Jovan dengan sayu dan dibalas tatapan Jovan yg penuh keraguan.
"tidak" jawab Keysa ringan lalu melanjutkan proses pengobatannya.
"apa!" Jovan tersetak dibuatnya. Hanya dibalas senyuman oleh Keysa.
"tenanglah aku hanya bercanda aku bisa melakukannya" ujar Keysa bersamaan dengan senyum manisnya yg mengembang sempurna.
Jovan menghela nafas lega kemudian ikut tersenyum setelah melihat senyum indah milik Keysa. Disepanjang pengobatan Keysa fokus pada lukanya sedangkan Jovan fokus pada wajah Keysa yg terlihat imut saat sedang fokus begitu.
"hey apa yg sedang kulakukan! kenapa aku menatapnya begitu!" batin Jovan berusaha menyadarkan diri.
tapi mata dan hatinya menolak dan memilih untuk terus menatap Keysa. Bahkan sekarang Jovan sudah kehilangan haknya untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. gawat.
"selesai" ucap Keysa lalu sedikit memberi jarak dari Jovan.
Jovan akhirnya tersadar dari pergulatan batinnya lalu melirik hasil kerja Keysa. Sangat rapi itulah kata yg tertahan di ujung lidah Jovan.
"dimana kau mempelajari ini?" alih-alih mengucapkan kata tadi, Jovan memilih menanyakan itu.
"dulu sempat mempelajarinya sedikit" saut Keysa pelan.
Jovan mengangguk-angguk, tak lama suasana menjadi hening hanya ada suara orang-orang yg berlalu lalang didepan dan belakang mereka berdua. Bahkan di malam yg sudah selarut ini pun masih tetap ramai, benar-benar pusat kota yg sesungguhnya.
"ahh baiklah aku harus pergi" ucap Keysa lalu berdiri dari duduknya.
"kemana?" tanya Jovan dengan spontan.
"apa ini! untuk apa aku menanyakannya!" batin Jovan.
"bukan urusanmu jadi tak usah dipikirkan" jawab Keysa sambil tersenyum samar.
"oh iya aku lupa mengucapkan terima kasih! terima kasih ya sudah mau cape cape lari bersamaku" kali ini Keysa tersenyum tulus.
"sama-sama" jawab Jovan terpana melihat senyum Keysa.
"selamat tinggal" Keysa akhirnya berpamitan.
"tunggu dulu!" tiba-tiba Jovan menahan tangan Keysa.
Keysa menoleh, Jovan merogoh kantung celananya. Diambilnya dompet dari saku celananya lalu memberikan secarik kertas pada Keysa.
"kalau butuh bantuan hubungi saja aku" ucap Jovan.
__ADS_1
Keysa mengangguk sambil menerima kertas itu kemudian membaca tiap tulisan yg tercetak rapi diatasnya.
"Jovan Lubis" gumam Keysa saat membaca kartu nama ditangannya.
"ya namaku Jovan" ucap Jovan membenarkan gumaman Keysa.
"baiklah aku pergi dulu bye" Keysa pamit sambil melangkah pergi.
Jovan terdiam sambil menatap kepergian Keysa yg perlahan musnah dari penglihatannya. senyum tipis perlahan menarik kedua sudut bibirnya.
"semoga kau baik-baik saja" ucap Jovan lirih.
✨✨✨✨
Langkah Keysa menjadi gontai setelah satu jam berjalan menyusuri jalanan sejauh kurang lebih 2 kilometer. Telapak kaki Keysa sampai membengkak karena terus dipakainya berjalan juga berlari tadi.
Keysa akhirnya menyerah dia memutuskan untuk duduk sebentar di bahu jalan yg sudah sangat sepi karena sudah hampir pagi.
Keysa memijat mijat kakinya pelan sambil mengatur nafasnya sehabis jalan jauh tadi. Matanya berkeliling mengamati tempat istirahatnya.
Keysa berdiam diri lumayan lama disana, dia mengumpulkan tenaga sambil berusaha menahan kantuk yg mulai menyerang.
mata Keysa perlahan tertutup tapi tak lama dia terusik dengan cahaya matahari yg menembus matanya. Keysa mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menengok ke arah timur.
"sudah pagi ternyata" Keysa kembali berdiri dan mulai melangkahkan kakinya lagi dengan tenaga yg masih tersisa.
Keysa membuka kuncinya, berjalan masuk dan menutup pintunya kembali lalu membanting tubuhnya diatas sofa empuk miliknya. Matanya perlahan terpejam dan kesadarannya mulai menurun.
jam 6.30 sore akhirnya Keysa tersadar dari hibernasi pendeknya. Dibersihkan nya tubuh lengket itu lalu kembali berbaring sambil menatap langit-langit kafenya yg dipenuhi lampu hias.
pikiran Keysa mulai berkelana kesana kemari, mulai dari keluarganya apa mereka tidak menyadari hilangnya diriku selama ini, bagaimana nasib kuliahnya setelah membolos sekian lama, juga apakah para pelanggan kafenya pada kabur karena kafe ini sudah lama tutup.
Keysa menutup matanya menibani jidatnya dengan tangan kirinya dan berusaha untuk tidak overthinking dengan semua masalah yg dikhawatirkan nya yg belum tentu juga hal itu terjadi.
✨🌼🌼🌼🌼✨✨✨
"kami kehilangan nona tuan" ucap salah seorang dengan suara yg gemetar.
tuk tuk tuk hanya terdengar suara ketukan jari di layar ponsel. Beberapa orang yg sedang berdiri sambil menunduk itu langsung mengherdik ngeri mendengarnya.
"ka—kami pasti bisa menemukannya lagi tuan! saya tau itu kesalahan kami dan kami pasti bisa menemukan nona! jadi mohon ampuni kami!" suara itu terdengar begitu lantang hingga menggema di seluruh ruangan.
duaghh sebuah ponsel melesat dari genggaman Daniel tepat mengenai kepala pria yg tadi berbicara lantang.
Daniel berjalan mendekatinya dengan tangan di dalam kantung celana.
"tolong ampuni kami tuan kami janji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi!!" ucapnya lagi sambil sujud mengemis ngemis minta ampunan.
__ADS_1
"cihh" Daniel berdecih sambil tersenyum samar lalu menarik kepala lelaki itu hingga menengadah ke atas.
"kau kira aku akan memberimu kesempatan untuk bisa mengulangi kesalahan?!" kata Daniel, tangannya semakin mencengkram rambut kepala itu.
"maaf tuan tolong ampuni saya" lelaki itu hanya bisa pasrah.
plakkk tanpa aba-aba Daniel langsung memukul pria itu hingga wajahnya tersungkur dilantai.
"kau dibayar untuk ini!!?" tanya Daniel geram.
"ampun!" pria itu menjerit sekuat tenaga.
"tutup mulutmu!" satu tendangan meluncur ke pipi pria itu.
"aaargghh" pria itu memegangi kepalanya yg sudah berdarah darah karena pukulan dan tendangan Daniel sangatlah keras.
"kapan kau terakhir melihatnya!?" tanya Daniel emosi.
"jawab!" Daniel kembali meluncurkan satu tendangan ke punggung lelaki itu.
"aaaggghh" pria itu malah semakin berteriak kesakitan.
"ahhh aku—aku melihatnya di pinggiran kota, dia ti—tidak sendirian" jawab lelaki itu dengan terbata-bata karena sambil menahan perih di sudut bibirnya.
"lanjutkan" ucap Daniel dengan ekspresi dingin, dia berdiri tegak dengan tangan yg dimasukkan kedalam kantung sambil menatap pria itu.
"dia sepertinya dibantu oleh pria itu, kami sempat menembaknya namun meleset mengenai lengan pria yg bersama nona" jawab salah seorang yg ada dibelakang pria yg babak belur tadi.
"siapa dia?" tanya Daniel lagi.
"kami tidak tau wajahnya tidak terlihat jelas" jelasnya lagi dengan kepala menunduk dengan setumpuk rasa bersalah.
duaagh Daniel kembali menendang pria yg sudah berlumuran darah itu sangat keras mungkin tulang rusuknya retak sekarang.
pria itu hanya bisa menjerit kesakitan karena tak bisa melawan, orang2nya juga hanya bisa diam sambil menunduk ketakutan.
lalu Daniel berjongkok untuk mengambil ponsel yg dilemparnya tadi kemudian berbalik berjalan pergi sambil merapihkan dasi dan kerahnya.
orang2 yg tersudutkan tadi akhirnya bisa menarik nafas lega tapi tak lama mereka kembali merasa tercekik saat Daniel menghentikan langkahnya.
Luis yg berdiri di depannya hanya menaikkan alis dengan maksud bertanya.
"buat mereka semua lumpuh" ucap Daniel santai lalu kembali berjalan.
duarrr serasa tersambar petir orang2 itu terpekik mendengarnya. Luis dengan tenang menggerakkan jarinya dan orang2 Daniel mulai menjalankan aksi.
Luis membuang nafas kasar lalu berjalan mengikuti Daniel. Langkah mereka pun diikuti jeritan histeris yg saling bersautan, sangat menyayat hati jika didengar. Berbeda dengan Daniel, mendengar jeritan2 itu malah membuat senyumnya semakin merekah.
__ADS_1