
"Yanto ! " Suara Bibi Jessi, berkumandang lantang pada harita yang cerah itu,"Tumpakkan batang batang besi itu ke pagar.Adi ! Kau membantu yanto mengangkut batang-batang itu.Dan kau,Riza dan semua sudah kau catat ?"
Suasana di Jangyard hari itu sibuk sekali.Riza duduk di atas bak mandi yang ditelungkupan.Sambil mencatat jumlah bermacam-macam barang,ia berpikir apakah mereka sempat menyelinap pergi sebentar ke markas besar,untuk mengadakan pertemuan.
Sudah dua hari berlalu sejak Riza dan Yanto, mengunjungi pembisu. Tapi sejak itu mereka belum sempat mengadakan pertemuan. Bibi Jessie tidak henti-hentinya menyuruh mereka bekerja. Dan kalau tidak, Riza masih ada tugas pula di kantor.
Paman Adi Baru saja habis memborong barang-barang.Karenanya banyak sekali barang dagangan baru mengalir ke penimbunan nya. Melihat gejala-gejalanya, mungkin baru seminggu lagi kedua remaja itu agak peluang sedikit waktu mereka sehingga sempat membicarakan hal-hal misterius yang sedang mereka hadapi.
Menjelang tengah hari terjadi selingan. Paman Adi menoleh. Ketika untuk kesekian kalinya truk besar perusahaannya masuk lewat gerbang besar. Titus Jones, Paman Yanto duduk di atas sebuah kursi kayu berukir indah. Laki laki berhidung besar dan berkumis melintang itu duduk seperti bertahta diatas tumpukan barang yang baru dibeli. Paman Adi kalau pergi berbelanja barang bekas, apa saja yang menarik perhatiannya selalu langsung dibeli. Isterinya terpekik truk itu berhenti di dekatnya
Paman adi melambai dengan pipanya ke arah mereka,sambil berpegangan erat pada sejumlah tabung logam yang besar menjulur berbentuk kipas. Tabung tabung itu merupakan bagian dari suatu orgel, yang tingginya sekitar dua setengah meter.
Paman adi meloncat turun dengan gembira disusul oleh Hans. Teman Hans menggeser orgel itu ke landasan lift yang terpasang di sebelah belakang truk. Ketika letaknya sudah beres, Hans menggerakkan kendali,dan dengan pelan landasan dengan muatannya turun ke tanah.
"Kau membeli orgel !"Bibi Jessie begitu tercengang, sampai lupa menyuruh Yanto serta sahabatnya bekerja terus. Wanita bertubuh besar itu menyumpah nyumpah."Mau apa kau dengan orgel ?".
"Mau apa ? belajar memainkannya,sayang"
Katanya."Aku dulu pernah menjadi pemain alat semacam itu di sirkus."
Paman adi memutuskan,orgel harus ditaruh di sisi pagar yang terdekat ke rumah. Hans dan temannya sibuk mengangkut. Sampai akhirnya semua bagian orgel sudah dipindahkan ke situ, tinggal dipasang saja lagi.
"Ini orgel yang asli,yang dibunyikan dengan jalan menghembus kan udara kedalam pipa,"Kata paman Adi dengan bangga pada Yanto serta pada Riza.
__ADS_1
"aku menemukannya dalam sebuah teater kecil yang akan digusur, di jalan menuju ke sini".
"Untung saja tempat ini jauh dari tetangga " kata Paman adi
"Kalau orgel yang benar-benar besar," Kata paman adi menyambung ceritanya,"bisa dipasang pipa yang ukurannya begitu rupa besarnya,sehingga bunyinya berat sekali tidak bisa ditangkap lagi oleh telinga manusia,"
"Kalau tidak bisa didengar, Masa sih disebut bunyi, paman?"tanya Yanto.
"Masih ada yang bisa mendengarnya mungkin gajah, karena mereka bertelinga besar,"jawab Paman Adi sambil terkekeh.
"Apa gunanya orgel yang bunyinya tidak bisa didengar?"tanya Riza, itu"maksudku mana ada orgel
Yang spesial dibangun untuk dinikmati gajah,"
Perhatian mereka terpusat pada orgel,sehingga tidak ada yang melihat sebuah mobil sport berwarna biru memasuki perkarangan lalu berhenti dengan mengejut di belakang mereka. Pengemudinya seorang remaja bertubuh kurus jangkung dengan hidung seperti Petruk, menekan tuter.bunyinya mengejutkan kedua remaja yang sedang asik dengan orgel. Keduanya berpaling dengan cepat, disambut suara tawa terbahak-bahak,remaja kurus jangkung itu yang tertawa ditimbali kedua temannya yang duduk disampingnya.
Skinny noris beserta keluarganya hanya beberapa bulan saja dalam setahun tinggal di Jawa. Tapi bagi Yanto serta Riza, waktu beberapa bulan itu pun sudah terlalu lama rasanya. Skinny merasa dirinya cerdas sekali. Ditambah keuntungan sudah bisa menyetir mobilnya sendiri.
Skinny Norris berusaha keras untuk menjadi kepala kaum remaja yang sebaya dengan dia.
Skinny noris menghampiri Duo detektif sambil tertawa geli, sementara kedua kawannya memperhatikan dari dalam mobil. Ketika sudah hampir sampai di tempat Yanto berdiri, dengan cepat diambilnya alat pembesar yang besar dari kantongnya.
"Yes,"Skinny menirukan gaya bicara orang Inggris tapi sama sekali tidak kena,"kurasa inilah tempatnya.ciri khas barang rombengan yang hanya bisa ditemukan di tempat jual beli barang rombengan milik keluarga Yanto."
__ADS_1
ucapan Sok lucu itu disambut tertawa terkekeh-kekeh dari kedua remaja yang ada di dalam mobil. Riza mengepalkan tinjunya.
"Kau mau apa kemarin Skinny"tanyanya dengan geram. Tapi kini Skinny Norris berbuat seperti tidak mendengar. Dengan lensa pembesar nya ia pura-pura meneliti Yanto. Setelah itu dikembalikannya ke kantong
"Ini saat yang sangat menyenangkan bagiku. Aku datang dengan suatu kasus, yang membingungkan seluruh Scotland, pembunuhan keji terhadap korban yang tidak bersalah. Aku yakin anda pasti bisa menyingkapkan rahasia ini".
Sambil berkata begitu disodorkannya kotak sepatu tertutup pada Yanto. Tanpa membukanya pun ia serta Riza sudah bisa menebak isinya. Penciuman mereka yang memberitahukan. Tapi walau begitu Yanto masih juga membuka kotak itu dan melihat isinya. Sementara Skinny Norris memperhatikan dengan cengiran lebar.
Dalam kotak itu tergeletak bangkai seekor tikus putih yang besar. Dari baunya bisa diketahui bahwa binatang itu sudah lama mati.
"anda merasa bisa berhasil mengusir kejahatan keji ini"tanya Skinny Norris.
"aku menyelidiki hadiah besar bagi barang siapa yang berhasil membekuk pelaku nya.Lima puluh kupon toko serba ada".
Teman-temannya yang di dalam mobil tertawa terkekeh-kekeh mendengarnya.
"Aku bisa mengerti bahwa kalau ingin menuntut keadilan, Skinny", katanya,"karena aku lihat korban ini adalah salah satu teman karibmu".
begitu kalimat itu terdengar kedua remaja yang ada dalam mobil langsung berhenti tertawa. Sedang anak jangkung kurus yang tadi meringis kini merah pada muka nya.
Skinny Norris dan temannya mengundurkan mobilnya dengan kasar kendaraan itu meleset keluar lewat gerbang besar, diperhatikan oleh Yanto dan Riza.
Ia memandang berkeliling. Dilihatnya pamannya sedang sibuk memasang orgel dekat pagar, dibantu oleh Hans dan temannya.
__ADS_1
Yanto mendahului berjalan menuju ke terowongan dua.
Dan tepat pada saat itu terjadi kesialan.Tanpa disengaja Yanto menginjak sebatang pipa yang langsung terguling. Yanto terjatuh dan terbanting keras ke tanah.