
Deru batu longsor sudah sekeliling mereka gelap gulita. Debu beterbangan, kering dan mengandung pasir halus.
"Kita tidak bisa keluar lagi Yanto"Kata Reza sambil terbatuk-batuk."kita terjebak di sini. Kita akan mati tercekik"
"Tutup mulut dan hidung dengan sapu tangan, sampai udara bersih dari debu", kata Yanto
menasehatkan.
Ia meraba-raba dalam gelap mencari temannya. Setelah ketemu diletakkannya tangan ke bahu Riza, untuk menenangkannya.
"Mengenai udara, jangan khawatir! Celah ini kurasa cukup dalam, jadi untuk sementara kita bisa bebas bernapas, kecuali itu berkat Skinny Norris, kita juga punya senter"
"Berkat Skinny Norris kita terjebak di sini", tukas Riza dengan marah."awas kalau sampai ketemu akan ku putar lehernya yang ceking itu !"
"Sayangnya kita tidak bisa membutikan,betul betul dia yang menyebabkan batu batu tadi merosot",kata yanto.
Sambil bicara ia menyalakan senter.Seketika itu juga sinar terang memecah kegelapan dalam celah.yanto meneliti tempat itu dengan seksama
Ternyata merupakan semacam Goa.Tingginya hampir dua meter, sedang lebarnya satu meter lebih sedikit. Ke arah belakang celah itu sangat menyempit. Jadi tidak bisa dimasuki walau nampaknya dalam sekali.
Yanto kalau punya niat, biasanya tidak suka repot-repot menjelaskan lebih dahulu.Ia lebih senang melihat bagaimana niatnya itu terlaksana dulu. Jadi Riza tidak bertanya tanya lagi sementara Yanto mengambil pisau saku buatan Swiss yang bermata delapam yang tergantung di ikat pinggangnya.
Dengan pisau itu diruncingkan kembali bagian dahan yang hangus.
__ADS_1
Setelah runcing ia lantas menghampiri dinding batu dan tanah yang menyebabkan mereka terkurung dalam celah.
Mula-mula diterangin ke seluruh permukaan dinding itu dengan cahaya senter
Dipilihnya suatu tempat di dekat pojok,lalu ditusuknya ujung dahan ke tanah yang menempel di situ.Dengan segera tusukannya menemui rintangan.Dahan dicabut lagi lalu ditusukkan beberapa senti lebih jauh
Dan di depan kedua remaja itu nampak lubang yang besar sekitar setengahnya meter, di ujung atas tembok batu longsor itu.
"Kau, memang jenius,Yanto"Seru Riza dengan gembira
"Aduh.jangan bilang aku jenius"kata Yanto sambil cengar-cengir."aku cuma berusaha memanfaatkan kecerdasanku dengan sebaik-baiknya"
"Ya deh,"kata Riza."tapi kok berhasil mengeluarkan kita dari sini dan nanti,kalau kita sudah berhasil merangkak lewat lubang yang di atas itu."
"Aduh Coba lihat kotornya diri kita!"katanya cemas
"Kita bisa mencuci badan dan membersihkan pakaian sebisa kita di pompa bensin". Kata Yanto.
"Setelah itu kita melanjutkan perjalanan ke tempat tinggal Mister Ek ".
"Kita masih mau ke Mister Ek?"tanya Riza
sementara Yanto sudah mendahului berjalan menuruni lereng yang semakin banyak diliputi batu berhamburan. Mereka kembali ke tempat rolls-royce yang tadi parkir
__ADS_1
setelah selesai mencuci badan dan membersihkan pakaian di suatu pompa bensin, mobil meluncur lagi. Mereka menyusuri jalan berkelok-kelok, mendaki punggung gunung, lalu menuruni pergi ke lembah yang ada di belakangnya. Mobil membelok ke kanan,dan setelah berjalan 1 mil sampai di awal jalan yang bernama winding Valley road,jalan itu pada bagian awalnya lebar dan bagus, di kiri kanannya diapit rumah-rumah yang kelihatan mahal.
Tapi winding Valley road masih belum berakhir. jalan itu menanjak terus, makin lama semakin sempit. Dan berakhir di depan lereng terjal yang berbatu-batu. Di situ ada tempat memutar yang sempit
Arul menghentikan mobil. Kelihatannya ia agak bingung
"Kita sudah sampai di ujung jalan."katanya
"Tapi saya tidak melihat tanda-tanda tempat ini didiami orang."
"Itu ada kotak surat!"seru Riza sambil menuding.
"Dan ada tulisannya Mister Ek 812"
Riza turun dari mobil bersama Yanto. Kotak surat yang dilihatnya terpasang miring di samping semak-semak Yang Tak terawat. Di belakang semak-semak ada jenjang batu mendaki sisi bukit, di sela-sela semak dan pepohonan yang tidak begitu tinggi. Kedua remaja itu mulai mendaki meninggalkan mobil serta Arul di bawah
Tiba-tiba terdengar langkah orang dibelakang mereka. Keduanya terkejut lalu cepat-cepat berpaling, mereka menatap seorang laki-laki yang saat itu datang menghampiri, orang itu jangkung dan berkepala botak. Matanya tidak kelihatan di balik kaca hitam besar. Di lehernya nampak bekas luka memanjang, dari telinga memanjang ke bawah hampir sampai tunggu di tulang dada,
Laki-laki itu membuka mulut, terdengar suara parau, nyaris berbisik
"Jangan bergerak! Berdiri di tempat!"
kedua remaja itu tegak seperti terpaku sementara itu laki-laki tadi terus mendekat, sambil menggenggam parang.
__ADS_1
^^^SITIHABIBAH89^^^