
istana menjulang dalam gelap, di hadapan Alvin dan Yanto. malam itu tidak ada bulan. hanya beberapa bintang saja kemerlip, membaca kegelapan ngarai.
"malam tidak akan lebih gelap lagi dari sekarang,"kata Yanto dengan suara tertahan.
"jadi kita masuk saja lah"
Alvin menentang senternya yang baru dan bercahaya terang. senter itu dibelinya dengan uang sakunya. sedangkan senternya yang lama masih tertinggal dalam perpustakaan.
kini kedua remaja itu mendaki jenjang yang sudah retak-retak, lalu melintasi teras. Yanto agak pincang jalannya,karena dia belum berani terlalu membebani pergelangan kaki yang baru sembuh dan masih dibalut erat.
langkah kaki mereka terdengar nyaring dalam gelap.Di salah satu tempat seekor binatang kecil kaget karena kedatangan mereka. binatang itu meleset pergi dari persembunyian, melarikan diri dari cahaya senter yang terang.
"apa pun juga binatang, pokoknya dia pintar,"kata Alvin."dia lari dari sini"
Yanto diam saja. tangannya meraih tombol pintu depan lalu menarik-narik.Tapi daun pintu tidak bisa dibuka.
"Agak macet pintunya,"katanya."Coba tolong sebentar,"
Alvin ikut menarik.Tahu-tahu tombol yang terbuat dari Kuningan itu terlepas. Alvin dan Yanto terjungkir ke belakang jatuh bergelimpangan di ubin.
"Uuuuu!"desah Alvin dengan nafas sesak."kau berbaring di atas perut ku. aku tidak bisa bergerak apalagi tidak bisa bernapas."
Yanto berguling ke samping lalu berdiri lagi, Alvin ikut bangkit. dipegang-pegang nya seluruh tubuhnya, untuk memeriksa kalau kalau ada yang patah atau terkilir.
"rupanya Semua beres"katanya kemudian
"kecuali akal sehatku, yang rupanya ketinggalan di rumah."
Yanto tidak mengacuhkan sindiran temannya itu, Ia memperhatikan tombol pintu dengan bantuan senternya.
__ADS_1
"lihatlah,"katanya."rupanya sekrup yang menahan tombol ini ke Batang itu terlepas.
"mungkin aus"gumam Alvin."habis belakangan ini banyak sekali orang lalu-lalang lewat pintu ini"
"Hmm."Yanto nampak sedang berpikir. keningnya berkerut."jangan-jangan ada yang sengaja melepaskannya"
"siapa sih yang mau berbuat begitu?"tanya Alvin,"pokoknya sekarang kita tidak bisa masuk"jadi lebih baik kita kembali saja"
"kurasa kita akan bisa berhasil masuk lewat,"kata Yanto."kita coba saja lihat pintu angin yang ada di sana itu"
Ia langsung menyusuri dinding depan bangunan itu.Berseberangan dengan teras, terdapat enam p!intu angin yang tinggi. pintu angin sebenarnya jendela, tapi abang bawahnya rendah sekali sehingga lebih tepat disebut pintu.
Lima di antaranya ternyata terkunci dari dalam, tapi yang ke-6 ternganga sedikit,Yanto menariknya ternyata bisa dibuka dengan gampang. ruangan di belakangnya gelap gulita.
kegelapan itu sesaat kemudian ditembus cahaya senter Yanto yang masih berdiri di luar. diterangi cahaya nya nampak sebuah meja panjang dengan kursi kursi di sekelilingnya. di satu ujung meja nampak samar tumpukan piring.
"Ini kamar makan,"kata Yanto dengan suara pelan."kita bisa masuk lewat sini"
"kelihatannya di sini ada beberapa pintu, "kata Yanto."lalu kita masuk lewat mana?"
"bagiku sih sama saja dengan...Huuh!"Alvin berseru dengan suara tercekik. ketika ia hendak menjawab pertanyaan Yanto, ia menoleh sedikit ke samping.saat itu dilihatnya seorang wanita memakai gaun panjang terjela-jela, datang ke arah mereka. gaun yang dipakai berpotongan kuno,apin pernah melihat lukisan yang dibuat sekitar tiga abad yang lalu menambahkan seorang wanita memakai gaun semacam itu.
seutas tali terbelit di leher wanita itu. ujungnya tergantung ke depan, terulur menyentuh kaki, tangannya terselip ke dalam gaun yang lebar. wanita itu menatap kedua remaja itu dengan pandangan yang pilu.
Alvin menarik lengan jaket Yanto
"ada apa ?"tanya Yanto
"Li-li-lihatlah"kata Alvin gugup."kita tidak sendiri disini!"
__ADS_1
Dengan cepat Yanto berpaling, Alvin merasa tubuh temannya itu mengejang itu berarti Yanto juga melihatnya, melihat wanita yang menatap mereka tanpa bergerak-gerak. wanita itu tidak kelihatan seperti bernafas. Ia hanya berdiri saja sambil menatap. Alvin merasa tahu siapa wanita itu pasti hantu gadis yang menurut Cerita MR.EK yang diceritakan oleh Riza menggantung dirinya sendiri, dengan pria pilihan ayahnya karena tidak mau dipaksa menikah.
sesaat kedua remaja itu berdiri seperti terpaku di tempat masing-masing. sedang bayangannya mengerikan itu juga tidak bergerak atau pun berbicara.
"sorotan center mu ke arahnya,"bisik Yanto."tunggu sampai aku memberi aba-aba...ya!"
keduanya serempak mengarahkan sorotan center mereka pada wanita itu. tape seketika itu juga bayangannya itu lenyap. mereka hanya menatap sebuah cermin, yang memantulkan Sinar senter ke mata mereka.!
"cermin!"seru Alvin kaget."kalau begitu selama ini dia ada dibelakang kita."
Dengan cepat ia berbalik sambil mengarahkan Sinar senter nya ke belakang.tapi di situ pun tidak ada apa-apa mereka berdua saja yang ada dalam ruangan itu.
"Dia sudah pergi!"Kata Alvin."Dan aku juga mau pergi! itu tadi hantu"
"tunggu"Yanto menggenggam pergelangan tangan Alvin
"kelihatannya kita tadi melihat bayangan hantu dalam cermin tadi mungkin juga kita keliru. Aku menyesal tadi bertindak terlalu tergesa-gesa,padahal seharusnya kejadian tadi perlu kita selidiki dengan lebih tenang."
......................
Dihampirinya pintu angin tempat mereka masuk tadi selalu dibubuhkan tanda tanya, yang besar dengan kapur di situ.
lalu dibubuhkan nya pula tanda yang sama di atas meja makan yang besar ,ia melakukan degan sangat hati-hati,supaya permukaan dan meja Yang mengkilat itu tidak rusak. kemudian ia mendekati cermin besar yang terpasang di dinding, untuk membubuhkan tanda Trio detektif di situ.
"Jadi kalau Paman Arul Dan Riza nanti mencari kita, mereka akan melihatnya,"kata Yanto pada Alvin sementara, ia menekankan kapur keras-keras ke permukaan cermin supaya tandanya nampak jelas di situ.
"maksudmu apabila kita berdua lenyap tanpa bekas?"tanya Alvin.
Yanto tidak menjawab.
__ADS_1
ketika tangannya menekan tahu-tahu cermin tinggi itu bergerak ke belakang, seperti pintu. dan di belakangnya menganga sebuah gang gelap.