TEKA TEKI ISTANA BERHANTU

TEKA TEKI ISTANA BERHANTU
BAB 16 : Tertahan di bawah tanah


__ADS_3

Kemudian cahaya biru itu lainnya kegelapan menyelimuti Alvin.Ia berusaha kembali membebaskan diri, tapi sebagai akibatnya ia malah semakin terlibat dalam jala.


Gawat ! begitulah pikirannya.Bukannya mereka yang menangkap laki-laki Tua tak berbahaya yang memainkan peranan sebagai hantu, kini malah mereka sendiri yang laki-laki yang menjala mereka tadi, kelihatannya galak-galak dan rupanya mereka memang sudah siap untuk menyergap.


Alvin teringat pada Riza dan juga Arul yang menunggu dalam ngarai.Masih bisakah dia bertemu kembali dengan mereka ? masih bisakah dia berjumpa lagi dengan ayah ibunya ?.


Saat itu Alvin benar-benar merasa dirinya sangsara dalam keadaan begitu, kemudian dilihatnya ada cahaya bergerak-gerak menghampirinya.Setelah dekat barulah nampak bahwa cahaya itu berasal dari lentera yang dipegang seorang laki-laki jangkung.Laki-laki tersebut juga memakai jubah,tapi jubahnya terbuat dari sutra seperti yang dipakai oleh bangsawan Cina pada zaman dahulu.


orang itu membungkuk di depan Alvin lalu menjamahnya, Sinar lentera menerangi mukanya. Alvin melihat mata sipit yang menatap bengis serta bergigi emas yang berderet-deret.


"anak-anak konyol,"kata orang itu."kenapa kalian tidak menjauhi tempat ini seperti dilakukan yang lain-lainnya ? sekarang kalian terpaksa kami bereskan,"


sambil berkata begitu ia menggerakkan jarinya seperti mengiris leher, beriring suara menakutkan.Alvin langsung merasa darahnya seperti membeku ia mengerti maksud orang itu.


"kau siapa?"tanya Alvin tergagap-gagap,"Kalian mau apa?"


"hah!!!"sergah laki-laki itu."Kau kubawa ke kolong istana ini!"Alvin dijunjung nya dengan seenaknya seperti memikul karung kentang lalu kembali ke arah datangnya tadi.


Alvin yang dipanggul orang itu,tidak bisa banyak melihat karena mereka terus berada dalam keadaan gelap gulita.Ia hanya tahu bahwa mereka melewati pintu, menyusuri lorong, lalu menuruni tangga putar.Rasanya tinggi sekali tangga itu akhirnya sampai di suatu lorong.Lorong yang lembab dan dingin itu ditelusuri lewat beberapa pintu, sambil di sebuah bilik kecil seperti sel, sel bawah tanah.Di dindingnya tertancap gelang-gelang besi yang sudah karatan.


sesuatu yang putih seperti kepompong terletak di salah satu pojok bilik itu.Laki-laki Arab yang kecil duduk disamping benda putih itu sibuk mengasah belati.


"Mana Sopyan ?"tanya laki-laki berpakaian Cina.


Alvin dijatuhkannya ke lantai di samping kepompong putih itu,yang ternyata adalah Yanto wujudnya yang seperti kepompong disebabkan karena tubuhnya masih terbalut jalan yang meringkusnya tadi.


"Ia pergi menjemput Helda,"kata si Arab dengan suara berat dan serak."Helda sedang menyembunyikan mutiara bersama Karin,kami bermaksud hendak memutuskan,akan kita apakan berdua bocah yang tertangkap ini."

__ADS_1


"Aku setuju jika kita tinggalkan saja mereka di sini sedang pintunya kita kunci dari luar,"kata laki-laki yang bermata sipit."Tak akan ada yang datang ke sini dan tak lama lagi istana ini akan benar-benar ada hantunya, sekaligus ada dua!"


"Bagus juga idemu,"kata si Arab dengan suara serak."tapi supaya aman tidak ada salahnya jika ada darah mengalir"


Alvin meneguk ludah dengan susah payah melihat laki-laki berjubah itu menggariskan jempolnya ke mata pisau yang tajam.Ia sebenarnya ingin membisikkan sesuatu pada Yanto tapi temannya itu tidak berkutik sedikitpun di sisinya, Alvin lantas takut jangan-jangan Yanto mengalami cidera.


"kulihat sebentar di mana Helda sekarang,"


laki-laki Arab itu memasukkan berlati ke sarungnya, lalu berdiri.Ia melirik Alvin dan Yanto yang tergeletak di lantai lalu berkata pada temannya."Tolong aku menghapuskan jejak kita, ikan-ikan ini tak akan bisa membebaskan diri dari jeratan jala,"


"Ya, betul kita harus cepat-cepat."laki-laki jangkung yang kelihatannya orang Cina itu menggantungkan kelenturannya ke dinding, sehingga cahayanya menerangi Alvin dan Yanto.Kemudian kedua laki-laki itu bergegas,Alvin mendengar langkah mereka semakin menjauh selalu didengarnya bunyi menggeresek berat, seperti bunyi batu besar digeserkan.Setelah itu senyap.sampai Yanto membuka mulut


"kau baik-baik saja, Alvin?"tanyanya


"tergantung apa yang kau maksudkan,"jawab Alvin."Kalau maksudmu tidak ada tulang patah ya Aku sungguh baik-baik saja sehat dan bugar."


"ah itu kan bisa saja terjadi pada siapa saja,"jawab Alvin."maksudku pertimbanganmu masuk akal siapa mengira kita akan berhadapan dengan suatu gerombolan yang mungkin penjahat ? apa lagi di luar kita sama sekali tidak menemukan tanda-tanda bahwa ada yang memakai istana ini sebagai sarang."


"yah dan aku begitu yakin bahwa segala hal yang terjadi di sini sebabkan oleh Mister Ek dan sampai tak terbayang sedikitpun adanya kemungkinan lain," kata Yanto."He, kau bisa menggerakkan tanganmu tidak ?"


"untung tangan kananku masih bisa ku gerakan dengan cukup leluasa,"kata Yanto."saat ini aku sedang berusaha ma bebaskan diriku sendiri mungkin kau bisa membantu dengan jalan mengatakan mana selanjutnya yang harus ku potong."


Alvin merebahkan diri ke samping.Yanto juga melakukan hal yang sama sehingga penggunaannya berada di depan Alvin. Saat itu barulah Alvin melihat bahwa temannya itu berhasil mengambil pisau lipatnya yang tergantung pada ikat pinggang. pisau lipat Yanto itu ada delapan perlengkapannya, termasuk obeng serta gunting kecil.Dengan gunting itu Yanto menggunting tali jala sehingga tangannya bisa dikeluarkan.


"sekarang potong yang sebelah kiri supaya tangan kirimu bebas,"bisik Alvin."ya begitu!"


gunting yang dipakai kecil sedang jala kelihatannya terbuat dari benang nilon yang kokoh.Tapi dengan bantuan petunjuk Alvin tidak lama kemudian Yanto sudah berhasil membebaskan kedua itu semua berjalan lebih lancar ketika Yanto masih kosong seluruh bagian bawah jala, tiba-tiba terdengar langkah orang yang datang.

__ADS_1


sesaat mereka tertegun karena kaget dan lari tapi dengan segera otak Yanto sudah bekerja.Ia bergegas menelentangkan tubuh menutupi bagian jalan yang sudah tergunting,sekarang tinggal menunggu perkembangan selanjutnya, dengan jantung berdebar-debar karena gugup.


kemudian seorang wanita tua berpunggung bungkuk masuk sambil menjunjung lentera tinggi-tinggi.Ia memakai pakaian kaum pengembara yang sudah lusuh di kedua telinganya tergantung sepasang anting anting berupa cincin emas yang besar-besar.


""nah anak-anak Manis enak rasanya istirahat di sini?"katanya sambil terkekeh-kekeh,"kalian tidak mengindahkan peringatan Karin yang telah begitu baik hati terhadap kalian ! Nah sekarang lihatlah apa yang terjadi peringatan kaum pengembara perlu diperhatikan dituruti anak-anak manis apabila ingin selamat ! "


Tiba-tiba perhatian wanita tua bangka itu tertarik pada sikap Alvin dan Yanto yang nampak aku ia bergegas pergi ke dekat mereka.


"Kalian mau bermain anak-anak manis ?" katanya sambil terkekeh terus dengan sigap Yanto dibalikkan nya.Dengan segera dilihatnya bagian jalan yang sudah putus tergunting.


"ah begitu ya bocah bocah ini ingin melarikan diri !"ketua itu menggenggam pergelangan tangan Yanto lalu memutarnya sehingga pisau lipat terlepas dari pegangan dan jatuh ke lantai.Dengan segera wanita tua itu memungutnya.


"sekarang kalian terpaksa dihajar, anak-anak manis,"katanya."Helda !"wanita tua itu berseru memanggil memanggil."Helda bawa tali itu kemari ! burung-burung kita mau minggat !"


"iya ya, aku datang " seseorang menjawab dari luar,dari logatnya Alvin menabrak orang itu pasti seorang wanita Inggris.Sesaat kemudian seorang wanita bertubuh tinggi dan berpakaian apik muncul di ambang pintu ia membawa seutas tali.


"mereka ini ternyata cerdik sekali,"kata wanita tua dengan suara seperti bernyanyi."kita harus mengikat mereka rata-rata Tolong pegang kan yang seorang ini dulu, sementara aku mengikatnya."


Alvin hanya bisa melihat saja sementara kedua wanita itu dengan gerak-gerik catatan mengikat temannya kembali.Mula-mula Jalan dipotong dulu sampai terlepas setelah itu tangan Yanto diikatkan di belakang punggung disusul dengan kedua kakinya.dan akhirnya pergelangan tangan anak itu yang sudah terikat ditambahkan pula ke sebuah gelang besi karatan yang terpasang ke dinding bilik.


"sekarang mereka pasti tidak bisa membebaskan diri lagi Helda,"wanita pengembara yang sudah tua bangka itu terkekeh kekeh."aku sudah menyakinkan kedua kawan kita bahwa mereka tidak boleh bertindak kejam.Tidak kita tidak boleh kejam jangan sampai menumpahkan darah,kita tinggal saja kedua bocah ini di sini sedang pintu kita kunci dari luar mereka tidak akan bisa bercerita pada siapa-siapa, tentang kejadian yang mereka alami di sini."


"sayang,"kata wanita yang logatnya seperti orang Inggris."kelihatannya mereka anak-anak yang baik."


"kau tidak boleh lemah ya udah,"pekik wanita pengembara."kita sudah menjatuhkan pilihan dan kau tidak boleh melawan keputusan bersama itu sekarang cepatlah sedikit dan kita masih harus menghapus jejak lalu pergi dari sini.


sambil berkata begitu diambilnya lentera yang tergantung di dinding kalau pergi keluar.Wanita yang orang Inggris memegang lentera Yang satu lagi yang mengangkatnya tinggi-tinggi menerangi kedua remaja yang terkapar di lantai dalam keadaan terikat.

__ADS_1


__ADS_2