TEKA TEKI ISTANA BERHANTU

TEKA TEKI ISTANA BERHANTU
BAB 18 : Wawancara dengan Hantu


__ADS_3

Kedua laki-laki itu kelihatannya kaget. Begitu pula halnya dengan Alvin, Riza dan Arul.


"Tapi bagaimana mungkin"kata Alvin, namun Yanto langsung memotong.


"Mereka memakai pakaian wanita serta rambut palsu,"katanya."aku menyadari hal itu ketika teraba olehku sepatu mereka. Mana ada wanita memakai sepatu pria ! Saat itu aku langsung sadar, kelima anggota komplotan yang meringkus kita, sebenarnya hanya dua orang saja yang berganti-ganti pakaian."


"Maksudmu, jadi kedua orang Arab,laki-laki bangsa Cina serta kedua wanita tadi sebenarnya mereka itu cuma Mr Rex dan Mr Azof saja ?"tanya Alvin tercengang.


"Ya dia benar,"kata Mr Rex dengan nada lesu.


"Kami memainkan peranan suatu komplotan besar, supaya kalian berdua benar-benar ketakutan. Kami mengenakan kostum jubah dan gaun, karena dengan begitu kami bisa menukar peranan dengan cepat. Tapi jangan kalian menyangka, kami benar-benar bermaksud hendak mencelakakan kalian. Aku tadi datang kembali hendak membebaskan kalian, ketika mereka berdua ini melihatku."sambil berkata begitu ia, Ia menunding Yanto dan Arul.


"Kami bukan pembunuh,"kata Mr Azof, teman Rex yang bertubuh kecil."juga bukan benar-benar penyelundup. Kami cuma hantu."


Ia hanya tertawa geli. Tapi Rex tetap kelihatan serius.


"Kalau aku, aku pembunuh."katanya."aku menewaskan Steven terril."


" O ya, betul juga,"Mr Azof mengatakannya dengan sambil lalu, seolah-olah merupakan sesuatu hal yang sepele."kau menyingkirkan dia Tapi itu kan soal kecil."


"Mungkin polisi lain pendapatnya,"kata Arul."Saya rasa lebih baik kita menghubungi pihak berwajib saja. "


"Jangan ! Tunggu." Pembisu mengangkat tangannya."tunggu sebentar nanti kalian bisa berbicara sendiri dengan Steven terril."


"Maksud anda, dengan arwahnya"seru Alvin.


"Tepat sekali dengan hantunya.Ia akan menjelaskan nanti apa sebabnya aku menyingkirkannya."


Sebelum ada yang sempat menghalang-halangi.Mr Rex sudah menyelinap lewat ke kamar sebelah.

__ADS_1


"Jangan khawatir,"kata Mr.Azof." Ia bukannya hendak melarikan diri, sebentar lagi ia sudah kembali.O ya, ini pisau mu, Yanto,"


"Terima kasih,"kata Yanto, ia merasa senang karena Ia sayang pada pisau lipat yang bagus itu.


Tak sampai semenit kemudian, pintu yang dimasuki Mister Rex tadi terbuka lagi. Seseorang laki-laki muncul dari situ. Tapi bukan pembisik,orang yang baru muncul itu lebih pendek dan kelihatannya lebih muda. Rambutnya yang berwarna coklat sudah beruban, dan tersisir rapi. Ia memandang orang-orang yang berkumpul sambil tersenyum ramah.


"Selamat malam,"sapanya,"Aku Steven Terril kalian ingin bicara dengan aku ?"


semua menatapnya dengan mulut ternganga bahkan Yanto pun sekali itu tidak tahu akal.


Akhirnya Mister Azof yang membuka mulut


"Dia memang Steven terril,"katanya.


Tampang Yanto masam. Ia jengkel terhadap dirinya sendiri.


"Mister terril,"katanya,"Anda juga Rex,alias pembisu. Betulkan ?"


"Itu soalan gampang,"kata Steven Terril.


dengan tiba-tiba ia menyatakan rambutnya menunjukkan kepala botak di bawahnya. Ia juga meluruskan tegaknya sehingga langsung nampak bertambah tinggi. Matanya dipicingkan sedangkan bibirnya dirapatkan.Ia mendesis,"jangan bergerak jika masih sayang nyawa !"


Nadanya begitu meyakinkan, sehingga semua kaget dibuatnya. Iya memang pembisu.tapi ia juga bintang film yang dikabarkan sudah lama meninggal dunia.Setidak-tidaknya itu masih bisa disimpulkan sendiri oleh Riza dan juga Alvin.


Mir.Terrill alias Rex mengambil sesuatu benda aneh dari kantongnya. Tiruan bekas luka terbuat dari plastik.


"Kalau ini kutempelkan ke leherku lalu rambut palsu ku ini tidak ku pakai dan dalam sepatuku pasang alas tumit,"


Mr.Terrill mengenakan rambut palsunya kembali.langsung tampangnya berubah lagi kelihatan seperti manusia biasa.

__ADS_1


Anak-anak berebut mengajukan pertanyaan. Tapi Mr.Terrill mengangkat tangannya menyuruh mereka tenang.


"Lebih baik kita duduk terlebih dahulu,"katanya."nanti ku jelaskan semuanya. Kalian lihat foto itu ?"ia menunding foto di atas meja yang menunjukkan dirinya bersalaman dengan membisu, padahal Ia bersalaman dengan dirinya sendiri.


"Kalian tentu juga tahu juga itu dibuat dengan teknik tipuan untuk menambah kesan bahwa Terrill dan Rex itu memang dua orang yang berlainan. Soalnya ketika aku dulu baru saja mandi jadi bintang film. Aku merasa kewalahan dalam menangani urusan bisnis karena kecuali pemalu aku ini juga berlidah pelat,Aku paling tidak senang berbicara dengan orang lain aku tidak bisa menangani segala urusanku dengan sebaik-baiknya."


"Karena itu lantas kuciptakan tokoh pembisu lalu ku jadikan pengelola urusan bisnisku. Pembisu kalau bicara selalu sambil berbisik-bisik dengan nada menyeramkan, karena itu aku diberikan gelar sebagai pembisu, itu gunanya supaya lidahku yang telat tidak kentara.tampangnya begitu galak, sehingga aku sama sekali tidak pernah mengalami kesulitan dalam menghadapi orang-orang yang ada urusan dengan aku.Tak ada yang tahu bawha Terrill dan Rex sebenarnya cuma aku sendiri kecuali temanku ini Azof dulu dia perias ku. Dialah yang selalu membantu aku menjelma dari Steven terril jadi Pembisu."


"Anda sendiri kan yang menjatuhkan mobil anda ke bawah tebing ?" Selai Yanto


Mr.Terrill mengangguk


"Ya,betul,"Katanya."mula-mula Aku menulis surat dan meninggalkan di tempat yang mencolok sehingga pasti kemudian akan ditemukan orang."


"Walau sejak kecelakaan palsu itu istana kosong, tapi aku bisa setiap saat ke sana lewat terowongan dalam batu."


"Mr.Terrill,"kata Yanto,yang selama itu mendengarkan dengan penuh perhatian,"Anda menelepon kami setelah kunjungan kami yang pertama, lalu menirukan suara hantu untuk menakut-nakuti kami."


"Kusangka dengan begitu Kalian pasti bertambah takut."


"tapi dari mana anda bisa tahu bahwa kami akan datang malam itu, dan juga dari mana anda tahu kami ini siapa ?" Tanya Yanto sekali lagi.


Mr.Terrill tersenyum sekilas.


"Temanku inilah yang menjadi pengawas untukku," katanya, Azof hanya mengangguk.


"hari itu ketika ia melihat ada mobil Roll Royce memasuki Jalan ngarai lalu melaporkannya padaku,aku langsung teringat pada berita surat kabar mengenai seorang remaja yang memenangkan hak memakai mobil itu."


"Malam itu kalian terpaksa lari tunggang-langgang dari istana ini. Harap jangan kecil hati karena orang lain, karena orang lain masih lebih takut lagi,setelah kalian pergi aku kembali ke sini ku cari nama kalian dalam buku telepon tapi tidak ada. Aku lantas menghubungi bagian penerangan kantor telepon. Ternyata kau Baru saja memasang telepon, Yanto, aku lantas meneleponmu."

__ADS_1


"Oh begitu,"kata Yanto. Alvin menggaruk-garuk kepala, Ia teringat pada ucapkan Yanto yang mengatakan bahwa teka-teki jawabannya sederhana saja dan apabila sudah diketahui. Tapi sebelumnya akan repot.


__ADS_2