
Arul sudah semakin gelisah saja. Begitu pula halnya dengan Riza sudah sejak mereka menunggu dalam Roll Royce, menunggu Yanto dan Alvin kembali.Tapi selama itu keduanya masih belum ma kelihatan juga setiap lima menit Riza meloncat keluar dari mobil,lalu menatap kearah ngarai dan setiap sepuluh menit, Arul ikut keluar dan mengamati mengamati black crayon. Rasanya seperti menatap tenggorokan naga raksasa.
"Tuan Riza,"kata Arul pada akhirnya,"Saya rasa lebih baik Saya menyusul mereka saja sekarang."
"Tapi anda kan tidak boleh meninggalkan mobil,"kata Riza mengingatkan,"Anda harus selalu berada di dekatnya."
"Keselamatan tuan Alvin dan tuannya untuk lebih penting daripada mobil,"jawab Arul."saya akan mencari mereka sekarang."
Ia keluar dari mobil, lalu membuka tempat bagasi di belakang. Ia mengambil sebuah lampu darurat yang besar dari situ, sementara itu Riza ada di sampingnya.
"Aku ikut Arul,"kata Riza."Mereka sahabatku."
"Baiklah, kalau begitu kita pergi bersama-sama"
Arul masih mengambil pula sebuah palu besar untuk senjata apabila diperlukan. Setelah itu mereka masuk ke ngarai, karena kakinya yang belum pulih sama sekali, Alvin agak kewalahan mengikuti langkah supir yang jangkung itu. Tapi pada bagian-bagian yang sangat berbatu. Arul besar sekali gunanya.Alvin setengah dijunjung nya untuk melewati tempat-tempat sulit itu,tidak lama kemudian mereka sudah sampai di istana berhantu itu.
Mereka mondar-mandir di depan istana sambil menyeret lampu ke jendela jendela.Tiba-tiba Riza melihat tanda tanya Besar yang dibuat dengan kapur putih pada pintu angin yang terbuka sedikit.
"Rupanya mereka masuk lewat sini !"serunya dijelaskan pada artikel tentang tanda Sandi Trio
detektif. Pintu itu dibuka lalu mereka masuk ke dalam. Sesampainya di dalam Arul menyorotkan lampu berkeliling.
Arul melihat tanda tanya Yang samar-samar pada pangkal tangga.
"Kita harus lewat tangga,"katanya."tuan Yanto sangat panjang akalnya dan ia meninggalkan jejak yang harus kita ikuti."
"Tapi apa kiranya yang terjadi dengan mereka, Arul?"tanya Riza.
Sementara mereka menuruni tangga yang berputar-putar terus ke bawah.Riza gak pusing kepalanya karena tak henti-hentinya berjalan memutar ke arah sana.
"Kita hanya bisa menduga-duga,"kata Arul.Ia berhenti sebentar memperhatikan tanda tanya yang nampak pada suatu landasan tangga."jika tuan Yanto tadi berjalan sambil menuruni tangga, tanda ini pasti dibuatnya di dinding kira-kira setinggi mata, jadi saya terpaksa menarik kesimpulan bahwa ia membuatnya sementara dirinya digendong.dan ia melakukannya pada setiap kesempatan orang atau orang yang menggendongnya berhenti sebentar untuk beristirahat. Mungkin saat itu ia sempat menyentuh lantai tanpa ketahuan."
"Tapi siapa yang menggendong nya ke sini ?"tanya Riza cemas."ini kelihatannya kayak penjara di bawah tanah."
"Yes persis sekali yang seperti yang ada di sebuah istana kuno di Inggris, dimana Saya pernah bekerja,"kata Arul."tempat itu tidak enak! Mengenai siapa yang menggendong Tuhan Yanto ke sini Saya tidak tahu. Sayangnya kita sekarang kelihatannya kehilangan jejak."
Sementara itu mereka sudah sampai di kaki tangga, dari tempat itu ada tiga lorong yang menuju ke berbagai arah.Semuanya sama gelapnya dan di mana-mana tidak nampak tanda tanya yang dibuat dengan kapur.
"Kita padamkan saja lampu sebentar lalu memasang telinga,"kata Arul."dalam gelap mungkin akan terdengar sesuatu,"
Begitu lampu dipadamkan kegelapan langsung menyelubungi mereka. Tercium bau udara pengap dan lembab. Tiba-tiba terdengar bunyi yang asing kedengarannya seperti batu bergeser di atas batu, sesaat kemudian nampak Sinar cahaya remang datangnya dari ujung lorong sebelah tengah.
__ADS_1
"Tuan Yanto !" Seru Arul."Anda kah itu ?"
Sekilas mereka melihat seorang wanita membawa lentera.tapi dengan segera lentera itu dipadamkan terdengar lagi bunyi batu tergeser, sedang sekeliling mereka sudah gelap gulita lagi.
"Kejar dia!"seru Arul sambil lari memasuki lorong. Riza menyusul dengan langkah terpincang-pincang, ketika akhirnya tersusul arus udah sibuk memukul-mukul dinding batu. Rupanya long itu berakhir di situ.
"Wanita tadi masuk ke sini !"kata Arul."saya tahu pasti, saya terpaksa menggunakan kekerasan sekarang." Diambilnya palu besar yang terselip di pinggang, lalu memukul-mukulkan nya ke dinding itu.ternyata pada satu bagian terdengar bunyi seakan-akan di belakangnya.Dinding itu sebenarnya pintu pintu rahasia Arul terus mengguncangnya.Akhirnya lepas terenggut di belakangnya ada lorong lagi ya nampaknya menuju ke perut Bukit karena seluruh sisinya dari batu.
"ini terowongan!"seru Arul."Orang yang menyekap Tuhan Yanto dan tuan Alvin pergi lewat terowongan ini, wanita tadi rupanya seorang dari mereka.Cepat sebelum ia berhasil melarikan diri."
Arul membimbing Riza agar mereka bisa lebih cepat berjalan, setelah beberapa langkah, terowongan ini terasa kasar sekali.Langit-langitnya rendah sehingga Arul terpaksa berjalan terbungkuk bungkuk di situ, tahu-tahunya lampunya jatuh karena terantuk dinding, lalu padam.Sementara Riza menggerayangi lantai mencari lampu itu didengarnya bunyi kelepak sayap serta suara mencicit-cicit.Tiba-tiba sesuatu yang lembut membentur dirinya dalam gelap disusul sambaran dekat kepala.
"Kelelawar !"seru Riza ketakutan."Arul kita diserang kakawanan kelelawar raksasa."
"tenang kawan jangan panik !"kata Arul. Ia berlutut selalu mencari-cari lampunya yang jatuh tadi, sementara Riza menutupi kepalanya dengan.Di sekelilingnya bertebangan makhluk-makhluk besar bertubuh lembut.Se ekor tanya handak hinggap di kepala Riza. Ia pun menjerit ngeri sambil buru-buru mengibaskan binatang itu.
"Arul !!"teriaknya."mereka bukan kelelawar biasa tapi vampir raksasa ! badannya sebesar burung dara !"
"Ah, Saya rasa bukan tuan Riza,"kata Arul. Ia sudah menemukan lampu senternya langsung disorotkan ke atas.Nampak ber lusin lusin binatang bersayap berterbangan di atas kepala mereka.
Arul cepat cepat memadamkan lampu lagi
Reza memegang tangan Arul dan orang Inggris itu berjalan mendahului, sambil meraba-raba sepanjang dinding batu yang kasar. burung-burung tadi tidak kedengaran lagi, Riza dan Ariel berhasil kembali ke ruangan bawah tanah istana berhantu, tanpa ada yang merintangi,pintu rahasia ditutup kembali supaya burung-burung itu tidak bisa ikut masuk.
......................
suara mereka kedengarannya datang dari lorong gelap yang baru saja ditinggalkan oleh Riza dan Arul.Supir Rolls Royce itu bergegas masuk kembali ke lorong itu di situ ditemukannya sebuah pintu yang tadi tidak nampak, karena terburu-buru mengejar wanita yang membawa lentera,ketika pintu itu dibuka di dalamnya nampak sebuah sel sempit lengkap dengan gelang-gelang besi terpasang di dinding. Alvin dan Yanto ada dalam sel itu terikat erat seperti bingkisan Natal,keduanya sama sekali kelihatan senang karena ditolong mereka malah jengkel karena teriakan teriakan mereka tidak sudah didengar dari tadi.
sambil membebaskan keduanya dari ikatan Arul menjelaskan bahwa ia tidak bisa mendengar teriakan mereka sebab sibuk mengejar wanita misterius tadi, serta ribut menghantam pintu terowongan supaya bisa masuk.
"kita harus segera keluar dari sini lalu memberitahukan pihak berwajib,"kata Arul, sementara Yanto dan Alvin sibuk membersihkan diri dari debu."mereka itu berbahaya yang ditinggalkan di sini supaya mati kelaparan."
Yanto tidak begitu mempedulikannya perhatiannya lebih tertarik pada kisah Riza yang mengatakan tadi diserang burung-burung dalam terowongan.
"burung-burung jenis apa"tanyanya
"jenis apa ?"seru Riza dengan kesal."aku tak sempat menanyakan tadi pada mereka, pokoknya cara mereka menyerang kaya Garuda ukuran mini."
"Sebetulnya Mereka tidak berbahaya,"kata Arul."mereka tadi hanya tertarik pada cahaya terang menurut perasaan saya burung tadi itu parkit, tuan Yanto."
"Parkit ?"Arul terlonjak seperti disengat kalajengking,"Ayo,ikut aku kita harus bertindak cepat"
__ADS_1
mereka bergegas menyusul Yanto yang walau pergelangan kakinya masih dibalut sementara itu sudah sekitar lima pulun meter jauhnya di depan mereka,Dengan cepat Alvin meninggalkan Arul karena ia masih harus membantu Riza,ketika keduanya masuk ke terowongan nampak cahaya senter Yanto dan Alvin bergerak-gerak di depan.Mula mulai menanjak,lalu turun,kemudian menikung.
mereka berjalan secepatnya mungkin dilakukan tanpa mengacuhkan burung burung parkit yang bertebangan sekeliling mereka,di beberapa tempat Arul harus berjalan terbungkuk terbungkuk karena sisi atas terowongan di situ sangat Rendah,akhirnya mereka sampai di bagian yang lurus nampak di kejauhan kedua center tidak bergerak lagi.Arul dan Riza bergegas menyusul sesampai di tempat kedua senter tadi berhenti bergerak ternyata di situ ada pintu dari kayu, pintu itu terpentang lebar.Mereka melewatinya menggabungkan diri dengan Yanto serta Alvin yang sudah lebih dahulu keluar.ternyata mereka berada dalam sebuah kandang kawat yang besar dikerubungi sejumlah besar burung parkit yang menggelepar-gelepar ketakutan.
"kita berada dalam kandang besar tempat Mister Rex memelihara burung burung parkit."seru Yanto mengalahkan kebisingan suara burung.
......................
Yanto mendorong pintu kawat kandang itu sampai terbuka mereka berempat bergegas keluar. ternyata mereka dekat sekali dengan bungalo Mister Rex.Lewat jendela rumah itu mereka melihat Mister Rex sedang bermain kartu dengan seorang laki-laki berbadan kecil dan berambut gondrong.Mereka nampaknya santai sekali.
Yanto menyelinap ke pintu depan diikuti yang lainnya, sesampai di situ ia menekan bel dengan segera pintu terbuka.MR.REX muncul di ambang nya sambil menatap mereka dengan kening berkerut,baru sekali itu Riza melihat tampang orang itu yang ngeri melihat kesamaannya dengan kepalanya yang botak serta bekas luka memanjang di leher.
"ada apa?"bisik Mister Rex dengan nada menakutkan
" kami ingin berbicara sebentar dengan anda Mister Rex,"kata Yanto
"kalau begitu"kini Arul yang berbicara,"kami terpaksa minta pihak berwajib untuk mengadakan pengusutan.
MR.rex nampak kaget
"itu tidak perlu!"katanya terburu-buru,"Ayo masuk lah!"
Yanto,Alvin,Riza dan Arul mengikutinya masuk ke dalam ruangan di mana laki-laki yang bertubuh kecil masih duduk menghadap meja. orang itu kecil sekali tingginya paling-paling satu setengah meter.
"ini teman lamaku Azof,"kata Rex ,"Azof ini mereka para remaja yang mengadakan penyelidikan di istana ini nah sudah berhasil kah kalian menjumpai hantu-hantu di situ?"
"Ya, sudah,"kata Yanto,"kami sudah berhasil mengetahui misteri istana itu."nadanya begitu yakin sampai Alvin dan Riza tercengang mendengar nya baru saat itu mereka tahu bahwa mereka berhasil dengan penyelidikan mereka.
"oh yeah"kata pembisu, alias Mr.Rex (MR.Ex )."lalu apa rahasianya."
"Anda berdua lah hantu yang selama ini menghantui istana itu, sehingga tidak ada yang berani datang ke sana,"kata Yanto."Dan beberapa saat yang lalu Anda berdua pula yang meringkus diriku serta temanku Alvin lalu meninggalkan kami berdua dalam sel bawah tanah."
muka pembisu begitu masam sehingga secara otomatis arah menggenggam palunya lebih erat.
"cukup itu tuduhan berat nak,"bisik mister .Rex."dan aku berani bertaruh kau tidak mungkin bisa membuktikannya"
Alvin juga berpendapat begitu walau tidak dikatakannya olehnya. jangan-jangan Yanto sudah sinting mereka tadi kan diikat dua orang wanita seorang Inggris, serta seorang wanita tua kaum pengembara.
"lihat saja ujung sepatu Anda,"kata Yanto.
"aku menandai sepatu-sepatu Anda berdua dengan tanda rahasia kami sementara anda berdiri di dekat kami ketika sedang mengikat kami dengan tali."
__ADS_1
kedua orang itu memandang sepatu mereka. di ujung sepatu kanan keduanya yang hitam mengkilat nampak tulisan yang dibuat dengan kapur, sepasang tanda tanya !