
Masih banyak lagi catatan Riza tentang peneroran istana. Semua dibaca oleh Yanto dengan teliti,Riza berulang kali mengatakan biar dipaksa setengah mati pun ia tetap tidak mau pergi ke tempat seram itu.tapi kenyataan Ia sudah siap ketika tiba saatnya berangkat ke sana iya memakai pakaian yang Sudah usang di bahunya ter sandang alat perekam suara yang diperolehnya dari seseorang teman kantor, ditukarnya dengan kumpulan perangko.
Riza membawa buku catatan lengkap dengan pensil sedangkan Yanto menyandang kamera lengkap dengan lampunya, Yanto dan Riza mengatakan pada orangtua masing-masing bahwa mereka hendak pesiar ikut Yanto dengan Roll Royce yang dimenangkan untuk 30 hari, orang tua kedua remaja itu kelihatannya berpendapat asal Yanto ada bersama anak mereka pasti semua beres kecuali itu ,
begitu hari sudah mulai gelap mobil Roll Royce,yang besar datang menjemput mereka Yanto membawa peta lokasi Black crayon dan Paman Arul melihat peta itu sebentar.
"Baiklah tuan Yanto"katanya singkat dan mobil itu meluncur pergi sementara kendaraan menyusuri jalan jalan yang berkelok-kelok di perbukitan Yanto memberikan instruksi terakhir pada kedua rekannya,
"Kunjungan ini gunanya untuk mendapat kesan pertama,"katanya"tapi apabila nanti ada sesuatu yang luar biasa aku akan memotretnya dan kalau terdengar bunyi apa saja kau harus langsung merekamnya ya Riza".
"Paling-paling yang kedengaran lantis cuma suara gigiku yang gemeletuk ketakutan",
kata Riza sementara Paman Arul membelokkan mobil memasuki jalan sempit yang diapit tebing bukit yang curam
"Apa pendapatmu Yanto " kata Riza melanjutkan,"kau menunggu dalam mobil sampai kami kembali"
"Nah begitu tugas yang paling kusenangi", kata Riza terkekeh kecil
"aduh gelap sekali jalan ini"
mobil terus menyusuri jalan sempit berkelok-kelok makin lama makin tinggi satu rumah pun tidak kelihatan di situ
"Nama Black crayon memang cocok untuk tempat ini"kata Yanto,"gelapnya bukan main!"
__ADS_1
"Di depan ada halangan rupanya", kata Yanto .
Jalan sempit itu terhalang tumpukan batu besar dan kecil,bukit-bukit di daerah situ tidak banyak ditumbuhi rumput Yang ada cuma semak belukar jadi gampang sekali terjadi tanah longsor,dan batu-batu yang berjatuhan ke Jalan menimpa Malang yang rupanya dipasang di situ sebagai, penghalang supaya jangan ada orang yang lewat.
Paman Arul menghentikan mobil di tepi jalan
"Saya rasa kita tidak bisa terus ke sana"katanya,"tapi melihat peta tadi rasanya nggak hari ini sudah hampir berakhir, cuma beberapa ratus meter lagi di balik tikungan itu"
"Terima kasih Paman Arul yuk Riza kita keluar dari sini kita akan jalan kaki"
"Sejam lagi kami kembali"seru Yanto pada Paman Arul yang sementara itu sudah sibuk memutar Roll Royce yang besar itu dengan hati-hati.
Di perjalanan Yanto diam saja sambil merunduk di samping Riza ia mengamati mengamati keadaan di depan di ujung lare gelap dan sempit Itu tampak samar-samar. bentuk suatu bangunan yang luar biasa.bentuk menara beratap lancip nampak jelas dengan latar belakang langit penuh bintang tapi yang kelihatan cuma itu saja selebihnya istana,yang katanya berhantu itu sama sekali tidak nampak bangunan itu terletak di ujung lare sempit dibangun menempel pada tebing.
"Perasaanmu pasti akan lebih senang nanti juga Misteri ini sudah kita selesai kita selidiki,"kata Yanto padanya ,"bayangkan betapa hebat reklame ini bagai biro penyelidik kita"!
"tapi bagaimana jika nanti benar-benar berjumpa dengan hantu yang gentayangan di tempat ini, dan,bagaimana kalau ketemu hantu biru,setan edan atau entah apa yang namanya yang menghantui tempat ini"?
"Justru itu yang ku inginkan",kata Yanto ditepuk nyala kamera yang tergantung pada bahunya "jika berhasil memotret nya pasti nama kita akan terkenal"
"Tapi bagaimana jika kita tertangkap oleh Nya?"tukas Riza
"Sssstt!"desis Yanto .anak itu berhenti berjalan.
__ADS_1
Senter pun dipadamkannya dengan saudara Yanto tidak berani berkutik sedikit pun kini kegelapan menyelubungi kedua remaja itu
mereka melihat seseorang atau sesuatu yang menuruni lereng bukit menuju ke arah mereka, Riza cepat-cepat membungkuk sementara itu Yanto bergegas menyiapkan kamera.
Bunyi batu-batu menggelinding tertendang kaki yang melangkah sudah dekat sekali,ketika tiba-tiba kegelapan,dipecahkan pancaran lampu kamera yang dipegang Yanto.
Diterangi cahaya silau yang Hanya sekejap itu, Riza melihat sepasang mata besar,dan merah bergerak dengan cepat dan meloncat ke arah mereka disusul angin, sesuatu yang lewat jatuh di atas beton jalanan lalu mereset pergi sambil meloncat-loncat, batu-batu kecil bergulingan menyentuh kaki kedua remaja itu.
"Aduh rupanya cuma kelinci"kata yang dari nada suaranya terdengar bahwa ia kecewa
"dia takut karena kita",
Riza sebetulnya hendak mengatakan ia tidak kepingin mendengar segala bunyi itu tapi dia diam saja karena tahu bahwa Tak akan ada gunanya.
Jika Yanto sudah menghendaki sesuatu tekadnya sudah bulat,mencoba membujuknya supaya mengubah pikirannya sesulit sama seperti, mencoba menggeser batu sebesar rumah, semakin dekat mereka menghampiri istana besar yang sudah tua itu semakin tidak enak saja perasaan melihatnya.
setelah agak lama menyusuri tembok tinggi yang terbuat dari batu dan di sana sini sudah runtuh akhirnya kedua remaja itu memasuki pekarangan,sebenarnya dari peneroran istana.
"Kita sudah sampai", kata Yanto, Ia berhenti lalu mendongak
sebuah menara menjelang tinggi satu lagi agar lebih pendek dari yang pertama kali hartanya seakan menatap tajam mereka dengan pandangan masam,jendela jendela memberi kesan seolah-olah mata yang buta menatap langit dan mencerminkan kelipan bintang.
^^^ SITIHABIBAH89^^^
__ADS_1