
Riza agak bergidik.
"Tinggal dua jam lagi, matahari terbenam. Nanti tahu-tahu sudah gelap"
Riza pun menoleh ke belakang ke arah jalan yang penuh dengan batu-batu bertaburan, Arul menunggu dalam mobil di balik tikungan. Menaati intruksi majikannya
Riza berbekal kamera dan juga tab recorder yang disandang oleh Nya.
Riza melangkah serampak menaiki jenjang yang menuju ke pintu depan yang besar, ternyata pintu itu tertutup.
"Aneh,"kata Riza dengan kening berkerut."aku harus menelpon sahabatku yang detektif juga"
Tidak begitu lama datanglah sahabat Riza yang bernama Alvin yang juga merupakan seorang detektif.
"maaf aku tadi terlambat"kata Alvin sambil menepuk bahu Riza,"oke satu pertanyaanku kenapa kita dibawa ke tempat membisu".
"Aku ingin menyelidiki tentang Skinny noris dan kau tahu tentang Mister Ek."
"Oke kalau kau mau begitu cepat buka pintunya"kata Alvin
"aku yakin Skinny noris menutup pintunya ketika kami melihat dia lari tunggang langgang keluar waktu itu".
"Mungkin tertutup karena angin,"kata Alvin"
Riza memutar tombol pintu. Dan pintu terbuka di ini bunyi berderit yang menyeramkan. Kedua remaja itu agak kaget karena nya
"Itu kan cuma bunyi engsel yang sudah karatan"kata Riza."tidak perlu kita gugup karenanya."
"Siapa bilang Aku gugup?"sahut Alvin ."Aku cuma takut hehehe".
__ADS_1
Mereka masuk ke serambi besar, sementara pintu depan dibiarkan terbuka oleh mereka. Di satu sisi serambi itu terdapat sebuah ruangan luas, penuh dengan barang-barang kuno. Kursi serta meja besar dari kayu penuh ukiran serta pendiangan yang besar sekali. Yanto menugaskan untuk memeriksa tempat itu serta membuat foto di situ, Riza tidak melihat keistimewaan ruang itu. walau demikian dibuatnya juga beberapa foto dengan memakai lampu blitz.
kemudian mereka menuju ke serambi bundar, di mana Yanto dan Riza mendengar gema. tempat itu rasanya aneh dan seram,berisi pakaian zirah serta lukisan-lukisan MR.EK, dengan beberapa jenis kostum yang dipakai nya dalam film-filmnya.tapi kesuraman tempat itu agak di kurangi cahaya matahari yang masuk lewat jendela berdebu yang terdapat dekat tangga menuju ke atas, kira-kira ada pertengahannya.
......................
sementara Alvin turun dari kursi, Riza berpaling hendak menuju ke tangga.tepat saat itu dirasakannya ada yang memegang tali penggantung kamera yang bersandar di bahunya.?sekilas dilihatnya sesosok tubuh tinggi berdiri dalam relung gelap yang ada di
belakangnya. Riza terpekik karena kaget dan ngeri, lalu bergegas hendak lari ke pintu.
tapi larinya tidak jauh. tali kamera yang terpegang menyebabkan geraknya tertahan. Riza kehilangan keseimbangannya lalu jatuh ke lantai yang berubin batu pualam. sementara jatuh ia masih sempat melihat sesosok tubuh yang kekar bergerak, seperti hendak menyambar ke arah nya. sosok itu berbaju zirah dan mengayunkan pedang besar tepat ke arah kepalanya.
sekali lagi Riza menjerit sambil cepat-cepat menggeser tubuh ke samping.pedang panjang itu mengenai lantai disertai bunyi berdentang tepat di mana Riza tadi terkapar. dan sosok tubuh berbaju zirah menyusul ambruk ke lantai diiringi bunyi berisik. kedengarannya seperti Tong yang penuh berisi kaleng jatuh ke dalam jurang.
kepala orang yang berbaju zirah jadi ketopong nya. copot dari leher dan terguling-guling di lantai. nyaris saja Riza terpekik untuk ketiga kalinya. tapi ia sempat memandang lebih jelas. dengan segera dilihatnya baju zirah itu ternyata kosong.
...----------------...
......................
setelah itu mereka meneruskan pemeriksaan alas kursi yang nampaknya empuk ternyata sudah lapuk semuanya. kain yang robek-robek tergantung di tempat yang dulunya merupakan layar berwarna putih. semakin lama Riza dan Alvin berada dalam ruangan itu rasanya semakin pengap.
"di sini tidak ada apa-apa,"kata Alvin."sekarang kita periksa apa yang ada di atas"
...----------------...
sesampai di balkon mereka melihat bahwa lukisan-lukisan itu semuanya tergantung pada sebuah papan yang terpasang di bawah balkon. bersama-sama mereka menarik kawat penggantung lukisan bajak laut.lukisan itu sebenarnya biasa saja permukaan nya agak mengkilat karena lukisan itu dibuat dengan cat minyak,menurut Riza mungkin kilatan cat itu menyebabkan Yanto mengira mata yang menatapnya hidup. tapi Yanto masih agak sangsi.
setelah lukisan itu diturunkan kembali mereka melanjutkan langkah menaiki tangga.mereka bermaksud hendak mulai memeriksa dari tingkat paling atas lalu pelan-pelan turun ke tingkat bawah.
__ADS_1
Riza dan Alvin memandang ke bawah mereka berada di tempat yang lebih tinggi daripada sisi atas tebing ngarai . di kejauhan nampak Bukit. Bukit Di balik Bukit sejauh mata memandang. tiba-tiba Alvin berseru kaget
"lihatlah ada antena televisi,"katanya.
Di atas tebing yang paling dekat dengan tempat dipasang di situ oleh seseorang yang tinggal dalam ngarai berikutnya, dan yang dari situ penerimaan pesawat televisi nya ku.rang baik.
di lantai berikut sebelah bawah mereka sampai disebuah serambi. di ujung serambi ada pintu terbuka Alvin dan Riza menjenguk sebentar ke dalam. rupanya kamar di sebelah serambi itu ruang perpustakaan oleh MR.EK.di mana ia meninggalkan surat sebelum menjatuhkan diri dengan mobilnya ke bawah tebing,soalnya dalam kamar itu nampak buku-buku berjajar di atas rak.sedang di salah satu dindingnya tergantung lukisan-lukisannya sejenis dengan yang dipajang dalam bilik gema tapi berukuran lebih kecil.
......................
mereka sampai di depan sebuah relung yang tidak dalam. di situ terpajang peti mumi sebuah peti mayat asli dari Mesir, seperti yang ada di museum museum. peti itu tertutup dan diatasnya terpasang sebuah pelat dari Perak. dengan mata terpicing, Riza membaca tulisan yang terukir di situ
isi peti ini diwariskan pemiliknya MR.WILSON kepada orang yang telah begitu sering menyajikan ku hiburan menarik baginya
-Mr.EK-
...----------------...
keduanya melanjutkan langkah menurun menuruni jenjang sempit yang berputar-putar.Riza sama sekali tidak menyangka ia bisa berjalan begitu cepat dengan kakinya yang belum sembuh total.
Alvin berada di depan menuruni jenjang dengan bantuan cahaya senter yang cuma remang-remang dengan cahayanya yang lemah mereka masih bisa mengenali Bahwa saat itu mereka berada dalam sebuah bilik kecil berbentuk persegi empat. dalam bilik itu terdapat dua buah pintu. sementara mereka masih bimbang pintu mana yang dipilih, tiba-tiba Alvin menyambar lengan Riza.
"Heh kau dengar tidak!"katanya.
Riza memejamkan pendengarannya didengarnya bunyi musik orgel. yang samar-samar aneh bunyinya!ada orang yang sedang memainkan org tua yang terdapat dalam ruang proyeksi.
......................
Alvin dan Riza cepat cepat lari menuju pintu. Alvin bergegas mendorongnya dan mereka berdua sampai dibeli gema,mereka tidak berhenti di situ tapi langsung menuju ke pintu besar di depannya yang masih terbuka seperti tadi. dengan hati berdebar ditunggunya hantu biru tadi datang mengejar. Ia tidak bisa mendengar apa-apa karena dikalahkan nafasnya yang tersengal-sengal,ketika hal itu bisa darinya ia lantas menahan napas di tengah kesunyian yang tiba-tiba mencekam, terdengar bunyi langkah menggeser diatas tubing ubin teras,makin lama bunyi langkah kaki itu makin dekat.
__ADS_1
tiba-tiba bunyi langkah itu terhenti makhluk itu tegak tepat di depan Riza bersembunyi. begitu Riza merasa bahunya dipegang seketika itu juga terpekik.suaranya melengking tinggi membahana dalam ngarai yang dan terpantul pada lereng bukit terdekat.