
Alvin dan Yanto menatap lubang gelap itu sambil melongo.
"astaga!"kata Alvin."Lorong rahasia!"
"tersembunyi di balik cermin."kening Yanto berkerut."kita perlu memeriksa nya"
sebelum Alvin sempat membantah,Yanto sudah melangkah masuk sambil menyorotkan senternya ke depan dan ke dalam lorong yang sempit dan kelihatannya panjang. kelihatannya hanya sebuah gang saja,dindingnya dan batu kasar di kiri kanannya tidak ada pintu kecuali di ujung.
"Yuk,"kata Yanto."kita harus memeriksa kemana arah Gang ini."
Alvin mengikuti dari belakang.ia sebenarnya enggan masuk ke lorong rahasia itu. tapi ditinggal sendiri juga tidak mau ! lebih baik berdua daripada seorang diri, Pikirnya.
sementara itu Yanto sibuk meneliti dinding-dinding batu itu dengan bantuan senternya, kemudian ia berpaling, memeriksa ambang pintu yang berupa. cermin nya sendiri nampak biasa saja terpasang pada daun pintu kayu. padanya tidak terpasang tombol atau gerendel.
"Aneh,"gumamnya."mestinya ada satu cara tertentu untuk membuka pintu ini."
sambil berkata begitu pintu didorong nya sambil tertutup. terdengar bunyi detakan nya agak keras, mereka terkurung dalam gang yang gelap.
"nah sekarang kau mengurung kita di sini."seru Alvin cemas.
"Hmm.."Yanto berusaha mencari pegangan supaya bisa membuka pintu itu kembali. tapi tidak ada yang bisa dijadikan pegangan,sisi belakang daun pintu rata dan persis sekali menutup lubang masuk tadi.sedikitpun tak ada celah kedalam mana bisa diselipkan Jari. jangankan jarizkuku saja pun tidak bisa masuk.
"pasti ada salah satu jalan untuk membuka pintu ini,"kata Yanto,"tadi kenapa begitu gampang terbuka? padahal cuma kusentuh saja!"
"sudahlah jangan pakai heran heran segala,"tukas Alvin."pokoknya sekarang kau buka lagi Aku ingin keluar!."
"aku yakin jika keadaan betul-betul mendesak kita bisa memecahkan daun pintu, ini Serta cermin yang ada di sebelah depannya,"kata Yanto sambil meraba-raba kayu daun pintu."Tapi itu tidak perlu karena kita sekarang pergi ke arah sana."
Alvin sudah hendak mengatakan bahwa ia tidak sependapat. tapi Yanto sudah pergi menyusuri gang sempit itu sambil mengetuk-ngetuk dinding.
"seluruhnya dari batu,"katanya sambil berjalan
"tapi ada kesan di belakangnya kosong Coba kau dengarkan."
Yanto mengetuk-ngetuk dinding lagi sementara Alvin mendengarkan kemudian terdengar olehnya bunyi lain.
Ia mendengar bunyi orgel tua yang rusak.bunyinya seperti jauh sekali nada-nadanya yang aneh dan menghembus hembus rasanya seperti mengisi lorong sempit itu, datang dari segala arah sekaligus.
"Dengar!"seru Alvin."hantu biru mulai main musik lagi !"
"aku juga mendengarnya,"kata Yanto. anak itu mendekatkan telinganya ke dinding lorong selama beberapa waktu.
"musiknya seperti merembes lewat dinding ini,"katanya kemudian."kuduga kita saat ini berada langsung di belakang orgel yang di ruangan proyeksi itu"
"maksudmu hantu biru ada di balik dinding ini?"kata Alvin.Napasnya tersentak karena kaget.
"mudah-mudahan saja begitu,"kata Alvin.
"Karena tujuan kita kemari malam-malam ini kan untuk mencari dia dan memotretnya. dan kalau bisa juga mengajaknya berbicara"
"bicara dengan dia ?"Alvin mengeluh.
__ADS_1
"Maksudmu,Kita benar-benar akan bicara dengan dia?"
"kalau kita bisa memergokinya."
"bagaimana kalau kita dipergoki oleh Nya?"tanya Alvin."itu yang ku kawatirkan selama ini."
"perlu ku katakan sekali lagi"nada suara Yanto terdengar agak galak,"dan berdasarkan catatan yang ada pada kita,hantu biru belum pernah mengapa apakan siapapun juga seluruh rencana tindakan ku berdasarkan pada kenyataan itu. ketika aku terpaksa berbaring di tempat tidur aku menarik beberapa kesimpulan mengenai kasus ini,selama ini belum pernah ku ceritakan karena masih memerlukan bukti dan juga kurasa sebentar lagi kita akan tahu segala kesimpulanku itu benar atau tidaknya..."
"tapi bagaimana jika kau ternyata keliru?"tanya Alvin cemas."bagaimana jika kesimpulanmu sawah dan hantu biru ingin agar kita turut menjadi hantu di sini ? kalau begitu bagaimana?"
"kalau itu yang akan terjadi aku akan mengaku salah,"kata Yanto."Tapi saat ini aku akan meramalkan sesuatu sebentar lagi kita akan merasakan kengerian yang luar biasa."
"sebentar lagi?"nyaris saja Alvin berteriak
"Kau kira perasaanku sekarang ini bagaimana?"
"kau baru merasakan kegelisahan yang sangat. tapi sebentar lagi kau akan merasakan kengerian yang luar biasa."
"kalau begitu sudah waktunya aku pergi dari sini ayo kita pecahkan saja cermin tadi lalu cepat-cepat lari dari sini."
"Tunggu!"Yanto menggenggam pergelangan tangan Alvin."kuingatkan padamu lagi takut ngeri itu cuma perasaan belaka. kau memang akan merasakan ngeri tapi kecuali itu kau tak akan mengalami apa-apa lagi,"
sementara Alvin menjawab tahu-tahu dirasakannya perubahan aneh dalam lorong rahasia itu.tanpa disadari sementara mereka sedang mendengarkan musik nya yang datang dari balik dinding secara tiba-tiba saja ada kabut tipis bergerak di situ,di segala penjuru lorong nampak kabut di lantai sepanjang dinding merayapi isi atasnya.
Alvin menggerakkan senternya keatas dan kebawah diterangi oleh cahaya senter,nampak kabut berputar pelan pelan bergabung dan terurai lagi, bergulung-gulung, dan melingkar sementara Alvin menatap terus, Ia mendapat kesan seperti melihat berbagai wujud aneh dan menyeramkan.
"lihat!"katanya dengan suara gemetar."Aku merasa seperti melihat muka muka menyeramkan dan itu ada naga,dan harimau,juga dan bajak laut bertubuh gendut....."
Alvin dan Yanto saling bergenggaman tangan. ternyata ramalan Yanto tepat, tahu-tahu Alvin merasakan kengerian merambati seluruh tubuhnya, mulai dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. bulu romanya meremang, tapi karena Yanto mesinnya juga merasakannya tapi tetap Alvin lantas menahan dengan kuat keinginannyaAlvin lantas menahan dengan kuat keinginannya untuk hari kembali dan memecahkan cermin yang merintangi jalannya menuju keluar.
sementara rasa ngeri menyelubungi kabut semakin tebal berputar-putar dalam lorong yang sempit.
"kabut kengerian,"kata Yanto. suaranya agak gemetar Tapi walau begitu ia maju terus.
"mengenainya pernah ada laporan beberapa tahun yang lalu, penjelmaan yang paling menyeramkan di istana ini.Sekarang kita harus berusaha memergoki hantu biru sementara ia mengira kita lumpuh karena ketakutan,"
"aku tidak bisa,"desis Alvin di segala giginya yang didapatkan supaya jangan gemeletuk,"aku memang lumpuh. aku tidak bisa menyuruh kakiku melangkah."
Yanto berhenti
"sudah waktunya sekarang untuk menceritakan kesimpulan yang kuambil sewaktu masih berbaring di tempat tidur, Alvin"
katanya,"waktu itu aku menarik kesimpulan bahwa istana ini memang dihantui oleh hantu biru"
"itulah yang selama ini selalu ku katakan!"
"tempat ini benar-benar dihantui, tapi bukan oleh hantu. tempat ini dihantui seseorang yang masih hidup menurut hasil pemikiran, hantu istana itu sebenarnya adalah Mr.Ek sendiri yang dianggap sudah mati."
"apa?"Alvin begitu terperanjat sampai lupa pada rasa ketakutan nya."maksudmu selama ini ia masih hidup?"
"tempat hantu yang sebenarnya masih hidup menakut-nakuti supaya tidak ada yang berani kesini sehingga istana ini bisa tetap dimilikinya."
__ADS_1
"Tapi mana mungkin?"tanya Alvin."maksudku kita kan sama-sama tahu di sini sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang yang keluar masuk, bagaimana caranya memperoleh makanan serta perbekalan lainnya?"
"entahlah aku juga tidak tahu dan justru itulah yang ingin kutanyakan padanya, tapi pokoknya sekarang kau mengerti Ia memang sengaja menakut-nakuti kita, supaya jangan datang ke sini ia sama sekali tidak bermaksud mencelakakan siapapun juga. nah sekarang sudah lebih enakan perasaanmu sekarang?"
"Ya lumayanlah"kata Alvin,"walau aku masih tetap merasa."
"kalau begitu kita sempurnakan saja penyelidikan ini, dengan menyingkap tabir rahasia istana ini,"kata Yanto
Dengan sengaja ia menuju ke pintu yang terdapat di ujung lorong, tahu-tahu tanpa ia sendiri menyadari, Alvin sudah menyusul ,Alvin merasa semua bisa dimengerti setelah dijelaskan oleh Yanto. jadi rupanya MR.Ek Raja kengerian itu sendiri yang selama itu tinggal di dalam istananya, menakut-nakuti orang supaya tidak ada yang berani datang!
kedua remaja itu sampai di depan pintu ujung lorong, berlawanan dengan sangkaan mereka pintu itu ternyata bisa dibuka dengan gampang, mereka melewati ambang nya memasuki tempat yang benar-benar gelap gulita.Bunyi musik orgel semakin nyaring,dari gemanya mereka tahu saat itu mereka berada dalam ruangan yang jauh lebih luas dari lorong tadi.
"ini ruang proyeksi", "hei jangan nyalakan senter mu, kita akan menyerap Hantu biru,"
mereka seiring beringsut ingsut sepanjang dinding lalu menikung di pojok ruangan, Alvin terpekik ia merasa ada sesuatu yang lembut dan licin mengayun ke bawah lalu menyelubungi muka dan kepalanya, tapi ternyata itu cuma potongan tirai beludru yang sudah lapuk yang robek ketika tersentuh. tanpa bersuara lagi Alvin membebaskan diri dari tirai tua itu.
"kita akan menyelinap dan menghampirinya,"bisik Yanto,"lalu memotretnya,"
Alvin memandang sinar biru itu. tiba-tiba ia merasa kasihan pada Mister Ek .setelah bertahun-tahun sendiri terus dalam istana seram itu pasti akan sangat mengejutkan bagi dirinya apabila rahasianya terbongkar secara tiba-tiba.
"nanti dia malah takut lari,"bisik Alvin pada Yanto."kenapa tidak kita panggil saja dia supaya tahu bahwa kita ada di sini dan ia sempat mengerti bahwa kita sama sekali tidak bermaksud jahat,"
"idemu bagus sekali... kita berjalan pelan-pelan menghampirinya sementara aku memanggil manggilnya,"
keduanya lantas melangkah maju menghampiri gumpalan cahaya biru di dekat orgel.
"Mr Ek!!!!!!"seru Yanto,"Mr.Ek, kami cuma ingin berbicara dengan anda kami tidak bermaksud jahat"
sayangnya musik masih terus saja terdengar sementara gumpalan cahaya biru masih terus berpendar-pendar. mereka maju lagi beberapa langkah, Yanto mencoba sekali lagi.
"Mr.Ek!!!"Serunya."saya Yanto,saya ditemani oleh Alvin.Kami cuma ingin bicara sebentar dengan Anda."
Saat itu dengan tiba-tiba musik terhenti.
Gumpalan kabut bercahaya biru nampak Bergerak.Menjulang ke atas,kearah langit-langit lalu tergantung di situ.
Sementara Yanto dan Alvin masih ternganga melihat wujud aneh yang tadinya bermain orgel itu.tanpa disangka-sangka melayang ke atas tiba-tiba mereka merasakan ada orang lain di dekat mereka, Yanto sungguh-sungguh kaget saat itu sedangkan Alvin masih sempat memencet tombol senter untuk menyalakannya. cahayanya menerangi sosok tubuh dua orang laki-laki yang satu berukuran sedang,sedangkan temannya pendek keduanya memakai jubah panjang pakaian orang Arab keduanya melempar kan sesuatu berwarna putih ke udara.
tahu-tahu kepala Alvin sudah terselubung jala yang senter yang dipegangnya terpental lalu padam dan Jalan menyelubungi seluruh tubuhnya.
Ia masih berusaha lari tapi kakinya tersangkut ke jala, dan ia jatuh terjerembab ke lantai yang berlapis permadani, Iya meronta-ronta tapi sementara itu ia juga tidak sadar bahwa tubuhnya terbungkus jala yang makin merapat.Ia persis seperti seekor ikan yang sedang terperangkap.
"Yanto"teriaknya."tolong!"
tapi temannya itu tidak menjawab Alvin memutar tubuh lalu berpaling untuk menengok, saat itu juga ia melihat Apa sebabnya Yanto tidak memberikan jawaban.
kedua laki-laki yang tahu-tahu muncul tadi menjunjung Yanto seperti mengangkat karung kentang, Yanto juga terbungkus rapat dalam jala yang menjerat tubuhnya dengan bantuan lentera kecil kedua orang itu menggotong Yanto, dibawa pergi lewat sebuah pintu.mereka kelihatannya agak kewalahan maklumlah Yanto tidak bisa dibilang enteng tubuhnya.
Alvin tergeletak dilantai ia nyaris tidak bisa berkutik
di dalam jala,Ia juga tidak bisa melihat apa-apa di tempat gelap itu kecuali gumpalan cahaya biru yang melayang di atas seperti menempel ke langit-langit ruangan.
__ADS_1
gumpalan itu nampak seperti berdenyut-denyut kadang-kadang membesar lalu menciut lagi, seolah-olah bayangan biru sedang menertawakan dirinya.