Tentara Penjaga Hati

Tentara Penjaga Hati
Rindu Yang Menyatu


__ADS_3

Pukul 02.30 WIB Aisyah terbangun dan melihat Ning Nula yang sudah selesai melaksanakan sholat Tahajjud, dan kini ia sedang membaca Alqur'an. Aisyah langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk membersihan diri dan melaksanakan sholat Tahajjud.


"Ugh...hoammmm...jam berapa ini?" Aisyah bangun dan masih menguap tanda masih ada kantuk yang menyertainya bertanya jam dengan nada khas serak seperti orang yang baru bangun tidur, sambil melihat ke arah jam dinding berbentuk hati di atas lemari kamarnya.


"Ya Allah ....aku telat satu jam, ternyata" sambungnya kemudian membaca do'a setelah bangun tidur dan pergi ke kamar mandi


seperti biasa Aisyah selalu memulai menyiramkan air ke tubuh bagian bawah agar syaraf tidak kaget, ya itulah budaya orang Jawa zaman dahulu yang memiliki rahasia positif.


setelah selesai mandi Aisyah langsung melaksanakan sholat tahajud kemudian disusul membaca Al-Qur'an, sedangkan Ning Nula memutuskan untuk membaca buku keagamaan.


'Derttttttt....'


suara handphone Aisyah yang bergetar, sedangkan Aisyah masih fokus dengan bacaannya, Ning Nula juga tidak mendengar karena ia membaca buku keagamaan di ruang sebelah kamar Aisyah di situ ada sebuah perpustakaan keluarga Aisyah yang didominasi buku-buku keagamaan.


ternyata yang menelpon adalah Hamdan, tadinya ia hanya sedang stalker ke profil wa Aisyah, namun ketika melihat foto Aisyah ia malah menyentuh icon panggil di layar handphone nya. karena sudah terlanjur akhirnya ia memutuskan untuk menelponnya.


setelah selesai sholat Aisyah memutuskan untuk mengambil handphone, karena semalam ia telah membuat janji dengan teman dekatnya di Bandung untuk telfon, namun Aisyah lupa karena terhanyut dengan cerita Ning Nula.


setelah mendekati handphone nya Asiyah langsung mengambilnya karena mendengar handphone nya bergetar tanda telepon masuk "Ya Allah...ada telepon masuk, tapi aku tidak dengar..." gumamnya, akhirnya Aisyah mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon, karena dalam pikirannya yang menelpon adalah Teh Imas temanya yang orang Bandung.


"Halo... Assalamualaikum...Maaf yah teh...aku semalem lupa ngga nelpon teteh...soalnya ada Ning Nula nginep disini...ada apa teh jam segini nelpon?" tanyanya beruntun

__ADS_1


"Halo... wa'alaikumussalam...mohon maaf saya Hamdan" jawab Hamdan diseberang sana


"Oh...Ya Tuhan...maaf pak tentara...soalnya semalam saya ada janji untuk menelpon teman saya orang Bandung, jadi tadi saya tidak melihat siapa yang menelpon.., ada apa ya...? jam segini menelpon?" jawab Aisyah menjelaskan disambung dengan pertanyaan Aisyah yang keheranan


"Aku harus jawab apa ya...ngga mungkin aku jawab rindu...?" gumam Hamdan lirih


"Maaf pak tadi bilang apa?" Tanya Aisyah untuk meminta kejelasan


"Tidak apa-apa saya hanya ingin bertanya untuk yang waktu itu ditawarkan kakek bisa ngga dipercepat? soalnya aku butuh banget..bulan depan aku harus sudah mendapatkan informasi dari kakek untuk kenaikam pangkatku...aku mohon..." jelasnya meminta Aisyah membantunya


" Aku tidak tahu pasti pak, soalnya kakek sudah Yogyakarta bulan ini... kemungkinan dia minggu-minggu ini akan pulang ke Semarang...gimana? bisa ngga kalau di Semarang bertemu kakeknya...?"


"Yah... minggu-minggu ini aku lagi ditugaskan di Bandung, soalnya ada kegiatan di sini


"Ya sudah...nanti akan saya sampaikan ke kakek ...nanti aku kabarin lagi...kakeknya bisanya kapan.." jawab Aisyah singkat.


"Oke deh... thanks ya Aisyah..." ucap Hamdan


"Pak...kenapa menelponnya pagi-pagi seperti ini? ngga nunggu besok ?" tanya Aisyah yang masih heran


"Emmmm...ngga...ngga apa-apa...bingung aja mau ngapain mau tidur lagi ngga ngantuk...aku liat status wa mu aktif...jadi ya...tak telpon mumpung inget...perkataan kakek waktu itu" jelasnya masih basa-basi

__ADS_1


"Oh...begitu...kirain ada yang kritis...harus diomongin malem ini banget...hemmmmm iya wa nya ngga di offline soalnya pake WiFi di rumah" jelas Aisyah mengklarifikasi


"Seandainya aku bisa jujur kalau aku rindu denganmu Aisyah.. " Gumamnya...


sejak pertama kali melihat Aisyah waktu di kereta, Hamdan tidak bisa sedetik saja memikirkan Aisyah, hingga hari ini ia benar-benar tidak bisa menahan kerinduannya...namun masih gengsi untuk mengakuinya.


begitupun Aisyah, akhir-akhir ini Aisyah terdiam ketika diajak bicara Ning Nula sejak kepulangan Hamdan dari rumahnya, ternyata keduanya sama-sama memiliki kerinduan yang sama. kerinduan ini menyatu pagi ini. padahal Aisyah kalau di atas jam 9 malam hingga jam 7 pagi ia berkomitmen untuk tidak mengangkat telepon dari cowo, tapi entah kenapa Aisyah begitu tidak canggung mengangkat telepon dari Hamdan.


"Emmm gimana pak, ada yang mau disampaikan lagi?" tanya Aisyah memecah keheningan, karena keduanya hanya terdiam di saluran telepon masing-masing...


"oh iya... satu lagi...ada yang kamu lupa..."


celetuk Hamdan


"apa...?" jawab Aisyah singkat


"Jangan panggil saya pak, sudah dibilangin beberapa kali kan...!" tegas Hamdan


"Oh iya...saya lupa" jawab Aisyah sambil menepuk jidatnya


"Maaf kak, sebelumnya... sebenarnya di jam-jam segini saya belum pernah menerima telepon dari cowo, soalnya saya membatasi hanya sampai jam 9 malam...dan menjawab lagi ketika jam 7 pagi, tapi kali ini saya menjawab telepon kakak...karena kecerobohan saya...sudah dulu ya..." jawab Aisyah menerangkan

__ADS_1


"Oh Ya Tuhan...maaf Aisyah...aku telah mengganggumu...iya... assalamu'alaikum wr wb..."


"Waalaikumussalam wr wb..."


__ADS_2