Tentara Penjaga Hati

Tentara Penjaga Hati
Nasihat


__ADS_3

"Pernikahan tidak akan memberhentikan semua perjuangan Aisyah, bahkan perjuangan akan lebih indah ketika telah menikah...". Jawab Ibu Aisyah.


"Maksudnya Bu?". Tanyanya singkat.


"Iya, ada beberapa orang yang lebih indah menghadapi ujian dalam perjuangan setelah mereka menikah, contoh saja Paman Mizan dan Istrinya Avizah. Istri paman Mizan lebih bersemangat menitih karirnya menjadi seorang desainer hingga mempunyai butik yang terkenal sekarang ini. Mizavi Store jadi butik yang dikenal memiliki banyak cabang di wilayah Jawa Tengah, padahal bibi Avizah dulu hampir celaka dan nyaris terpuruk ketika menghadapi ujian berat diawal karirnya setelah Sarjananya. Namun setelah menikah dengan paman Mizan semangatnya kembali seperti sediakala bahkan lebih semangat. Penjagaan juga akan lebih orang tua percayakan ketika sudah ada yang menjaga puterinya, apalagi Aisyah kan sudah dipercaya di sekolah yang waktu itu jadi tempat KKL...". Tutur ibu menasihati Aisyah.


"Kakek ngga mau Aisyah celaka lagi, masih ingat kejadian pemfitnahan Bu Raline waktu itu..., Apalagi usia Kakek sudah tidak muda lagi, kapan saja Kakek bisa berpulang..., setidaknya pilihan Kakek dapat menggantikan Kakek kelak dan melanjutkan perjuangan militer Kakek". Ucap Kakek wajahnya begitu terlihat tulus mengungkapkannya.


"Tapi Aisyah masih ragu Kek...". Ujar Aisyah dengan nada lemah.


"Apa yang Aisyah ragukan? Ungkapkan saja sekarang mumpung Kami semua yang berpengalaman ada di sini.., Ayolah nduk...". Tanya Ibu.

__ADS_1


"Aisyah ragu, karena Aisyah tidak ingin seperti mbak Mira yang dihianati dan ditinggal menikah oleh suaminya. Selain itu Dita, teman Aisyah yang berhenti kuliah waktu semester 5 , Dia juga gagal dalam pernikahannya..., Suaminya tidak mau bekerja dan orang tuanya melarang Dita bekerja, tekanan batin membuat Dita jadi depresi dan sampai sekarang masih di rumah sakit jiwa, dan yang paling membuat Aisyah ragu Aisyah takut seperti Kak Halina Dia tidak bisa memiliki keturunan dan karena itulah suaminya amat sangat menyesali pernikahannya hingga sangat membencinya, dan Kak Halina sekarang sudah tiada Dia menganggap dirinya sudah tidak berguna, karena itulah Dia bunuh diri akibat frustasi yang dialaminya. Itu semua yang terbenak dalam pikiran Aisyah dan menitih keraguan dalam hati Aisyah". Ujar Aisyah mengatakan semuanya dengan kejujuran.


"Aisyah..., Kisah hidup semua orang itu tidak sama! Apa yang menimpa mereka sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, trauma boleh dialaminya namun bukan berarti memutuskan keinginan untuk menikah dalam dirinya. Berhentilah berpikiran negatif Aisyah, Nenek ngga mau kasih contoh jauh-jauh deh susah..., Lihat saja Mbak Dini tetangga Nenek yang di Bali itu, Dia tidak punya Anak, tapi dengan begitu Dia tidak terpuruk dengan suaminya..., Dia justru mendirikan panti asuhan untuk mengobati kesunyian dalam rumahnya. Dia begitu bahagia merawat mereka selayaknya anak kandung mereka. Pernikahan Safira Tetangga Nenek di ujung jalan juga berakhir bahagia, walaupun awalnya suaminya melakukan perselingkuhan dan menikah tanpa sepengetahuan Safira namun berkat ketabahan hati Safira mereka berdua menyatu kembali, pernikahan suaminya tidak sah karena poligami tanpa izin istri dan tidak mampu berlaku adil terhadap kedua istrinya. Lihatlah sekarang mereka bahagia dengan Sekolah Seni yang mereka rintis bersama. Masih banyak lagi kisah lainnya Aisyah..., dan jalan hidup orang itu berbeda-beda..., biar Kamu nda ragu, nanti malam cobalah sholat istikharah untuk memohon petunjuk dari Allah". Tutur Nenek dengan gamblang, perkataannya begitu menyentuh relung hati Aisyah dan membuatnya tersadar akan kekhawatiran dalam hatinya yang terlalu besar.


Ayah yang sedari tadi asyik sendiri menikmati kue cubit favoritnya itu pun mulai angkat bicara, "Aisyah lihat saja dalam keluarga Kita, apa semuanya mengalami masalah perpecahan dalam hubungan pernikahan?". Tanya Ayah singkat.


"Tidak Yah...". Aisyah menggeleng.


"Kapan Ayah bertemu mereka?". Tanya Aisyah penasaran.


"Saat Kakek mengajak Ayah dua minggu yang lalu". Jawab Ayah singkat.

__ADS_1


" Kakek ingin menikahkanmu karena Kakek mengingat salah satu Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 4700, Dari Abu Hurairah RA.


"Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya.


Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung".


Kakek menimbang, Asyah sudah memenuhi kriteria tersebut, jadi Insyaallah Kakek tidak akan slh memilih calon pendamping yang sekufu (derajatnya sama) dengan Aisyah, Isnyaallah Hamdan pria yang beriman, Dia juga sudah mampu menafkahi mu, dan yang paling penting Dia memang seorang tentara walaupun dididik keras namun hatinya lembut, Kakek yakin tidak akan melakukan kekerasan rumah tangga padamu". Tutur Kakek dengan wajah serius.


"Bagaimanapun Kami ingin bahagia melihatmu berumah tangga Aisyah, dengan kecantikan mu yang rupawan ini, Kami takut menjadi ladang zina jika belum ada yang memilikinya, karena mereka di luar sana akan mengurangi pandangannya ketika mengetahui seorang wanita telah ada yang menikahinya". Tutur Abimanyu yang sedari tadi menyimak namun merasa greget ingin menyambung.


"Iya, semuanya benar tapi Aisyah perlu waktu untuk memikirkan semuanya, rencana yang sudah Aisyah buat sebelumnya harus Aisyah pikiran lagi dan menata ulang dari awal, beri Aisyah waktu, setidaknya malam ini. Aisyah lelah, ingin istirahat..., Isnyaallah besok setelah sarapan Aisyah beritahu keputusan Aisyah...".

__ADS_1


__ADS_2