Tentara Penjaga Hati

Tentara Penjaga Hati
Panggilan Kapten


__ADS_3

Hari ini adalah apel pelantikan kenaikan pangkat, seperti yang sudah kakek janjikan Ia akan datang. Semua merasa bahagia dalam mengikuti prosesi pengangkatan pangkat beberapa anggota TNI ini. Termasuk Kakek yang merasa terhormat mewakili orang tua Hamdan, karena mereka terlalu jauh jika harus ke Semarang dan memang acara di pondok pesantren juga sedang padat. Satu celah kesedihan untuk sang Kapten. Namun tertutupi oleh kebahagiaan kakeknya Aisyah yang sudah mau meluangkan waktunya mendampingi Hamdan mengikuti apel ini.


"Kakek bangga sama kamu! Kakek yakin Orang tuamu juga pasti sangat bangga. Tidak usah sedih begitu, sudah jadi Kapten masa loyo sih...!" Ucap Kakek melihat wajah sendu Hamdan yang sekilas menampakkan sedikit ketidak senangannya.


"Siap Komandan! Terima kasih sudah mau mendampingi Hamdan. Aku seneng banget merasakan sosok Kakek yang selama ini Aku rindukan". Jawab Hamdan yang kini memandang lekat wajah Kakek.


"Sudahlah. Aku ini memang Kakek Mu, sebagai hadiah kenaikan pangkatnya habis ini ikut Kakek ke rumah yah. Nenek sudah masak buat merayakan kenaikan pangkat Mu". Ujar Kakek mengajak Hamdan.


"Sudah, santai saja. Kamu kan cucu Kakek sama Nenek, jangan nolak ya...". Pinta Kakek.


"Iya Kek, tapi....". Jawab Hamdan ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa?". Tanya Kakek penasaran.


"Apa ini tidak membuat Aisyah terganggu Kek? Soalnya kan aku dianggap cucu sama Kakek dan nenek tapi bukan Kakak dari Aisyah". Terangnya.


"Suatu saat Kamu akan tahu kedudukan Mu diantara Kakek, Nenek dan Aisyah. Tapi yang terpenting sekarang ngga usah mikirin kemana-mana dulu. Have fun with Us". Tutur Kakek.


"Okelah... Kapten mari kita makan! Kapten yang memulai". Perintah Nenek.


"Ah, tidak Nek. Masa tuan rumah didahului... Tidak sopan itu hehe". Jawab Hamdan.


"Sudahlah jangan sungkan, kalau masih sungkan jangan anggap kami Kakek dan Nenek mu lagi!". Jawab Nenek ketus memperlihatkan wajah ngambeknya.


"Baiklah... Mari kita mulai dengan membaca do'a dulu...". Jawab Hamdan tenang.


Ketika sedang dalam keheningan berdo'a tiba-tiba ada suara ketukan pintu.


Tok... Tok... tok...


"Assalamualaikum..." Ucap seseorang dari balik pintu.


"Wa'alaikumussalam..." Jawab mereka serentak ketika selesai berdo'a.


"Sepertinya itu Aisyah, kalian lanjutkan saja makannya. Biar Nenek yang buka" Tutur Nenek yang hanya dijawab anggukan oleh keduanya.


Ceklek....


Suara pintu yang terbuka, senyum yang merekah dari balik pintu menyapa Aisyah.


"Baru pulang? Biasanya kan jam tiga udah pulang Syah.." Tanya Nenek yang sekarang mmerangkul pundak Aisyah.


"Iya Nek, tadi di jalan ada kendala motor Aisyah" Jawab Aisy.


"Assalamualaikum Kek..." Ucap Aisyah pada kakeknya tak menyadari ada Hamdan di samping Kakek.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah..." Jawab Kakek dibarengi Hamdan yang membuat Aisyah baru tersadar.


"Eh... Ada pak Tentara" Ucap Aisyah refleks.


"Iya Aisyah...Jangan panggil gitu..." Ucapnya menanggapi Aisyah.


"Ekhemmmm....." Batuk buatan Kakek mengagetkan keduanya.


"Ada Kakek sama Nenek di sini", ujar Nenek menyindir.


"Aha... Iya Nek, kenapa Kak Hamdan ada di sini? Bukankah masih jam bertugas ya..." Tanya Aisyah.


"Mulai sekarang jangan panggil gitu! Panggil Dia Kapten!" Tutur Kakek merespon pertanyaan Aisyah dengan penekanan pada kata Kapten.


"Maksud Kakek?" Tanya Aisyah yang belum ngeh dengan penuturan Kakek.


"Ya, Hari ini adalah pengangkatan kenaikan pangkat dan Hamdan sekarang udah naik pangkat jadi Kapten, maka dari itu panggil dia Kapten mulai sekarang, ini perintah!" Jawab Kakek menjelaskan.


"Siap Komandan!" Jawab Aisyah.


"Ayo Aisyah gabung makan". Ajak Nenek.


"Ah.. tidak Nek, Aisyah masih kenyang tadi habis makan sama temen-temen di sekolah. Aisyah pamit mandi dulu ya Kek, Nek. Kapten baru jangan lupa Em to Em yah..." Jawab Aisyah melirik Hamdan.


"Dasar Aisyah..! Siap Komandan!" Jawab Hamdan menanggapi.


"Sudah sana... Mandi terus pergi Em to Em". Perintah Nenek.


Setelah Aisyah meninggalkan mereka. Dimulailah acara makan-makan, seperti yang sudah dibiasakan mereka tidak ada yang bicara satupun saat makan. Dan setelah makan selesai baru memulai pembicaraan.


"Habis ini Kamu boleh ajak Aisyah buat Em to Em...". Ujar Kakek.


"Tapi Kek, itu kan hanya bercanda" Jawabnya.


"Serius juga nda papa. Buat adikmu bahagia sebentar saja, jangan pikir lain-lain". Ancam Kakek.


"Siap Komandan! Nanti gampang kalau Aisyah mau". Jawabnya.


*****


Aisyah keluar dari kamarnya dan sepertinya akan pergi keluar. Kakek pun bertanya.


"Aisy mau kemana? Baru pulang..." Tegurnya.

__ADS_1


"Aisy mau jalan-jalan ke taman Kek, mau ngrefresh otak... Hehe" Jawab Aisyah cengengesan.


"Ngga jadi Em to Em?" Tanya Nenek.


"Itu kan cuma bercanda Nek..." Jawab Aisyah singkat.


"Pergi sama siapa?" Tanya Kakek penasaran.


"Alone only Kek!" Jawabnya singkat.


"Ya udah sih sama Kapten aja biar ada yang jagain. Kakek khawatir kemarin kan di taman katanya lagi marak pelecehan pada wanita. Ini perintah! Jangan nolak... Kalau ada apa-apa Kakek juga yang repot" Tutur Kakek.


"Gimana ya...?" Ucap Aisyah menatap Hamdan.


"Kalau ke taman bawa Tentara nanti dikira anak komandan dong! Nggak lah nanti jadi pusper (pusat perhatian)... Ngga nyaman jadinya" Jawab Aisyah mencari alasan.


"Owh itu... Saya ada baju ganti Kok di mobil..." Tutur Hamdan merespon.


"Nah... Itu, sudahlah sekarang Kapten ganti baju dulu! Aisyah... Bukannya motormu masih di bengkel kan... Ya udah sama Kapten aja" Perintah Nenek.


"Iya, makannya Aisyah mau pake sepeda Nek" Jawab Aisyah singkat.


"Yah, kan sepedanya cuma ada satu Aisy" Jawab Nenek.


"Ya boncengan kan bisa..." Tutur Kakek santuy.


"Ayo, aku udah siap". Ucap Hamdan yang telah selesai mengganti pakaiannya.


"Tapi sepedanya cuma satu..." Aisyah bermaksud mencari alasan.


"Saya kuat kok kalau cuma mengayuh sepeda dibonceng satu orang" Jawab Hamdan enteng.


'Ya sudahlah, itung-itung biar aku ngga capek nggoes sepeda sendirian. Sekalian aku kerjain aja ini Kapten baru' Pikir Aisyah, jiwa jahilnya mulai muncul.


Setelah berpamitan kepada Kakek dan nenek mereka beranjak ke garansi di situ telah ada sebuah sepeda klasik milik kakek yang terdapat bendera merah putih yang menempel sebagai hiasan.


"Sudah siap, ayo langsung naik!" Perintah Hamdan.


Sedangkan Aisyah masih diam berpikir bagaimana cara memboncengnya, masa mau memposisikan menghadap ke depan? Tapi kalau miring takut jatuh...


"Eummmmm...." Aisyah memasang wajah berpikir...


Hari ini adalah apel pelantikan kenaikan pangkat, seperti yang sudah kakek janjikan Ia akan datang. Semua merasa bahagia dalam mengikuti prosesi pengangkatan pangkat beberapa anggota TNI ini. Termasuk Kakek yang merasa terhormat mewakili orang tua Hamdan, karena mereka terlalu jauh jika harus ke Semarang dan memang acara di pondok pesantren juga sedang padat. Satu celah kesedihan untuk sang Kapten. Namun tertutupi oleh kebahagiaan kakeknya Aisyah yang sudah mau meluangkan waktunya mendampingi Hamdan mengikuti apel ini.


"Kakek bangga sama kamu! Kakek yakin Orang tuamu juga pasti sangat bangga. Tidak usah sedih begitu, sudah jadi Kapten masa loyo sih...!" Ucap Kakek melihat wajah sendu Hamdan yang sekilas menampakkan sedikit ketidak senangannya.


"Siap Komandan! Terima kasih sudah mau mendampingi Hamdan. Aku seneng banget merasakan sosok Kakek yang selama ini Aku rindukan". Jawab Hamdan yang kini memandang lekat wajah Kakek.


"Sudahlah. Aku ini memang Kakek Mu, sebagai hadiah kenaikan pangkatnya habis ini ikut Kakek ke rumah yah. Nenek sudah masak buat merayakan kenaikan pangkat Mu". Ujar Kakek mengajak Hamdan.


"Sudah, santai saja. Kamu kan cucu Kakek sama Nenek, jangan nolak ya...". Pinta Kakek.


"Iya Kek, tapi....". Jawab Hamdan ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa?". Tanya Kakek penasaran.


"Apa ini tidak membuat Aisyah terganggu Kek? Soalnya kan aku dianggap cucu sama Kakek dan nenek tapi bukan Kakak dari Aisyah". Terangnya.


"Suatu saat Kamu akan tahu kedudukan Mu diantara Kakek, Nenek dan Aisyah. Tapi yang terpenting sekarang ngga usah mikirin kemana-mana dulu. Have fun with us". Tutur Kakek.


"Okelah... Kapten mari kita makan! Kapten yang memulai". Perintah Nenek.


"Ah, tidak Nek. Masa tuan rumah didahului... Tidak sopan itu hehe". Jawab Hamdan.


"Sudahlah jangan sungkan, kalau masih sungkan jangan anggap kami Kakek dan Nenek mu lagi!". Jawab Nenek ketus memperlihatkan wajah ngambeknya.


"Baiklah... Mari kita mulai dengan membaca do'a dulu...". Jawab Hamdan tenang.


Ketika sedang dalam keheningan berdo'a tiba-tiba ada suara ketukan pintu.


Tok... Tok... tok...


"Assalamualaikum..." Ucap seseorang dari balik pintu.


"Wa'alaikumussalam..." Jawab mereka serentak ketika selesai berdo'a.


"Sepertinya itu Aisyah, kalian lanjutkan saja makannya. Biar Nenek yang buka" Tutur Nenek yang hanya dijawab anggukan oleh keduanya.


Ceklek....


Suara pintu yang terbuka, senyum yang merekah dari balik pintu menyapa Aisyah.


"Baru pulang? Biasanya kan jam tiga udah pulang Syah.." Tanya Nenek yang sekarang mmerangkul pundak Aisyah.


"Iya Nek, tadi di jalan ada kendala motor Aisyah" Jawab Aisy.


"Assalamualaikum Kek..." Ucap Aisyah pada kakeknya tak menyadari ada Hamdan di samping Kakek.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah..." Jawab Kakek dibarengi Hamdan yang membuat Aisyah baru tersadar.

__ADS_1


"Eh... Ada pak Tentara" Ucap Aisyah refleks.


"Iya Aisyah...Jangan panggil gitu..." Ucapnya menanggapi Aisyah.


"Ekhemmmm....." Batuk buatan Kakek mengagetkan keduanya.


"Ada Kakek sama Nenek di sini", ujar Nenek menyindir.


"Aha... Iya Nek, kenapa Kak Hamdan ada di sini? Bukankah masih jam bertugas ya..." Tanya Aisyah.


"Mulai sekarang jangan panggil gitu! Panggil Dia Kapten!" Tutur Kakek merespon pertanyaan Aisyah.


"Maksud Kakek?" Tanya Aisyah yang belum ngeh dengan penuturan Kakek.


"Ya, Hari ini adalah pengangkatan kenaikan pamgkat dan Hamdan sekarang udah naik pangkat jadi Kapten, maka dari itu panggil dia Kapten mulai sekarang, ini perintah!" Jawab Kakek menjelaskan.


"Siap Komandan!" Jawab Aisyah.


"Ayo Aisyah gabung makan". Ajak Nenek.


"Ah.. tidak Nek, Aisyah masih kenyang tadi habis makan sama temen-temen di sekolah. Aisyah pamit mandi dulu ya Kek, Nek. Kapten baru jangan lupa Em to Em yah..." Jawab Aisyah melirik Hamdan.


"Dasar Aisyah..! Siap Komandan!" Jawab Hamdan menanggapi.


"Sudah sana... Mandi terus pergi Em to Em". Perintah Nenek.


Setelah Aisyah meninggalkan mereka. Dimulailah acara makan-makan, seperti yang sudah dibiasakan mereka tidak ada yang bicara satupun saat makan. Dan setelah makan selesai baru memulai pembicaraan.


"Habis ini Kamu boleh ajak Aisyah buat Em to Em...". Ujar Kakek.


"Tapi Kek, itu kan hanya bercanda" Jawabnya.


"Serius juga nda papa. Buat adikmu bahagia sebentar saja, jangan pikir lain-lain". Ancam Kakek.


"Siap Komandan! Nanti gampang kalau Aisyah mau". Jawabnya.


*****


Aisyah keluar dari kamarnya dan sepertinya akan pergi keluar. Kakek pun bertanya.


"Aisy mau kemana? Baru pulang..." Tegurnya.


"Aisy mau jalan-jalan ke taman Kek, mau ngrefresh otak... Hehe" Jawab Aisyah cengengesan.


"Ngga jadi Em to Em?" Tanya Nenek.


"Itu kan cuma bercanda Nek..." Jawab Aisyah singkat.


"Pergi sama siapa?" Tanya Kakek penasaran.


"Alone only Kek!" Jawabnya singkat.


"Ya udah sih sama Kapten aja biar ada yang jagain. Kakek khawatir kemarin kan di taman katanya lagi marak pelecehan pada wanita. Ini perintah! Jangan nolak... Kalau ada apa-apa Kakek juga yang repot" Tutur Kakek.


"Gimana ya...?" Ucap Aisyah menatap Hamdan.


"Kalau ke taman bawa Tentara nanti dikira anak komandan dong! Nggak lah nanti jadi pusper (pusat perhatian)... Ngga nyaman jadinya" Jawab Aisyah mencari alasan.


"Owh itu... Saya ada baju ganti Kok di mobil..." Tutur Hamdan merespon.


"Nah... Itu, sudahlah sekarang Kapten ganti baju dulu! Aisyah... Bukannya motormu masih di bengkel kan... Ya udah sama Kapten aja" Perintah Nenek.


"Iya, makannya Aisyah mau pake sepeda Nek" Jawab Aisyah singkat.


"Yah, kan sepedanya cuma ada satu Aisy" Jawab Nenek.


"Ya boncengan kan bisa..." Tutur Kakek santuy.


"Ayo, aku udah siap". Ucap Hamdan yang telah selesai mengganti pakaiannya.


"Tapi sepedanya cuma satu..." Aisyah bermaksud mencari alasan.


"Saya kuat kok kalau cuma mengayuh sepeda dibonceng satu orang" Jawab Hamdan enteng.


'Ya sudahlah, itung-itung biar aku ngga capek nggoes sepeda sendirian. Sekalian aku kerjain aja ini Kapten baru' Pikir Aisyah, jiwa jahilnya mulai muncul.


Setelah berpamitan kepada Kakek dan nenek mereka beranjak ke garansi di situ telah ada sebuah sepeda klasik milik kakek yang terdapat bendera merah putih yang menempel sebagai hiasan.


"Sudah siap, ayo langsung naik!" Perintah Hamdan.


Sedangkan Aisyah masih diam berpikir bagaimana cara memboncengnya, masa mau memposisikan menghadap ke depan? Tapi kalau miring takut jatuh...


"Eummmmm...." Aisyah memasang wajah berpikir...


**Bagaimana kabarnya reader? semoga senantiasa sehat selalu dan dijaga oleh Allah ... Aamiin... Hari ini author up sekali up banyak yah... anggap saja THR 😀 Kalau up banyak gini membosankan ngga sih?


please kasih jawaban ya di kolom komentar yaaa....☺️


kalau tidak membosankan Insyaallah nanti kedepannya up-nya sekali up banyak.😉 Happy Reading. 😉

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, jadikan novel ini ke favorit❤️ ya... biar ga ketinggalan cerita dari author. Vitamin buat author adalah komentar kalian, kadang kalau ngga ada komentar author jadi males up. Tapi pas lihat komentar banyak jadi semangat buat up😁**


__ADS_2