
Malam itu Aisyah hanya terlelap sebentar, hatinya gelisah dan pikirannya pun tidak karuan memikirkan semua rencananya sebelum sarjana dan setelah sarjana. Hingga akhirnya terlelap sekejap, mungkin sekitar 30 menitan itupun di meja belajar yang sekarang menampakkan semua perencanaan agenda yang telah Aisyah buat. Tiba-tiba Aisyah terbangun tepat pukul 01.30 WIB.
"Astaghfirullahaladziim... Kok aku tidur di sini, badanku rasanya seperti mau remuk, sakit sekali. Sepertinya beberapa hari ke depan akan datang bulan..., ha! baru jam setengah dua, tidur lagi ngga ya...". Ucap Aisyah, akhirnya baru mengingat bahwa malam ini akan melakukan sholat istikharah.
"Owh iya, Aku kan mau sholat istikharah, sholat dulu deh". Ucapnya mengingat semuanya.
Setelah Aisyah sholat kemudian memutuskan tidur sejenak. Untuk menunggu waktu subuh yang masih lumayan lama.
-------------
Dalam alam mimpi Aisyah bertemu Kakeknya, Kyai Abdurrazzaq, dan beliau mengatakan sesuatu, "Assalamu'alaikum Aisyah, cucu Kakek... Wajahmu benar-benar mirip dengan Kakek, Kakek kurang beruntung tak mampu menjumpaimu di alam dunia, tapi Kakek senang bertemu denganmu di alam ini. Aisyah, Kakek sudah menjodohkanmu dengan cucu Muzaki temanku, Insyaallah Aisyah akan bahagia bersamanya doa Kakek menyertai kalian berdua semoga langgeng hingga bertemu kembali di surga, Kakek hanya ingin berpesan, pernikahan itu layaknya sebuah lautan, kelihatan indah dari kejauhan namun ketika kita mendekat dan masuk ke dalamnya akan banyak rintangan, karena itulah mustahil dalam dunia pernikahan itu tanpa pertingkaian, tanpa permasalahan, dan tanpa kesulitan. Tetaplah pegang erat dua kunci hidup bahagia, yaitu sabar dan syukur. Kakek pergi dulu Aisyah... Assalamu'alaikum...". Ucap Kakek yang mengenakan pakaian serba putih dan sorban berwarna cokelat keemasan yang menghiasi lehernya tak lupa peci berwarna putih melekat di kepalanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah... Baik kek". Jawab Aisyah saat melihat Kakek Abdurrazzaq pergi meninggalkannya tidak tahu mengapa saat itu Aisyah tidak menolak perkataan Kakek dan tidak berkata apapun, seakan diam membisu saat Kakek menyampaikan semuanya.
Setelah kepergian Kakek Aisyah melihat sosok Hamdan di kejauhan mengenakan pakaian yang sama persis dengan Kyai Abdurrazzaq, dan mendekat ke arah Aisyah berada, ketika sudah berada sekitar jarak satu meter di hadapan Aisyah Hamdan berkata, "Assalamu'alaikum Aisyah... Aku hanya ingin menuruti perintah Kakekmu dan Kakekku, Aku sangat menyayanginya walaupun tidak pernah berjumpa sama sekali di alam dunia, namun Beliau selalu membantuku di alam yang lain, Aku harap Kau juga memiliki keinginan yang sama denganku, Kakekmu sudah memberikan ini semua padaku seperti yang Kamu lihat, Apakah kamu siap mendampingiku hingga akhir hayatku dan menjadi ibu dari anak-anakku, dengan menjadi istriku sekaligus cinta pertama dan terakhir untukku?". Tanya Hamdan dengan wajah penuh keteduhan dan keyakinan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah... Insyaallah aku siap menjadi ibu dari anak-anakmu". Jawab Aisyah singkat, dalam mimpi itu begitu seperti nyata dan Aisyah menjawab begitu mantap.
"Alhamdulillah...". Ucap Hamdan singkat, sedangkan Aisyah hanya mematung, namun tiba-tiba hujan turun.
"Aaaaa.... Basah!". Teriak Aisyah membuatnya terbangun.
'Asholatukhiruminannaum...'. Suara adzan subuh membangunkan Aisyah dan menghentikan mimpinya.
"Alhamdulillah... Sudah subuh...". Ucapnya melihat jam dan mendengar sisa penggalan adzan subuh.
----------
Di ruang tamu, tepatnya setelah selesai sarapan pagi. Semuanya berkumpul dan bermaksud melanjutkan rapat keluarga semalam dan membahas keputusan Aisyah.
"Aisyah dimana Bu?". Tanya ayah kepada Nenek.
__ADS_1
"Aisyah di kamar Abi lagi main sama Rasyid, Yah". Jawab Ibu.
"Panggil semuanya ke sini, kita lanjutkan pembahasan semalam". Perintah Kakek.
"Baik Yah...". Jawab ibu.
Setelah semuanya berkumpul, termasuk Aisyah Kakek pulang pun langsung to the point.
"Semuanya udah kumpul, sekarang Kakek mau langsung tanya soal semalam Aisyah... Gimana keputusanmu? Kami tidak memaksa, katakan saja sejujurnya...". Ucap Kakek bertanya.
"Bismillahirrahmanirrahim... Setelah semalam Aisyah pertimbangan dan Alhamdulillah mendapat petunjuk yang baik, insyaallah Aisyah siap menikah dengan Kapten". Jawab Aisyah mantap.
"Alhamdulillah...". Ucap semuanya serentak.
"Kalau begitu nanti malam Kapten dan keluarganya akan datang ke rumah Kakek untuk mengkhitbah Aisyah...". Ucap Kakek singkat.
"Hah? Secepat ini Kek? Bukankah keluarganya ada di Jombang dan sangat sibuk kan?". Tanya Aisyah yang terkejut khitbahnya akan dilaksanakan malam ini.
"Iya, karena semuanya sudah direncanakan Aisyah, Kami yakin Aisyah akan menerima perjodohan ini. Jadi semuanya sudah dipersiapkan, namun Kami tetap akan menunggu jawaban Aisyah agar semuanya mantap". Jelas Ayah menerangkan.
"Iya Bu". Jawab Aisyah singkat, tak terasa air matanya tenggelam dalam pelukan ibunya.
'hiks hiks...'. Tangisnya yang perlahan didengar semua anggota keluarga yang ada di ruangan itu.
"Loh kok nangis? Kenapa...? Apa Aisyah terpaksa?". Tanya Ibu melepaskan pelukannya dan menyentuh wajah Aisyah dengan kedua tangannya wajahnya begitu tulus memandang puterinya itu.
Mendengar pertanyaan Ibu, Aisyah menggeleng, tanpa berkata apapun.
"Lalu? Kenapa menangis? Jangan bilang kakinya keinjek!". Ucap Abi menggoda, namun nampaknya Aisyah tidak berselera menanggapinya dan hanya menggeleng lesu.
"Eh... Kok gitu? Ngomong ngapa ngomong!". Tutur Abi melihat Aisyah tak menanggapi godaannya itu.
__ADS_1
"Ciah... Dikacangin! Hahaha...". Ujar Ayah yang membuat semuanya tertawa, kecuali Aisyah yang masih nampak sendu dan lemah tak bersemangat.
"Loh kok Aisyah ngga ketawa, ayo dong jawab pertanyaan Ibu, tatap mata Ibu..., kalau Aisyah tidak mau tidak apa-apa, Ibu dan Kami semua tidak memaksakan kok". Tutur Ibu dengan tulus.
"Aisyah tidak terpaksa, tapi Aisyah sedih... Setelah bertahun-tahun jauh dari Ibu dan keluarga, mulai awal mondok sampai kuliah bahkan sarjana, Aisyah ingin berkumpul dengan keluarga. Tapi itu semua sekarang tidak mungkin, Aisyah akan langsung jauh lagi dari keluarga. Apalagi profesi Aisyah sekarang, pulang hanya ketika liburan semester saja". Jelasnya menjawab semua teka-teki yang diajukan oleh Ibu dan tentunya ditunggu oleh semua anggota keluarga.
"Aisyah itu mau menikah, bukan mau lanjut kuliah sayang..., Kapanpun bisa pulang, kan sekolah tempat Aisyah ngajak full day school, Sabtu Minggu libur bisa ke rumah Ibu nginep tiga hari dua malam.
"Iya sih, tapi itu seperti kemah anak Pramuka jadinya Bu...". Ucap Aisyah konyol, yang membuat semuanya tertawa mendengarnya.
"Hahahaha... Dasar anak Pramuka! Sampe mau kawin aja mikirnya Pramuka melulu, kemah melulu, kan enak kalo kemah ada gandengannya ngga kalah sama truk yak kan? ngga usah dijawab iyain aja". Ujar bang Abi menimpali.
"Y aja deh bang!". Jawab Aisyah singkat. Sedangkan semuanya hanya menggelengkan kepalanya melihat Kakak beradik itu yang suka membuat gaduh.
"Ya udah, Fatimah nanti ikut Ibu sama Nenek belanja ya... Buat acara nanti malam...". Ajak Ibu.
"Lah Aisyah gimana kok ngga diajak?". Tanya Aisyah yang heran kenapa Ibu hanya menyebut Fatimah.
"Aisyah Fiil baiti faqoth! (Bahasa Arab dari kata 'di rumah aja') Kan Aisyah yang punya hajat utama di sini. Bantu ibunya nanti aja pas masak-masak oke!". Perintah ibu dengan genit mengedipkan matanya sebelah.
"Na'am ummi... Uridu naum... Al an". (Baik Ibu, Aku ingin tidur sekarang). Jawab Aisyah menanggapi perintah ala bahasa Arab Ibunya.
"Tafadholii... Ya habibati". (Silahkan kesayanganku). Ucap umi mempersilahkan Aisyah ke kamar untuk tidur.
"Eh ladalah... Jangan tidur pagi-pagi ngga baik untuk kesehatan! nanti aja jam setengah sebelasan biar dapet sunahnya...". Tutur Kakek mencegah.
"Yah... Kakek! Semalam Aisyah tidak tidur.. ". Ucap Aisyah kecewa.
"Melakukan sesuatu yang tidak baik, sekali saja itu akan menjadi kebiasaan buruk! ingat itu... Mendingan Aisyah jagain Rasyid...". Ujar Kak Fatimah yang kadang-kadang menggunakan bahasa Indonesia kadang-kadang menggunakan bahasa Melayu, ya terserah Dialah... haha.
"Oke deh!". Jawab Aisyah pasrah, namun sebagai juga bisa puas main dengan Rasyid.
__ADS_1
"Baguslah, jadi Aku bebas main catur sama Kakek...". celetuk Abi girang.
"Dasar Papah muda ga ada akhlak!". Timpal Aisyah melaknat... Haha.