
Setelah acara wisuda selesai Keluarga Aisyah memutuskan untuk pulang dan makan-makan sebagai wujud rasa syukur mengadakan acara keluarga untuk syukuran kelulusan Aisyah di bangku kuliah.
"Alhamdulillah... Kita semua dapat berkumpul di sini duduk lesehan menikmati angin sepoi-sepoi pendopo mini Kakek, bersama-sama dalam kebahagian menyukuri nikmat kebahagian atas sarjana Aisyah. Semoga ilmunya bermanfaat bagi diri sendiri, bagi sesama, bagi agama, dan negara, aamiin Allahumma aamiin...". Ujar Ayah Aisyah membuka acara syukuran ini disambung do'a olehnya.
Dengan serentak semuanya mengaamiinkan do'a ayah, "Aamiin...".
"Aisyah mau minta kado apa nih?". Tanya Bang Abi.
"Minta kado apa ya...? Aisyah minta kado keponakan yang comel aja dari Abang deh... Hahaha". Jawab Aisyah mengejek Bang Abi.
"Ya kali, maunya sih gitu tapi mbok yo mikir Syah! lihat tuh Rasyid masih belum ada gigi". Jawab Bang Abi ketus. Disambut gelak tawa seisi pendopo itu.
"Hahaha... 'Be' aja dong Bang, bercanda keles!". Jawab Aisyah menanggapi ketus.
"Sudah-sudah, ayah belum sarapan ini perut udah demo kanan kiri..!". Ujar ayah menyudahi pertingkaian ringan kedua anaknya itu dengan gaya bicaranya yang mengundang tawa seisi pendopo itu.
"Ya udah ayo kita mulai makannya...". Ajak Kakek.
"Eh tunggu sejenak... Jangan lupe bace Do'a semuanye...". Ucap Mba Fatimah Istri Bang Abi dengan gaya bahasa Malaysianya.
"Owh iya, Bi! Pimpin do'a buruan". Perintah Nenek.
"Ashiap Kek, Bismillahirrahmanirrahim Allahumma Baariklana fiima rozaqtanaa wa qinaa 'adzabannar... Aamiin". Ucap Bang Abi memimpin Do'a dan dijawab Aamiin oleh semuanya.
"Aamiin...". Jawab mereka serentak.
Baru saja satu sendok makanan akan masuk ke dalam mulut suara tangis Rasyid mengagetkan semuanya.
"owaa...owaa...". Tangisannya (anggap saja bunyinya kayak gitu ya...).
__ADS_1
"Biar Aisy aja ya yang bawa main Kak Fatimah, kan dari bayi ngga ketemu Rasyidnya jauh di Malaysia". Pinta Aisyah kepada mba Fatimah.
"Ye lah... bawa budak ni ke taman sane, jage elok-elok ye...". Perintahnya.
"Ashiap Ake...". Jawab Aisyah menirukan logat Melayu Fatimah.
Akhirnya mereka melanjutkan makan sedangkan Aisyah membawa Rasyid ke taman belakang rumah Kakek yang ada ikannya. Begitu menyenangkan menggendong Rasyid dan mengajaknya main, giginya belum nampak dari gusi imutnya. Ketika Aisyah memberi makan ikan di tangan kanannya dan memegang dada Rasyid dengan tangan kirinya di pangkuannya menghadap ke depan, Rasyid memperhatikan lemparan pakan dari Aisyah senyumnya nampak begitu menggemaskan.
"Rasyid gemesin, ututu... Ikannya comel kan Syid... Ante Aisyah kangen sekali... setelah sekian lama cuma bisa lihat fotonya sekarang bisa gendong ajak main". Ucap Aisyah kepada Rasyid seakan bayi mungil itu mengetahui perkataannya tersenyum.
Begitu asyiknya Aisyah bermain dengan Rasyid, sedangkan keluarga yang ada di pendopo telah selesai makan dan saat ini sedang membicarakan sesuatu.
"Udah semua ya makannya, sebenarnya ada yang ingin Kakek sampaikan". Ucap Kakek memulai.
"Tentang apa Yah?". Tanya ibu.
"Tentang Aisyah dan wasiat besan ayah almarhum Abdurrazzaq". Jawab Kakek singkat yang membuat semuanya penasaran.
"Iya, Kyai Abdurrazzaq Handoko memberikan aku wasiat untuk menjodohkan Aisyah dengan Putera salah seorang muridnya yang ada di Jombang. Anak seorang kyai yang menjadi anggota Tentara Angkatan Darat. Ini kertasnya Hadi, tolong bacakan". Jawab Kakek Hasan menjelaskan dan menunjukkan surat wasiatnya.
"Baik Pah". Jawabnya singkat dan mulai membuka kertas wasiat yang diikat tali pita berwarna putih dan membacakannya.
'Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Teruntuk Keluargaku dan Keluarga Hasan.
Bismillahirrahmanirrahim...
Dengan menyebut asma Allah aku menuliskan surat wasiat ini dengan tenang, bahwasannya aku ingin menikahkan cucuku yang masih di kandung istrinya Hadi Handoko dengan cucu Kyai Muzaki Ar-Razzi yang kelak akan menjadi tentara. Suatu saat mereka dipertemukan oleh Allah dalam suatu kejadian di gerbong kereta. Nikahkanlah cucuku setelah Dia wisuda, berikan nama Aisyah padanya harapanku Dia dapat meniru sifat baik Siti Aisyah yang memiliki kesetiaan terhadap suaminya. Kyai Muzaki telah memberikan nama untuknya, Muhammad Hamdan Dirgantara Ar-Razzi. Semoga wasiat ini dapat kalian jalankan untuk ketenangan jiwaku di akhirat kelak. Insyaallah petunjuk mimpiku dapat menjadi nyata, jika mereka disatukan akan membawa keberkahan... Aamiin... Itulah do'a dan harapanku. Terima kasih banyak jika kalian yang masih bernyawa ini mau menjalankan wasiat ini.
__ADS_1
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Tertanda
Abdurrazzaq Handoko.
"Berarti Hamdan itu jodoh Aisyah?". Tanya Nenek.
"Iya benar, aku sudah mencari tahu semuanya tentang Hamdan dan memang benar dari garis nasab Dia sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Kyai Abdurrazzaq dan aku sudah menemui Kyai Muzaki, Alhamdulillah Beliau masih hidup. Beliau menyampaikan akan mengkhitbahkan Aisyah dengan cucunya besok, karena itulah aku menyampaikan wasiat ini agar kalian semua tidak pulang ke Yogyakarta terlebih dahulu, untuk urusan pondok pesantren milik Abdurrazzaq sudah ada yang mengambil alih, Aku sudah minta tolong ke Kyai Musthofa". Tutur Kakek Hasan lugas.
"Masyaallah... Kenapa kita baru diberi tahu sekarang Pah?". Tanya Ibu Aisyah.
"Ya, Papah nunggu waktu yang tepat buat ngomongin Ini semua, dan menunggu Abi selesai tugas di Malaysia. Susah buat mengumpulkan kalian semua, jadi saat ini menurutku waktu yang tepat". Jawab Kakek tegas.
"Lalu bagaimana dengan Aisyah? apakah mungkin Dia akan menerima semua ini dengan cepat?". Tanya Ayah Hadi.
"Mamah yakin Aisyah Insyaallah bisa menerima ini semua, karena yang Mamah lihat mereka berdua pemuda yang sama-sama berprinsip dan berkomitmen untuk tidak membuang waktu berpacaran, namun langsung serius menuju pernikahan. Nanti bisa lah kita yakinkan Aisyah bahwa wasiat Kakeknya itu dapat menjadikan kebaikan untuk Aisyah ke depannya. Karena Beliau kan Kyai yang dikenal dilimpahkan petunjuk jalan melalui mimpinya, dan kebenarannya bersifat nyata". Tutur Nenek meyakinkan.
"Abi setuju Nek, kita semua kan tahu Aisyah bukan anak yang membangkang, Abi juga lihat mereka sudah saling mengenal walau tidak terlalu dekat". Timpal Bang Abi kali ini wajahnya nampak.
"Baiklah, kita atur saja semuanya. Setelah makan malam nanti kita kumpul keluarga di ruang tamu ya... Jangan lupa Aisyah diberi tahu". Perintah Kakek.
"Iya Pah, nanti aku bilang Ke Aisyah". Jawab Ibunya Aisyah.
Malam pun tiba mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan hal yang telah dibahas siang tadi untuk meminta persetujuan dari Aisyah.
"Udah kumpul semua... Eh kurang satu kayaknya siapa ya...?". Tanya Kakek menatap semua anggota keluarganya.
"Fatimah Kek, Dia lagi nyusuin Rasyid di kamar". Jawab Bang Abi.
__ADS_1
"Baiklah Aisyah ada hal penting yang ingin Kakek sampaikan padamu". Ucap Kakek dan mulai menjelaskan seperti siang tadi. Setelah Aisyah mendengar semuanya wajahnya tidak bisa digambarkan dengan apapun campur aduk.
"Lalu bagaimana dengan rencana Aisyah untuk mengembangkan pendidikan dan mengamalkan ilmu Aisyah ?" Tanya Aisyah.