Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
14. Rasa Bersalah


__ADS_3

Tiara menggeliat pelan, saat merasa dingin menusuk permukaan kulitnya. Sedetik kemudian ia mengerjap, saat merasakan sebuah lengan melingkar erat di pinggangnya. Butuh waktu beberapa saat, hingga kesadarannya kembali. Lalu, setelah kepingan memori semalam melintas lagi, ia merasakan hantaman telak di hati.


Detik kemudian ia memutar tubuh, membelakangi lelaki yang tengah memeluknya erat di balik selimut. Bahkan, saat ini permukaan kulit mereka masih saling menyentuh tanpa busana.


Tiara memejam erat, melepas bulir bening dari sudut mata. Ia menutup mulut dengan punggung tangan agar isaknya tak terdengar. Namun, tetap saja gerakan kecil yang dilakukannya membangunkan Prabu, karena mereka masih tak berjarak satu sama lain.


“Kamu sudah bangun?” tanya Prabu. Dengan kesadaran yang belum terkumpul, ia melirik jam dinding yang menunjuk angka empat.


“Masih pagi, tidurlah lagi.” Demikian kalimat Prabu terucap, lalu mengecup bahu Tiara yang terbuka.


Ingin ia memejam kembali, tapi di saat itulah ia menyadari sesuatu, jika gadis dalam pelukan tengah menangis. Serta merta Prabu membuka mata, dan menyadari apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua semalam.


“Tiara ... ak—aku ....”


Prabu kehabisan kata-kata, lalu berusaha membalikkan Tiara agar posisi mereka kembali berhadapan. Gadis itu lantas meringkuk dengan kepala tertunduk, enggan jika harus berhadapan.


“Maafkan aku, Tiara. Aku sungguh tidak berniat membuatmu sesedih ini. Aku hanya ....”


Tiara tak menyahut. Ia memejam semakin rapat, juga tubuh yang kian bergetar hebat. Ia tak menyangka bisa sebodoh ini, dan larut dalam buaian sesaat. Semalam, entah mengapa hatinya begitu hancur, karena rasa yang dipaksa pupus sebelum sempat mekar. Hingga saat Prabu datang mengungkap maaf dengan segala kelembutan, ia pun terlena.


Melihat Tiara makin terisak, Prabu semakin dihantui rasa bersalah. Hal yang mengundang keping-keping memori di masa silam hadir kembali, dengan tusukan kian menyakiti.


Perlahan ia mengangkat kepala Tiara agar bertumpu di lengannya. Diraihnya dagu gadis itu, memaksa mata mereka saling beradu.


“Apa aku menyakitimu?” Ia bertanya pelan.


Kalimat yang dilontarkan dengan lembut itu membuat Prabu ragu, jika yang bertanya benar-benar dirinya. Seumur hidup, ia hanya ingat pernah berlaku selembut ini pada dua orang saja. Lusi, dan Tiara.


Masih tak menjawab, kini Tiara justru tergugu. Air semakin banyak mengalir di sudut matanya.


“Kumohon jangan begini, Tiara. Bicaralah.” Prabu menarik gadis itu dalam dekapan. Membuat tubuh mereka lagi-lagi tak berjarak di balik selimut.


“Tiara ... jawab aku. Jangan menghukumku dengan bersikap seperti ini.” Prabu mengiba lagi. Namun, yang didapatinya tetaplah sama, karena Tiara tetap larut dalam tangisnya.


***


“Bu Nurma, mulai sekarang, siapkan kamar di atas. Lalu, pindahkan barang-barang Tiara ke sana.” Prabu berkata sembari mengunyah pelan sarapannya. Tak jauh darinya, Nurma tengah berdiri dengan takzim.


“Kamar atas?” Kepala pelayan itu mengulangi kalimat sang majikan.


“Ya. Tepat di samping kamarku.”


Mendengar itu, Nurma sedikit terkejut. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Prabu memberi titah untuk memindahkan Tiara ke kamar itu? Sementara itu adalah kamar Arini, putri semata wayang Sundari, yang tak lain adalah ibunda Prabu.


Sejak sang ibunda meninggal puluhan tahun lalu, kamar itu dibiarkan tetap kosong, meski dirawat dengan baik. Mengingat betapa istimewa kamar itu di rumah ini. Sesekali, bahkan Sundari pun berkunjung ke sana, jika tengah merindukan sang buah hati. Namun kini?


“Tapi, Tuan? Bukankah itu—“


“Lakukan saja.” Prabu berkata pelan, lalu menatap tajam pada Nurma. Hal yang membuat sang kepala pelayan tertunduk patuh.


“Baik, akan saya suruh beberapa pelayan menyiapkannya, juga memindahkan barang-barang Tiara.”


“Oh iya. Hari ini, suruh Lisa menemani Suster Eri untuk menjaga Eyang.” Prabu meneguk jus jeruk di hadapan dengan tenang.


“Semalam, Eyang memberi libur pada Tiara. Sebagai kompensasi telah menemani seminggu lebih di rumah sakit, juga hadiah karena dia lolos uji tiga bulan pertama masa kerja di sini.” Prabu kembali menjelaskan, sebelum Nurma bertanya.


Setelah menyeka sudut bibir dengan tisu, Prabu yang telah rapi dalam balutan jas abu-abu itu bangkit. Ditinggalkannya Nurma yang masih terpaku tak percaya, dengan apa yang ia dengar. Namun begitu, wanita baya itu tak bisa membantah apa yang sudah menjadi titah. Ia lantas memanggil beberapa pelayan untuk menjalankan tugas dari sang majikan.

__ADS_1


Meninggalkan meja makan yang masih dikemas, Nurma menuju kamar Tiara yang terletak di bawah tangga. Kamar tersebut ada di tengah-tengah bangunan, dan dapat menjangkau ruang tengah dan dapur dengan mudah. Sejenak Nurma berdiri, lalu mengetuk pelan.


Tiara yang tengah termenung di depan meja rias sederhana menoleh. Untuk menemui siapa pun yang ada di depan kamarnya kini, ia begitu takut. Ditambah wajahnya yang sembab serta mata bengkak, ia tak tahu harus menjawab apa jika seseorang bertanya.


“Tiara, apa aku boleh masuk?”


Suara Nurma yang sayup terdengar, membuat Tiara menelan lidah dengan susah payah. Ingin rasanya ia menangis sekencang-kencangnya, tapi semua tidak akan berguna sekarang. Hanya menimbulkan kecurigaan, atas hal yang ingin ia tutup rapat.


“Tiara? Kamu sudah bangun, ‘kan?” Lagi, suara Nurma terdengar.


Setelah merapikan rambut dan menutup kemeja hingga kancing teratas, Tiara bangkit dari kursi. Ia sedikit meringis dan memegang pinggiran meja, saat nyeri menyerang bagian bawah tubuhnya. Ia bahkan menggigit bibir agar tak menangis, karena rasa ngilu tersebut kembali mengingatkan tentang apa yang terjadi semalam.


Ia menuju pintu dengan tertatih, lalu membukanya. Saat ini, di depannya tampak Nurma berdiri dengan tatapan menilai.


“M—maaf, Bu Nurma. Saya baru selesai berpakaian.” Tiara menunduk, tak berani membalas tatapan Nurma. “Silakan masuk.”


Setelah berkata, Tiara mendahului. Sengaja ia membuat Nurma menutup pintu, agar ia memiliki ruang gerak lebih. Ia tak ingin Nurma curiga, betapa langkahnya terambil dengan susah payah.


Sementara itu, Nurma mengamati dengan saksama gadis di hadapan. Tak ada yang luput, dari ujung kaki hingga kepala Tiara. Setelah menutup pintu, ia menyusul Tiara yang kini duduk di tepi ranjang.


“Kamu sakit?” Tanpa aba-aba, Nurma menyentuh kening Tiara, lalu menyusupkan jemari ke leher gadis itu. Bukan tanpa alasan Nurma bertanya, karena memang pagi ini wajah Tiara lebih pucat dari biasanya.


Tiara menggeleng. “Tidak. Saya hanya—“


“Apa ada masalah?” Nurma mulai curiga. Terlebih, saat gadis yang biasanya ceria itu bermuram durja, dan tak berani menatapnya. Ini bukan Tiara yang sejak tiga bulan lalu dikenalnya.


“Aku dengar, semalam Tuan Prabu menyediakan jamuan makan malam di tepi kolam untukmu. Apa itu benar?” Nurma berkata hati-hati, tapi tetap penuh selidik.


Tiara mengangguk pelan, dan berkata, “Benar, Bu Nurma. Kata Tuan, itu sebagai sambutan karena saya berhasil lolos uju tiga bulan pertama.”


Lagi-lagi Tiara mengangguk. “Benar. Sebagai ungkapan terima kasih, karena menemaninya selama di rumah sakit.” Tiara menjawab pelan, dengan tangan saling meremas di pangkuan.


“Apa kamu tahu, pagi ini Tuan memindahkanmu ke kamar atas?”


Tiara mengangkat wajah yang sejak tadi tertunduk. “Tidak. Saya tidak tahu soal itu. Sejak pagi, saya belum keluar kamar sama sekali.”


Nurma menghela napas pelan. Lalu menatap keluar jendela. Melihat pepohonan di luar sana, yang bergerak mengikuti semilir angin pagi. Namun, kemudian ia menengok ke arah pintu saat terdengar ketukan.


Tiara pun mendongak, melihat ke arah pintu. Ia lantas berpandangan dengan Nurma, yang sama bingungnya.


“Biar aku yang buka. Kamu istirahatlah. Nikmati liburanmu, karena tidak semua pelayan di sini dapat keistimewaan itu, apalagi dari Nyonya langsung.”


Mendengar kalimat itu, Tiara hanya mengangguk pelan. Ia mengamati Nurma yang kini bangkit dan memperbaiki seragam. Tak lama, kepala pelayan itu membuka pintu.


Alangkah terkejut Tiara melihat siapa yang berdiri di sana, tepat di hadapan Nurma. Prabu, dengan sebuah nampan berisi sarapan pagi.


***


“Tuan? Anda tidak perlu repot, biar saya yang memberikannya pada Tiara.” Nurma berusaha meraih nampan dari tangan sang tuan. Kehadiran Prabu di depan kamar Tiara sungguh bukan hal yang biasa.


“Tinggalkan kami.” Prabu berkata dengan tenang. Teramat tenang, hingga terdengar seperti ancaman bagi Nurma.


Kepala pelayan itu mengangguk, lalu menatap Tiara sekali lagi. Gadis itu masih duduk di tempatnya, tak bergeser sedikit pun.


“Baik, Tuan.”


Sepeninggal Nurma, Prabu melangkah masuk, dan menutup pintu dengan kaki. Ia lantas meletakkan nampan itu ke meja, yang ada di sisi ranjang. Untuk ukuran kamar pelayan, ruangan yang ditempati Tiara ini memang terbilang cukup mewah. Hanya saja, meja rias yang terletak di satu sisi kamar ini memang model lama, sehingga tampak sederhana.

__ADS_1


“Apa kami baik-baik saja?” Prabu menghampiri Tiara, dan menarik sebuah kursi. Kini ia duduk di hadapan gadis Tiara yang menunduk.


“Apa aku menyakitimu?” Prabu mengulurkan tangan, dan membingkai pipi putih di hadapan. Memaksa Tiara menatapnya dengan sorot sendu.


“Tuan tidak perlu berlebihan. Hanya akan mengundang kecurigaan pelayan yang melihatnya.”


“Tiara—“


“Saya akan menganggap ini tidak pernah terjadi, Tuan. Jadi, saya mohon, jangan berlebihan.”


“Tapi aku tidak bisa, Tiara!”


“Lalu, apa yang akan Tuan lakukan?” Tiara menatap sang majikan dengan mata berkaca-kaca.


Hening, dengan rasa bersalah mendekap hati masing-masing.


Mendapat kalimat yang demikian menuntut, Prabu menelan ludah beberapa kali. Pertama kali dalam hidup, ia merasa demikian bersalah telah tidur dengan seorang gadis. Bukan karena Tiara berstatus pelayan, tapi karena ia adalah yang pertama bagi gadis itu.


Tentu saja ini sebuah beban, sebab biasanya, Prabu melakukan dengan banyak wanita dengan dasar suka-sama suka, sama-sama butuh pelampiasan, dan menggunakan pengaman. Namun, yang semalam ....


Melihat Tiara yang begitu terluka, Prabu mengacak rambut dengan kesal. “Beri aku waktu.”


“Untuk apa? Saya hanya ingin menghapus semuanya, dan berharap semua di antara kita cukup sampai di sini.” Tiara menyingkirkan tangan Prabu dari pipi, di ujung kalimat yang diucapkannya.


“Aku anggap, aku tidak pernah mendengar semua itu.”


“Tuan, kumohon. Jangan menjadikan hidup saya semakin berat di sini. Saya tidak ingin dicap sebagai pelayan yang menggoda majikannya. Saya baru saja diterima dengan baik. Jadi saya mohon—“


“Tiara ....”


“Saya butuh pekerjaan ini, Tuan. Saya punya ibu yang masih harus menjalani perawatan dan butuh biaya besar. Saya punya adik yang masih sekolah, saya—“


Kalimat Tiara tidak selesai, sebab Prabu menariknya dalam dekapan. Seperti pagi tadi saat terbangun, kembali ia tergugu dalam dekapan sang tuan.


“Saya mohon lupakan semuanya, dan biarkan saya tetap bekerja seperti tidak pernah terjadi apa-apa.” Tiara berkata di sela tangis.


Prabu menepuk punggung yang terguncang itu, seakan-akan berusaha memberi ketenangan. “Baiklah. Tapi dengan satu syarat. Patuhi perintahku dan pindahlah ke kamar atas. Di sana lebih nyaman, dan kamu bisa istirahat dengan baik daripada di sini.”


Prabu menjeda pelukan, laku menghapus jejak basah di pipi yang pucat. Ia lantas bangkit, dan membawa nampan berisi sarapan ke ranjang, meletakkannya tepat di depan Tiara.


“Sekarang makanlah. Jangan pikirkan apa pun, karena aku tetap di sini, jika sesuatu terjadi padamu nantinya.”


Tiara menyeka wajah, lalu meraih segelas air putih di hadapan. Sementara Prabu mengikuti setiap gerakannya hingga ia merasa risih.


“Silakan pergi, Tuan. Saya bisa sendiri.” Tiara berkata demi mencegah Prabu yang akan menyuapinya.


“Apa benar semalam aku menyakitimu?” tanya Prabu penasaran, saat melihat Tiara beringsut sambil menggigit bibir. Tanpa jawaban pun ia tahu, sebab kini wajah Tiara bersemu merah.


“Saya baik-baik saja, Tuan. Terima kasih.”


Melihat Tiara yang terus membentengi diri, Prabu bangkit. Dilihatnya lagi Tiara yang mulai menyuap makanan ke mulut, lalu berkata, “Baik. Istirahatlah. Kita bicara lagi nanti.”


Saat Prabu menghilang di balik pintu, lagi-lagi Tiara tergugu. Dibenamkannya wajah dalam lutut, agar tangisannya teredam dan tak terdengar sampai keluar sana.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2