Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
26. Dalam Dekapan Bunda


__ADS_3

Sebelum terserang kantuk, Tiara segera menghubungi mobil angkutan menuju kampungnya. Kebetulan, ia mengenal baik si Sopir, yang tinggal satu kampung dengannya. Angkutan yang menjadi langganan saat ia kuliah dulu. Setelah itu, Tiara mematikan ponsel, dan mulai dilanda kantuk.


Setelah menempuh perjalanan hampir lima jam, akhirnya bis yang membawa Tiara sampai ke Kabupaten Pandeglang. Begitu bis sampai di terminal, Tiara langsung mencari angkutan yang akan membawa ke desanya, di daerah Cimanuk. Kecamatan yang masih berjarak dua jam tiga puluh menit dari kota.


Lelah setelah menempuh perjalanan hampir sehari penuh, akhirnya Tiara sampai ke rumahnya. Suasana yang menjelang Magrib, membuat seluruh rumah warga tertutup rapat. Menyisakan suara hewan peliharaan yang sesekali terdengar, menambah harmoni tersendiri. Ditambah aroma khas pembakaran sampah dedaunan, yang membangkitkan rindu di dalam dada Tiara, akan dekapan bunda.


Sejenak ia mematung di halaman, mengamati sekeliling. Rumah halaman rumah itu dulu selalu ramai, saat ia dan Alia berebut ayunan. Seutas tali dengan potongan ban mobil sebagai tempat duduk, yang selalu menjadi favorit. Tempat yang selalu mengingatkan Tiara atas kehadiran ayahnya.


“Bapak ... Tiara kangen.” Tanpa sadar kalimat itu terucap, dan Tiara mendekap dada.


Ia sadar, laki-laki itu membuatnya paham dengan arti kehilangan dan rasa sakit. Namun, bagaimanapun, sosok bapak adalah orang yang sangat ia rindukan. Sebagai teman berbincang, juga tempat meminta perlindungan.


Beberapa lama larut dalam nostalgia, Tiara melangkah melintasi halaman. Ini bukan kali pertama ia pulang ke kampung. Saat masih kuliah, ia juga selaku pulang saat libur semeter. Akan tetapi, entah mengapa kali ini ia merasa berbeda. Ada buncah bahagia yang aneh, dan sulit diartikan.


Ia berhenti saat mencapai teras. Setelah menarik napas panjang, diketuknya pintu perlahan. Lalu terdengar langkah dari dalam, dan sosok yang sangat ia rindukan muncul di hadapan.


“Kakak?” Mata Alia membulat, melihat siapa yang kini ada di hadapan. Serta-merta ia menubruk Tiara, dan mendekap sang kakak erat, bagai tak akan lagi dilepaskan.


“Alia kangen, Kak! Alia kangen!”


**


“Kamu benar baik-baik saja, kan, di sana?” Suara Ninih memecah hening. Ia meraba kalung yang menggantung di leher, hadiah dari Tiara beberapa saat lalu yang membuatnya haru bukan kepalang.


Tiara mendekap sang ibunda semakin erat, lalu menjawab, “Iya, Bu. Tiara baik-baik saja. Ibu lihat sendiri, kan? Nggak ada yang kurang. Aku masih punya dua telinga, dua mata—“


“Ah, kamu ini! Ibu serius!” Ninih mendorong kepala si Sulung yang sejak tadi lekat di dadanya.


Malam ini, ia sangat bahagia. Kedatangan Tiara sungguh menjadi kejutan yang membahagiakan, membasuh kerinduan setelah sekian lama. Sebenarnya sama saja, sebab biasanya Tiara datang enam bulan sekali.


Akan tetapi, melepas anak bekerja, memiliki beban berbeda saat Tiara kuliah. Ada beban dan rasa bersalah menggelayut di batinnya. Meski Tiara bercerita jika majikannya amat baik, dan memberi bonus.


Tiara dan Alia tertawa, lalu sama-sama mengeratkan pelukan pada ibu mereka. Banyak kisah yang Tiara sampaikan pada sang ibunda dan Alia. Ia bahkan merasa, lelah seharian menempuh perjalanan lenyap, saat menghirup aroma tubuh ibunya. Wangi yang membuatnya nyaman, dari seluruh kenyamanan di dalam semesta ini.


Setelah banyak beetukar kisah, mereka menyerah pada kantuk, dan bersiap tidur. Bergantian dua anak itu membantu ibu mereka ke kamar mandi, juga minum obat.

__ADS_1


Saat hendak merebah karena lelah dan kantuk, ponsel Tiara bergetar. Memunculkan panggilan dari seseorang yang beberapa jam lali ia lupakan karena suka cita. Segera ia meminta izin pada ibunya, dan menjawab panggilan di dapur.


Tiara tersenyum, dan menyapa dengan suara lembutnya. Lalu tak bisa menahan buncah bahagia dalam jiwa, saat mendengar omelan dari seberang sana. Ia bahkan bisa menebak, bagaimana wajah Prabu sekarang.


“Bukankah sudah kubilang, beri kabar begitu sampai? Kenapa begitu sulit bagimu menuruti perintahku? Apa kamu benar-benar tidak takut dihukum?”


“Saya juga kangen, Tuan. Sama seperti yang Tuan rasakan sekarang,” balas Tiara pelan. Ia tak ingin ibu atau adiknya mendengar.


“Ah, Tiara.” Suara di seberang terjeda sesaat, dan terdengar Prabu menghela napas berat. “Kapan kamu pulang?”


“Saya baru saja sampai, dan sudah ditanya kapan pulang?”


“Tiga hari terlali lama, Tiara!”


“Tidak akan lama, kalau itu akan membuat kerinduan kita semakin dalam satu sama lain.”


“Aku akan bicara pada Eyang setelah ini.” Prabu berkata pelan.


Tiara tersenyum. Ada keraguan di dalam hatinya, untuk hak yang seharusnya ia sambut dengan bahagia. “Jangan buru-buru, Tuan. Kondisi Nyonya baru stabil, dan saya tidak ingin Nyonya terkejut.”


Tiara mendesah pelan. “Bukankah sejak awal saya sudah berjanji akan merawatnya dengan cinta? Maka itulah yang saya lakukan, Tuan.”


“Lali, bagaimana denganku?”


Tiara tersenyum. “Ras ayang saya miliki bahkan jauh lebih besar dari ketakutan saya selama ini, Tuan. Dan saya yakin, lebih besar pula dari rasa yang Tuan miliki.”


“Bisakah kau pulang besok?” Suara Prabu terdengar mengiba. “Malam ini, aku menginginkanmu ada di sini.”


“Tidurlah, Tuan. Sudah malam. Beberapa hari ini Tuan tidur larut malam, kan? Maka gunakan kesempatan selama tidak ada, untuk tidur yang cukup.”


“Apa itu artinya ... setelah kamu datang kita tidak akan tidur semalaman?”


“Saya ambil bis malam, Tuan. Jadi akan sampai di sana pagi, lalu langsung bekerja seperti yang lain.”


“Aku akan meliburkanmu lagi, seminggu penuh!”

__ADS_1


“Tidak ada libur selama itu, dan sebaiknya Tuan segera tidur.”


“Entah kenapa aku begitu cemas sekarang. Kamu baik-baik saja, kan?”


“Saya baik, Tuan. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”


“Benar, tidak ada apa-apa? Baiklah. Akan kutelepon lagi besok. Jaga dirimu ... aku mencintaimu, Nyonya Prabu Adji Widjaya.”


Tiara mengakhiri panggilan, lalu mendekap ponsel di dada. Seharusnya ia melambung dengan kalimat Prabu. Akan tetapi, entah mengapa ada keraguan dalam dadanya. Seolah-olah tak bisa merasakan apa pun di depan sana, tentang ia dan Prabu di masa yang akan datang.


'Aku juga mencintaimu, Tuan. Tapi ... mungkinkah?'


Saat tengah bimbang dengan rasa dalam dada, Tiara dikejutkan dengan suara yang menyapanya pelan.


“Itu siapa, Kak?”


Nyaris saja Tiara berteriak karena kaget. Alia, entah sejak kapan gadis itu ada di ambang pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur. Saat ini, sang adik berdiri dengan tatapan penuh curiga.


“Itu siapa? Pacar, atau majikan Kak Tiara?”


“Ah, Alia? Itu tadi ....”


“Jangan dijelaskan.”


“Alia, aku—“


Alia mendekat, lalu menggenggam jemari sang kakak. “Asal Kakak diterima dengan baik di sana, itu sudah cukup. Tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku cuma mau pesen, supaya Kakak jaga diri di sana.”


Tiara mengangguk, lalu balas menggenggam jemari adiknya. “Doain aku, ya. Doain semoga semuanya tetap baik-baik saja, dan bisa terus mendukung biaya untuk kesembuhan Ibu.”


“Aku selalu doain Kakak. Kak Tiara adalah contoh terbaik yang aku punya. Aku berharap, semoga bisa seperti Kak Tiara.”


Tiara mengangguk, dengan mata berkaca-kaca mendengar ketulusan sang adik. Lalu, sekelebat malam panas antara dirinya dan Prabu melintas dan memenuhi benak. Akankah adik dan ibunya bangga, jika tau apa yang telah dilakukannya?


**

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2