
Prabu membuka pintu apartemen, dan masuk dengan langkah perlahan. Sejenak, ia berdiri di tengah ruangan yang tertata rapi, seperti terakhir kali ia datang kemari. Sengaja semua dibiarkan tak bergeser dari tempat semula, dan ia hanya membayar orang untuk membersihkan debu saja, tanpa memindahkan apa pun.
Menginjakkan kaki di ruangan ini, Prabu bagai dilempar ke masa beberapa tahun lalu. Saat ia merasa cukup dengan semua yang ada dalam genggaman. Nenek yang mendukung penuh setiap pekerjaan, juga wanita yang menyambut dan mengasihinya tak pernah habis.
Dua wanita yang amat berarti, dalam setiap fase hidupnya kala itu. Membuat ia merasa disayangi, diharapkan, dan jadi tempat berlindung dalam satu waktu. Hal yang membuat laki-laki mana pun merasa berarti, dan bersemangat menjalani kehidupan.
Disapukannya pandangan ke sekeliling, dengan tatapan yang entah bermakna apa. Sekadar memastikan tak ada yang berubah, atau mencari jejak hangat di setiap sudut ruangan yang tertata apik. Khas tatanan seorang wanita yang paham dengan dekorasi ruangan. Sosok istri idaman dan ibu yang diinginkan setiap lelaki.
Unit apartemen yang terletak di lantai dua puluh kawasan Sudirman ini adalah milik Lusi. Ruangan tipe studio, yang menjadi hadiah darinya, untuk wanita terkasih. Wanita yang mengikat janji akan selalu menemani, tapi tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Hingga Prabu tak tahu lagi, ke mana harus mencari demi menemukan sang tambatan hati.
Puas menjelajah seluruh ruangan, Prabu melangkah menuju kamar. Tirai abu-abu dengan motif bunga merah jambu itu masih tersibak setengahnya, seperti saat terakhir. Perpaduan warna yang sangat disukai Lusi, yang mendominasi hampir seluruh ruangan.
Saat malam, Lusi tak selalu membiarkan tirai itu terbuka. Kain tebal yang menjadi penghalang antara dinding kaca dan balkon. Katanya, ia sangat menyukai pendar bintang, karena bisa meredakan pikiran yang sedang kacau.
Prabu menuju ranjang, dan duduk di salah satu sudutnya. Tempat dulu ia memadu kasih itu masih sama, lembut dan empuk. Dulu, di tempat itu ia dan Lusi banyak menghabiskan malam. Bercerita apa saja, kadang sambil bekerja, atau menghabiskan semalam suntuk untuk saling memuja satu sama lain.
Tempat yang selalu hangat, kapan pun ia datang mengunjungi sang kekasih hati. Namun sekarang, kamar itu, ranjang itu ... hanya kehampaan yang terlihat sejauh mana ia coba mengingat. Lusi, seperti telah mati dan tidak akan pernah kembali.
Jika sebelumnya Prabu datang untuk mengumpulkan bait kenangan atau sekadar mengenang kerinduan, maka kali ini berbeda. Ia sengaja datang di tengah kesibukan, hanya untuk mengutarakan isi hati. Ia sadar, bahwa Lusi tidak mendengar apa yang akan ia sampaikan.
“Rasaku padamu tetaplah sama. Tapi, beberapa waktu belakangan ini aku banyak berpikir. Mencarimu selama ini tak ada hasil, dan aku memutuskan menyerah. Bukan karena aku lelah, tapi karena ada hati yang sudah berpasrah padaku. Seperti kamu yang dulu datang, lalu membuatku jatuh hati.” Prabu berkata pelan, memecah hening. Suaranya menimbulkan gema ringan di ruangan yang kosong tak berpenghuni.
“Sampai hari ini aku masih mencarimu, Lusi. Tapi, mungkin tidak akan kulakukan lagi besok. Kalau memang kamu masih mengingatku dan berusaha kembali, maka aku hanya akan menunggu. Entah nanti kedatanganmu membawa rasa yang sama, atau rasa dalam hatiku telah kuberikan pada orang lain.”
Pada akhir kalimatnya, Prabu bangkit. Ditutupnya tirai yang selama dua tahun tersibak itu, hingga kamar dengan nuansa abu-abu itu menyisakan remang-remang dari cahaya lampu.
“Pulanglah kalau kamu mengingatku. Dan saat kamu datang nanti, semoga tidak ada yang berubah di antara kita. Entah karena rasa yang menipis, atau terlambat.”
**
“Bari sampai terminal, Tuan. Ini saya baru dapat tempat di bis. Mungkin sebentar lagi jalan, karena sepertinya penumpang juga sudah penuh.” Tiara menjawab panggilan Prabu. Seperti janji sebelumnya, pria itu benar-benar menghubunginya dua jam sekali.
__ADS_1
“Oh, iya, Tuan. Nanti, di kampung saya sinyal tidak begitu bagus. Jadi, jangan marah kalau misalnya panggilan tidak tersambung.” Tiara berkata takut-takut. Membayangkan Prabu akan membuktikan ucapan yang akan menghukumnya semalam suntuk, entah mengapa ia berdebar juga.
Ia bahkan menurut, saat sang majikan memintanya mengambil tiga buah kursi saat di bus. Meski awalnya menolak, karena itu berlebihan. Namun, sekarang ia paham, jika kalimat Prabu malam itu ada benarnya.
“Kenapa saya harus ambil tiga kursi, Tuan? Itu kan mahal?” Tiara mengajukan protes.
“Kenapa? Apa bonus yang kuberi tidak cukup untuk membayarnya?”
“Bukan begitu, Tuan. Tapi, buat apa? Kasihan jika mungkin ada penumpang lain yang tidak bisa ikut bis itu, hanya karena saya memesan tempat terlalu banyak!” Tiara mencebik. Bibirnya masih merengut.
“Biarkan mereka memakai bis lain, dan itu bukan urusanmu!” Prabu menatap tajam, tak ingin dibantah.
“Tapi kenapa? Kenapa Tidak sekalian saja Tuan meminta saya mencarter satu bis?”
“Dengar, Tiara!”
Prabu menggeser duduknya, lalu menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Tiara yang berbalut piama. Sementara, rambut wanitanya itu masih basah dan terbungkus handuk, karena ulahnya yang memaksa Tiara mandi nyaris tengah malam.
“Dengan memesan tiga kursi, kamu bisa tidur nyaman selama perjalanan. Kamu tidak begitu sehat akhir-akhir ini. Jangan sampai kamu sakit, dan ibumu mengira aku menyiksamu selama ini!”
“Jangan membantah! Aku cuma mau kamu bisa istirahat dengan baik! Atau, aku tidak akan mengizinkanmu pulan. Kau mau itu terjadi?”
“Kenapa mengancamku seperti itu, sedangkan semua pelayan boleh pergi? Begitu Tuan bilang mencintaiku? Tapi, pilih kasih!"
"Itu karena aku mencintaimu! Kamu harus bisa istirahat dengan baik dan cukup selama liburan ini!"
"Tuan selalu bicara soal istirahat! Tapi lihat, hampir tengah malam dan Tuan masih di kamarku!”
“Malam ini aku akan tidur di sini.”
Tiara terbelalak. “Bagaimana bisa Tuan akan tidur di sini? Bagaimana nanti—“
__ADS_1
“Sudah. Tidurlah! Besok kamu harus bangun pagi, bukan?”
Prabu merendahkan bantal, lalu mematikan lampu. Tak peduli, meski Tiara masih mengajukan protes berkali-kali.
"Ini penjajahan, Tuan! Tuan tidak bisa seenaknya tidur di sini!"
Prabu berbalik, dan dengan satu gerakan cepat ia mengungkung Tiara dalam kuasanya. Mengunci pergerakan wanita itu, sampai tak berkutik di bawahnya.
"Apa kamu mau tau seperti apa penjajahan yang sebenarnya, Nyonya? Perlu kutunjukkan?" Prabu semakin merendahkan wajahnya, membuat pucuk hidung mereka bertemu.
Hasrat hati ingin terbuai, tapi Tiara menghalau sang kekasih. "T--tuan, bukankah aku harus istirahat? Aku tidak mau mandi lagi, dan aku ...." Tiara menjeda kalimat, merasakan kedua pipinya menghangat.
"Kenapa, hm?" Prabu tak menarik wajah sama sekali.
"Aku masih sangat lelah, Tuan. Yang tadi itu masih ... ah, maksudku ... aku boleh tidur sekarang, kan? Kalau memang Tuan mau tidur di sini, baiklah. Tapi janji, benar-benar tidur."
Prabu mengecup bibir kekasihnya sekali lagi. Hanya sebuah kecupan ringan, tanpa menuntut sama sekali. Membuat Tiara tersanjung, dan merasa dihargai.
Mengingat semua itu, Tiara tersenyum simpul. Prabu benar, dengan memesan tiga kursi, ia bisa berbaring dengan nyaman. Berbaring dengan bantal ransel berisi pakaian, ia menatap langit-langit bis sambil mendekap dada. Merasakan cinta yang menjebaknya di dalam pusaran cinta yang salah. Salah, karena semua terjadi sebelum waktunya. Salah karena ia bahagia, dan menikmati setiap kebersamaan dengan sang tuan yang begitu manis.
Namun, tetap saja sebentuk keraguan hadir dalam benak. Apakah Sundari akan memberikan restu? Mengingat, semua kendali ada di tangan wanita itu.
Lalu, apakah hubungannya dengan Prabu akan berakhir seperti yang ia harapkan? Atau justru ia hanya akan menjadi Cinderela satu malam, yang tersakiti laku dicampakkan?
Tiara mendesah pelan, lalu menatap ke layar ponselnya. Di permukaan layar lima inchi itu, tampak sebuah foto saat ia mengecup pipi sang pujaan. Sekilas, antara ia dan Prabu bagai sepasang kekasih yang amat bahagia dalam foto tersebut. Akan tetapi, di saat yang sama ada beban teramat berat yang harus ia tanggung.
‘Kabari aku begitu sampai. Hati-hati. Jaga dirimu, untukku.’
Sebuah pesan yang masuk bagai air dingin yang mengguyur hati Tiara. Menguarkan kesejukan di tengah ragu yang mendera. Baru beberapa jam terpisah, tapi rindu dalam hatinya untuk sang tuan telah tumpah ruah. Tak terkendali, memenuhi segenap sudut hati.
“Benarkah ini, Tuan? Benarkah jalan yang kita ambil ini?” desahnya pelan. Lalu, ia merasa bis mulai berjalan menuju kampung halaman. Tempat ia akan menjumpai orang-orang yang amat ia rindukan.
__ADS_1
**
Bersambung ....