
Leana bersedekap dan menatap ke arah ranjang pasien, tempat Sundari terbaring lemah dengan mata terpejam. Beberapa selang terhubung ke tubuh wanita tua itu, dari monitor yang berbunyi membentuk nada berirama.
Wanita yang mengenakan baju khusus pengunjung ICU itu menatap penuh arti, juga perasaan campur aduk. Meski wajahnya tertutup masker, tapi dari sorot mata tampak Leana merasakan beban sangat berat dalam dada.
Seharusnya Leana merasa lega, karena orang yang berusaha ia singkirkan tak berdaya sekarang. Itu artinya, persaingan antara dirinya dan Sundari dalam mendapatkan hati Prabu menyisakan dirinya seorang.
Saat menjalin kerja sama mengelabuhi Prabu dulu, ia tahu bahwa Sundari melakukan kecurangan. Hal yang membuat ia melakukan hal sama, menyewa perawat untuk melemahkan Sundari perlahan.
Bagaimanapun, kejahatan yang dilakukan oleh dua orang memanglah selalu penuh intrik dan kecurangan. Sebab, tak ada saling percaya dalam sebuah tindak kejahatan, juga skandal.
Namun, entah mengapa saat ini Leana merasa hatinya patah. Terlebih saat mengetahui betapa Prabu hancur, terakhir kali mereka bertemu. Tampak jika lelaki tidak sedikit pun menggunakan hati sama sekali. Hanya saling menyentuh, tanpa cinta. Padahal sebelum Prabu jatuh cinta pada Tiara, mereka saling membutuhkan, dan bercinta dengan hangat dan membara setiap menginginkan.
Leana mendesah pelan, dan merasa tiba-tiba matanya berembun. Begitu dalam dia jatuh dalam pesona Prabu, hingga rela melakukan apa saja. Termasuk banyak kejahatan dan kecurangan. Namun pada akhirnya, ia sadar jika cinta sama sekali tak bisa dipaksa.
“Maafkan aku.” Leana mendesah pelan, seakan-akan Sundari mendengar. “Cepatlah pulih, agar bisa kukalahkan. Karena sepertimu, aku juga tidak ingin bertarung melawan musuh yang sudah menyerah.”
Leana mendekati ranjang, dan meletakkan buket bunga yang sejak tadi dipegangnya. “Jika ini adalah pertarungan terakhir kita, maka tenanglah. Aku melepaskan Prabu setelah dia benar-benar hancur. Untuk itu, kau harus pulih kembali, demi melihat betapa kuat aku yang kau anggap remeh.”
Usai berkata demikian, Leana meninggalkan kamar Sundari, diikuti seorang pengawal. Saat langkah pertama diambilnya menjauh dari kamar pasien, ia benar-benar membulatkan tekat. Akan mengalahkan keangkuhan Sundari dengan menghancurkan kerajaan bisnis keluarga Widjaya yang mulai berkembang pesat.
Leana berpikir, apa yang akan dilakukan cukup setimpal. Ia tak akan bermain kotor lagi hanya demi mendapatkan hati Prabu. Dengan demikian, lelaki itu akan memilih mana yang terbaik. Bisnis, atau sebuah hubungan serius.
Tak ada lagi waktu untuknya bermain-main, apalagi hanya demi cinta yang tak berbalas. Mulai sekarang, ia hanya akan fokus pada perusahaan, termasuk menjatuhkan Prabu dengan cara yang paling tepat.
“Jika aku tidak bisa memiliki diri dan juga hatimu, kupastikan kamu akan kehilangan sesuatu yang membuatmu jatuh dalam sakit yang paling sakit.”
**
“Apa kamu yakin?” Lusi melihat Alex sekali lagi, dengan tatapan tidak percaya.
“Ya.”
“Lalu, bagaimana setelah ini, Alex? Maksudku, apa kamu akan kembali bekerja pada Leana?”
Alex menggeleng. “Aku sudah berkhianat, dan aku yakin dia tahu itu. Sekarang, dia juga pasti sudah membayar orang untuk menghabisiku. Karena itu, aku akan membawamu pergi jauh dari sini. Mungkin, akan memulai hidup baru di tempat yang tak ada seorang pun mengenal kita di sana.”
Lusi menghela napas panjang. Entah mengapa hatinya sangat sakit, juga lega di waktu yang sama. Kejujuran Alex tentang keberadaan Tiara membuatnya lega. Ia bahkan baru saja mengirim pesan pada Prabu.
“Alex boleh aku meminta sesuatu? Aku berjanji tak akan meminta apa pun lagi setelah ini.”
“Katakan.”
“Bolehkah aku menemui Prabu sebentar saja?” Lusi menggigit bibir, takut jika pintanya tak diindahkan.
Alex tertawa. “Apa yang kamu harapkan? Apa kamu masih mencintainya? Sadarlah, Lusi ... dia tidak menganggapmu! Dia sudah memiliki perempuan lain!” Alex berkata penuh penekanan.
“Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal. Apa kamu lupa, aku bertahan dari siksaan selama dua tahun, hanya karena ingin berpamitan pada Prabu.”
Alex memukul kemudi sebagai luapan amarah. Mendengar Lusi selalu menyebut nama Prabu, ia merasa terbakar. Lalu, tanpa apa-apa ia menginjak pedal gas dengan sangat kencang, dan memacu kendaraan menuju arah vila keluarga Sanjaya. Sementara Lusi hanya bungkam, tidak bisa berkata-kata karena ketakutan.
Hampir satu jam keduanya berkendara dalam diam, sampai Alex menepi. Ia memarkir mobil dengan kasar, mengakibatkan debu beterbangan di belakang sana.
“Turunlah! Tunggu Prabu di luar. Dia akan melintas di sini, dan aku memberimu waktu lima belas menit.”
“Ap—apa?” Lusi tergagap.
“Keluar sekarang, atau aku akan berubah pikiran!”
Lusi mengangguk dan keluar secepat yang ia bisa. Lalu menanti dengan gelisah di tepi jalan yang diapit hutan lebat. Sesekali ia melirik ke arah Alex yang sepertinya sedang tidur, atau pura-pura tidur.
Penantiannya berakhir hampir satu jam kemudian. Mobil Prabu menepi, dan sang empu langsung menghampirinya. Jika tak ditahan dengan kuat, nyaris saja air mata Lusi tumpah melihat kecemasan Prabu.
__ADS_1
Kecemasan yang juga dialami Prabu saat kehilangannya, dulu.
“H-hai!” Lusi menyapa dengan kaku. Suaranya nyaris tak bisa keluar, karena tenggorokan yang terasa tercekik.
“Bagaimana kamu tahu kalau Tiara ada di sana?” Prabu menyerang dengan pertanyaan.
Lusi merasakan satu hantaman dalam dadanya. Merelakan lelaki terkasih mendamba orang lain setelah perjuangan dan siksaan yang terjadi, amatlah tidak mudah.
“Ada sumber terpercaya. Tiara ... dia aman.” Lusi berkata dengan sisa tenaga yang ia miliki.
“Baiklah, aku akan ke sana sekarang.” Prabu memutar langkah, akan kembali ke mobil.
“Tunggu, Prabu!”
“Ada apa?” Lelaki itu berbalik, lalu sadar jika yang dilakukannya salah. Terlalu fokus pada Tiara, ia sampai lupa kenapa Lusi bisa ada di tempat ini. Maka ia memutuskan akan bertanya nanti. Yang terpenting adalah segera menemui Tiara.
“Ayo, kita ke sana sama-sama,” ajaknya kemudian.
Lusi menggeleng. “Aku ... ah, maksudku—“
“Ada apa?” Prabu menangkap kesedihan di wajah wanita yang pernah ia kasihi.
“Setelah ini, mungkin kita tidak akan bertemu lagi.” Lusi menengadah, mencegah agar air matanya tidak tumpah. Namun, percuma. Sebab sedetik kemudian air matanya semakin deras.
“Apa yang terjadi? Apa maksudmu?” Prabu menatap sekeliling, lalu mendapati sebuah SUV hitam terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Apa orang-orang Leana mengikutimu?”
Lusi menggeleng. “Bukan. Aku hanya ingin melakukan apa yang tidak pernah aku lakukan dulu.”
“Lusi ... kenapa kamu—“
“Jangan seperti ini, Lusi. Kumohon—“
“Aku akan terus mencintaimu, Prabu. Kamu adalah laki-laki yang banyak memberikan arti dalam hidupku selama ini.”
“Lusi—“
“Terima kasih, karena membuatku pernah memiliki segalanya. Cinta, perhatian, juga ....”
Lusi semakin terisak, kalimatnya putus-putus. “Juga anak yang tidak sempat terlahir.”
Prabu mendekap Lusi yang semakin tergugu dalam tangis. Dalam perasaannya yang kalut, air matanya jatuh. Ia tak menyangka jika Lusi mencintainya sedalam ini, hingga rela menahan sakit. Namun, ia tak bisa lagi kembali ke masa lalu, karena ada Tiara yang mengandung anaknya.
Lusi mengurai pelukan. “Pergilah. Jangan biarkan Tiara menunggu terlalu lama.”
“Lusi.” Prabu menatap wanita di hadapan, menghapus air mata dari pipi yang tirus.
“Hm?”
“Apa kamu bisa berjanji akan selalu mengabariku?”
Lusi mengangguk, dan tak bisa mengelak saat Prabu kembali mendekapnya. Dinikmatinya usapan lembut di punggung, untuk terakhir kali. Sebelum ia memulai hidup baru, menjadi tawanan Alex sepanjang sisa hidup. Tak apa ia menjalani hidup paling pahit, asalkan Prabu bisa bahagia bersama Tiara dan ayah yang tak pernah ia temui.
“Terima kasih.” Prabu melepas dekapan, dan mengecup kening Lusi sekali lagi. Banyak yang ingin ia utarakan, tapi semua tidak memungkinkan. Baginya, menemukan Tiara adalah keharusan, karena tak ingin terjebak rasa bersalah kedua kali, seperti saat kehilangan Lusi dulu.
“Hiduplah dengan baik dan bahagia.”
“Kamu juga. Hati-hati dan ingat untuk selalu mengabariku.”
“Lalu membuat Tiara cemburu?” Lusi berusaha tertawa.
__ADS_1
“Mungkin dia akan menangis sepanjang hari kalau akan menyebut namamu.”
Melihat betapa besar cinta Prabu untuk Tiara, lagi-lagi batin Lusi nelangsa. Semua itu pernah tercurah untuknya, sebelum terenggut paksa. Namun apa pun itu, ia lega sekarang. Karena tujuannya memberi arti untuk kehidupan pria terkasih tercapai. Bukankah terkadang cinta mampu membuat orang menghabisi diri sendiri, agar sang kekasih bahagia?
Terpilih memiliki kesempatan itu, Lusi tidak akan menyesal telah menukar dirinya dengan kebahagiaan Prabu.
“Pergilah.” Lusi melepas dekapan Prabu.
“Hati-hati,” Prabu berpesan, lalu mengecup dahi Lusi sekali lagi.
Dengan berat hati, Prabu melepas genggaman di tangan Lusi, dan pergi melajukan jalanan yang menanjak. Menyisakan Lusi yang terduduk di aspal, sembari memeluk lutut. Wanita itu menangis pilu, dalam dekap sepi yang merajai segenap hatinya.
Pada akhirnya, keinginan mengucapkan salam perpisahan dengan manis bisa dilakukan Lusi. Meski ada rasa sakit, tapi ia tak menyesal sama sekali.
“Butuh pelukan?”
Lusi menengadah, saat mendengar suara itu. Di hadapannya, kini Alex berdiri menjulang.
“Ah, apa kamu tau kalo aku cemburu, Lusi?” Alex berkata pelan, diiringi tawa sumbang. “Dan aku sangat ingin membunuh Prabu, saat dia memelukmu seperti tadi.”
Lusi menyeka mata. “A-alex?”
“Apa kamu bisa mencintaiku seperti mencintai Prabu?”
“Ap—apa?”
“Mari mulai semuanya dari awal, Lusi. Dan berjanjilah, kamu akan mencintaiku ... ah, tidak! Dan aku akan berjanji, membuatmu bisa mencintaiku lebih dalam dari rasamu pada Prabu.”
“Alex?” Lusi bangkit, dan menatap pria di hadapan dengan saksama. “Apa yang kamu bicarakan—“
Tidak selesai kalimat Lusi, saat Alex membungkamnya dengan ciuman. Meski terkejut, tapi Lusi merasa ada kelembutan di bibirnya.
“Aku rasa ... aku menyukaimu. Bersediakah kamu memaafkanku, Lusi? Dan mari ... memulai semuanya dari awal sebagai sepasang kekasih.”
Kali ini, Lusi maju selangkah dan balas mengecup Alex dengan lembut.
**
Jenuh karena berada di kamar tanpa melakukan apa pun, Tiara turun ke taman tepat di dekat gerbang. Hamparan berbagai bunga dan pohon buah-buahan yang letaknya sekitar dua kilo meter dari posisi vila yang berada di dataran lebih tinggi.
Awalnya sangat sulit untuk mendapatkan izin Sanjaya. Akan tetapi, akhirnya lelaki itu memberi izin dengan pengawalan. Tentu saja izin itu diperoleh juga setelah ia berjanji tidak akan melarikan diri.
Tiara melirik dua pengawal yang berbincang tak jauh darinya, lalu mendesah pelan. Meski diperlakukan istimewa, keberadaan dua orang itu memberi penegasan bahwa dirinya adalah sandera. Ia juga tak diperbolehkan menggunakan ponsel sama sekali selama di vila megah yang tampak di kejauhan.
Berjalan-jalan di antara rumpun mawar beraneka warna membuat Tiara terhibur. Keranjang yang dibawanya juga hampir penuh. Selain memetik jeruk dan mangga, ia juga mengisi keranjang itu dengan aneka bunga. Tentu akan sangat menyenangkan memenuhi kamarnya dengan rangkaian bunga segar.
Ia juga sempat meminta bantuan pengawal mengikat beberapa kuntum krisan. Saat tengah asyik berkeliling, terdengar deru mobil dari arah gerbang yang berjarak kurang dari dua puluh lima meter. Kemudian, ia melihat dua pengawal lari ke arah sumber suara.
Terdesak penasaran, Tiara menyusul dengan menyelinap di antara pepohonan yang rindang. Apa yang ada di hadapan membuat Tiara tercengang. Tak jauh di depan sana, orang yang sangat ia rindukan berhasil menerobos gerbang, dan berbicara dengan dua pengawal tadi.
“T—tuan?” Tanpa sadar, Tiara bergerak keluar dari balik pohon tempatnya bersembunyi. Pada saat yang sama, Prabu yang melihatnya akan berlari mendekat.
Namun, pengawal dengan sigap menghalau lelaki itu. Lalu, ia memekik saat melihat Prabu menghajar dua orang itu membabi buta hingga tersungkur. Tak bisa lagi Tiara membendung air mata, saat lelaki terkasih itu berlari mendekat, dan langsung mendekapnya dengan erat.
“Jangan pergi lagi. Jangan berani-berani meninggalkanku lagi apa kamu paham, Nyonya Prabu?”
Tiara tak mampu berkata, hanya balas mendekap semakin erat. Kemudian dalam hati melangitkan banyak rasa syukur juga doa. Di antara tangis bahagia dan haru, ia berjanji akan mengabdikan cinta dan hidup pada lelaki yang kini mendekapnya erat.
***
Selesai.
__ADS_1