Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
43. Biang Keladi


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Prabu berdiri di bawah guyuran air, hingga tangan-tangan dan seluruh permukaan kulitnya keriput. Namun, ia masih bertahan di sana, menggosok tubuhnya dengan kasar. Sesekali meninju tembok dan berteriak sekencang yang ia bisa. Sementara itu, lagu memekakkan telinga ia putar di dalam kamar yang kedap suara.


Beberapa botol sampo dan sabun cair tergeletak di bawah kakinya dalam keadaan kosong. Semua itu bagai tak bisa membersihkan dirinya yang teramat kotor, usai menggauli Leana secara terpaksa. Namun, Prabu tak ada pilihan lain dan harus menuruti Leana. Tak peduli jika ia harus menghamba pada wanita ular itu.


Bahkan, ia pasrah jika harus dipaksa menandatangani perjanjian, bahwa ia bersedia menjual dirinya seumur hidup. Apa pun akan dilakukannya demi Tiara. Asal Tiara dan calon bayinya bisa ditemukan, maka Prabu tak peduli apa pun lagi.


“Tuan, aku kangen!”


Suara dan wajah wanita Tiara saat menyambut sepulang kerja terus menari-nari dalam ingatan, dan membuatnya hampir gila. Hal yang membuatnya semakin tertekan adalah, ia harus tetap berusaha tenang, padahal kehilangan Tiara sungguh menyakitkan. Ia bahkan lupa, kapan terakhir kali patah hati, sampai ingin mati.


“Aaargh!” Prabu mengerang, semakin frustrasi.


**


“Lalu, kenapa Anda tidak kembali, Tuan Sanjaya?” tanya Tiara hati-hati.


Ditatapnya wajah pria paruh baya itu dengan iba. Pantas saja ia begitu familiar dengan pria yang hampir seluruh rambutnya berwarna putih. Sebab, garis wajahnya serupa dengan Prabu. Baik sorot mata, juga senyumannya. Garis ketampanan sungguh masih tersisa di wajah yang tak muda lagi. Ia juga berandai, yang duduk di depannya sekarang adalah bentuk Prabu beberapa tahun lagi.


Lelaki itu menarik napas panjang. “Aku sudah mencoba berkali-kali, Tiara. Tapi kuasa Mama Sundari membuatku berhenti, sebelum sampai di pagar terluar rumah itu.”


“Maksud Tuan?”


“Sampai sekarang, sampai aku sebesar saat ini, Mama Sundari masih memata-mataiku.”


“Kenapa Anda tidak menemui Tuan Prabu?” Tiara semakin penasaran. Meskipun demikian, ia berusaha tetap tenang. Bagaimanapun, setiap tanya yang diucapkannya bisa saja melukai Sanjaya.


“Kamu memanggil kekasihmu dengan sebutan tuan?” Lelaki itu tertawa, dan Tiara tersipu sembari mengangguk.


“Beberapa kali aku pernah hampir berhasil menemui Prabu. Tapi, lagi-lagi Mama Sundari mengancam dengan mencelakai orang di sekitarku. Bapak, Ibu, juga adik-adikku tidak luput dari teror yang dikirimkannya.”


Tiara mengangguk. Ia sedikit paham sekarang, kenapa Sanjaya memilih menjaga jarak dari putra semata wayang yang ia rindukan. “Tapi, apa alasan lainnya?”


“Mama Sundari selalu menginginkan keluarga yang sepadan untuknya. Sedangkan aku hanya supir yang dicintai Arini.”


“Jadi –“


"Ya. Strata sosial adalah harga mati untuk keluarga Widjaya." Lalu, mengalir kisah dari Sanjaya. Awal dirinya ditendang dari rumah itu, dijauhkan dari Arini dan Prabu yang masih berusia dua tahun kala itu.


Ia menjelaskan dengan rinci, bagaimana berjuang dari nol. Memulai usaha ekspor-impor, sesuai yang pernah diajarkan Arini, yang memang piawai di bidang tersebut. Banyak kolega yang ia peroleh dari sang istri.


Ia juga menceritakan saat dirinya tergabung bersama gank preman terbesar di kota Jakarta. Menjadi bagian dari kelompok itu, demi bisa mendapatkan informasi apa saja tentang Prabu. Namun, tetap saja ia kalah karena ada intelejen khusus yang bekerja untuk Sundari.


Meski sudah berhasil, tapi Sundari masih tidak memberinya izin menemui Prabu, alih-alih kembali. Latar belakang keluarga adalah yang paling penting untuk Sundari.


Sementara itu, Tiara menyimak dengan takzim, sembari menikmati embusan angin. Udara sejuk di lereng Gunung Salak memanjakan dirinya, ditambah pemandangan nan indah yang terhampar.


Posisi vila yang menyendiri di ketinggian, membuat matanya bebas menjelajah apa saja. Gerbang vila yang sangat jauh di bawah sana, lalu jalanan berkelok seperti ular yang ditanami pinus di sisi kiri kanan. Lalu, lampu-lampu bulat sepanjang beberapa kilo meter sepanjang jalan itu seperti bintik kecil dari tempatnya sekarang, di teras belakang lantai dua.


Dilihat betapa luas vila ini, tentu keberhasilan yang dicapai Sanjaya selama tiga pulub tahun tak main-main. Itulah yang membuat Tiara heran, mengapa Sundari masih menolak menantunya ini. Bukankah harta adalah sebagian pengganti kasta?

__ADS_1


“Apa kau dengar tentang perempuan bernama Lusi?” tanya Sanjaya tiba-tiba. Lalu, ia melihat Tiara mengangguk dengan ragu. “Mama Sundari menyuruh orang untuk menjauhkan gadis itu dari Prabu, lagi-lagi karena derajatnya tidak sepadan dengan keluarga Adji Widjaya.”


Mata Tiara membulat, dan ia membekap bibirnya dengan telapak tangan. “Benarkah? K—kenapa Nyonya sekejam itu?”


“Kehormatan selalu menjadi yang utama bagi keluarga itu, Tiara. Itu sebabnya aku membawamu kemari, agar kamu terhindar dari kejahatan yang dilakukannya terhadap Lusi.”


“Kenapa Tuan tidak menolong Lusi? Bukankah Tuan tahu keberadaannya? Dan bukankah Tuan tahu jika Tuan Prabu begitu tersiksa saat berpisah dari Lusi?”


Sanjaya menghela napas berat, wajahnya penuh sesal sekarang. “Aku terlambat. Saat kutemukan, gadis itu sudah hancur. Bagaimanapun Prabu mencintai gadis itu, aku tidak mau akhirnya Prabu menyesal karena—“


“Apa yang terjadi? Apa maksud Anda dengan hancur?” Tiara mengejar.


“Apa kau sungguh ingin mendengarnya?”


Tiara menggeleng, ia takut mendengar kenyataan itu. “Setidaknya, Anda bisa menolong dia demi kemanusiaan.” Tiara mendesah pelan, matanya berkaca-kaca. Sungguh tak bisa ia membayangkan jika berada dalam posisi Lusi yang diperlakukan todak adil, hanya karena cinta.


“Sudah. Aku mengirim seseorang padanya. Orang yang aku dapatkan dengan susah payah, sampai akhirnya mau bekerja sama denganku.”


“S—siapa?”


“Namanya Alex. Orang yang menghancurkan Lusi kala itu. Sebab, aku yakin tempat teraman bagi Lusi adalah orang yang menghancurkannya.”


Tiara mengusap wajah, seluruh tubuhnya meremang. Sungguh, permainan orang-orang ini membuatnya tak mengerti. Mengapa nyawa begitu murah bagi mereka? Sementara, di luar sana banyak yang berjuang untuk hidup.


Membayangkan semua itu, ia mengusap perutnya yang masih datar. Jika saja kehamilan ini terkuak, maka sudah tentu ia adalah korban Sundari berikutnya. Tiara tak menyadari, jika saat ini Sanjaya memperhatikan gerak-geriknya.


Tiara mendesah pelan. “Bukankah cinta tidak menganggap itu semua? Bukankah kehancuran Lusi juga karena Tuan Prabu ikut andil di dalamnya?” Tiara merasa terpukul. Kenyataan bahwa ia mencintai Prabu membuatnya mau tak mau merasa bersalah pada Lusi.


"Ah ... s--saya ...." Tiara celingukan, tapi tak bisa menghindari tatapan Sanjaya yang tajam.


"Apa aku akan menimang cucu?" Sanjaya bangkit, lalu mrnghampiri Tiara yang menunduk.


Diusapnya bahu wanita muda di hadapan, dan berkata, "Jangan takut. Ada aku di sini. Meski tidak bisa selalu menemanimu, aku akan selalu menyiapkan orang-orang untuk menjagamu."


Mata Tiara berkaca-kaca. Meski entah akan bertemu Prabu atau tidak, setidaknya ia merasa aman dan terlindungi di sini. "Te--terima kasih, Tuan."


"Kaga dirimu, dan pastikan cucuku mendapat semua yang terbaik. Aku sudah menyiapkan makanan terbaik, kamu bis amemintanya di dapur."


Tiara mengangguk, sambil menyeka mata.


"Kalau kamu mau, mintalah apa saja. Akan kukabulkan sebagai hadiah."


**


“Jadi, Tiara belum kembali?” Sundari menatap ke luar jendela, pada kolam renang yang memantulkan cahaya mentari pagi.


“Belum, Nyonya. Kabar yang diperoleh ‘anak-anak’, katanya Tiara diculik sepulang dari rumah sakit.” Nurma menjawab dengan patuh.


“Lalu, siapa pelakunya? Aku sudah memaksa Leana, tapi perempuan itu bungkam. Aku bahkan mengancam dengan akan membongkar semua rahasianya, tapi dia tetap tidak mengaku.”

__ADS_1


“Bagaimana jika Tian Sanjaya pelakunya?” Nurma mrnambahkan.


Sundari berbalik, menatap Nurma dengan mata memicing. “Apa kamu pikir Sanjaya punya kemampuan melakukan itu? Dia hanya debu untuk keluarga ini! Jika dia bisa melindungi Tiara, tentu dia sudah melindungi Lusi, saat aku menjauhkannya dari Prabu, dua tahun yang lalu!”


Pada saat yang sama, tepat saat Sundari mengakhiri kalimat, ia tercengang. Tak jauh darinya, tepat di sisi pintu, Prabu berdiri menatapnya dengan amarah tergambar dari sepasang mata yang tajam.


“Jadi, Eyang pelakunya?” tanya Prabu dalam, bergetar. Lelaki itu mendekat dengan tangan terkepal. “Jadi, kalian biang keladi semua ini?” Prabu menatap Nurma dan Sundari bergantian.


“Kenapa!” Prabu berteriak lantang, membuat Sundari dan Nurma berjingkat. “Kenapa Eyang tega menghancurkan cucu eyang sendiri? Apa Eyang tahu, selama ini aku menjual diri pada Leana hanya karena aku merindukan Tiara? Apa Eyang juga tahu, selama ini aku terikat perjanjian dengan perempuan itu, dan tak ubahnya ****** selama bertahun-tahun demi menyelamatkan perusahaan?”


“Prabu—“


“Ah, iya! Apa Eyang justru adalah dalang semua ini? Jawab aku, Eyang!” Prabu menyambar apa saja, dan mengempaskannya ke lantai. Menimbulkan bunyi pecahan memekakkan telinga, sampai Sundari dan Nurma menjerit sembari menutup telinga.


“Dan kamu, Nurma! Aku bahkan memanggilmu dengan sebutan Ibu karena sudah merawatku dari kecil! Tapi kenapa kamu juga tega? Apa kalian tahu betapa Lusi menghancurkan dirinya selama ini? Apa kalian tahu!”


Prabu membalikkan meja kecil, membuat isinya berserakan di lantai, juga pecahan kaca berhamburan di sana-sini memenuhi ruangan. Ia berteriak, mengamuk, laku menangis seperti anak kecil. Meluapkan segenap kecewa karena dikhianati orang yang paling ia sayangi.


“Kalian berdua bahkan tahu tentang Papa, tapi bungkam seperti orang bisu. Apa aku ini boneka? Apa aku tidak berhak atas kehidupanku sendiri?” Prabu tergugu, menjambak rambutnya sendiri.


“Aku ... aku melakukannya demi kebaikanmu, Prabu. Aku menyayangimu, karena hanya kamu yang aku miliki di dunia ini. Aku sungguh—“


“Mencintai kata Eyang?” Prabu menatap Sundari dengan mata basah. “Eyang membunuhku! Apa Eyang tahu rasanya? Kehilangan Tiara membuatku ingin mati!” Prabu berteriak lagi, dan meraung beberapa lama.


Kemudian, saat tangisnya mereda, ia berkata, “Ini sangat terlambat bagiku menyadari, bahwa kalian yang telah menghancurkanku sejauh ini. Cukup, dan aku tidak akan membiarkan ini semua terjadi. Mulai sekarang, aku akan pergi, dan tidak akan kembali lagi.”


“Prabu!” Sundari memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


“Jangan sebut namaku! Jangan pernah lagi sebut namaku, dengan semua kejahatan yang pernah Eyang lakukan. Bahkan mengakui kalian saja aku malu!”


“Prabu ....” Sundari mulai menangis. Ancaman cucunya itu adalah yang paling ia takuti, karena ia tak ingin terjebak di rumah besar ini seorang diri. Meski pada akhirnya ia sadar, jika kasih sayang pada Prabu ia curahkan dengan tindakan posesif yang salah. Namun, semua terlambat.


“Aku akan mencari Tiara, dan akan menemukannya sendiri! Dan sampai saat itu, jangan berharap menemuiku lagi!” Prabu memungkas kalimat, dan berniat keluar. Tapi, langlahnya berhenti, ia berbalik sesaat. "Jangan pernah mengingat jika aku pernah jadi bagian keluarga ini, Eyang! Lupakan aki, karena mengakui jika dalam darahku ada darahmu, aku sangat malu!" Usai berkata demikian, Prabu meninggalkan kamar itu dengan tergesa.


Ia sangat hancur sekarang. Betapa tidak? Orang yang paling dikasihinua di dunia menenggelamkannya sedalam ini. Padahal, ia rela menjadi kotor bersama Leana, demi tidak mengecewakan Sundari. Namun sekarang, ia tak peduli lago, dan akan benar-benar pergi.


“Nyonya!”


Nurma memekik, bersamaan pintu yang dibanting dari luar. Di hadapannya, Sundari ambruk, sambil memegangi dada. Dengan napas tersengal, Sundari berkata, “J-jangan biarkan dia pergi, N—nurma. Aku b—bisa mati kalau d—dia pergi. Dia hidupku!”


**


PENTING! HARAP DIBACA!


Buat yang ngaku jijik sama cerita ini, please jangan buang-buang waktu kalian untuk membaca hal menjijikkan, ya. Skip saja, tahan jari kalian agar tidaj memberi pendapat menjijikkan juga.


Jangan menjadi toxic yang menjijikkan buat orang lain.


Btw, Gaes ... ini gak jadi bersambung. Masih ada satu lagiiiii, hahaha..Mau digabung, kepanjangan, jadi besok atau lusa masih ada satu bab ending supaya banyak yang penasaran dan kangen sama aku, gituuuu. Yang pasti, bab ending besok akan bikin termehek-mehek! Untuk Lusi-Alex, Minggu depan, ya.

__ADS_1


Buat yang sudah meramaikan dengan vote, komen, terima kasih banyaaaak. 💜


__ADS_2