
“Halo, Alia?” sapa Tiara pelan. Ia takut jika suaranya terdengar sampai ke telinga Sundari. Bagaimanapun, saat ini ia masih di rumah sakit, dan berada di jam kerja.
Sebenarnya, Tiara akan menunggu malam untuk menelepon adiknya. Akan tetapi, saat ponsel diaktifkannya beberapa waktu setelah dikembalikan Prabu, banyak panggilan tak terjawab dari sang adik. Ia takut, jika Alia membawa kabar buruk. Oleh karena itu, Tiara memutuskan segera menghubungi dari kamar mandi. Lagi pula, ada seorang suster yang menjaga Sundari di ruangan tersebut.
“Halo, Kak? Kakak sehat?” Suara Alia terdengar serak di seberang sana.
Mendengar itu, hati Tiara terasa tersayat. Sementara, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak siap dengan berbagai kabat buruk. Sebab, segala upaya yang dilakukannya kini adalah demi kesembuhan ibu terkasih.
“Kamu kenapa, Alia? Kamu nangis?” Tiara mendesak, tak sabar.
“Ibu, Kak ... Ibu—“
“Ibu? I—bu kenapa?” Berbagai prasangka buruk berkelebat di benak Tiara. Kenapa ibunya?
“Ibu sudah bisa berdiri, Kak. Tadi ... tadi Ibu bisa berjalan lebih dari enam langkah.”
Terdengar isak bahagia dari seberang sana. Kabar yang membuat Tiara meluruh, dan terduduk di closet. Ia menepuk dada, mengucap banyak syukur dalam tangisnya.
“B—benarkah?” Tiara bertanya dengan suara nyaris tak terdengar. Ada buncah bahagia, saat kabar baik yang dinantikan akhirnya datang juga.
“Apa Kakak baik-baik saja?” tanya Alia lagi.
“Ya ... aku baik, Alia. Kamu sendiri gimana? Jangan melewatkan belajar. Kami harus tetap mempertahankan prestasi untuk bisa kuliah dengan jalur beasiswa.”
“Kak ....” Suara Alia terdengar ragu. “Kakak nggak perlu pikirkan itu. Aku ... aku akan bantu Kak Tiara kerja. Nggak kuliah pun nggak apa-apa, Kak.”
“Alia, jangan bilang begitu! Kamu harus kuliah, dan aku yakin ... kita bisa lewati ini semua, oke?”
Tiara berkata dengan yakin. Ia akan melakukan apa pun, agar Alia bisa melanjutkan pendidikan, tidak seperti dirinya. Jika ada yang harus berkorban untuk keluarga, itu adalah ia sendiri, si Anak sulung. Sosok yang harus memiliki bahu kokoh layaknya karang.
“Kak ... membiarkan Kak Tiara kerja sendiri seperti sekarang, aku merasa nggak ada gunanya.” Tangisan Alia terdengar semakin menyayat di ujung telepon. “Setiap Kakak mengirim uang, dan langsung habis untuk makan sama pengobatan Ibu, aku ....”
“Alia ... itulah gunanya saudara. Kamu jagain Ibu, dan Kakak yang kerja. Kakak malah merasa berdosa karena nggak bisa bantuin kamu jagain Ibu. Jadi, please jangan ngomong gitu ya, Sayang?” Tiara menghapus air mata di pipi, dan berusaha mengembangkan senyuman saat berbicara.
Ia tahu, sekarang mereka semua dalam masa sulit. Dan Tiara berharap, kabar tentang perkembangan kesehatan sang ibunda akan menjadi awal yang baik bagi keluarga.
“Kamu ... adalah adik yang paling hebat di dunia, Alia.” Tiara berkata lagi. “Saat anak seusia kamu bermain dan bergembira dengan dunia mereka yang penuh warna, kamu menghabiskan hari di rumah. Belajar, merawat Ibu, dan melakukan semua pekerjaan rumah. Kamu ... adalah anak paling hebat!”
“Kakak juga. Kakak adalah kakak dan anak terhebat yang pernah ada!”
Keduanya lantas tertawa, dengan tangis masing-masing. Tiara menghapus sisa air mata, dan berniat mengakhiri panggilan. Sudah lebih sepuluh menit ia ada di dalam kamar mandi, takut jika Sundari terbangun dan mencari.
‘Kakak hati-hati, ya. Semua kabar Ibu nanti aku sampaikan lewa WA.’ Demikian pesan yang dikirim Alia, disertai foto bersama sang ibu yang tersenyum, meski bibirnya sedikit miring.
Tiara mendekap ponsel ke dada, sebelum memasukkannya ke saku seragam yang ia pakai. Sejenak ia membasuh wajah yang sedikit sembab, lalu keluar.
Namun, alangkah terkejutnya Tiara, saat mendapati Prabu berdiri tegak di ambang pintu kamar mandi. Pria itu menatapnya intens, dari ujung kepala hingga kaki.
“T—tuan?” Tiara menyapa dengan mata membulat. Sesaat kemudian ia menunduk dan berkata, “m—maaf, tadi saya—“
“Sudah kubilang, kan, aku pulang cepat hari ini?”
__ADS_1
“Apa?” Tiara mendongak, menatap pria jangkung yang hanya berjarak satu langkah di hadapan.
“Aku akan menemanimu menjaga Eyang.” Prabu memundurkan badan, dan memberi ruang untuk Tiara pergi.
“Aku menyuruh perawat tadi pergi, kalau itu yang kamu cari.” Prabu berkata, saat melihat Tiara menoleh ke kiri dan kanan.
“Disuruh pergi? Bukannya Tuan yang minta pihak rumah sakit memberi Nyonya pendampingan khusus?”
“Tidak perlu. Malam ini aku akan tidur di sini, menemanimu.” Prabu menuju ke lemari kecil di sudut kamar, dan mengeluarkan sebuah paper bag.
“Menemaniku? Tidak perlu, Tuan. Cukup suster saja.” Tiara berucap sopan.
Prabu mendekat, dan menyarahkan paper bag pada Tiara. “Aku meminta Nurma menyiapkan keperluanmu. Mandilah. Dari kemarin kamu tidak ganti baju, ‘kan?”
Tiara tersipu saat menerima benda dari sang tuan. “Ah ... terima kasih, Tuan. Kalau begitu, saya permisi.”
Tiara mundur, dan bergegas mandi. Segar sekali rasanya, saat guyuran air dingin mengenai seluruh tubuhnya. Ditambah peralatan mandi yang diberikan Prabu menguarkan aroma harum dan menenangkan syarafnya yang tegang karena kurang tidur sejak kemarin malam.
Begitu selesai, ia membuka paper bag dari Prabu. Ada deodoran, dua stel pakaian dan beberapa pakaian dalam. Ia mengernyit, saat tak mengenali semua benda itu. Akan tetapi, saat ia mematut diri, ukurannya terasa pas. Bahkan, ia sangat menyukai wangi lotion yang terdapat dalam kantong tersebut.
Tiara menatap pantulan dirinya di cermin, dan mendapati pipi kirinya yang sedikit ada bekas kebiruan. Diusapnya bagian itu, juga sudut bibir. Tanpa sadar ia tersenyum dengan dada berdebar, saat ingat tadi pagi Prabu mengecupnya di tempat itu.
Namun, segera ia menepis segala pikiran yang tidak-tidak. Meski ada yang berbunga-bunga di dalam hati, tetap saja Tiara tahu diri. Menggapai Prabu, adalah mimpi yang terlalu tinggi, dan sulit untuk sekadar digapai.
Saat keluar dari kamar mandi, Tiara mendapati Prabu tengah membuka jas, dan menggantungnya di sebuah hanger. Selanjutnya, pria itu membuka kancing kemeja berwarna putih satu per satu, menyisakan tubuh bagian atas tak berbalut apa pun. Seketika Tiara berbalik dengan wajah bersemu merah.
“Oh, iya. Sepertinya Nurma lupa memasukkan handukku. Apa boleh aku pakai handukmu?” Prabu menoleh ke arah Tiara yang tercengang, sedang menatapnya.
“Ap—apa?” tanya Tiara membuyarkan angan Prabu.
“Aku pinjam handukmu.” Prabu melewati Tiara, dan masuk begitu saja ke kamar mandi.
Tuan Prabu kenapa? Dari pagi sikapnya aneh!
Tiara menggeleng, lalu menuju ke ranjang Sundari.
***
“Keadaan Eyang sudah cukup bagus. Hanya saja memang masih lemah.”
Hadi menjelaskan, sembari melakukan pemeriksaan kecil pada Sundari. Prabu segera memanggil Hadi, saat sang nenek terbangun beberapa waktu lalu.
“Tidak ada yang serius. Bisa saja kejadian kemarin itu karena Eyang kelelahan. Mungkinkah kalian habis jalan-jalan?” Hadi menatap Prabu, dan mendapati sahabatnya itu mengangguk.
“Belakangan ini eyangmu ini hanya bersemangat, Hadi.” Sundari menyela lemah. “Sejak ada Tiara, aku bahkan makan lebih banyak, dan bisa tidur tanpa minum obat.” Sundari menambahkan, sambil melihat ke arah Tiara. Gadis itu berdiri di sisi Prabu sekarang.
“Tanpa obat?” Hadi menatap Tiara dan Sundari bergantian.
“Iya.” Sundari menghela napas. “Dan aku merasa lebih sehat, saat Tiara mengganti beberapa obat dengan sari buah dan sayur.”
Kali ini, Hadi menatap Tiara dengan saksama. Melihat tatapan sang dokter penuh intimidasi, Tiara merasa perlu memberi penjelasan.
__ADS_1
“Sebelumnya, saya minta maaf, Dok. Tapi, ada beberapa referensi yang saya baca, terkait sembuh tanpa obat. Lalu, saya mencari tahu manfaat dan kandungan beberapa obat Nyonya, dan menggantinya dengan buah dan sayur. Saya pikir—“
“Membaca saja tidak cukup, Nona. Ada kalanya kamu harus tau kondisi pasien lebih dulu. Dan apa yang kamu lakukan bisa berbahaya. Bisa saja, apa yang terjadi pada Eyang kemarin disebabkan kelalaian itu, sebab Eyang tidak mendapat obat yang tepat!” Hadi bersedekap, membalas kalimat Tiara panjang lebar.
“Maafkan saya, Dokter. Tapi, sungguh, saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, melihat setiap hari Nyonya meminum obat sebanyak itu, saya jadi—“
“Semua obat yang diresepkan dokter itu sudah ada takarannya, Nona. Jadi, kamu tidak perlu—“
“Hadi ....” Belum selesai Hadi mendebat Tiara, saat Sundari menyela. “Aku pikir Tiara tidak salah. Lagi pula, minum obat sebanyak yang diresepkan sepanjang sisa hidup itu membosankan.” Sundari tersenyum di akhir kalimatnya.
Sementara itu, berbeda dari biasanya, Prabu hanya menyimak. Ia tak menduga jika Tiara berpikir sejauh itu demi Sundari. Bahkan, sebagai cucu ia tak pernah berpikir mencari alternatif lain, selain mencekoki wanita tua itu dengan banyak kapsul obat setiap harinya.
“Satu yang kupahami, bahwa vitamin sekalipun, itu adalah sintetis, Dok. Untuk apa mengonsumsi buatan pabrik, jika di rumah semua tersedia melimpah?”
Tiara masih mencoba berargumen. Ia sangat yakin, jika buah dan sayuran segar adalah penawar, juga pembentuk daya tahan tubuh terbaik, jika diolah dengan benar.
“Apa kamu tidak berpikir bahwa si Nona ini adalah gadis yang cerdas?” Prabu berkata pada Hadi tiba-tiba. Tentu saja, itu membuat Tiara tersipu. Tak menyangka sang tuan akan membelanya.
“Baiklah, Eyang. Silakan istirahat. Kalau ada keluhan, sampaikan ke para suster, sekecil apa pun.” Hadi berpesan, menutup sesi kunjungan.
Setelah pemeriksaan selesai, Hadi keluar diikuti perawat yang tadi membantu. Menyisakan Tiara dan Prabu mendampingi Sundari.
“Sebaiknya Nyonya istirahat.”
Tiara membenahi selimut Sundari, lalu mengisi minyak aroma terapi ke dalam disfuser. Ia mematikan lampu, menyisakan satu di sudut ruangan. Sebab, Sundari tak bisa tidur jika ruangan terlalu terang.
Sementara itu, Prabu yang duduk di sofa tampak menyibukkan diri dengan laptop. Di belakangnya, hamparan perkotaan menyerupai kunang-kunang terlihat dari tirai yang terbuka.
“Kamu juga tidurlah. Kantong mata itu nanti bisa membuatmu terlihat seperti panda.” Prabu berkata tanpa mengangkat wajah.
“Tidur di kasur itu saja, nanti kubangunkan kalau Eyang butuh sesuatu,” imbuhnya lagi.
Tiara yang tadinya berniat akan berbaring di sofa, kini menuju sebuah kasur di sisi lain ruangan atas titah sang tuan. Ia lantas berbaring dan menarik selimut sampai ke batas dada. Tiara tidak menyadari jika Prabu mengamatinya dalam diam.
Meskipun canggung berada di ruangan yang sama dengan Prabu, akhirnya Tiara terlelap juga, tak lama setelah berbaring. Seharian ini ia benar-benar lelah, dan hanya tertidur dua jam sejak kemarin.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, Prabu mengecek keadaan Sundari sekali lagi. Setelah itu, ia menuju sofa. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Tiara semakin meringkuk dalam tidurnya. Tampak jika gadis itu kedinginan, sebab hanya selimut tipis yang tersisa untuk dia pakai.
Entah dorongan dari mana, Prabu menuju kasur berukuran 120 senti itu, tempat Tiara berbaring dengan lelap. Awalnya Ia hanya ingin meminjamkan selimutnya yang lebih tebal. Namun kemudian ia beranjak dengan membawa serta bantalnya.
Mengamati Tiara yang benar-benar lelap, entah mengapa ada rasa damai dan bersalah dalam hati Prabu dalam satu waktu. Ia lantas menyelimuti gadis itu, dan ikut berbaring. Tak hanya itu, ia juga memberikan lengannya sebagai bantal, membiarkan Tiara yang menggeliat dan beringsut memeluknya tanpa sadar.
Ini bukan kali pertama Prabu merasakan tubuh seorang gadis menempel padanya. Namun, merasakan Tiara memeluknya saat ini, ada rasa yang membuncah dalam hatinya. Prabu bahkan tak paham rasa aneh itu apa. Yang pasti, ia baru saja merasakannya saat ini, mengiring debaran dalam dada.
Waktu melewati tengah malam, saat Sundari terjaga. Ia tersenyum simpul, saat mendapati pemandangan di kasur lantai, tak jauh darinya. Di sana, dalam keremangan, tampak olehnya Tiara yang sedang terlelap, meringkuk nyaman dalam dekapan cucunya.
“Apa kamu mulai sadar dengan keberadaannya, Prabu? Apa akhirnya aku berhasil membuatmu paham arti ketulusan?” gumam Sundari pelan, pada diri sendiri.
***
Jangan lupa tinggalkan like dan vote kalian untuk cerita ini ya, Dear. Thank you.
__ADS_1
Bersambung ....