Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
28. Kembali


__ADS_3

Tiara yang tengah berkemas beberapa kali menengok ke arah ponsel, yang ia letakkan di kasur. Tak biasanya Prabu belum menghubungi, sampai sesiang ini. Terakhir kali, lelaki itu mengirim pesan tadi pagi, lalu tidak ada sama sekali.


Kemudian, ia menghela napas dalam, dan mencoba mengusir prasangka. Tak boleh, curiga, sebab yang dicintainya itu bukan lelaki biasa. Pemimpin perusahaan besar, dan sangat sibuk. Harusnya, ia bersyukur Prabu sangat memperhatikan belakangan ini, di tengah kesibukan yang bahkan jarang pulang.


Tiara menarik resleting tas, lalu menepuk perlahan, memastikan tak ada barang penting yang tertinggal. Ia memutuskan kembali dengan bus malam, dan akan sampai di Jakarta besok sebelum pagi. Semua sudah ia rencanakan dengan matang. Malam ia tidur selama di perjalanan, lalu pagi bisa langsung bekerja.


Setelah semua selesai, Tiara duduk bersila, menyapukan pandang ke sekeliling ruangan. Ini adalah kamarnya, yang sekarang ditempati Alia. Tidak luas, hanya berukuran 3x3 meter, dan berisi sebuah ranjang kecil, berikut lemari kayu tua yang catnya mengelupas. Tempat sederhana, yang sangat ia rindukan saat di ibu kota.


Saat ia akan beranjak, Ninih masuk, dan duduk di sudut ranjang. Maka, Tiara urung meninggalkan kamar, dan kembali duduk di lantai, tak jauh dari kaki ibunya.


“Sudah selesai?” Ninih melihat ke arah tas Tiara, yang terletak di sisi pintu.


Sorot matanya memancarkan kesedihan, seakan-akan tak rela melepaskan si Sulung. Selalu saja begitu, tiap kali Tiara akan kembali ke kota. Entah saat putrinya itu masih kuliah, terlebih sekarang, saat gadis itu harus berjuang demi kesembuhannya.


Tiara mengangguk, dan tersenyum. “Begitu dapat izin, aku pasti pulang lagi, Bu. Ibu nggak usah terlalu mikir yang nggak-nggak, ya.”


Pada akhir kalimat, Tiara beringsut maju, dan meraih jemari ibunya. Ia lantas menumpu ke pala di pangkuan sang bunda. “Apa pun itu, ibu harus tetap bahagia. Ibu harus memikirkan semua hal yang menyenangkan.”


“Tiara ....” Suara Ninig terdengar bergetar. “Bagaimana mungkin ibu—“


“Bu, aku berjuang demi Ibu. Kalo aku diterima dengan baik di keluarga kaya itu, tidak lain dan tidak bukan karena doa Ibu juga. Jadi, Ibu harus bahagia, supaya perjuangan kita tidak sia-sia, Bu.” Tiara merasa hatinya begitu terenyuh sekarang. Ingin menangis, tapi sebisa mungkin ia tahan. Ibunya tak boleh melihat kesedihan, sekecil apa pun.

__ADS_1


Ninih menyeka sudut mata yang berair, lalu mengusap kepala putrinya dengan lembut. Bagaimanapun Tiara berusaha baik-baik saja, tapi ia tahu benar jika perjuangan mengumpulkan rupiah sama sekali tak mudah. Terlebih, nominal yang dikirimkan Tiara selama ini bukan jumlah yang sedikit. Belum lagi, hadiah kalung yang ia terima, juga cincin emas untuk Alia.


“Aku diterima dengan baik di sana, Bu. Aku juga baik-baik saja. Ibu bisa lihat kamar baruku, ‘kan? Aku bahkan punya bak untuk berendam, seperti di film-film itu!” Lagi, Tiara meyakinkan ibunya.


“Tiara ....”


“Ibu segalanya buatku. Kesembuhan Ibu, pendidikan Alia adalah tujuanku sekarang. Tidak apa-apa kalau beasiswa itu hilang sekarang. Tapi, aku bisa mengurusnya lagi nanti, Bu.”


Pada akhirnya, Ninih mengangguk, dan tersenyum. Tiara bangkit, dan memeluk ibunya dengan syahdu. Jauh dalam hati, ia pun tak ingin meninggalkan rumah, dan ingin menghabiskan hari demi merawat sang ibunda. Namun, apa mau dikata? Ia tak mungkin melakukannya. Ia masih harus berjuang demi banyak hal, termasuk mempersiapkan biaya masuk kuliah untuk Alia yang masih terkumpul sedikit.


**


Lusi menyapukan pandangan ke sekeliling. Ruangan yang dipijaknya kini sama sekali tak berubah, sejak terakhir kali ia tinggalkan. Bahkan, tudung saji masih terletak di meja, meski hidangan yang ia siapkan kala itu telah dibersihkan.


Lusi memejam, saat Prabu mendekapnya dari belakang. Terasa lelaki itu menumpu dagu di bahunya, setelah mendaratkan beberapa kecupan di sana. Andai saja ia benar-benar kembali, tentu ia tak akan sesedih ini. Andai ia benar-benar datang untuk melepas rindu dan cinta, mungkin hatinya tak akan sehancur ini, kala Prabu memperlakukannya selembut ini. Bahkan setelah bertahun-tahun, lelaki itu tak berubah sedikit pun.


“Kamu masih menjaga semua ini?” tanya Lusi lirih. Mati-matian ia menjaga, agar tangisnya tak lagi tumpah kali ini.


“Hanya dengan begini, aku tidak kehilangan wanita yang kucintai. Jika ada cara lain menganggap supaya kamu tetap di sini, bisa kamu katakan padaku?” Prabu mengecup bahu Lusi sekali lagi.


Lusi memejam, merasakan gemuruh dalam dada. Ingin rasanya ia mengadukan semuanya pada Prabu. Betapa selama dua tahun ini ia tak henti mengalami penyiksaan dari Leana. Betapa selama itu ia kadang mengalami pelecehan dari para bodyguard sewaan wanita yang keji itu.

__ADS_1


Mengingat kepedihan yang ia alami berturut-turut, Lusi melepas dekapan Prabu di pinggangnya. Dicintai sedalam ini, ia merasa tak pantas lagi. Ia melangkah, tak berbalik pada Prabu yang masih berdiri di tempat semula. Menuju kamar, lagi-lagi ingin Lusi menumpahkan tangis.


Gaun malam yang terakhir ia kenakan masih teronggok di sisi ranjang, saksi betapa malam itu ia habiskan begitu manis bersama Prabu. Banyak cinta di antara mereka, hingga akhirnya harus terpisah karena rasa yang sama. Cinta Prabu untuknya, yang membuat Leana melakukan semua hal keji selama puluhan purnama.


Lusi memungut gaun berbahan satin itu, dan mendekapnya di dada. Tak bisa lagi ia menahan, agar tangisnya tak pecah. Sakit rasanya, membayangkan istana yang ia bangun dahulu kini hancur tak bersisa. Sementara untuk merajut semua itu kembali, sudah tak ada yang tersisa lagi.


Prabu mendekat, dan menarik Lusi ke pangkuannya. Disekanya air yang jatuh di pipi wanita terkasih, tanpa berkata. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin bagi Lusi untuk menumpahkan segenap rasa. Ia pun tak bertanya, dan memilih menunggu apa yang akan Lusi katakan. Termasuk alasannya menghilang tanpa kabar berita, juga buah cinta dalam kandungan Lusi saat itu.


Mengingat jika pernah ada nyawa dalam perut Lusi, Prabu mengusap perut datar, tempat tangannya melingkar sejak tadi. Lalu, ia mendengar tangis Lusi mereda, dan wanita itu mengangkat wajah.


“Maaf, karena aku tidak busa menjaganya. Maaf karena ....” Lusi menjeda kalimat, saat melihat Prabu meletakkan jemari di bibirnya sembari menggeleng.


Namun, ia paham jika Prabu ingin menanyakan perihal bayi mereka, semenjak bertemu pertama kali tadi. Cerita bohong pun telah ia siapkan, jika Prabu bertanya. Sebab, tidak mungkin baginya bercerita jika Leana telah memaksanya menenggak berbagai pil, agar bayi yang ia kandung tiada.


Bahkan, mengingat kejadian ia harus mengalami pendarahan berhari-hari, membuat hatinya ngilu. Bukan hanya sakit fisik, tapi kehilangan bayi yang amat ia dambakan susah sangat menyiksa, dan membuatnya ingin mati. Parahnya, obat-obatan yang dijejalkan Leana, membuat kemungkinan memiliki keturunan lagi akan sulit.


“Masih banyak kesempatan. Kedatanganmu kembali, itu sudah cukup bagiku.” Prabu berkata lembut, lalu memagut wanita yang masih duduk dalam pangkuannya.


Semua yang ada di antara kedua insan itu masih sama. Baik rasa dalam dada, atau kepedulian satu sama lain. Sebab, jalinan yang ada di antara mereka berdua sudah terlalu dalam. Sedalam hati yang tak pernah bisa diselami.


**

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2