
Semua orang yang tengah berada di taman menikmati aneka hidangan menoleh ke arah pintu. Di sana, Tiara berdiri kikuk. Gadis itu berjalan dengan kepala tertunduk, meski sesekali tampak melihat ke pusat taman, tempat Sundari duduk didampingi Lisa.
Sementara itu, Sundari mengikuti setiap gerakan Tiara yang mendekat. Diamatinya tampilan gadis itu dari kepala hingga kaki. Kali ini, Tiara mengenakan gaun berwarna peach yang mengilap sebatas lutut. Aksen swarowsky di bagian dada membuat gaun itu terlihat mewah, dan pas untuk warna kulit Tiara. Rambutnya tertata rapi dan digulung membentuk lingkaran di atas kepala, menunjukkan lehernya yang jenjang. Dengan tampilan demikian, Tiara bak Cinderella malam ini. Mengundang decak kagum semua orang, termasuk Sundari.
“Maaf karena saya datang terlambat, Nyonya.” Tiara menyapa, sambil membungkukkan badan.
“Aku dengar kamu sakit. Apa itu benar?” Sundari balas bertanya. Dipindainya wajah Tiara yang tersaput riasan tipis, tapi cukup manis.
“Hanya perasaan aneh yang membuat saya tidak nyaman saja, Nyonya. Sekali lagi, saya minta maaf sudah membuat Nyonya dan semuanya menunggu.”
Sundari menghela napas dalam, dan berkata, “Baik, tidak apa. Bergabunglah dengan semuanya, nikmati malam ini.”
Kalimat Sundari terucap diiringi senyum terkembang. Malam ini, wanita itu benar-benar tampak bersahaja, berbeda dengan sosok majikan ketus yang selama ini melegenda di benak semua pelayan.
Tiara mengangguk, lalu mundur beberapa langkah. Ia lantas berbalik, dan berjalan ke tengah taman. Sebuah meja panjang di sudut kanan menjadi tujuannya, tempat aneka hidangan lezat terhidang di sana.
Diedarkannya pandangan ke sekeliling, pada setiap orang yang tampil berbeda malam ini.
Mengenakan pakaian dan juga hiasan terbaik, para pelayan tampak bahagia dan menunjukkan sisi lain mereka.
Sebenarnya ia sama sekali tak ingin tergabung di acara ini. Akan tetapi, ia teringat semua kata-kata Prabu. Sang majikan yang juga menawan hatinya itu berkali-kali membujuk, bahkan meminta maaf berkali-kali.
“Aku mengadakan pesta itu sebagai ungkapan terima kasih, tapi kamu tidak bergabung? Apa kamu begitu marah padaku, Tiara?”
Prabu semakin menyusut jarak, pada gadis yang kini sepenuhnya bersandar di pintu kamar mandi. Tampak olehnya, Tiara menelan ludah beberapa kali, dan berusaha mengalihkan pandangan. Gadis itu benar-benar menghindarinya, dan itu membuatnya seperti kehilangan akal.
“Maaf, Tuan. Tapi saya benar-benar sedang tidak ingin ke pesta itu. Saya ingin beristirahat.” Tiara berusaha memberi alasan.
Ia mendekap dada, merapikan jubah mandi yang membalut tubuhnya. Meskipun Prabu pernah melihat semua yang ia miliki di balik jubah handuk berwarna putih itu, tapi Tiara tetap saja malu berhadapan dengan sang majikan dalam kondisi seperti itu.
“Soal marah, apa saya berhak, Tuan? Bukankah saya hanya pelayan yang memang harus taat pada tuannya?” Tiara menatap Prabu yang tak menghentikan langkah, meski jarak mereka sudah sangat dekat.
“Apa kamu tau, Tiara? Mendengar kamu menyebut kata pelayan, hatiku sangat sakit?”
“Sakit? Apa mungkin Tuan masih punya hati untuk merasakan sakit? Dan pada kenyataannya, bukankah saya hanya pelayan bagimu, Tuan?” Mata Tiara berkaca-kaca. Kenyataan bahwa rasa cinta di dada terpisah jurang dalam, mematahkan hatinya berkali-kali.
Prabu menghentikan langkah, saat posisinya dengan Tiara tersisa sejengkal saja. Diamatinya wajah Tiara yang tampak lelah, meski baru saja mandi. Padahal, biasanya gadis itu terlihat segar dengan mata berbinar indah. Akan tetapi, itu tak tampak lagi, selain kesedihan. Hal yang membuat hatinya turut berdenyut nyeri. Diabaikan, tapi tak mampu mengungkap rasa dalam dada.
__ADS_1
“Sama saat pertama kali tertarik padamu, sama saat aku hampir gila saat kamu abaikan, aku masih bisa mencintai dan merasa sakit, Tiara. Dan itulah yang aku rasakan sekarang. Aku merindukanmu.” Suara Prabu melemah, intonasi yang paling lembut yang pernah diucapkannya selama beberapa tahun belakangan.
Tiara berpaling ke sisi kiri, berusaha menyembunyikan buncah bahagia juga kesedihan dalam dada. “Rindu? Sayangnya, antara rindu dan nafsu itu hanya terhalang sekat tipis, Tuan. Dan saya tidak ingin terlalu jauh menumbuhkan harapan yang ujung-ujungnya tetap akan patah. Saya—“
“Kalau aku mencintaimu, apa ketakutanmu itu hilang?”
Tiara menatap lelaki yang kini mengungkung dirinya. Tak ada lagi jarak antara dirinya dan Prabu, sebab sang majikan kini merunduk, dan membuat pucuk hidung mereka beradu.
“T—tuan?” Tiara tak percaya.
“Ya. Aku sudah berusaha mengelak selama ini. Aku berusaha menjauh darimu, tapi aku tidak bisa, Tiara. Aku merasakan hal yang pernah hilang dari diriku, karena kedatanganmu. Aku benar-benar mencintaimu.”
Tiara tercekat. Matanya membulat, dengan dua buir bening jatuh ke pipi. Ia hanya memejam, saat Prabu membelai pipinya dengan lembut. Pria itu mundur selangkah dan mengulur tangan. Menghapus jejak air mata, lalu meraih dan meletakkan buket bunga dalam dekapan Tiara.
“Aku tidak pandai meminta maaf. Aku juga tidak bisa menyatakan cinta dengan baik. Tapi, kuharap mawar ini bisa mewakili semuanya, bahwa aku tidak bermain-main dengan perasaanmu.”
Tiara menunduk, merasakan haru dalam dada. Selama ini, ia mungkin terlalu tak tahu diri dengan meminta cinta Prabu dalam setiap doanya. Ia juga terlalu memaksa agar semesta memberi dukungan atas cinta yang membelenggu. Akan tetapi, kenyataan bahwa Sang Maha mengabulkan setiap pinta, membuat Tiara amat bahagia.
“Aku berjanji tidak akan ada perempuan lain lagi, Tiara.” Prabu berucap penuh keyakinan. “Asal kamu berjanji memberiku waktu.”
Tiara memandang Prabu dengan saksama. “Tidak perlu sejauh itu, Tuan. Saya—“
“Apakah saya harus percaya?”
“Setidaknya aku bersungguh-sungguh. Aku tidak memintamu percaya sekarang, dan aku akan menunggu, sampai mendapatkan kepercayaanmu.” Prabu merunduk di akhir kalimatnya, dan melabuhkan sebuah ciuman ke bibir yang merekah itu.
Tiara memejam, merasakan kelembutan yang disalurkan sang tuan. Jika biasanya ada hasrat di antara setiap sentuhan mereka, kali ini berbeda. Tiara merasakan kali ini Prabu begitu lembut dan manis, seperti menegaskan ketulusan yang baru disampaikan.
“Apa saya tetap harus ke pesta itu?” tanya Tiara setelah keduanya berjarak kembali.
Prabu tersenyum, lalu mengulurkan tangan. Dengan ujung ibu jari, dihapusnya jejak basah di bibir Tiara. “Ya, pergilah. Apa perlu kubantu berpakaian?” Prabu mengedipkan sebelah mata.
Tiara tersipu, lalu menunduk. Menyembunyikan rona merah yang melukis pipinya. “S—saya bisa sendiri, Tuan!”
Ia berusaha melepaskan diri, saat Prabu membopongnya menuju ranjang. Namun, kemudian ia hanya pasrah saat lelaki itu benar-benar membantunya berpakaian, dengan gaun baru yang telah disiapkan. Berpakaian dalam hal sebenarnya, tanpa hasrat bercinta seperti malam-malam sebelumnya.
**
__ADS_1
Tiara dan seluruh pelayan yang sedang larut dalam pesta secara bersamaan melihat ke arah pintu samping. Dari arah kolam renang, tampak Prabu melangkah dengan tenang ke arah mereka. Sang majikan tampak tampan malam ini, berbalut kemeja putih dan celana jins biru navy.
Menjawab sapaan sambil mengangguk dan tersenyum tipis, Prabu melangkah menuju Sundari. Dikecupnya sang nenek, sebelum memberikan sambutan singkat. Baik Prabu atau Sundari, malam ini mereka tampak lebih ramah. Sikap baik yang selama hanya mimpi bagi semua pelayan.
“Dan sebagai rangkaian dari acara malam ini, aku akan memberikan libur selama tiga hari.” Kalimat Prabu disambut riuh oleh semua pelayan, diikuti ucapan terima kasih, juga pujian.
“Tidak hanya itu, Eyang juga memberi tambahan bonus dua kali gaji pada kalian semua.” Lagi-lagi, riuh terdengar diiringi tepukan tangan.
Sementara itu, Tiara hanya memandang Prabu dengan takjub. Ia memang tak begitu hafal seperti apa perangai sang majikan. Akan tetapi, mendengar desas-desus dari pelayan, ia bisa sedikit tahu betapa laki-laki itu cukup mengerikan. Terbukti, saat Prabu menamparnya di rumah sakit kala itu.
Mengingat peristiwa yang begitu menyakitkan, tanpa sadar Tiara mengusap pipinya. Ia tak menyangka, jika Prabu bisa berubah sedemikian baik dalam tiga bulan saja. Apakah semua karena cinta? Apakah benar pria itu mencintainya? Tanya itu berputar-putar dalam kepala Tiara.
“Jadi, bagi kalian yang ingin pulang ke kampung atau apa pun itu, manfaatkan masa libur ini dengan baik.” Prabu mengakhiri sambutannya, dan meninggalkan pesta dengan alasan masih memiliki banyak urusan.
Sementara itu, dua orang perawat yang baru datang dari rumah sakit membawa Sundari kembali ke kamar. Mereka adalah orang yang akan menjaga wanita itu dalam dua hari ke depan. Perawat yang beberapa kali pernah merawat Sundari, baik saat di rumah sakit atau saat kesehatannya memburuk.
Pesta berakhir sekitar pukul sebelas malam. Semua pelayan telah kembali ke paviliun dengan wajah semringah. Notifikasi masuknya sejumlah bonus membuat binar bahagia tampak di wajah setiap orang.
Beberapa di antara mereka bahkan ada yang langsung berkemas, dan berniat pulang kampung sebelum Subuh. Ada pula yang merencanakan liburan di kawasan Puncak, di vila keluarga majikannya. Kali ini, mereka benar-benar bebas, bak mendapat durian runtuh.
Tiara menapaki satu per satu anak tangga dengan perasaan lelah, setelah mengunci semua pintu. Tugas rutin yang dilakukannya selama ini, selain merawat Sundari. Ia melangkah sembari memijat tengkuk yang terasa berat. Belakangan ini ia merasa aneh karena begitu cepat lelah. Padahal pekerjaannya tetap sama, pun asupan vitamin dan nutrisi yang sebisa mungkin ia jaga.
Tiara menguap, saat mematikan lampu di lantai dua. Seluruh rumah tampak remang-remang sekarang, dengan cahaya berasal dari lampu hias saja. Dengan masih memijat tengkuk, ia lantas membuka pintu kamar dan menguncinya.
Saat akan menekan sakelar, Tiara merasa ada yang menahan tangannya. Tak hanya itu, ia juga merasa sentuhan posesif dari seseorang yang merapatkannya ke tembok. Dari wangi yang menguar, Tiara kenal siapa yang kini tengah membungkamnya dengan lembut, tapi menuntut.
“T—tuan! Ap—apa yang—“
“Bukankah sudah kubilang, aku merindukanmu?”
Untuk pertama kali, Tiara merasakan debar dalam dadanya terasa amat berbeda. Jika sebelumnya ia dilanda gamang, maka kali ini seluruh syaraf dalam dirinya berseru penuh damba, menyambut sang pemilik takhta cinta yang sebenarnya.
Untuk pertama kali setelah banyak malam terlewati, dua insan itu saling memuja dalam syahdu. Bercinta dalam arti yang sebenarnya, menikmati setiap keindahan yang disuguhkan semesta.
**
Bersambung ....
__ADS_1
Nah, bab ini panjang dan mantul, kan? So please jangan lupa jadikan favorit, vote dan komen sebanyak-banyaknya ya, Dear.
Thank youuu. 💜