Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
45. Panik (Ekstra 1)


__ADS_3

Prabu menatap wanita yang berdiri di depan cermin besar. Ia tersenyum, saat melihat betapa sulitnya wanita itu menaikkan resleting gaun yang ada di bagian belakang tubuhnya, memanjang dari bagian atas sampai ke pinggang. Dengan langkah pelan, ia mendekat dan meraih pinggang wanita itu.


"Kamu bisa minta tolong, Tiara. Kenapa memilih melewati kesulitanmu sendiri, hm?" Prabu menatap ke arah cermin, mengunci sepasang mata yang juga menatapnya.


Ada semburat merah di pipi wanita itu, saat mata mereka bertemu di cermin. Ia lantas mendaratkan kecupan singkat di bahu yang terbuka itu, sebelum menarik resleting hingga punggung Tiara tertutup.


"Ah, Tuan. Aku cuma ...." Tiara menjeda kalimatnya. "Apa Tuan terlalu lama menungguku? Ah, maksudku ... apa mereka semua sudah menunggu?"


Prabu melingkarkan lengannya, memeluk Tiara dari belakang. Pinggang yang dulu ramping, kini nyaris tak menyisakan lekuk sama sekali. Perut Tiara yang dulu rata, kini membesar puluhan kali lipat, dan menyembul dari dalam gaun. Gerakan-gerakan halus dari dalam perut Tiara membuat Prabu betah berlama-lama meletakkan telapak tangannya di sana, seperti sekarang.


"Tidak. Lebih tepatnya, tidak ada yang keberatan jika harus menunggumu bersiap-siap. Bukankah kamu bintang malam ini?"


Tiara berbalik, lalu mengulurkan tangan. Diusapnya pipi lelaki yang kini tengah memeluknya. Senyuman lebar terkembang di bibir, sebagai tanda jika ia bahagia sampai di malam ini, juga malam-malam sebelumnya.


"Terima kasih." Tiara berkata pelan di antara senyumannya. "Terima kasih sudah menemukanku. Terima kasih sudah memberi kehidupan baru. Terima kasih sudah mencintaiku."


"Mau berapa kali, hm?" Prabu menangkup jemari yang melekat di pipi. "Mau berapa kali kamu mengucapkan terima kasih?"


"Sepanjang hidupku. Apa itu cukup?"


"Apa kamu bahagia?" Prabu balas bertanya, dan Tiara mengangguk. "Maka kamu hanya perlu terus bahagia, untuk berterima kasih, Tiara.


Prabu menjeda pelukan, membuat ia dan Tiara kembali berjarak. Ditatapnya tampilan sang wanita pujaan, dari kepala hingga kaki. Mengenakan gaun berwarna kuning madu yang menjuntai sampai ke lantai, Tiara tampak begitu anggun malam ini.


Taburan swarowski di bagian depan gaun menampilkan kesan mewah. Ditambah bagian dada yang berisi, membuat wanita yang tengah mengandung delapan bulan itu jauh terlihat lebih seksi.


Wajahnya pun tampak berseri, memancarkan aura bahagia bagi siapa saja yang memandang. Meskipun pipinya beberapa kali lebih berisi, tapi tetap saja kecantikan tak hilang.


"Kamu cantik sekali malam ini. Maaf, karena kesibukanku acara ini terlambat digelar." Prabu memuji. Tidak berlebihan, sebab memang Tiara pantas mendapatkannya.


Namun, wanita itu malah merengut. "Apa itu artinya sebelum ini aku tidak cantik?"


"Hey, kamu selalu cantik di mataku, Nona. Apa kamu lupa, kalau karena itu aku tergila-gila?"


"Ah, gombal! Bukannya baru kemarin malam, Tuan bilang pipiku seperti bakpau? Sekarang bilang aku cantik. Lalu, Tuan bilang juga jariku seperti jamur enoki kelewat masa!" Tiara memperlihatkan jemarinya.


Prabu tertawa. Ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat Tiara merajuk dan minta cincin pemberiannya dilepas. Cincin yang menjadi simbol kepemilikan itu tak ada lagi di jari manis Tiara, dan meninggalkan bekas gurat kebiruan.


"Kamu tetap cantik. Percayalah." Prabu menangkap jemari itu, dan mengecup telapaknya. "Kamu adalah perempuan paling cantik di dunia, yang akan melahirkan anak-anakku."


Pada akhir kalimat, Prabu merunduk dan menempelkan telinga ke perut Tiara. Memberikan usapan lembut, juga beberapa kecupan di sana.


"Hey, jagoan-jagoan papi. Apa kalian dengar itu? Bukankah papi kalian ini benar, jika Mami adalah perempuan tercantik di dunia?"


Prabu tertawa, saat ada gerakan dari dalam perut, sebagai respon. Hal yang membuat Tiara ikut tertawa, tapi meringis dalam satu waktu.


"Apa sakit?" Prabu bertanya, sambil menegakkan badan kembali.


"Bukan sakit. Hanya saja, rasanya perutku sudah tidak muat lagi untuk mereka, Tuan. Rasanya semakin sesak." Tiara mengusap perutnya dengan gerakan memutar. "Dan sangat gatal."


"Ah, baiklah. Tapi, kamu masih bisa turun, kan?" tanyanya memastikan. Ia tak ingin, acara baby shower di bawah sana justru membuat Tiara lelah.


"Tentu saja."


***


Tepukan meriah menyambut Tiara yang masuk ke pesta, dalam gandengan Prabu. Pasangan itu bagai raja dan ratu, yang tak henti menebarkan senyum kebahagiaan. Beberapa saat, mereka melakukan ritual saling menyuap kue satu sama lain.

__ADS_1


Kemudian, acara diteruskan dengan Prabu yang diberi kesempatan memanjatkan doa dan harapan bagi kedua buah hati dalam perut Tiara. Digenggamnya tangan wanita itu, sembari mengucapkan banyak terima kasih dan ungkapan cinta.


Tiara beberapa kali menyeka sudut mata. Sampai saat ini pun, ia tak menyangka jika akan berada di dunia sang tuan, lalu terjebak dalam kebahagiaan. Banyak ucapan selamat ia terima, juga pujian dan doa.


Sementara itu, tumpukan kado diletakkan di sudut kanan area pesta, yang mengusung konsep pesta taman. Suasana kediaman Adji Widjaya begitu gemerlap malam itu, berhias lampu aneka warna yang ditata apik mengelilingai taman belakang, dan area kolam renang.


Sambutan Prabu telah selesai, pesta masih berjalan dengan meriah. Banyak games lucu yang diarahkan oleh seorang pemandu acara. Tak lupa, ada home band yang mengalunkan lagu-lagu merdu, tepat di sisi kolam renang. Membawa suasana semakin semarak, serta para undangan hanyut dalam pesta nan mewah.


Satu jam berada di pesta, Tiara merasa bosan. Apalagi, saat melihat Prabu berbincang hangat dengan beberapa kolega perempuan, yang tampak seksi. Badan mereka memiliki lekuk indah, juga bagian dada yang terlihat menggiurkan mata lelaki.


Tiara semakin geram, saat melihat Prabu terus tertawa. Dia dan tamu-tamu seksi itu tampak akrab, sampai seperti melupakan dirinya yang mulai lapar dan bosan. Didera cemburu tak beralasan, Tiara sampai ingin meninggalkan pesta.


Banyak ketakutan tiba-tiba membayangi. Terlebih, takut jika Prabu lebih tertarik pada wanita lain, daripada dirinya yang kini naik 20kg selama hamil. Tidak cantik lagi, tidak sesintal wanita yang kini menemani Prabu.


Saat cemburu memuncak, terpikir olehnya sebuah ide. Ia mengusap perut beberapa kali, dan meringis seperti kesakitan. Ia juga sampai kehilangan fokus pada tamu yang memberi ucapan selamat, karena sibuk memperhatikan Prabu dari jauh.


Prabu yang asyik bercengkerama dengan sahabat dan kolega terjejut, saat dari kejauhan ia melihat Tiara bergerak tidak nyaman. Wanitanya yang berbincang dengan tamu itu sesekali mengusap perut, dan tertawa seperti dipaksa. Mungkin angin malam membuat wanitanya itu kedinginan, atau hal lain.


Maka, ia putuskan mendekat, dan mengusap lengan Tiara. "Kenapa? Apa kamu capek?"


Tiara menggeleng, dan terlihat berusaha tersenyum.


"Atau kamu mau makan sesuatu? Sudah dua jam sejak terakhir kali makan puding, kan?" Prabu tampak khawatir.


Sejak kandungannya semakin membesar, Tiara memang jarang makan nasi dan makanan berat lainnya. Selain terasa sesak jika kenyang, dua bayi lelaki dalam perutnya juga sudah mencapai batas maksimal ukuran normal bayi kembar.


Jadi, Prabu menyiasati asupan gizi dengan protein dan vitamin. Seperti puding buah, juga jus. Untuk urusan Tiara, Prabu


empat kali lipat lebih teliti dibandingkan saat mengawasi kesehatan Sundari, dulu.


Prabu semakin gusar, saat Tiara hanya menggeleng dan menggigit bibir. "Kenapa? Apa ada yang sakit?"


Mata Prabu membulat, ia mulai panik sekarang. "Apa maksudmu?"


"Ah, sakit!" Tiara mengusap perutnya.


Saat itu pula, Prabu mengambil ponsel dan menghubungi Hadi yang entah berada di sudut mana. Tak berapa lama, dokter keluarga Widjaya itu datang dengan langkah tergesa.


Kepanikan itu tentu membuat perhatian semua tamu terarah pada Tiara. Acara yang tadinya berjalan meriah dengan alunan musik, kini berubah dipenuhi kecemasan.


"Coba tarik napasmu, dan embuskan pelan-pelan." Hadi memberi instruksi, saat Tiara sudah didudukkan di sebuah kursi.


"Apa sakit sekali?" Prabu tampak cemas. Digenggamnya dengan erat jemari si Kesayangan.


Melihat itu, Hadi tertawa. "Kenapa? Dia tidak apa-apa!" Hadi memegang pergelangan tangan Tiara, memeriksa denyut nadi wanita itu.


"Oh, iya. Kalian lanjutkan saja pestanya. Untuk sementara, Nyonya Prabu harus masuk. Angin malam tidak terlalu baik untuknya."


Usai berkata demikian pada para tamu undangan, Hadi memapah Tiara kembali ke dalam rumah. Sementara Prabu berpamitan pada para tamu, lalu berlari menyusul.


"Apa kamu baik-baik saja? HPL masih sekitar tiga minggu lagi, kan?" tanya Hadi memastikan.


"Iya. Aku baik-baik saja. Terima kasih." Tak urung Tiara merasa bersalah.


"Kontraksi palsu memang biasa terjadi. Kamu tenang saja. Nanti--"


Belum selesai kalimat Hadi, saat Prabu datang. "Biar aku yang menemani, dan membawa Tiara. Kamu kembalklah ke pesta, gantikan aku menemani tamu."

__ADS_1


Hadi mengangguk, dan melepaskan Tiara. Ia meninggalkan sejoli yang tampak serasi itu kembali berbaur ke pesta, mengambil alih kuasa sang tuan rumah.


Saat Hadi sudah menghilang, Tiara melengos dan melangkah cepat menuju kamarnya yang lama, di lantai satu. Tentu saja Prabu bingung. Bagaimana Tiara bisa berjalan secepat itu, sedangkan tadi dipapah Hadi saat masuk?


"Sayang? Hey ... hati-hati dengan langkahmu!" Prabu mengejar, setengah berlari.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Sayang!" Tiara hampir membanting pintu, kalau saja Prabu tidak menahannya.


"Hey, kenapa denganmu?" Prabu menatap mata indah yang kini berkaca-kaca.


"Aku tidak cantik, kan? Tuan bohong! Aku gemuk, tidak seksi lagi!" Tiara menangis seperti anak kecil.


"Apa maksudmu, Sayang? Apa yang kamu bicarakan?"


"Aku memang tidak cantik! Tapi, Tuan yang ikut andil merampas kecantikanku! Aku gemuk karena anak-anakmu! Tapi--"


"Tiara, kamu kenapa?" Prabu berdiri mematung, melihat Tiara yang terisak di tepi ranjang. Saat dia akan mendekat ....


"Jangan mendekat! Ke sana saja! Habiskan malam ini sama perempuan-perempuan seksi itu!"


Prabu tahu sekarang, apa yang menyebabkan Tiara marah.


"Jadi, kamu marah?"


"Aku bilang, jangan dekat-dekat!" Tiara berseru, sambil mengusap air mata. Riasannya luntur, dan ia tak peduli.


"Oke, aku akan keluar dan berdansa sama mereka." Prabu menuju pintu, tak kuasa menahan senyumnya.


"Kamu memang jahat, Tuan! Jahat!" Tiara bangkit, dan semakin histeris. Bagaimana bisa Prabu begitu tidak peka? Ia hanya ingin diperhatikan.


Untung saja, kamar yang mereka tempati kedap suara. Jika tidak, tentu tangisannya akan terdengar sampai ke luar.


Prabu tersenyum, lalu mengunci pintu. Kemudian ia mendekati Tiara, dengan membuka jas yang ia kenakan dan melemparnya ke segala arah. Tak hanya itu, ia juga melepas kancing kemejanya satu persatu sembari terus menyusut jarak.


"Ap--apa yang Tuan lakukan?" Tiara gugup, dan mundur beberapa langkah. Tatapan Prabu membuat jantungnya berdegup kencang.


Prabu melempar kemejanya dengan asal, lalu merapatkan tubuh pada Tiara yang kini tersudut di tepi ranjang. Wanitanya itu tampak menelan ludah berkali-kali.


"Tidak seksi lagi, hm?" Suara Prabu terdengar berat dan serak. Tangannya menjelajahi garis wajah Tiara, lalu turun ke tulang selangka.


"Apa kamu tau, siapa perempuan yang selalu membuatku terbakar saat berdekatan dengannya?" Prabu berbisik sensual di telinga Tiara. Tangannya tak tinggal diam, menarik resleting hingga ke pinggang. Meloloskan gaun indah itu ke lantai.


"T--tuan, jangan! Di ... di luar banyak tamu."


"Apa kamu pikir aku peduli?"


Prabu menunjukkan kekuasaannya atas tubuh dengan perut membincit itu. Ia tak peduli, saat Tiara terus meronta, berusaha melepaskan diri. Sampai akhirnya, wanita itu berteriak menyerukan namanya.


"Apa kamu masih cemburu pada mereka, Nyonya Prabu Adji Widjaya?" bisiknya lagi, setelah berhasil mengurung Tiara. "Kamu ... adalah yang paling seksi di antara mereka semua!"


***


Ada ekstra lagi nggak, ya?


Vote dan komen dulu, yang baaaaaaanyak!


Nb.

__ADS_1


"Kok nggak nyambung, Thor? Kok ceritanya lompat?"


Iya, karena ini ekstra part. Yang manis-manis aja.


__ADS_2