
Malam nyaris menyentuh pertengahan, saat Prabu menyibukkan diri di dapur. Sebelumnya, ia sama sekali tak tahu apa yang akan dilakukan, tapi terpikir untuk membuat makanan cepat saji. Lalu, diputuskannya untuk memesan beberapa bungkus mi instan secara online, melalui aplikasi.
Beberapa saat kemudian, di sinilah ia sekarang. Mengenakan apron hitam di dada, dengan kemeja kerja dan celana kain yang belum diganti. Hanya kakinya yang telah melepas sepatu, dan beralas sandal karet.
Sesuai petunjuk di balik kemasan mi instan, hal yang pertama kali dilakukannya adalah mendidihkan air. Lalu dibukanya kemasan bumbu dengan sebuah gunting. Semua instruksi sudah dilakukannya dengan benar, lalu menuang mi bercampur telur ke dalam dua mangkuk berbeda.
Prabu pernah ingat, pernah memakan mi dengan tambahan daun bawang, seledri, dan bawang goreng. Ia lantas menuju kulkas, lalu mendapatkan semua yang dicari. Namun nahas, saat memotong daun bawang telunjuknya teriris.
“Ah, sialan!” Prabu mengumpat, dan segera mendekati wastafel.
Lelaki itu meringis, lalu mengguyur lukanya dengan air keran. Sementara itu, satu tangan menjangkau kotak P3K. Diambilnya sebuah plester, dan segera ia membalut luka, setelah dikeringkan dengan tisu.
Usai memasak, Prabu menatap hasil karyanya yang terhidang di meja. Sebuah mahakarya pertama kali, dan tak pernah terbesit akan melakukan semua ini dalam hidupnya.
Sementara itu, Tiara yang telah mengenakan piama tetap di kamar, tak tahu harus melakukan apa. Perutnya begitu lapar, tapi enggan jika harus keluar dan kembali bertemu dengan Prabu. Orang yang paling ingin ia hindari di rumah ini. Sebab, sesuatu dalam dadanya berdentam tak karuan hanya dengan melihat sang majikan dari jauh. Bahkan, kejadian di depan pintu tadi berhasil membuatnya berdebar, meski sudah hampir satu jam berlalu.
Untuk meredam perasaan, Tiara memilih menyusup ke dalam selimut, lalu mematikan semua lampu kamar. Ia berusaha memejamkan mata, tapi tetap saja gagal.
Hingga kemudian ia beranjak, saat mendengar ketukan di pintu kamarnya.
“Temani aku makan.” Begitu kata Prabu, saat melihat Tiara dari balik pintu.
“Saya ngantuk, Tuan.” Tiara mencoba beralasan.
“Atau kamu mau kita makan di dalam kamarmu saja?”
“Ah, b—baik!” Dengan cepat Tiara keluar, dan mengekor.
Prabu melangkah menuju bagian depan rumah, lalu duduk di teras. Diletakkannya nampan di tangan pada sebuah meja kecil tepat di sisi teralis yang membatasi balkon.
Untuk beberapa saat Tiara tertegun. Setelah tiga bulan lebih bekerja di rumah ini, belum sekali pun ia menjejakkan kaki di teras depan lantai dua. Lagi-lagi matanya disergap kemewahan desain bangunan. Tetap dengan pilar besar, lampu kristal juga tatanan taman yang membuat berdecak.
__ADS_1
“Duduklah!” Prabu menepuk sisi kursi yang ia duduki. Membuat Tiara tersadar dari kekaguman. Dipandanginya gadis yang mendekat dengan langkah kaku itu, sampai duduk di sisi.
“Makanlah. Aku tau kamu lapar, ‘kan?” Prabu menyodorkan semangkuk mi instan yang masih mengepulkan asap.
“Ah, saya—“
“Makanlah!”
Tiara mengangguk, lalu menerima mangkuk keramik dengan ragu-ragu. Aroma mi bercampur dengan bawang goreng sungguh menggugah selera. Dihirupnya sesaat, lalu mulai menyesap kuah yang terasa lezat.
Di hadapan Tiara, Prabu menyuap tak kalah lahap. Bunyi isapan mi dari bibir sang majikan membawa harmoni tersendiri, berpadu dengan tiupan angin lewat tengah malam. Lalu, Tiara mengerutkan kening saat melihat telunjuk Prabu dibalut plester.
“Itu kenapa, Tuan?”
Prabu mengangkat wajah dari mangkuk, lalu berkata, “Tidak apa-apa. Hanya tergores.”
Setelah menjawab, ia kembali makan dengan lahapnya. “Aku tidak tau, jika mi instan seenak ini. Andaikan tau, pasti aku akan memakannya setiap hari.”
“Lalu seluruh tubuh Tuan akan dipenuhi MSG.” Tiara menyahut.
Tatapan Tiara menerawang, ke arah kerlip bintang di langit kelam, yang cahayanya tersamar gemerlap metropolitan. Ia mendesah pelan, lalu menyunggingkan senyuman tipis.
“Keluargaku pernah membagi sebungkus mi instan untuk berempat. Dulu, waktu kami terpuruk.”
Mendengar itu, Prabu mengangkat wajah, dan menghentikan suapannya. Dipandanginya Tiara yang tengah menatap angkasa, seakan-akan mengumpulkan bait kenangan dari kesunyian.
“Kami juga pernah menahan lapar semalaman, sebab warung tidak lagi percaya saat Ibu berhutang. Saat itu, saya masih kecil, tapi bisa mengingat semuanya. Dipaksa dewasa oleh keadaan, lalu mulai membantu Ibu. Berjualan kue keliling, juga membawa termos berisi es lilin saat ke sekolah.” Tiara menjeda kalimat. Mi instan diletakkannya ke meja, lalu ia menarik napas pelan.
Sementara itu, Prabu masih menyimak sambil menopang dagu. Mi instan yang tinggal separuh diletakkannya ke meja, lalu ia meneguk air mineral perlahan.
“Kerja keras kami membuahkan hasil beberapa tahun kemudian. Kehidupan mulai membaik, dan kami bisa hidup dengan cukup makan. Sampai akhirnya saya kuliah. Saya pikir, semua masalah selesai. Ternyata, ada satu hantaman lagi, yang membuat saya harus menggantung cita-cita dan berakhir di sini.”
__ADS_1
Tiara mengerjap dan menyeka mata. Ia sendiri tidak tahu mengapa, bisa bercerita akan hal ini pada Prabu. Sementara lelaki itu tetap menyimak setiap kata yang diungkapkan Tiara.
“Saat ibu saya sakit, dunia saya seperti berhenti. Tidak tahu haris berbuat apa. Lalu, keluarga ini membawa angin segar, hingga semua rangkaian pengobatan Ibu bisa dijalani dengan mudah.”
Entah dorongan dari mana, Prabu meraih jemari Tiara yang terbiar di pangkuan. Digenggam dan diremasnya pelan, hingga sang empu berbalik. Sesaat lamanya mata mereka saling mengunci, untuk menyalurkan banyak arti.
“Tentang malam itu ... aku minta maaf.” Suara Prabu tercekat. Ia masih menggenggam jemari Tiara yang terasa dingin dan berkeringat.
“Jika boleh meminta, aku mau supaya kamu tetap di sini, Tiara. Bukan saja karena Eyang sulit beradaptasi dengan orang baru, tapi aku ingin ....”
Prabu menggantung kalimatnya, saat melihat Tiara menunduk dalam dengan bahu mulai terguncang. Kini ia benar-benar paham, jika keceriaan Tiara terenggut sejak malam itu.
“Aku benar-benar minta maaf.” Prabu mengulang kalimatnya, lalu beringsut maju. Mendekap Tiara ke dadanya, seolah-olah berusaha menyalurkan ketenangan.
“Aku hanya tidak ingin kamu salah paham, Tiara. Aku ingin menjelaskan, bahwa semua yang kamu lihat tidaklah benar. Aku juga minta maaf telah melakukan semuanya, tanpa seizinmu. Tapi jujur, membuatmu kehilangan senyuman, aku merasa bersalah.” Prabu berkata panjang lebar.
“Aku tidak ingin kita berjarak. Sebab dalam menjaga Eyang, kita adalah satu tim yang sama, dan harus terus bekerja sama. Sejauh ini, hanya kamu yang bisa melakukannya dengan baik.”
Tiara masih bungkam, tenggelam dalam perasaannya sendiri.
“Tetaplah di sini, Tiara. Demi Eyang ... demi aku. Karena kami membutuhkanmu.” Begitu kata Prabu pada akhirnya.
Diperlakukan demikian, Tiara semakin larut dalam tangis. Ingin rasanya ia menjauh, dan menganggap segala yang terjadi hanyalah mimpi. Namun, malam yang pernah terjadi di antara dirinya dan Prabu membuatnya takut, dan berharap dalam satu waktu.
“Bisakah kita memulai semuanya dengan baik, Tiara?”
Prabu menjeda pelukan, lalu menghapus jejak basah di pipi Tiara. Gadis itu masih memejam, entah menghindari tatapannya atau karena sesuatu yang lain. Hal yang kemudian membuat Prabu merunduk, dan menghapus jarak.
Dingin yang menyusup, malam yang terus beranjak, serta harmoni alam yang berbalut gerimis membuat irama syahdu kembali melingkupi dua insan tanpa ikatan itu. Berbeda dengan malam yang telah lalu, kali ini keduanya menikmati setiap kelembutan itu.
Prabu lantas beranjak, dengan membawa serta Tiara dalam dekapan. Lalu, pada detik selanjutnya, mereka kembali mengulang semuanya, dan saling memuja di bawah selimut yang sama. Kamar Prabu, menjadi saksi syahdu saat dua insan itu kembali menyatu.
__ADS_1
**
Bersambung ....