Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
24. Lusi


__ADS_3

Leana menyusut jarak, mendekati wanita yang tampak ketakutan. Mengenakan daster lusuh, wanita yang berada di dalam kuasanya itu tampak semakin kurus dan pucat. Lingkaran di bawah mata menjadi tanda, jika tidur wanita itu tak pernah ia buat nyenyak selama ini. Melihat betapa tersiksanya objek yang sedang diamati, Leana tertawa.


“Kenapa, Lusi? Kenapa setelah sekian lama, kamu masih takut padaku? Apa aku begitu kejam padamu?” Leana bertanya dengan seringai di bibir.


Lusi menggeleng, laku berhenti saat punggungnya menyentuh dinding. Matanya berkaca-kaca, sedangkan bibirnya yang kering dan pecah di beberapa bagian itu bergetar. Tampak jika ia sangat ketakutan dengan Leana. Wanita keji yang menyanderanya selama ini. Jangankan melawan, bernapas saja Lusi seperti harus meminta izin lebih dulu jika di hadapan Leana.


“Apa lagi yang kamu mau dengan datang ke sini?” Suara lemah Lusi bergetar. Ia yakin, Leana tidak datang dengan pikiran kosong, tapi dengan satu maksud tertentu.


Ia ingat saat terakhir kali Leana datang, wanita itu memukulinya dengan sebuah tongkat hingga hilang kesadaran. Alasannya? Hanya karena Prabu mengabaikannya. Leana tidak bisa menerima, saat Prabu masih mengingat Lusi.


Kesepakatan yang bermula dari bisnis itu membuat Leana begitu terobsesi pada Prabu, dan ingin menjadi satu-satunya. Sementara, lelaki yang ia puja tak pernah memakai hati saat mencumbunya. Bukan bercinta, tapi hanya memberi kepuasan satu sama lain. Hal yang membuat Leana merasa hampa, meski hasratnya telah terpuaskan.


Leana ingin Prabu menjaga batinnya. Leana ingin Prabu menjadi miliknya. Tak peduli jika ia harus menyingkirkan semua wanita di muka bumi ini. Sebab, melihat Prabu memikirkan wanita lain, Leana merasa frustrasi.


Namun, ia tak menampakkan itu di depan Prabu, dan tetap ingin menjerat pria itu dengan pesonanya. Meski di belakang, ia bermain kotor dengan menggerogoti kerajaan bisnis milik Prabu, menjatuhkan sedikit demi sedikit.


Demi mendapatkan Prabu, Leana tak ingin mengiba. Ia ingin pria itu yang datang, lalu bersimpuh di bawah kakinya. Seperti saat Prabu bersimpuh dan mendamba, saat menikmati dirinya di atas ranjang.


“Kamu pasti datang untuk menyiksaku lagi bukan? Asal kamu tau, aku tidak takut lagi.” Meski demikian, air mata Lusi menitik juga. Bukan karena tak kuasa lagi menahan sakit, tapi karena buncahan rindu dalam dada pada semua orang yang ia kasihi. Ibu, kakak, serta Prabu. Laki-laki yang membuatnya terjebak dalam nestapa ini.


Mendengar kalimat Lusi, Leana tertawa. Ia bersedekap dengan memiringkan kepala, lalu menyibak rambut ke samping. Meski memiliki garis kejam di wajah, Leana memang memiliki paras di atas rata-rata. Ditambah rambut berwarna kemerahan, membuat ia semakin cantik saja.


“Jangan berprasangka buruk dulu. Aku datang kali ini untuk bernegosiasi.” Leana berjalan ke arah meja makan, dan duduk di sana. Ia menyilangkan kaki sedemikian rupa, sehingga kakinya yang mulus terlihat.


“Kemarilah.” Ia memberi isyarat agar Lusi mendekat. Akan tetapi, yang dipanggil masih bergeming.


“Kamu tau, kan, aku tidak suka meminta dua kali. Kemari, atau aku akan menyurih penjaga menyeret dan mengikatmu ke kursi ini!” Leana menunjuk kursi tepat di depannya, terhalang meja.


Tak memiliki pilihan, Lusi mendekat. Membayangkan orang suruhan Leana akan memaksanya seperti yang sudah-sudah, ia mendekat. Mengambil gerakan hati-hati, ia duduk dan menatap Leana.


“Apa yang kamu inginkan? Kenapa todak membunuhku saja?” Lusi berkata dengan penuh penekanan.


“Karena aku berpikir, kamu masih bisa kugunakan.”


“Dasar licik! Kenapa kamu menyiksaku, padahal kamu bisa menguasai Prabu dengan mudah?” Lusi hampir berteriak.


Tak suka mendapat perlawanan, Leana bangkit dan menarik rambut Lusi sampai wanita itu meringis. “Sudah kubilang jangan berani membentakku! Bukankah aku sudah bilang tadi, kalau aku akan bernegosiasi denganmu?”


Leana menyentakkan genggamannya dari rambut Lusi, di akhir kalimat. Ia lantas duduk kembali, dan menatap tajam pada kekasih Prabu itu.

__ADS_1


“Aku akan memberimu satu pekerjaan. Kalau kamu berhasil, maka akan kulepaskan tanpa syarat.”


“Maksudmu? Apa kami pikir aku akan percaya?” Lusi menatap sinis, lalu membuang muka.


“Aku serius, dan tidak pernah seserius kali ini saat berbicara dengan debu sepertimu!”


“Baiklah! Apa yang harus kulakukan?”


“Kembalilah pada Prabu,. Tampakkan dirimu sekali saja. Setelah itu, terserah padamu. Mau mengakhiri hidupmu sendiri, atau pergi sejauh mungkin. Bukankah itu sama saja aku melepaskanmu? Adil bukan?”


**


‘Belanjalah oleh-oleh yang pantas untuk ibu dan adikmu. Akan kutambahkan jika kurang.’


‘Waktumu hanya dua hari. Jangan sampai membuatku merindukanmu, atau kamu tidak akan bisa istirahat sama sekali!’


‘Beri kabar begitu sampai, dan angkat teleponku kapan pun aku menghubungi!’


Tiara yang tengah berkemas tersenyum, saat melihat rangkaian pesan dari Prabu. Sebelumnya, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya, menunjukkan jumlah uang yang sangat besar. Sepuluh kali lipat dari gajinya selama bekerja di rumah nan megah.


Sebenarnya ia sudah menolak, tapi Prabu tetap memberinya uang sebanyak itu. Majikannya itu berkata, jika itu sebagai tanda sayang untuk ibunda di kampung, karena sudah melahirkan gadis secantik Tiara. Tentu saja, mengingat kalimat gombal yang diucap Prabu semalam membuat Tiara tertawa geli.


Malam ini, lagi-lagi Prabu berniat menghabiskan di kamarnya. Jika semalam alasannya adalah rindu, maka malam ini karena khawatir padanya. Sebab, pagi tadi berkali-kali muntah, dan tidak enak badan.


Namun begitu, tetap saja Prabu tak membiarkannya istirahat, dan menggempur pertahanannya tanpa ampun. Tentu saja, dengan kelembutan serupa semalam, bercinta dalam arti sebenarnya. Antara dua orang yang saling mengasihi, tanpa intimidasi.


“Sebagai ungkapan terima kasih, karena telah melahirkan perempuan secantik dan sehebat dirimu.” Prabu merunduk, lalu meninggalkan kecupan singkat di pucuk hidu g sang kekasih.


Tiara tertawa. “Tuan, kenapa gombalanmu semurah itu? Kupikir Tuan berbeda, dan akan memujiku dengan hal lain!”


Prabu menarik Tiara untuk tenggelam dalam dekapannya. Dikecupnya berkali-kali kening Tiara yang masih menyisakan keringat. Kamar ini begitu dingin, tapi tetap saja percintaan mereka yang baru usai masih menjejakkan sisa panas di seluruh ruangan.


“Lalu, apa yang harus kukatakan? Nyatanya, aku harus berterima kasih pada ibumu, yang sudah melahirkanmu, Tiara. Perempuan yang membuatku hampir gila, karena jatuh cinta lagi.”


Tiara menjeda pelukan, dan sedikit mengambil jarak. Ditatapnya Prabu dalam-dalam, lalu berkata dengan hati-hati. Sebenarnya ia tak ingin merusak suasana, setelah percintaan yang begitu manis. Akan tetapi, Tiara penasaran dengan kabar angin yang didengarnya tentang kisah cinta kekasihnya ini.


“Maaf kalau aku lancang. Tapi, boleh aku bertanya?”


“Apa? Tanyalah. Akan kujawab jika memang bisa.” Prabu menatap wanita yang tadi merebah di dadanya.

__ADS_1


“Apakah Tuan pernah jatuh cinta sebelumnya?”


Tak menjawab, Prabu mengubah posisinya menjadi telentang. Dilipatnya satu tangan, menjadikannya sebagai bantal. Tatapannya menerawang ke atas, seakan-akan bersiap menembus langit-langit kamar nan megah.


“Ya. Satu kali, dan membuatku hampir gila.” Prabu menghela napas dalam, seolah-olah melepas beban begitu berat. Ini adalah kali pertama ia berbagi cerita dengan orang lain.


“Tuan sangat mencintainya?”


“Ya.”


“Seperti mencintaiku?”


Prabu menatap Tiara, lalu menarik wanitanya ke dalam dekapan. “Kalau orang berkata ‘sudah kehilangan baru terasa’, maka itu yang terjadi padaku. Aku sadar betapa aku mencintainya, setelah ia pergi.”


“Kenapa dia pergi?”


“Karena aku begitu pengecut saat itu. Tapi, aku berniat menolaknya seperti kabar yang tersebar. Kami baik-baik saja saat itu. Kami bahagia, tapi kemudian ia pergi begitu saja hanya karena masalah keci. Malam itu dia kecewa karena aku tak memakan masakannya, dan langsung pulang. Saat keesokan paginya datang, dia sudah tidak ada.”


Tiara menyimak setiap cerita Prabu yang penuh teka-teki. Kemudian, diberanikannya untuk bertanya, “Tuan masih mencintainya?”


“Karena di antara kami sebenarnya tidak pernah selesai. Mungkin itu yang membuat aku merasa bersalah, dan tidak bisa menghapus rasa cintaku padanya.”


Tiara merasa hatinya teremas. “Lalu, bagaimana jika dia datang lagi, Tuan? Apa Tuan akan meninggalkanku?” Entah mengapa kalimat itu terucap. Sementara, ia sangat paham jika tak mungkin menyatakan kepemilikan pada sang tuan.


Prabu tak menjawab, hanya membawa Tiara semakin larut dalam dekapannya. “Tidurlah. Besok kamu harus lebih sehat, sebelum menempuh perjalanan jauh. Sampaikan salamku pada ibumu, dan berikan beberapa hadiah. Arman susah kuhubungi untuk mengantarmu ke terminal.”


Mengingat percakapan semalam, Tiara menghela napas dalam. Hati yang tadi berbunga karena pesan dari Prabu, kini kembali didekap sendu. Meski memiliki sang majikan seutuhnya sangatlah tidak mudah bahkan mustahil, tapi setelah semua yang mereka lewati, Tiara takut kehilangan.


Bagaimana jika Lusi datang lagi? Apakah Prabu akan melupakannya? Berbagai tanya itu menyesak dada, membuat Tiara didera gamang.


Diletakkannya ponsel ke ranjang, lali kembali berkemas. Namun, baru saja akan memasukkan kaus, saat perutnya seperti teraduk-aduk. Ia segera berlari, dan memuntahkan isi perut di kamar mandi. Seperti pagi-pagi sebelumnya, kali ini Tiara pun sampai lemas dan terkulai di depan closet.


“Ah, kenapa aku ini? Kenapa sampai seminggu, tapi sakit ini tidak juga reda?” Tiara memijat pelipis. Kepalanya sangat pening, sampai tatapan pun terasa berkunang-kunang.


Lalu, terpikir olehnya jika tamu bulanannya belum datang bulan ini, terlewat sudah lebih sepuluh hari. Membayangkan apa yang terjadi, Tiara didekap ketakutan teramat sangat. Belum lagi, saat membayangkan Lusi hadir kembali di antara dirinya dna Prabu.


**


Bersambung ....

__ADS_1


Mau crazy update? Vote, vote, vote! komen yang banyak!


__ADS_2