Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
27. Bukan Mimpi


__ADS_3

Pagi itu, Tiara terbangun masih dalam keadaan kepala terasa pusing. Akan tetapi, dekapan sang bunda membuat sebagian hatinya menghangat, hingga semua keluhan yang selama ini mendera sirna.


Setelah membersihkan diri, ia segera menyiapkan sarapan. Kebetulan, kemarin ia membawa beberapa jenis bahan makanan dari kota, termasuk beberapa buah segar. Ia ingin membuat sarapan, seperti yang biasa disajikan Lisa untuk Sundari.


“Kakak tadi muntah-muntah? Kenapa, masuk angin?” Alia muncul dari dalam, dan bertanya saat melintas hendak ke kamar mandi.


Tiara yang tengah menyiangi sayuran menoleh, dan berkata, “Mungkin. Soalnya kemaren di bis AC-nya kenceng banget. Kamu tau sendiri, kan? Kalo aku ini kampungan?”


Alia tertawa. “Mau aku kerokin, Kak?”


“Nggak usah. Bentar juga sembuh, kok. Oh, iya. Ibu sudah bangun?”


“Sudah, ini mau aku siapin air anget buat Ibu mandi.”


“Ah, nggak usah. Sebentar aku aja yang bantu Ibu bersih-bersih, terus mau kuajak jalan-jalan.”


Tiara mengaduk bubur yang sudah mulai lembut, lalu memasukkan brokoli, wortel, serta sedikit daging ikan asap untuk menambah aroma. Setelah mencicipi sebentar, ia mematikan kompor, dan bergegas menuju kamar.


Untuk pertama kali setelah sekian lama, Tiara mengurus segala keperluan ibunya. Mulai membersihkan diri, sarapan, dan minum obat. Meski semuanya serba terbatas, dan tidak bisa memberikan perawatan seperti pada Sundari, tapi Tiara senang. Paling tidak, selama dua hari ke depan, ia akan melakukan yang terbaik bagi sang ibunda.


Tiara menggandeng ibunya, dan berjalan perlahan menyusuri jalanan desa yang masih sepi. Matahari belum lagi tampak, dan sisa dingin tampak membentuk embun di rerumputan. Sebenarnya, Ninih suah bisa berjalan normal. Namun, demi menghindari hal yang tak diinginkan, ibunda Tiara itu masih menggunakan tongkat penyangga khusus.


Seakan-akan cerita semalam belum cukup demi menumpahkan rindu, pagi ini Tiara kembali berkisah tentang banyak hal. Sementara itu, Ninih menyimak, sesekali menyeka mata. Perjuangan Tiara demi menyembuhkannya sungguh berat, dan ia sadari itu.


“Apa kamu sungguh bahagia, Nak?” tanyanya pelan.

__ADS_1


Mendengar itu, Tiara menghentikan langkah, dan menatap sang ibunda. “Kenapa Ibu tanya begitu? Untuk kesembuhan Ibu, aku bahagia mengerjakan apa pun itu. Lagi pula, aku merawan Nyonya Sundari seperti merawat Ibu. Jadi, aku nggak capek, Bu. Karena yang ada di mataku, aku melakukan semuanya untuk Ibu.” Tiara meyakinkan.


Selain tak ingin ibunya cemas, ia memang berkata yang sesungguhnya. Penerimaan Sundari, juga sang tuan yang membuatnya jatuh hati.


‘Ah, Tuan ... apa Tuan sudah bangun?’ Tiara membatin.


Kembali sekelebat pagi yang manis melintas dalam benak. Saat ia terbangun dan lelaki itu masih memeluk dengan erat, atau saat sang tuan datang dengan sarapan. Mengingat semua itu, hati Tiara dipenuhi rindu.


“Ibu berharap kamu tinggal lebih lama.” Suara Ninih terdengar seperti keluhan.


“Walaupun aku nggak bisa berlama-lama di sini, tapi aku pastikan dua hari ke depan adalah hari yang paling berkesan. Buat aku, buat Ibu, dan juga Alia.” Tiara menggenggam tangan ibunya, dan berkata penuh keyakinan.


**


Prabu tengah sibuk dengan beberapa berkas, juga laporan pembebasan tanah di sebuah daerah. Seharian ini, ia hanya berkutat di depan laptop, juga tumpukan berkas yang harus ia tandatangani. Menjelang akhir tahun, beberapa proyek hampir rampung, dan ia akan menuntaskan beberapa pembayaran terkait proyek berjalan.


Tak hanya cluster mewah, kini ia juga menggandeng sebuah pengembang yang merambah pembangunan apartemen. Ia bahkan menjadi salah satu investor dalam pembangunan menara raksasa di tengah kota, yang rencananya akan diiai ratusan unit apartemen, juga kompleks perbelanjaan.


Saat tengah berkutat dengan pekerjaannya, terdengar ketukan di pintu. Ia mendengkus, dan menggebrak meja. Ia tak habis pikir, mengapa ada yang berani mengetuk pintu ruangannya, padahal tadi ia berkesan pada sang sekretaris agar tak ada yang boleh mengganggu?


Tak lama, pintu terbuka. Sekretarisnya masuk dengan wajah pias, dan ketakutan. Namun, bukan itu yang membuat Prabu terenyak. Tubuhnya mendadak kaku, tak percaya dengan apa yang disaksikan.


“Maafkan saya, Pak. Saya sudah melarang ibu ini supaya tidak masuk, tapi dia memaksa.”


Untuk beberapa saat, Prabu merasa dunia di sekitarnya berhenti. Berbagai penggalan kisah masa lalu menari-nari di benaknya. Saat ia menjadi laki-laki paling bahagia, saat ia menjadi sosok pelindung bagi wanita tercinta.

__ADS_1


Napasnya sesak mengingat semua itu. Baru saja ia berniat akan beranjak dari kepahitan yang membuatnya nyaris gila, tapi kenangan itu datang kembali sekarang. Wanita yang turut andil dalam kisah cinta dan menghancurkan dalam satu waktu, kini ada di depan mata.


Dipindainya sosok yang juga mematung tak jauh darinya itu. Segala yang ada pada wanita itu masih sama. Baik senyuman, sorot mata, serta kecantikannya. Tak ada yang berubah, kecuali wajahnya yang tirus, juga tubuh lebih kurus.


Satu lagi, luka mendalam. Entah mengapa, Prabu melihat ada luka dalam tatapan wanita itu. Sehingga marah yang sempat berkuasa karena kepergian wanita itu yang tanpa pamit menguap begitu saja. Berganti iba, dan meleburnya segenap emosi.


Prabu masih duduk di kursinya, lalu memberi isyarat dengan tangan agar sekretarisnya itu pergi. Tak menunggu lama, gadis dengan setelan jas itu meninggalkan ruangan, setelah menutup kembali pintu. Menyisakan seorang wanita mematung di ambang pintu, yang dengan tatapan sayu.


Prabu bangkit dari kursinya, dengan mata membulat. Ia tak percaya siapa yang kini berdiri di hadapan. Wanita yang dua tahun lalu membuatnya hampir gila karena menghilang bak ditelan bumi, kini muncul kembali.


"B—bagaimana kabarmu, Prabu ...?" Wanita itu menyebut namanya dengan suara gemetar.


Prabu masih mematung, saat sang pemilik suara itu memanggil namanya. Dipindainya wanita itu, dari ujung kaki hingga kepala. Tatapan itu masih sama, menyiratkan rindu dan cinta yang teramat dalam. Hanya saja, saat ini mulai tertutup oleh genangan air yang siap meluruh.


Tak menunggu tarikan napas kedua, Prabu melangkah cepat, menghampiri wanita yang sangat dirindukannya. Didekapnya dengan erat, seakan-akan tak akan pernah lagi dilepaskan.


“Lusi?” panggil Prabu berulang kali. Tak lama, ia melepaskan wanita yang juga menangis tersedu. “Benar ini kamu, Sayang? Benar ini kamu?” Air mata Prabu jatuh, lalu dipeluknya lagi tubuh mungil di hadapan.


Dalam dekapan Prabu, Lusi mengangguk. Dalam hati, ia mengudarakan syukur karena bisa bertemu dengan lelaki terkasih. Orang yang membuatnya merasakan kenyamanan. Ia bahkan lupa, kapan terakhir merasakan damai seperti ini. Sebab, saat berada dalam kuasa Leana, ia tak diizinkan bernapas dengan lega.


“Maafkan aku.” Wanita dalam dekapan Prabu itu tersedu. Menumpahkan tangis yang selama ini terpendam, sedangkan tangannya memeluk erat.


“Kamu dari mana saja, Lusi? Apa tidak tau, aku mencarimu sampai ingin mati?”


**

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2