Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
41. Tenang yang Bergejolak


__ADS_3

Prabu sampai di rumah menjelang pukul tiga pagi. Bukan suatu yang mengejutkan orang di kediaman megah itu, sebab biasanya sang tuan akan kembali pada waktu yang sama dalam keadaan mabuk. Namun, betapa banyak pun Prabu minum, ia memang selalu bisa mengemudi hingga sampai di rumah.


“Tuan mabuk lagi?” Seorang penjaga yang baru menutup gerbang melihat ke arah majikannya.


“Tau! Sultan mah bebas.” Seorang yang lain menjawab, sembari melayangkan pandang pada Prabu yang turun dari mobil mewahnya.


“Ah, kalo gue sekaya dia, duit gue pake sedekah daripada buat mabok.” Satpam bertubuh gempal berkata sembari menyulut rokok.


“Ah, elah! Sia ngasih gaji kita hampir sepuluh juta per bulan juga itungannya sedekah.” Satpam lain menimpali, lalu keduanya terkekeh.


Sementara itu, Prabu yang telah sampai di dalam berhenti di tengah hunian bak istana. Lengang, tak ada suara apa pun. Membuat detak jam dinding terdengar nyaring. Didukung pencahayaan temaram, menambah suasana sunyi yang mendekap, dan Prabu merasa kecil.


Ia mendongak, menatap lampu kristal raksasa yang menggantung di pusat ruangan. Lalu, memusatkan perhatian ke sebuah foto keluarga berukuran raksasa. Dulu, yang terpasang di sana adalah foto saat ia masih berusia lima tahun. Akan tetapi, kini telah diganti dengan foto dirinya bersama Sundari. Tak lupa sebuah figura dalam pangkuan, berisi gambar sang ibunda, Ariani.


Untuk sesaat Prabu merasa semua yang dimilikinya tak berarti. Uang, kerajaan bisnis yang menanjak bak roket, bahkan istana ini. Semua tidak terasa tak berguna karena kehidupannya selalu saja berselimut hampa. Belum lagi kehilangan demi kehilangan yang silih berganti.


Pertama sang ayah yang diasingkan oleh Sundari, lalu kematian sang ibu bersama kakeknya. Lalu Lusi yang menghilang, dan datang kembali setelah bayi mereka direnggut paksa. Dan sekarang adalah Tiara. Wanita yang tiba-tiba raib dalam keadaan mengandung anaknya.


Membayangkan kehilangan itu akan kembali menyapa, Prabu didekap nelangsa. Ia benar-benar tak akan sanggup lagi jika Tiara dan bayinya todak ditemukan. Bagaimana ia akan menjalani hidup setelah ini? Menanggung banyak beban, karena turut andil dalam hilangnya semua orang yang ia kasihi.


Puas menatap sekeliling, Prabu menapaki anak tangga dengan gontai. Kali ini, ia tak menuju kamarnya, tapi ke kamar Tiara. Sejenak ia mematung di ambang pintu, dan menyapukan pandang ke seluruh ruangan.


Biasanya, Tiara akan menyambut dengan senyuman, dengan wangi khas yang ia rindukan. Menampilkan tubuh nan molek berbalut gaun tidur satin yang diberikannya sebagai hadiah. Meski awalnya tampak ragu dan risih, akan tetapi wanitanya itu menurut tak lama kemudian. Prabu bahkan masih ingat, kali pertama ia sampai di rumah, setelah berbelanja dengan Tiara.


“Bukankah saya sudah bilang, tidak perlu ini semua?”


Tiara yang baru saja mandi mengajukan protes. Sementara itu, Prabu yang sejak tadi menunggu dengan bersandar di kepala ranjang hanya memandang wanitanya dengan senyum simpul.


“Lihat, ini tidak bisa menutupi apa pun. Kenapa dijual dengan harga semahal ini?”


Tiara mengambil selembar gaun tipis berwarna merah maron. Dibentangkannya di depan Prabu, membuat sang tuan tertawa.


Prabu bangkit dan melingkarkan tangan di pinggang Tiara, yang masih mengenakan jubah mandi. Biasanya ia akan menerkam sang kekasih pada saat seperti ini. Akan tetapi, ia memilih menunggu kejutan, saat Tiara mengenakan semua yang mereka beli.


“Kenapa kamu tidak mencoba salah satunya, hm?” Ia berbisik sembari meninggalkan gigitan kecil ke telinga Tiara. Wangi sabun yang menguar membuat hasratnya bergejolak.


“T—tapi, Tuan. I-ini terlalu seksi.” Wajah Tiara merona.


“Apa perlu kubantu memakainya, Sayang?”

__ADS_1


“Ah! T—tidak perlu!” Tiara menyambar selembar yang berwarna hitam, lalu kembali ke walk in closet di sisi lain kamarnya.


Saat pakaian kurang bahan itu melekat di badan, Tiara menggigit bibir. Bagaimana ia bisa keluar dengan tampilan seperti itu? Ia bahkan tak punya nyali untuk bergerak selangkah saja. Dadanya berdebar hebat, tak bisa membayangkan jika Prabu melihatnya.


Prabu yang menunggu dengan memainkan ponsel mengangkat wajah, saat Tiara keluar. Namun, wanita itu tetap mengenakan jubah mandi, bukan sesuatu yang dibawanya tadi.


“Kenapa?” Prabu mengerutkan keningnya.


“Tuan, apa boleh lingerie-lingerie ini kita kembalikan saja? Maksudku, kita minta uang kembali saja.” Tiara menunjuk beberapa paper bag di meja, tepat di sisi ranjang.


“Kenapa?”


“Ah, itu ... benar-benar todak menutupi apa pun.” Wajah Tiara semakin tersipu.


Prabu yang gemas lalu bangkit. Percuma memaksa Tiara mengenakan itu semua, karena wajah malu-malu itu sudah cukup menjadi jawaban. Tak berpikir panjang, segera dibopong wanitanya ke ranjang. Namun, kemudian ia terpana saat melepas jubah mandi yang membalut tubuh Tiara. Wanitanya itu tampak memesona dalam balutan gaun berenda itu.


“Jangan dilihat!” Sontak Tiara menutup mata Prabu menggunakan tangannya. “Jangan dilihat, Tuan!”


Tiara bahkan memekik, lalu melompat dari ranjang. Tak lama, wanita itu berlari ke kamar mandi, meninggalkan Prabu yang menggeram frustrasi.


Ingatan itu membuat Prabu mengepal erat. Sebutir air jatuh dari matanya yang lelah. Ingin ia berlari menembus malam, dan mengobrak-abrik semua tempat demi menemukan Tiara. Akan tetapi, ia membemarkan saran Hadi, dan mengikutinya. Bagaimanapun ia tak boleh panik, demi keselamatan sang kekasih.


**


Tiara mengusap perutnya beberapa kali. Tidak makan sejak kemarin membuatnya benar-benar lapar saat ini. Beberapa kali ia melirik ke arah meja kecil di bawah jendela. Aneka buah segar yang tertata di sana membuatnya menelan ludah. Tampak menggugah selera, terlebih sebuah mangga golek yang berwarna kekuningan.


“Ah, kamu mau itu ya, Nak?” Diusapnya perut dengan gerakan memutar. “Mama juga mau, tapi bagaimana kalau buah itu beracun?” Lagi-lagi Tiara berkata, seakan-akan bayi berusia enam minggu itu mengerti.


Tiara menatap keluar, lalu menarik napas dalam. Dalam hati sebenarnya ia takut dan sedih. Akan tetapi, ia tak ingin berlarut-larut tenggelam dalam semua tekanan perasaan itu. Sebab, kata-kata dokter kemarin masih melekat dalam benak, agar ia menjaga diri dari stres.


Toh, selama ini para penculik itu bersikap baik. Memberi makanan cukup meski tak tersentuh, juga kamar besar yang nyaman. Belum lagi pakaian bagus dan perlengkapan mandi dengan merek ternama yang sudah disediakan. Tentu ini telah direncanakan sejak lama. Ia juga menduga-duga, siapa laki-laki tua yang memarahi anak buahnya semalam, saat ia hampir kabur.


Lalu, sebuah ketakutan muncul. Bagaimana jika ia akan dijual lalu terlibat prostitusi? Mengingat banyaknya pengawal serta rumah yang begitu megah, tentu yang menculiknya bukan orang biasa.


“Tapi kenapa?” Tiara kembali berpikir. “Atau jangan-jangan ... mereka mengira aku anak keluarga Widjaya? Ah, seharusnya aku keluar bersama Nyonya tetap pakai seragam.”


Saat tengah bergumul dengan perasaan itulah, pintu kamar terbuka. Muncul sosok lelaki baya semalam, diikuti seorang pengawal berbadan kekar. Sontak Tiara berdiri, dan mundur selangkah. Dipindainya orang tersebut, dan Tiara sedikit terkesiap saat garis wajah di hadapan tampak familiar.


“Apa tidurmu nyenyak, Nona?” tanya lelaki itu. Sebuah senyum tersungging di bibirnya, seakan-akan menawarkan persahabatan.

__ADS_1


Namun, Tiara tak mau lengah. Bagaimanapun mereka adalah penculik orang-orang berbahaya.


“Siapa kalian? Kenapa menculikku?” tanya Tiara, masih sama dengan sebelumnya. Ia berusaha tenang, meskipun dalam hati takut bukan kepalang.


Namun, pria yang kini duduk di sofa itu tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan saksama, seolah-olah berusaha menemukan cela dari dirinya yang kini sedikit ketakutan.


“Kamu tidak makan lagi hari ini, Nona?” Pria itu bertanya dengan suara tenang.


“Tolong katakan, siapa kalian? Kenapa menculikku?” Kali ini Tiara hampir berteriak. Ketenangan lelaki itu membuatnya sangat takut sekarang. Benar-benar seperti pembunuh berdarah dingin, yang ada di film-film.


“Kenapa kalian menculikku. Aku bukan siapa-siapa! Jadi, kalian tidak akan mendapatkan tebusan atau apa pun! Aku hanya orang biasa! Aku—“


“Kamu bukan orang biasa, kalau berhasil membuat seorang pewaris keluarga Widjaya mencintaimu.”


Jantung Tiara berdebar hebat. Siapa lelaki itu, hingga paham begitu jauh? “A—apa maksudmu?”


Bukannya menjawab, lelaki itu justru bangkit dari duduknya. “Jangan berpikir terlalu jauh, Nona. Misalnya dengan berpikir jika makanan itu beracun. Kamu terlalu berharga untuk kuhabisi. Jadi, nikmati saja harimu selama di sini. Jangan mencoba kabur!"


Lelaki itu berkata penuh penekanan. “Kalau ada yang kamu butuhkan, panggil saja seseorang. Mulai hari ini kamu bebas ke mana saja. Tapi ingat, jangan berpikir untuk melarikan diri, kalau kamu masih menyayangi kedua kakimu.”


Tiara beringsut mundur. Ancaman itu sepertinya tidak main-main. Apalagi terucap tanpa senyuman sama sekali. Keramahan yang tadi juga sirna, berganti dengan tatapan tajam.


“Jangan bermain dengan kesabaranku. Nikmati saja harimu dengan baik. Di bawah ada satu pelayan yang siap menuruti semua permintaanmu.”


Usai berkata demikian, lelaki dan pengawalnya itu pergi. Tidak seperti kemarin, kali ini mereka membiarkan pintu kamar terbuka. Hal yang membuat Tiara lega karena tak lagi terpenjara, pun orang itu menepati ucapan dengan membebaskannya.


Dengan ragu dan tetap waspada, Tiara keluar. Menyapukan tatapan ke sekeliling, menikmati kemegahan rumah yang begitu mewah. Lalu ia turun, menapaki satu per satu anak tangga yang memutar. Ia teringat akan foto keluarga semalam, dan bergegas menuju ke sana.


Sesampainya di tempat yang menyerupai ruang keluarga, Tiara tercengang. Tubuhnya berdiri kaku, menghadap tepat ke arah foto keluarga berukuran raksasa. Di sana ada empat orang dewasa. Dua laki-laki dan dua perempuan. Lalu, salah seorang wanita muda tersenyum lebar dengan seorang bayi laki-laki dalam pangkuan.


“B—bukankan itu ....” Tiara membekap wajah, dengan mata berkaca-kaca. Meski foto itu tidak memiliki banyak warna dan sedikit usang, tapi ia bisa mengenal salah satu di antara gambar di dalamnya.


“T—tapi kenapa?” Bibirnya bergetar. Tak percaya dengan yang ada di dalamnya.


“Karena aku tidak mau kamu bernasib buruk, seperti para kekasih pewaris keluarga itu.”


**


Bersambung ....

__ADS_1


Tersisa dua part menuju ending, Gaes.


__ADS_2