Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
42. Tekad Prabu


__ADS_3

Pagi itu Prabu terbangun dengan kepala pening luar biasa. Tertidur di kamar Tiara jam empat pagi dan bangun jam enam membuatnya sedikit limbung saat berjalan ke kamar mandi. Akan tetapi, ia harus bersiap secepat mungkin untuk menghadiri rapat dewan direksi yang akan dihadiri oleh Sundari.


Usai bersiap dengan mengenakan stelaan jas abu-abu, ia bergegas menuju meja makan. Seperti biasa, di sana Sundari sudah menunggu. Sang nenek tampak jauh lebih segar, saat mengenakan setelan jas berwarna krem. Rambut putih wanita itu digulung rapi, dengan tampilan dilengkapi kacamata berbingkai emas.


Tak ada yang istimewa pagi ini. Semua sama, ada Nurma yang menemani Sundari dengan setia. Namun ketidakhadiran Tiara di meja makan membuat hati Prabu terasa kosong.


Baru ia sadari, betapa pelayan itu telah membuatnya jatuh hati hingga kepergian Tiara tanpa kabar membuat hatinya seperti tertusuk berkali-kali.


Namun, Prabu berusaha tenang. Bukan karena tidak cemas pada sang kekasih, tapi ini harus dilakukannya demi keselamatan wanita itu. Belum lagi, sebuah kemungkinan jika di rumahnya ada penguntit.


Dalam diam, ia curiga pada semua orang, termasuk Sundari. Sebab ia tahu, meski berada dalam amat renta, kekuasaan di tangan sang nenek sangatlah besar. Wanita berambut putih ini bisa melakukan apa saja, demi keluarga dan perusahaan.


Termasuk menyelamatkan reputasi keluarga, jika mungkin media mengendus sang pewaris memiliki hubungan dengan pelayan. Setidaknya itulah yang dipikirkan Prabu sekarang.


“Eyang baik-baik saja?” tanya Prabu. Ia menyapa sembari mengecup kening Sundari dengan lembut.


Saat ia duduk, seorang pelayan mengangsurkan kopi hitam, juga roti bakar dengan selai stroberi. “Aku mau sup ayam,” kata Prabu, dan langsung diiyakan oleh pelayan. Semangkuk kecil sup terhidang, membuat angannya semakin dikuasai oleh kerinduan pada Tiara.


“Aku baik, dan akan siap mengikuti rapat itu.” Sundari melihat Prabu sekilas. “Oh, iya. Apa mungkin kamu tahu sesuatu?”


“Aku tahu banyak hal, Eyang. Apa contohnya?”


“Tiara. Sejak kemarin pagi dia belum pulang. Sampai semalam nomornya masih aktif, tapi pagi ini tidak bisa dihubungi.”


“Tiara? Benarkah?” Prabu meletakkan sendok, dan menatap neneknya.


Mendengar nama Tiara disebut, ingin rasanya ia melonjak dan berteriak. Akan tetapi, pesan Hadi agar ia bisa mengendalikan diri membuatnya harus tetap waras.


“Ah, iya. Maaf aku lupa, Eyang. Kemarin saat Tiara periksa, Hadi meneleponku. Dia mengabarkan jika Tiara mengalami anemia parah, dan terindikasi anoreksia. Dia harus istirahat total, jadi kusuruh dia pulang ke kampungnya.”


Sundari mengernyit, dan menatap Prabu. “Anemia? Anoreksia parah? Tapi kenapa Hadi tidak menghubungiku? Bukankah Tiara justru harus dirawat secara intens karena penyakit itu? Kenapa kau menyuruhnya pulang?” Sundari balas mencecar dengan banyak pertanyaan.


Mengetahui jika Sundari akan mengejar sampai mendapatkan jawaban logis, Prabu berpikir lebih cermat sekarang. “Begini, Eyang. Belum lama ini Tiara baru saja kembali dari kampungnya selama tiga hari. Mungkin saja, kerinduan pada ibu dan adiknya belum reda, dan dia harus kembali kemari.” Prabu menjeda kalimat dan berpikir sejenak.


“Bisa saja itu membuatnya tertekan, susah tidur. Lalu, kenapa anoreksia? Karena bisa saja Tiara berpikir kalau penyakit itu yang membuatnya lemah dan kurus. Termasuk saat dia muntah di kamar Eyang, demi mendapat perhatian jika dia sakit. Bukankah hanya sakit yang bisa membuatnya beristirahat dan bebas dari semua tugas?”


“Bisa jadi.” Sundari tampak mengangguk-angguk, berusaha mencerna setiap kalimat cucunya.


“Dan kata Hadi, penyakit yang berkaitan dengan mental itu harus disembuhkan dengan pendekatan emosional. Kembali ke kampung dan merawat ibunya akan membuat Tiara jauh lebih sehat dalam waktu cepat.”


***


Rapat dewan direksi tahun ini ditutup dengan Prabu yang menguatkan posisi daham yang ia miliki di level 62%. Jumlah itu termasuk saham gabungan atas nama Sundari, sebagai komisaris utama perusahaan yang bergerak di bidang properti, dan penyokong utama pembangunan infrastruktur di negeri ini. Perusahaan yang kian meroket di dua tahun terakhir lalu menduduki peringkat ketiga, setelah keluarga Gunadi.


Sundari sudah meninggalkan ruang rapat, dan langsung pulang dikawal Nurma serta seorang bodyguard. Sementara kini, Prabu tengah berada di ruangannya bersama Leana. Tadi, ia mengirim pesan pada wanita itu agar mereka berbicara empat mata saja. Dan kini, pemilik kuku dengan cat merah menyala itu menatapnya dengan sorot penuh arti.


“Kamu merindukanku, hm?” Leana bertanya dengan sinis. Sebuah senyum miring tercetak di bibirnya yang merah, serupa warna kuku di tangan. Meski berbalut jas, tetap saja kemolekannya terpampang dan berhasil menggugah pertahanan pria mana saja.


“Kamu pasti sudah tau, kenapa aku memintamu ke sini.” Prabu berusaha tetap tenang.

__ADS_1


“Apa? Bukannya kamu memintaku datang hanya saat kita sama-sama butuh saja?” Leana berkata penuh penekanan, seperti sedang menekankan ingatan Prabu pada kebiasaan yang sering mereka lakukan dulu.


“Ayolah, Leana! Sampai kapan kamu mau menipuku terus menerus?”


“Aku? Menipumu?” Leana tampak tak suka. Di satu sisi, ia merasa curiga jika Lusi sudah membocorkan sesuatu tentang dirinya. Tentang penculikan wanita itu, dan ia sebagai dalang utama karena cemburu.


“Lalu, apa?”


Mendapat tatapan intimidasi, membuat Leana berdiri, dan berniat pergi. “Aku pikir, kamu merindukanku seperti yang kurasakan, Prabu. Tapi ternyata, kamu hanya memanggilku untuk melancarkan tuduhan dan kecurigaan?


" Apa kamu sudah gila?” sentaknya dengan suara lantang. Beruntung ruangan Prabu kedap suara, dan pintunya terkunci rapat.


Usai berkata demikian Leana bergegas menuju pintu dan berniat pergi.


Akan tetapi, Prabu menahan dengan memojokkannya ke tembok. Kedua orang itu bertatapan secara intens, lalu Leana mendaratkan bibir di bibir Prabu.


“Aku bahkan menggabungkan sebagian sahamku agar menjadi milikmu.” Leana berkata setengah mendesah, setelah tautan bibir mereka terlepas.


Ada kerinduan mendalam yang ia rasakan pada Prabu. Ia mendamba sentuhan lebih dati lelaki itu. Satu-satunya orang yang bisa menggiringnya menuju puncak keindahan surga dunia. Selama ini, ia banyak menghabiskan malam dengan banyak pria.


Mulai dari yang lebih kaya, sampai yang lebih tampan atau orang dari negara asing.


Akan tetapi, tetap saja tak ada yang sehebat Prabu. Baik dalam memujanya di atas ranjang, atau memuaskan dalam arti yang ia inginkan. Hal yang kemudian membuatnya terobsesi dan terjebak pada pesona lelaki itu.


Ia juga melakukan apa saja demi menyingkirkan apa pun yang menjadi penghalang, termasuk menculik Lusi di masa lalu.


Leana menatap Prabu penuh hasrat, lalu melepas jas yang ia kenakan. Kemudian, ia melakukan hal yang sama pada Prabu. Setiap gerakannya menuntut, dan memaksa lelaki itu hanyut. Bagaimanapun keahliannya bermain bisa membuat lelaki mana pun takluk.


Prabu terengah, dan membiarkan Leana jatuh di dadanya. Lalu, dengan perasaan campur aduk ia berkata, “Kembalikan Tiara padaku, Leana. Apa kamu tau kehilangan dia sehari saja membuatku ingin mati? Aku sangat mencintainya, dan aku akan mati kalau Tiara tidak ditemukan.”


Leana memejam, saat mendengar kalimat itu. Meski sekarang ia masih berusaha menenangkan diri dari hantaman gelombang indah yang baru saja menyerang, tapi tetap saja kalimat itu menyakitinya. Bagaimana bisa Prabu meminta kehidupan wanita lain, sedangkan tubuh mereka belum terpisah dan masih menyatu?


Ingin rasanya Leana menepis dan melupakan semua kata-kata itu. Akan tetapi, Prabu yang berkata mencintai Tiara membuat satu hantaman mengenai jantungnya. Kenapa Prabu tak pernah melihatnya?


Kenapa lelaki ini tak pernah bisa mencintainya? Sementara ia sudah memberikan apa saja, termasuk menemani malam-malam Prabu terdahulu yang sepi?


“Aku mencintainya, Leana. Meskipun kamu membunuh Tiara, demi mendapatkan aku, semua tidak akan mengubah apa pun. Aku akan tetap mencintainya, sampai mati. Dan kuharap kamu tau itu.”


Leana menarik napas dalam, lalu menarik diri, yang tadi menempel rapat di tubuh Prabu. “Apa kamu berpikir aku sejahat itu, Prabu? Kenapa kamu tidak pernah merasa kalo aku cinta sama kamu lebih dari apa pun?”


“Seperti cintamu padaku yang tidak bisa hilang, cintaku pun sama, Leana. Tidak akan bisa kamu paksakan, sampai kapan pun.”


“Prabu—“


“Lepaskan aki, dan mari memulai hidup dengan baik.”


“Tidak, aku tidak bisa! Aku tidak mau!”


“Kalau begitu ... kembalikan Tiara, dan aku akan berusaha mencintaimu.”

__ADS_1


Leana berpikir sejenak. “Apa kamu bersungguh-sungguh?” tanyanya penuh harap.


“Akan kubuktikan.” Kemudian, dengan satu gerakan cepat Prabu membalik posisi mereka, tanpa melepaskan diri yang masih menyatu.


Jika dulu ia melakukan hak ini demi perusahaan, maka sekarang semua rela dilakukannya demi Tiara.


***


“Bagaimana kamu bisa lepas dari mereka?” tanya Alex, saat Lusi memasang sabuk pengaman.


Sesuai janji, hari ini Lusi bertekat melarikan diri dari Prabu. Bagaimanapun, banyak hal yang akan membuat pria itu melupakannya. Kabar dari Alex soal rapat dewan direksi, juga kesibukan mencari Tiara.


“Ini.” Lusi membuka kantong yang ia bawa, dan menunjukkan pada Alex.


“Roti?” Pria itu mengernyit tak paham.


“Aku pandai dalam membuat roti. Kata Prabu, tidak ada yang seenak buatanku.” Lusi menjawab dengan tatapan menerawang. Ia tak sadar, jika kalimatnya membuat sesuatu dalam dada Alex bergemuruh.


“Benarkah?” Suara Alex terdengar meremehkan. Ia sangat benci saat Lusi menyebut nama Prabu.


“Ya. Lalu, kutambahkan beberapa obat yang semalam kuminta, untuk kuberikan pada mereka.” Lusi menoleh pada Alex dan berkata, “soal rasa, kami bisa mencobanya kalau penasaran.”


Alex tertawa. “Dan aku akan tidur seperti mereka?”


“Setidaknya, aku tidak akan membuatmu tidur sekarang. Karena sesuai kesepakatan, kita akan mencari dan membawa Tiara kepada Prabu.”


Lusi terdiam sesaat, seakan-akan menikmati kepedihan dalam dadanya. Betapa membuat orang yang dicintai itu demikian menyakitkan, sampai harus menggadaikan apa pun termasuk tubuh dan hidupnya pada Alex. Lelaki yang pernah melecehkannya seperti binatang.


Ia masih ingat, bagaimana tangisnya pecah saat Alex mengoyak dirinya dengan brutal. Lelaki itu tak memberinya jeda, dan terus memaksakan diri. Menyisakan sakit berkepanjangan di batunnya, meski semua telah lama berlalu.


Namun, siapa sangka ia justru akan terjebak pada lelaki ini? Meskipun demikian, tekadnya sudah bulat. Prabu harus bahagia, bagaimanapun caranya. Dan ia rela jika harus menjadi jembatan di jurang terjal, yang akan menjatuhkannya kapan saja.


“Baiklah. Kita jalan sekarang. Aku sudah menemukan titik terakhir Tiara berada. Nanti kita telusuri tempat itu, sambil menunggu kabar dari anak buah Leana yang lain.”


Menahan hati yang bergemuruh, Lusi memberanikan diri mengukurkan tangan, dan menggenggam jemari Alex yang tengah menggenggam persneling. “Aku percaya padamu, Alex. Tolong jangan kecewakan aku.”


Alex menoleh, saat merasakan hangat menyusup di tangannya. Tangan lembut itu menggenggamnya, meski terasa sedikit gemetar. Ia menyukai sensasi itu. Lalu, ia menepikan kendaraan dengan tergesa, melepas sabuk pengaman, dan mengobrak-abrik bibir Lusi dengan penuh hasrat. Bahkan, Alex tak pernah sedalam ini terhadap wanita.


Lusi tak menolak. Namun, didorongnya pelan dada kekar Alex. “Jangan buang waktu, atau Leana akan menemukan kita.”


Satu kalimat itu berhasil membuat Alex menarik diri, lalu memacu mobil yang mereka. Namun, lagi-lagi lelaki itu menoleh, saat penciumannya menangkap aroma gurih mentega.


“Makanlah dulu. Ini aman, dan sengaja kubuat sebagai bekal kita di perjalanan.”


Alex tak menolak, dan menggigit roti lembut yang disuapkan Lusi. Kemudian, ia merasa matanya berembun, saat makanan itu menyentuh lidahnya. Rasa itu seperti melemparnya ke masa kecil. Saat sang ibunda membuat roti yang sama.


***


Bersambung ....

__ADS_1


Slow update-nya kuganti part oanjang, yaaa. Please jangan tanya-tanya lagi. Lagi kurang sehat, plus banyak kerjaan duta.


Btw, ada yang setuju nggak kalau Alex-Lusi kita buatkan side story? Mari voting di kolom komentar! Cerita mereka kuposting di sini sesuai suara terbanyak. 🤩


__ADS_2