Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
40. Kesepakatan


__ADS_3

Tiara yang sejak tadi duduk di tepi kasur perlahan bangkit, saat mendengar kunci pintu kamar dibuka dari luar. Kemudian, tampak olehnya seorang lelaki berbadan besar masuk, dengan keranjang berisi aneka buah dan dus berlogo sebuah restoran.


Sebenarnya Tiara sangat lapar. Akan tetapi, lebih baik baginya menghindari makanan itu, sanksi jika ditambahkan sesuatu yang membahayakan bayinya. Maka sejak sore tadi, ia lebih memilih mengisi perut dan menghilangkan dahaga dengan meminum air keran yang terdapat di kamar mandi. Setidaknya, ia memiliki cukup tenaga, dan tidak begitu lemas.


Tiara merasa aneh, sekaligus ketakutan. Siapa gerangan penculik yang memperlakukan sandera dengan demikian baik? Namun, tak urung hatinya didekap ketakutan. Bukankah mereka yang berniat menghabisi tawanan akan menjamu dengan baik lebih dulu?


“T—tunggu, Tuan!” Tiara maju selangkah, saat pria berbadan kekar itu hendak meninggalkan kamar.


Lelaki itu berbalik dan bertanya, “Ada apa, Nona?”


“Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Maksudku, kalau kalian menculikku untuk mendapatkan tebusan, maka percuma. Aku bukan siap-siapa.” Tiara mendekat, berusaha membangun komunikasi.


“Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah, dan tidak boleh menjawab apa pun.”


“Tapi kenapa? Bukankah sebelum bekerja kalian harus mengetahui apa pekerjaan kalian? Bagaimana kalai kalian salah sasaran?” Tiara kian mendekati laki-laki itu. “Maksudku, bagaimana kalau target kalian hanya orang kaya yang mirip aku?”


Menahan gejolak dalam dada, Tiara terus menahan diri. Ia berbicara sehalus mungkin, padahal dalam hati berdebar kencang. Sesekali matanya melirik pintu, berusaha menjangkau tempat itu secepat mungkin.


Lelaki itu berbalik, membuat posisinya terpisah jarak beberapa meter dari Tiara. “Sekali lagi, kami hanya menjalankan perintah. Oh, iya. Semua keperluan Nona ada di lemari itu.” Pria berkaus hitam menunjuk lemari besar di sisi lain kamar.


Pada saat bersamaan, Tiara menghimpun tenaga dan berlari menuju pintu. Segera dikuncinya dari luar, sehingga pria yang tadi terjebak di dalam dan menggedor dibarengi teriakan menggelegar. Namun, suara itu teredam oleh tembok dan pintu yang kokoh.


Untuk beberapa detik Tiara tertegun melihat interior ruangan tempatnya berdiri. Sebuah bangunan megah, yang menempatkan dirinya di lantai dua, dan terasa amat sangat kecil.


Namun, Tiara tak punya waktu untuk mengagumi semua yang ada di hadapan. Gegas ia berlari, menuju tangga yang ada di samping kanan. Tanpa sadat, Tiara berlari menuruni tangga,, lalu terhenti saat perut bagian bawahnya terasa kaku, seperti kram.


“Ah!” Tiara berpegangan pada besi pembatas tangga, sambil menggigit bibir. Sementara itu, satu tangannya meremas perut yang terasa semakin sakit.


Butuh sekitar dua detik, sampai Tiara kembali menegakkan badan. Mengabaikan rasa sakit, ia kembali mengayun kaki mencari pintu keluar. Langkah Tiara terasa tak berarti, karena ruangan yang begitu luas bak istana.


Saat melintasi ruangan luas dengan pencahayaan redup, ia mendapati sebuah foto keluarga berukuran raksasa. Sebenarnya, rasa penasaran membuat ia ingin berbalik. Namun urung, karena ia mendekar derap kaki.


Setibanya di pintu utama yang terletak di lantai satu, berkali-kali Tiara coba membuka, tapi gagal. Terkunci. Sampai kemudian pintu terbuka dari luar, menampilkan sesosok pria bertubuh tinggi.


“S--siapa?” Mata Tiara membulat, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mundur selangkah, lalu merasakan tubuhnya ditangkap dari belakang.


“Apa kalian memperlakukannya dengan kurang ajar? Kenapa dia sampai lari?” Lelaki itu berkata dengan suara menggelegar. Tiara bahkan sampai berjingkat karena ketakutan.


**

__ADS_1


“Ah, sialan!” Prabu mengumpat.


Setelah beberapa jam berkendara, akhirnya ia sampai di deretan vila megah di kaki Gunung Salak, Bogor. Udara menusuk kulit, saat ia turun dari mobil, dan merangsek masuk ke vila yang sepi. Kediaman megah milik keluarga Gunadi, ayah Leana. Akan tetapi, tempat itu kosong. Ia terkecoh.


“Mereka mungkin kehilangan sinyal.” Hadi turun berdiri di sisi mobil, dan mengguncang-guncang ponselnya di udara.


Melihat Hadi, Prabu mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu mendapati benda itu juga tak mampu menangkap jaringan seluler. Sekali lagi, ia mengumpat sembari mengacak rambut.


“Lo kasih tau orang-orang lo buat mencar. Gue yakin, Tiara di bawa ke sekitar sini. Dan kita balik ke Jakarta. Yang paling penting, lo harus tenang dulu, tunjukkan kalo nggak ada apa-apa yang terjadi.” Hadi mendekati Prabu.


“Gimana gue bisa tenang? Sebentar lagi pagi, dan Tiara belum ketemu! Gue bahkan belum tau nasib anak gue sekarang gimana, dan Tiara diapain!”


“Itu tujuan mereka!” Hadi menghardik tak kalah keras. Dicengkeramnya leher Prabu, dan berkata, “mereka mau lo hancur! Dan kalo lo kepancing kayak gini, itu artinya mereka berhasil! Mereka akan ngabisin Tiara, dan di saat yang sama lo habis. Ngerti?”


“Lo gampang ngomong gitu, karena lo nggak ad adi posisi gue! Coba kalo anak sama bini lo yang mereka culik! Masih bisa bilang tenang?”


“Lo pernah kehilangan sekali, Prabu! Dan waktu itu lo nggak bisa dapetin Lusi kembali karena lo panik dan hancur. Kalo lo mau itu terulang lagi, silakan! Dan gue pastikan, lo nggak akan bisa nemuin Tiara!” Hadi menyentak cengkeramannya, membuat Prabu sedikit terhuyung.


Prabu bersandar ke mobil, setelah melayangkan tinju ke sisi pintu. Meskipun ia tidak bisa menganggap semua baik-baik saja, tapi Hadi ada benarnya. Ia harus tetap tenang, dan memutus prasangka. Tidak boleh panik, sampai lupa mengatur siasat dengan baik.


“Biarkan orang-orang lo, sama intel itu bekerja. Jangan menampakkan kalo lo lagi panik.”


Hening beberapa saat, setelah Hadi berkata demikian. Sementara itu, Prabu masih tampak menimbang. Dilihatnya sekali lagi vila megah di hadapan, yang berdiri senyap dan gelap. Dua kali orang kepercayaannya menyisir tempat tersebut, tapi nihil. Tak ada Tiara atau siapa pun. Bagian dalam ruangan yang berdebu menjadi tanda jika tempat itu telah lama kosong.


**


Pagi menyapa. Lusi yang tak tidur sejak semalam tampak telah siap dengan pakaian olahraganya. Sedikit lebih longgar membalut tubuh, karena kini ia lebih kurus sejak terakhir kali. Sekali lagi ia memandang tampilan diri di cermin. Wajah pucat, mata sembab karena menangis nyaris sepanjang malam.


Saat keluar dari kamar, tampak pelayan yang diutus Prabu sudah menyiapkan segelas jus, juga roti sebagai sarapan. Sementara itu, pengawal yang semalam menemani tengah menonton televisi di sofa ruang tamu.


“Nona mau berangkat sekarang?” tanya si Pengawal.


“Iya. Kamu mau menemaniku lagi?” Lusi menawarkan. “Kamu bisa menunggu selama aku ikut kelas. Atau kalau mau, bisa ikut training juga.”


Lusi meletakkan tas yang dibawanya dari kamar, dan duduk menikmati sarapannya. Meneguk jus perlahan, berusaha tampak tenang. Sementara dalam hati berdebar luar biasa, karena lelaki yang dihubunginya semalam telah menunggu di pusat kebugaran.


Tak lama, Lusi keluar diikuti sang pengawal. Lelaki itu langsung duduk di kursi, sedangkan Lusi menuju ruangan yang lain. Meski setiap langkahnya teramat berat, tapi Lusi memantapkan hati. Semua rencana harus berjalan, dan setiap kisah Prabu harus berakhir bahagia.


“Kupikir kamu tidak akan datang.” Seorang berbadan kekar menyambut, saat Lusi baru saja menjejakkan kaki di dinding kaca.

__ADS_1


Untuk sejenak, angannya melayang ke mana-mana. Membuat ketakutan kian menyergap, terlebih saat bayangan pemerkosaan terhadap dirinya terjadi. Laki-laki itu pelakunya, tempat ia akan menyerahkan diri seumur hidup.


Meski luka hati yang tak pernah sembuh itu kembali berdarah, tapi Lusi memberanikan diri. Ditatapnya pria bermata tajam itu seakan-akan rasa gentar tak ada dalam dirinya. Meski sebenarnya memiliki gurat ketampanan, tetap saja bagi Lusi pria itu mengerikan.


“Apa kamu pikir aku akan semudah itu ingkar janji?” Lusi menyahut pelan, berusaha tetap tenang.


Wanita itu kemudian meletakkan tas ke lantai, dan menghampiri pria yang bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana pendek, seakan-akan menunjukkan tubuh berotot miliknya, yang berhias keringat usai melakukan olah tubuh.


“Jadi, kamu sepakat dengan syaratku?” Diraihnya dagu Lusi, agar wanita itu menengadah. Lalu, ia melihat anggukan dari pemilik wajah nan cantik.


“Lalu, apa kamu akan menjamin akan menemukan pelayan itu?” Lusi memastikan. Bagaimanapun, lelaki di hadapannya ini berbahaya, dan bisa ingkar janji kapan saja.


“Lalu kamu akan datang kapan saja saat aku butuhkan?”


Lusi tersenyum dan mengangguk, meski dalam hati merasakan hantaman tak terkira. Menguarkan sakit yang membuatnya nyaris tak mampu bernapas.


Melihat senyuman itu, lelaki itu semakin mendekatkan wajah. Diembuskannya napas, menerpa wajah Lusi yang berjarak kurang dari lima senti dari wajahnya. “Aku akan mencari tau dengan bantuan anak buah Leana yang lain. Dan kupastikan memberimu kabar kurang dari tiga hari.”


“Baik. Aku percaya padamu. Maka, jangan berusaha menipuku. Atau Leana akan menghabisimu karena berkhianat.”


“Kamu meremehkanku?”


Lusi tersenyum lagi. “Aku hanya ingin memastikan, bahwa saat ini sedang menukar tubuhku dengan sesuatu yang pasti, bukan sia-sia.”


Lelaki itu melepaskan Lusi, lalu menuju tas yang teronggok di lantai. Lusi mengikuti, lalu duduk begitu saja, di dekatnya.


“Pakai ini. Kirimkan semua data dan wajah pelayan itu ke sini. Sementara aku akan mulai bergerak dari sekarang.”


Usai menyerahkan ponsel pada Lusi, lelaki itu berpakaian. Tampaknya, ia berniat pergi demi memenuhi ucapannya tadi. Saat ia berbalik, kalimat Lusi menghentikan langkahnya.


“Berada di sekitar Leana dan membuatmu hidup tidak berarti, apa kamu tidak lelah, Alex?” Lusi berkata pelan, sembari menatap pria dengan bekas luka di pipi itu.


“Maksudmu?” Pria itu menatap tajam.


Lusi menelan ludah dengan susah payah. Dipandang sedemikian rupa, membuat matanya berkaca-kaca. Benarkah ia sanggup akan menghabiskan hidup dengan orang itu?


“Tidak bisakah kita mengawali semuanya dengan baik? Maksudku ... apa aku tidak boleh menginginkan hubungan di antara kita, dan harus siap jadi jalangmu saja?”


Alex tersenyum sinis dengan sebelah bibirnya, lalu keluar begitu saja. Meninggalkan Lusi yang tergugu di dalam sana, meratapi nasib yang sama sekali tak berpihak.

__ADS_1


**


Bersambung ....


__ADS_2