
Prabu terjaga dari tidur, kala bias mentari masuk melalui dinding kaca. Seperti duli, tirai yang menjadi pembatas itu dibuka setengah, dan menyebarkan terang ke seluruh ruangan. Prabu memijat pangkal hidung, lalu berusaha membuka mata. Ia masih tidur dengan pakaian kerja lengkap, yang kusut di sana-sini. Bahkan, kaus kaki pun masih melekat di tempatnya.
Prabu menyibak selimut, tak ada lagi Lusi di sampingnya. Ia lantas beranjak ke kamar mandi, setelah mengganti kaus kaki dengan sandal. Usai membasuh wajah dan menyikat gigi, ia keluar, dan mendapati jam yang sudah menunjukkan angka sembilan. Dalam setahun belakangan, ia bahkan lupa, kapan terakhir kali merasakan tidur begitu damai, hingga lelap sampai sesiang ini.
Prabu keluar kamar, dan mendapati Lusi sedang sibuk di dapur. Wanita itu menggulung rambutnya, membentuk cepol di atas kepala. Seutas tali apron menghias tengkuk, dan pinggang. Sementara itu, tangannya sibuk mengaduk sesuatu dari dalam panci yang mengepulkan asap.
Prabu mendekat, dan memeluk wanitanya. Tak lupa menjejakkan kecupan di bahu, juga pipi yang telah menguarkan wangi. Aroma manis yang sejak dulu ia sukai, hingga hanyut bak menenggak sari kepayang.
“Kamu sudah bangun?” Lusi tetap dengan aktivitasnya.
“Kamu dapat dari mana bahan-bahan ini?” Prabu berbicara, sembari menumpu dagu di bahu Lusi.
“Aku terbangun dini hari, dan tidak bisa tidur lagi. Makanya aku bangun, dan memutuskan belanja. Kamu harus sarapan sebelum ke kantor.”
Prabu mengeratkan dekapannya. Pinggang itu terasa makin tipis saja, sebab terakhir kali ia memeluk Lusi, saat wanita itu mengandung empat bulan, dan berat badan yang mulai naik signifikan.
Mengingat itu, lagi-lagi berbagai tanya menari-nari dalam benaknya. Ke mana Lusi selama ini? Mengapa dia pergi, dan tak memberi kabar sama sekali? Juga ... apa yang terjadi, sampai Lusi kehilangan buah cinta mereka?
Namun, lagi-lagi Prabu menelan semua tanya. Lebih baik baginya menunggu, tak ingin memaksa Lusi menceritakan hal yang mungkin menyakitkan. Sebab, ia tidak bisa menebak, apakah selama menjauh Lusi bahagia, atau justru berkubang dalam luka.
Itu sebabnya, sepanjang malam tadi mereka hanya bungkam, dan larut dalam pikiran masing-masing. Saling memeluk satu sama lain hingga pagi, tanpa hasrat, pun tanpa percakapan berarti. Lalu tertidur dengan tangan saling menggenggam, seperti dua orang yang lelah sehabis menempuh perjalanan jauh.
“Kamu mandilah dulu. Ada kemeja yang sudah kusiapkan. Mungkin baunya agak aneh karena lama ditumpuk dalam lemari. Tapi, akan lebih baik daripada kemejamu yang sekarang.” Lusi berkata, sembari menyendok sedikit kuah. Mencicipi sedikit, lalu mematikan kompor.
“Aku mau di sini saja hari ini.”
Lusi melepas dekapan di pinggangnya, dan berbalik. “Bukankah ini akhir tahun, dan kamu sibuk?”
“Bertahun-tahun aku sibuk, dan sekarang kamu menyurihku pergi saat aku mau libur sehari saja?” Prabu bersedekap, menatap wanita di hadapan..
__ADS_1
“Bukan begitu. Aku cuma—“
“Apa masakannya sudah selesai?” Prabu melihat ke arah kompor. “Aku lapar.”
“Mandi duli, dan ganti bajumu!” Lusi memberi perintah kali ini, lalu berjalan ke arah meja makan yang hanya terdiri dari dua kursi. Dirapikannya sebentar, lalu menata alas piring yang tersimpan rapi di lemari.
Prabu menurut, lalu kembali ke kamar. Ia mandi dengan cepat, lalu memakai kemeja yang disiapkan Lusi di tepi ranjang. Saat akan memakai jam tangan, ia melihat ponselnya dalam keadaan mati kehabisan daya. Lalu, diraihnya benda itu dan memasukkannya ke kantong celana.
Prabu kembali ke ruang makan, dan melihat dua mangkuk sup telah tersaji di sana. Ada juga beberapa telur rebus, aneka buah tertata dalam keranjang plastik berwarna merah jambu.
Sementara itu, Lusi tengah meletakkan dua buah gelas di sana. Satu berisi air putih, sedangkan yang lain berisi cairan kuning. Mungkin jus mangga, atau jus jeruk. Ia lalu menarik sebuah kursi, dan tersenyum pada Prabu yang melakukan hal sama.
Duduk berhadapan seperti sekarang, seolah-olah menyeretnya pada hidup di masa lalu. Saat hidupnya amat bahagia, bersama Prabu juga berbagai rancangan masa depan. Sebelum Leana datang, dan mengacaukan semua impian, lalu membenamkannya dalam duka mendalam.
“Pakai ini untuk sementara waktu. Kamu mungkin butuh banyak hal.” Prabu mengeluarkan sebuah kartu dari dompet dan menyodorkannya ke arah Lusi.
“Tidak perlu, aku punya cukup—“
Lusi terdiam, menatap kartu berwarna hitam di meja. Hatinya menghangat, menggiring berkaca-kaca di pelupuk mata. Andai saja ia bisa bercerita, jika saat ini di tangannya tengah terpasang rantai. Andai saja Leana tidak mengancam akan menghancurkan Prabu, andai saja.
Dengan cepat, ia menyeka mata, agar tak terlihat boleh Prabu. Lelaki itu tampak menghirup sup di hadapan, lalu tampak berpikir.
Prabu menatap sup di hadapan, yang mengepulkan aroma lezat. Potongan daging ayam bercampur brokoli, buncis dan wortel sangat menggugah selera. Setelah beberapa waktu terpisah, Lusi masih mengingat makanan favoritnya. Lebih tepatnya, semua masakan wanita itu adalah makanan kesukaannya.
Dengan penuh semangat dan kerinduan, Prabu menyuapkan sesendok sup ke mulut. Namun, kemudian ingatannya seperti dilempar ke suatu pagi, saat orang lain menyajikan sup dengan rasa yang sama. Sup tanpa garam, dengan aroma kaldu sayuran.
Keningnya mengernyit, sedangkan lidah mulai mencecap rasa gurih. Detik kemudian, Prabu sadar jika ada yang salah. Bukan soal kerinduan, tapi ada sesuatu di rumah yang mungkin menunggunya sekarang. Maka, di saat yang sama, ia merasa ditampar kenyataan, bahwa hidup tak melulu tentang euforia masa lalu.
“Kenapa? Apa supnya tidak enak?” tanya Lusi. Ia cemas, saat tampak olehnya raut wajah Prabu berubah sekarang. “Aku pikir, kamu masih suka sup ayam. Tapi, aku membuatnya sedikit berbeda. Dengan menumis sayurannya lebih duku, laku memasukkannya ke dalam kuah kaldu. Jadi, meskipun tanpa garam dan bumbu, akan tetap terasa enak.”
__ADS_1
Lusi menjelaskan.
Sementara itu, Prabu tampak berpikir. Sendok yang dipegangnya melayang di udara, urung menyuapkan sup yang mulai dingin. Kalimat Lusi, sama dengan apa yang pernah ia dengar sebelumnya.
“Prabu, kenapa?”
“Ah ... tidak.” Prabu meletakkan sendoknya kembali, lalu menatap Lusi. “Aku harus pulang. Aku lupa ada sesuatu yang harus kukerjakan di rumah.”
Lusi menghela napas, dan mengangguk. “Apa ini soal Eyang?”
Prabu hanya menggumam pelan, lalu bangkit diikuti Lusi. Lelaki itu menuju ruang tamu, dan menyambar kunci mobil yang ada di dekat sofa.
“Aku segera kembali. Jangan ke mana-mana sampai aku datang, jangan buka pintu untuk siapa pun. Jaga dirimu.”
Lusi mengangguk, lalu mengantar Prabu sampai di pintu. Tampak olehnya kode pintu ditekan berkali-kali, mungkin Prabu tengah mengganti kode di sana. Beberapa saat kemudian, tubuhnya meluruh ke lantai, dan menangis sejadi-jadinya.
Bagaimana mungkin ia bisa menghancurkan Prabu, seperti yang diinginkan Leana? Bagaimana bisa ia berpikir membuat Prabu terluka? Lusi bahkan memilih menghancurkan dirinya sendiri, daripada melihat Prabu terluka lagi.
Lusi tergugu, meratapi nasib yang tak berpihak padanya. Jika selama ini ia bertahan saat disekap, bukan karena ingin melihat indahnya dunia. Ia bahkan merasa, urusannya dengan dunia telah selesai, saat Leana memisahkannya dengan Prabu pertama kalo.
Akan tetapi, semangat ingin bertemu Prabu membuat ia bertahan, tak peduli betapa perih siksaan demi siksaan yang ia terima. Ia ingin Prabu tahu, bahwa kepergiannya bukan ingin menjauh, tapi dipaksa menjauh. Penting baginya menjelaskan itu semua, karena satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini adalah Prabu seorang.
Laki-laki yang memberinya kehidupan baru, juga memberi arti. Orang yang senantiasa hadir, dan menjadi keluarga untuknya, wanita sebatang kara.
Namun, melihat kebahagiaan Prabu saat berjumpa dengannya kemarin, justru membuat lukanya semakin sakit terasa. Membayangkan cinta yang begitu besar dan harus dihancurkannya atas perintah Leana, ia tak mampu. Bagaimana bisa ia akan menghancurkan dunianya sendiri?
Namun, ia pulang ke pelukan lelaki itu tanpa punya pilihan lain. Menghancurkan Prabu dari dalam, atau Leana akan menghabisi lelaki itu dalam arti yang sebenarnya. Membayangkan itu, hati Lusi semakin tercabik.
“Apa yang harus aku lakukan, Prabu? Apa yang bisa aku lakukan untuk melindungimu?” Lusi semakin meringkuk, tenggelam dalam tangis sambila memeluk lututnya.
__ADS_1
***
Bersambung ....