Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda
32. Sebuah Keinginan


__ADS_3

Sundari masih menunggu kedatangan Tiara. Suara kepayahan tak terdengar lagi dari dalam kamar mandi, dan ia berharap pelayannya itu baik-baik saja. Setelah ini, ia akan meminta seseorang mengantarkan Tiara ke dokter.


Saat tengah menunggu itulah, pintu kamarnya terbuka, dan memunculkan Prabu yang masuk dengan langkah perlahan. Disambutnya dengan senyuman, saat cucunya itu melabuhkan kecupan di kening. Hal manis yang selalu Prabu lakukan kala menyapanya pertama kali.


“Bagaimana kabar Eyang hari ini?” Prabu duduk di handle sofa, tepat di belakang Sundari. Pria itu meletakkan tangan di bahu neneknya, dan memberi pijatan lembut.


“Aku baik. Kamu sendiri, kenapa baru pulang dan tidak memberi kabar? Apa ada pekerjaan penting yang mengharuskanmu keluar kota?”


Prabu tersenyum, dan duduk di sisi Sundari. “Hanya sedikit masalah di kantor cabang. Eyang tidak perlu khawatir.”


“Aku lebih khawatir pada kesehatanmu, apa kau tau?” Sundari mengunyah supnya perlahan. “Mungkin minggu depan aku akan ke kantor, dan kita adakan rapat dewan direksi. Rasanya, kamu butuh tim hebat untuk perusahaan, supaya tidak terkesan bekerja sendiri.”


“Tidak perlu, Eyang. Aku masih bisa—“


“Orang-orang di sekitarmu seperti tidak ada gunanya, jika kamu masih sibuk sendiri.”


Sundari memutuskan, khas seorang direktur yang tak bisa dibantah. Bagaimanapun, pesonanya sebagai penguasa masih tampak di usianya yang semakin senja. Bahkan, dalam keadaan sakit pun, ide-idenya mampu mendongkrak produksi perusahaan, dan membuat bisnis keluarga itu melambung di antara bisnis serupa.


Prabu hanya mengangguk pelan. Mengiyakan keinginan Sundari adalah yang terbaik sekarang. Sebab, tak mungkin baginya berterus terang, jika ketidakpulangannya bukan karena bekerja, tapi demi Lusi. Wanita dari masa lalu yang hadir kembali, saat ia telah berusaha bangkit dan melupakan.


Tak peduli betapa Lusi telah menghempaskannya pada jurang luka terdalam, antara dirinya dan Lusi tidaklah pernah usai. Bagaimanapun, wanita itu adalah satu-satunya yang pernah memberinya cinta juga harapan tentang keluarga. Tentang dia yang siap menjadi seorang ayah, lalu semua impian itu musnah.


“Oh, iya. Eyang sedang makan berdua dengan siapa?” Prabu melihat ke arah piring berisi fillet ikan kakap, juga beberapa potong labu.


“Oh, iya. Sepertinya Tiara tidak sehat belakangan ini. Suruh Sapto atau Arman mengantarnya periksa ke rumah sakit atau klinik.”


“Tiara?” Kening Prabu mengernyit. “Memangnya dia kenapa?”


“Entah. Tapi, sekarang dia sedang muntah di kamar mandi. Mungkin kurang istirahat, atau lagi-lagi melewatkan waktu makan.”


Prabu terdiam sebentar, berusaha mencerna kalimat Sundari. Ia menerka-nerka, apa kiranya yang terjadi pada Tiara. Sebab sejak beberapa hari sebelum cuti, gadis itu memang sudah tampak tak begitu sehat.


Sementara itu, Tiara yang tengah berada dalam kamar mandi membasuh wajah, dan menatap tampilannya dari cermin berbentuk oval. Dirabanya sekitaran pipi yang lebih tirus, juga lingkaran hitam di sekitar mata, sebagai tanda istirahatnya tak pernah cukup.


Tiara mendesah pelan. Bagaimana ia akan tidur nyenyak, jika sampai kini Prabu tak jua muncul, dan tak berkabar sama sekali?

__ADS_1


Tiara segera memperbaiki tatanan rambutnya, dan bergegas keluar. Membuat Sundari menunggu terlalu lama, ia merasa tak enak.


“Mungkin Tiara punya penyakit maag. Melewatkan makan dan kurang istirahat, penyakit itu bisa kambuh, kan? Belum lagi, kesibukannya membuat aneka kue belakangan ini. Dia tidak pernah menggunakan waktu istirahat dengan baik. Saat orang lain tidur, dia malah membuat roti.” Sundari menambahkan, sedangkan Prabu masih meyimak.


Pada saat Sundari menghentikan ucapannya, muncul Tiara dari dalam kamar mandi, dengan langkah gontai dan memegangi perut. Seketika itu pula Sundari menoleh, dan melihat keadaan Tiara yang sedikit kacau, demikian pula Prabu.


Menyadari siapa yang ada dalam kamar, Tiara membungkuk dan memberi hormat. Sebisa mungkin ia menghindari tatap tajam pria di hadapan, karena takut lagi-lagi menelan kecewa. Harapan lelaki itu akan menyambut dengan pelukan sirna, apa lagi yang bisa ia impikan?


Sementara itu, dalam hati Prabu membenarkan kalimat neneknya. Tiara memang sedikit pucat, dan tampak tak seceria biasanya. Saat itu juga, Prabu sadar, jika mungkin ada yang terjadi. Rasa bersalah muncul dalam dada, karena telah mengabaikan wanita yang banyak mengirimkan pesan kerinduan padanya, tanpa balasan.


“Apa perlu ke dokter? Biar Sapto atau Arman mengantarmu.” Sundari menatap Tiara.


“Ah, tidak perlu, Nyonya. Saya hanya butuh minyak kayu putih.” Tiara berkata dengan nada canggung, dan kepala tertunduk.


“Kalau begitu, istirahatlah. Biar Nurma yang menjagaku. Sudah kubilang, kan, kamu capek setelah perjalanan jauh? Kutawarkan istirahat, tapi malah memaksa bekerja dan melewatkan jam makan.”


“Maafkan saya, Nyonya.” Tiara berkata dengan suara lemah.


“Istirahatlah sampai pulih. Jangan sampai sakit, karena aku tidak suka berjemur dengan orang lain.” Sundari mengalihkan tatapan keluar, sembari menghela napas panjang. Sementara Prabu hanya bungkam, memindai Tiara dari ujung kaki hingga kepala.


Tiara mengangkat wajah. “Tapi, Nyonya—“


Mau tak mau, Tiara mengangguk dan meninggalkan kamar itu, setelah meminta maaf sekali lagi. Segera ia menuju kamar, mengganti pakaian dengan daster, dan membaluri tubuh dengan minyak kayu putih.


Ia lantas berbaring, dan mengoleskan balsem ke sekitar hidung. Cara ampuh mengusir mual, yang sejak tadi membuat perutnya bergejolak. Dan benar saja, ia berhasil lebih tenang dan nyaman.


Baru saja Tiara merasa melayang dan akan tunduk pada buai mimpi, saat merasa tempat tidurnya bergoyang. Sekejap kemudian, ia merasa ada tangan yang melingkari pinggangnya, juga beberapa kecupan di tengkuk.


“Apa kamu baik-baik saja?”


Kantuk yang tadi mendera, mendadak sirna. Tiara merasa sekujur tubuhnya membeku, seiring dekapan yang semakin erat. Ia juga merasa tak sendirian lagi di balik selimut.


“Maafkan aku yang pulang terlambat.”


Tanpa aba-aba, air mata Tiara menetes. Kecewa dan sesak yang sempat melanda mendadak menguap bersama angin. Ada lega yang menyusup, diiringi rasa nyaman. Ia butuh pelukan ini, pun kata maaf yang membuatnya melebur dalam damai.

__ADS_1


Tiara menurut, saat tangan itu membuatnya berbalik. Tanpa mengucap sepatah pun, ia melingkarkan tangan ke pinggang orang yang kini memeluknya dengan erat.


“Apa kamu menungguku?” Prabu mengangkat dagu Tiara, dan memaksa mata mereka bertatapan.


Tiara masih bungkam, dan semakin terisak pelan. Ia lantas menunduk, dan membenamkan kepala pada dada bidang, yang menjadi tempat ternyamannya belakangan ini.


Meski mungkin berlebihan, tapi ia ingin memilik hak atas lelaki ini. Sosok yang telah membuat ia menyerahkan segalanya, juga tergila-gila. Bahkan, sampai detik ini, Tiara tak paham, mengapa dekapan Prabu begitu nyaman. Pun tak mengerti, mengapa hanya dengan melihat Prabu saja, rasanya seperti ada bagian kosong dalam hidupnya yang kembali terisi.


Akan tetapi, dalam pelukan sang tuan, ia bahkan tak peduli lagi dengan apa yang sedang terjadi, dan rela jika harus tenggelam dalam pelukan itu selamanya.


"Aku merindukanmu, Tiara. Sangat merindukanmu."


Prabu mengusap punggung wanita yang kini meringkik di dadanya. Ia merasa matanya begitu panas, membayangkan betapa rapuh hati yang coba ia lukai. Tiara memang tak mengerti, jika Lusi telah kembali. Akan tetapi, kembalinya Lusi membuat ia terjebak dilema.


Prabu mengeratkan pelukan, dan kian merasalah karena memikirkan wanita lain, sedangkan ada Tiara dalam pelukan. Yang pasti, ia harus berpikir dengan cepat. Ada yang harus ia akhiri, karena tak mungkin baginya menggantungkan harap, yang nantinya akan semakin menyakiti.


"Aku merindukanmu," bisiknya lagi..Terasa Tiara hanya mengangguk di dadanya.


Kali ini, ia mengecupi Tiara dengan sayang. Tak ada hasrat di dalam tiap sentuhannya. Sementara, perpaduan aroma minyak kayu putih, telon, dan balsem yang menguar hampir ke seluruh ruangan, tiba-tiba mengingatkannya akan sesuatu di masa lampau. Saat ia berada pada masa paling membahagiakan, beberapa tahun lalu.


Seketika itu juga ia menjauhkan Tiara dari pelukan, dan menatap wanitanya lekat-lekat. Seakan-akan tengah mencari sesuatu, dari wajah cantik yang sedikit pucat. Dengan lembut, dihapusnya jejak basah dari pipi Tiara dengan ujung jari.


"Apa benar kamu tidak apa-apa?" tanyanya memastikan, dan Tiara mengangguk.


"Apa kamu merasa ada yang aneh belakangan ini?" tanyanya lagi, dan Tiara hanya menggeleng tanpa menjawab.


"Apa kamu sering mual saat pagi?" Prabu mengejar dengan tanya, dan kali ini Tiara mengangguk.


"Apa kamu sering menginginkan sesuatu dengan tiba-tiba? Misalnya saja, seperti makanan yang aneh-aneh?"


Kalimatnya membuat Tiara mengernyit. Akan tetapi, itu justru membuat Prabu semakin bersemangat, dan bertanya dengan nada penasaran. Lagi-lagi, Tiara hanya mengangguk, dengan melayangkan tatapan tak peduli.


"Tiara ... apa mungkin kamu ... hamil?"


Sontak mata Tiara membulat. Bagaimana kemungkinan itu tidak ia sadari sama sekali?

__ADS_1


**


Bersambung ....


__ADS_2