
Leana berjalan ke sana-kemari dengan gusar, di hadapan dua anak buahnya. Satu tangan memegang ponsel yang melekat di telinga, sedangkan tangan yang lain menyugar rambut panjangnya dengan gusar.
“Waktumu kurang dari seminggu, untuk membawa pelayan itu padaku! Kenapa menyeret pelayan saja begitu susah kamu lakukan? Apa aku yang harus turun tangan?” kata Leana berapi-api.
Wajahnya mengeras, khas emosi yang meluap. “Aku sudah mengirim banyak uang, dan informasi yang kuterima hanya ini? Lalu, kenapa nenek tua itu bisa jalan lagi? Apa obat yang aku kasih tidak kamu berikan pada suster yang merawat?” Lagi, kalimat Leana menggelegar di ruang kerjanya.
Sementara itu, dua orang anak buahnya berdiri dengan kepala tertunduk, sampai Leana selesai melakukan panggilan. Wanita cantik itu lantas menuju meja, dan bersandarkan pinggul di sana. Memandang satu per satu anak buahnya, dengan tatapan tajam.
“Kamu, awasi terus rumah Prabu. Laporkan siapa saja yang keluar masuk dari sana. Ikuti, dan lihat apa yang mereka lakukan. Jangan sampai lengah, atau kehilangan jejak lagi!”
“Baik, Nona.” Seorang lelaki berjaket jins menyahut.
“Kamu, awasi terus pergerakan saham dan perusahaan Prabu. Siapa-siapa yang dia temui, dan tetap kendalikan situs mereka di bawah pengawasanmu.”
“Sesuai perintahmu, Nona.” Kali ini, pria berdasi itu menyahut. Ada senyum terkembang di bibirnya, mengingat betapa liar wanita di hadapannya ini. Tak hanya dalam hal berpikir menjatuhkan lawan, tapi juga di ranjang.
Saat ketiga orang itu masih berbincang, muncul seorang berkaus hitam dari pintu.
“Kenapa kamu sudah kembali?” tanya Leana diiringi tatapan tajam. Itu adalah orang yang ditugaskannya menakuti Lusi.
“Prabu datang malam ini.” Lelaki itu menjawab tenang. “Kemungkinan akan menginap seperti kemarin malam.”
Leana mengangguk. “Bagus. Buat Lusi terus menempel pada Prabu, lalu kita tarik dia kembali setelah laki-laki itu tergantung sama cinta pertama yang sialan itu!” Leana mengetuk-ngetukkan jemari ke meja.
“Baik. Kalian bisa pergi.” Ruangan itu mendadak sepi, setelah Leana berucap demikian. Kecuali pria berdasi yang tadi, semua orang telah pergi.
Lelaki itu mendekat, lalu mengelus pipi Lusi dengan gerakan sensual. “Apa kamu butuh refreshing, Babe?” tanyanya lembut.
“Kamu memang selalu tau keinginanku.”
**
Tiara merapikan gaun tidur yang melekat di tubuh dan berdiri di sisi jendela yang dibiarkannya terbuka. Malam ini, entah mengapa ia hanya ingin menikmati irama angin yang bertiup sedikit kencang, juga basah karena hujan sejak beberapa jam lalu. Beberapa kali ia melihat ke arah pintu, berharap sang tuan muncul, lalu bertanya kabar.
Namun, hingga jarum jam menunjuk angka tengah malam, sosok yang dinantikannya tak kunjung datang. Ke mana Prabu? Sejak pergi tadi, tak sekali pun lelaki itu mengirimkan pesan. Hingga Tiara merasa, apa benar keberadaannya diinginkan?
Bosan dengan keadaan yang melelahkan, Tiara keluar kamar dan berjalan-jalan di taman. Gaun tidur berbahan satin dengan warna hitam membuat pergerakannya tak begitu terlihat di antara rumpun mawar dan melati yang menguarkan wangi. Dua jenis bunga kesukaan Sundari.
Memilih salah satu bangku di bawah lampu, Tiara duduk. Menepi dari semua hal, dan menikmati embusan angin yang membawa semerbak bunga. Dihirupnya dalam-dalam, seakan-akan tengah mengisi seluruh rongga dada, sebelum memusatkan perhatian pada ponsel yang ia genggam.
__ADS_1
Dengan ragu, ditekannya nama Alia. Ia tahu ini bukan jam wajar untuk menelepon, tapi untuk menunggu esok, Tiara tak bisa. Ia sudah berpikir baik-baik, akan menyampaikan kabar ini pada keluarganya. Tak apa meski kebohongan yang ia sampaikan. Sebab, itu akan lebih baik daripada mereka tahu yang sebenarnya.
“Halo, Kak?” Terdengar suara serak dari ujung telepon.
“Maaf Kakak nelepon kamu malem-malem, Alia.” Tiara berkata pelan, berusaha menyembunyikan debar dalam dada.
“Bentar, Kak. Aku keluar dulu.”
Tiara tahu, jika Alia harus menjauh agar tak mengganggu sang ibu yang telah terlelap. Sebab, biasanya ia memang menelepon jika pekerjaan sudah selesai, atau Sundari telah tidur.
Tiara menghela napas, sambil menunggu adiknya memberi sahutan. “Untuk setahun ke depan, aku nggak bisa pulang, Alia.”
“Kakak kenapa?” Suara Alia terdengar cemas.
“Majikanku akan melakukan pengobatan di luar negeri dalam waktu lama. Jadi, mau nggak mau aku harus ikut. Nggak tau nanti kita masih bisa berhubungan apa nggak. Tapi, aku janji, kamu akan tetep bisa kuliah, dan uang buat kamu aku kirim setiap bulan.”
“Kak ....” Suara Alia bergetar. Tiara tahu, adiknya itu pasti sedang menangis.
Sementara ia sendiri mati-matian menahan agar tangisnya tak terdengar.
“Maafin Alia, Kak. Kalo saja Alia udah lulus dan kerja, pasti Kakak nggak susah sendirian.”
“Ini bukan salah kamu, Alia. Aku janji, kamu akan tetap kuliah sampai selesai. Soal Ibu, nanti aku minta Bibik buat jaga. Soal upah, nanti aku kirim lewat kamu, ya?”
“Nanti aku kabari lagi. Semoga saat itu aku bisa ngabari kamu, ya? Kalaupun aku nggak bisa ngabarin, tolong sampaikan ke Ibu pelan-pelan. Kamu jagain Ibu, hati-hati.”
Tiara mengakhiri panggilan, lalu membekap wajah dengan kedua tangan. Ia terisak di sana, meratapi kebohongan yang baru saja dilakukannya. Ia tak tahu langkah apa yang akan diambil, pun tak tahu harus berbuat apa untuk masa depannya sendiri. Yang pasti, selama mengandung ia tak akan menampakkan diri di kampung halaman.
Jangan tanya betapa hatinya rindu pada ibu dan juga sang adik. Akan tetapi, kondisi ibunya masih belum bisa menerima berita sebesar ini. Ibu mana pun, tentu tak akan visa menerima anak yang hamil di luar nikah. Dan itu cukup membuat Tiara semakin menderita.
“Maafin Tiara, Bu. Maafin Tiara.” Wanita itu terus tergugu, sambil menepuk dada yang terasa sesak.
Bagaimana bisa ia akan memulai hidup baru tanpa mereka semua? Tanpa Alia, tanpa ibu, juga ... Prabu?
Tiara mengusap perutnya. “Apa yang harus mama lakukan, Nak? Apa yang harus mama lakukan untuk melindungi kamu?”
**
Setelah berpamitan pada Sundari dan Nurma, Tiara ke rumah sakit menggunakan ojek online. Keadaannya yang belum membaik, membuat sang majikan memberi izin dengan mudah, juga sejumlah uang. Lagi-lagi, kebaikan Sundari membuat Nurma heran, sebab jumlah yang diterima Tiara tak sedikit. Terlalu berlebihan untuk seorang pelayan yang akan melakukan check-up sederhana.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Sundari dan Nurma, Tiara ke rumah sakit menggunakan ojek online. Keadaannya yang belum membaik, membuat sang majikan memberi izin dengan mudah, juga sejumlah uang. Lagi-lagi, kebaikan Sundari membuat Nurma heran, sebab jumlah yang diterima Tiara tak sedikit. Terlalu berlebihan untuk seorang pelayan yang akan melakukan check-up sederhana.
Sebenarnya Sundari menyarankan ia memakai sopir, tapi Tiara menolak. Lebih baik jika ia pergi sendiri saja. Ia tak ingin mendengar bisik-bisik pelayan lain, karena posisinya yang istimewa.
Sesuai janji kemarin, Hadi menyambut dan menemani Tiara menuju dokter kandungan. Sahabat Prabu itu begitu memperhatikan kehamilan Tiara, sampai kepada hal terkecil sekalipun. Bahkan, selama menunggu hasil tes kesehatan dan yang lain, ia dibolehkan menunggu di ruangan dokter itu. Dan semua itu membuat Tiara terharu.
“Apa perlu aku mengantarmu? Sepertinya hasil lab untuk check-up lengkap baru bisa keluar nanti sore. Biar kuantar besok. ” Hadi menyapa Tiara, usai visite rutin yang ia lakukan.
“Tidak perlu, Dok. Biar saya tunggu saja.” Bagaimanapun, diperlakukan istimewa membuat Tiara canggung.
“Kamu butuh istirahat, Tiara. Wajahmu pucat, dan kamu belum sehat betul. Sebaiknya kamu pulang saja. Oh, iya. Kamu datang sendiri, apa Prabu tau?”
Tiara menggeleng, sambil tersenyum masam. “Sejak pergi semalam, dia belum pulang.”
Hadi menghela napas. “Mungkin ada sesuatu yang penting. Tapi kamu jangan khawatir.”
Tiara mengeluarkan amplop berlogo rumah sakit, dan sebuah amplop kecil berwarna merah jambu dari dalam tasnya. “Dok, saya minta tolong mau titip ini boleh?”
“Apa ini?” Hadi menatap dua amplop di mejanya.
“Ini hasil pemeriksaan dari obgyn, dan foto USG. Saya tidak mau membawanya pulang. Biarlah, untuk sementara waktu ini jadi rahasia kita. Boleh, kan?” Entah mengapa, mempercayakan ini pada Hadi merupakan pilihan terbaik bagi Tiara.
Hadi menarik napas dalam. “Baiklah. Tapi Tiara, sebaiknya Prabu tau hal ini sebelum orang lain.”
Tiara mengangguk. “Pasti. Pasti saya akan memberitahunya dalam waktu dekat. Saya hanya ingin dia mendengar semuanya dalam keadaan tenang.”
“Oke. Sebaiknya, kalian selesaikan masalah apa pun itu dengan baik. Kamu butuh ketenangan, dan tidak boleh stres.”
Tiara mengangguk, dan mengucapkan terima kasih sebelum berpamitan. Sementara itu, Hadi hanya menatap punggung kekasih Prabu itu, sampai menghilang di balik pintu. Namun, kemudian hatinya tergerak untuk mengikuti Tiara. Tatapan putus asa dan raut kesedihan wanita itu, membuat ia takut jika akan terjadi sesuatu.
Tiara mencapai area depan rumah sakit sambil mengamati ponsel di tangan. Ia masih belum menemukan ojek yang tadi dipesan melalui aplikasi. Saat tengah sibuk dengan ponselnya itu, sebuah sedan hitam menepi dan ada dua orang yang turun, langsung menariknya dengan paksa.
“T--tolong! Ah!” Terlambat Tiara meronta, karena dua orang itu terlalu kuat.
Saat melihat sebuah pengemudi sepeda motor dengan helm khas transportasi online menghampiri Tiara, Hadi bernapas lega. Setidaknya, wanita itu sudah aman. Akan tetapi, perhatiannya tertuju pada sedan yang memotong pengendara ojek online. Kejadian selanjutnya, membuat ia mengumpat.
“Ah, sialan!” Ia berlari ke jalan, dan berteriak. Namun, terlambat. Mobil hitam itu sudah melesat.
**
__ADS_1
Bersambung ....
Mau crazy update? Vote, komen, dan like sebanyak-banyaknyaaaaaa. 🤩