
Suara sepatu yang berbenturan dengan lantai keramik sebuah kafe yang cukup ternama di pusat kota, terdengar nyaring dan bersahutan. Ethan berjalan anggun, layaknya macan liar yang tengah melangkah dipinggiran sungai raksasa. Gagah dan penuh kharisma.
Tatapan mata seorang Ethan Mark Timothy, setajam predator liar yang tengah mengamati pergerakan calon mangsanya.
Dibelakang Ethan, Bella mengekor dibelakang pria itu, dengan perasaan yang luar biasa panik. Entah bagaimana caranya, Bella mengaguminya aura yang dimiliki oleh seorang Ethan Mark Timothy. Bagaimana mungkin, Ethan dengan kejam telah mempertemukan dirinya dengan istri Ethan yang asli?
Bisakah bila seandainya Bella mundur saja? Rasanya sudah sangat tak nyaman.
"Mulai sekarang, angkat dagumu tinggi-tinggi, Bella. Jangan membiarkan orang lain membaca karaktermu dan menenggelamkan harga dirimu. Leticia adalah wanita yang lembut, namun juga dominan. Kuharap kau mampu mengambil hatinya dan jangan memancing masalah dengannya," perintah Ethan pada wanita itu.
"Ya," hanya itu yang bisa Bella katakan sebagai jawaban.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan VVIP yang Bella dan Ethan lewati, Bella meraba-raba, bagaimana pembawaan dan karakter Leticia. Pastinya sebagai istri seorang pembunuh bayaran, Leticia memiliki watak yang keras dan pembawaan yang dominan, alias suka menguasai sesuatu. Tak hanya itu, Leticia juga mungkin akan membuat Bella ketakutan, sama seperti saat Bella menemui Ethan beberapa waktu lalu pertama kali.
Hingga kemudian Bella melihat Ethan membuka pintu, aura mencekam Bella rasakan, serupa ia masuk ke dalam sebuah ruangan horor yang dihuni oleh ribuan iblis. Perlahan namun pasti, Bella merasa merinding setengah mati. Keringat dingin mengucur tipis pada pelipisnya.
"Leticia," sapa Ethan yang menatap istrinya. Wanita yang mungkin berusia hampir awal tiga puluhan, dengan garis wajah tegas dan angkuh. Bila Bella rasakan, auranya terasa mengerikan.
"Ethan, kau membawanya?" tanya Leticia. Tatapan matanya tajam dengan suaranya yang datar saja.
Bella merasa dikuliti, ketika tatapan mata tajam leticia meneliti seluruh inchi tubuh dan wajah Bella. Ada rasa tak nyaman. Benar saja firasat Bella. Ethan maupun istrinya, adalah manusia abnormal sepanjang yang Bella temui.
"Ya. Bella Skylar Patricia. Janda mendiang Ronnie yang bersedia melahirkan garis keturunanku. Panggil dia Bella. Aku membawanya padamu, sesuai dengan yang kau inginkan!" ucap Ethan yang menghampiri istrinya itu, dan ******* bibir Leticia sebentar.
Bella merutuk dalam hati pada sikap pasangan suami istri yang tak menganggapnya ada itu. Tidak tahukah mereka bahwa Bella sangat terganggu?
"Duduklah, Bella," ujar Ethan kemudian.
Dan saat itu pula Bella baru sadar bahwa Leticia duduk diatas kuris roda, tepat ketika ia baru memergoki Ethan dan istrinya berciuman dalam. Mata Bella mengerjap berkali-kali tanpa berniat kembali memandang Leticia. Bella hanya tak mau, Ethan kembali bisa membaca pikirannya.
__ADS_1
"Kau Bella? Duduklah. Mari kita nikmati malam sebagai tanda perkenalan kita," ujar Leticia pada Bella. Bella pun merasa tak nyaman, namun ia tetap bisa bersantai menghadapi Leticia yang angkuh dan arogan.
Dari mana Bella tahu? Dilihat sekilas saja sudah terlihat, bahwa Leticia adalah wanita yang dominan, cenderung ingin mengendalikan segala hal disekitarnya.
"Ya, aku Bella," jawab Bella sambil melempar senyum.
"Panggil aku Leticia," ujar Leticia, tanpa senyum sama sekali. Raut wajahnya datar dengan matanya yang tajam menatap Bella.
"Kau sudah siap melahirkan anak untuk suamiku, Bella? Kuharap otakmu tak dangkal dalam menilai suamiku!" seru Leticia pada Bella.
'Hei, di awal pertemuan, kau sudah berani membawa-bawa otakku? Kau keterlaluan, Ethan. Kau membawaku pada wanita ini!'
Umpat Bella dalam hati.
"Aku sudah siap, Nyonya Leticia. Melahirkan garis keturunan Ethan, adalah barter dari permintaanku padanya untuk membunuh musuh-musuh suamiku yang menghabisinya," jawab Bella santai.
Seru Bella lagi dalam hati.
"Ngomong-ngomong, aku tak keberatan andai nanti kau jatuh cinta sungguhan pada suamiku, Bella. Jangan cemas, kau harus mengatakannya dan jangan segan untuk membuka perasaanmu," Leticia berkata mantap.
"Leticia, hentikanlah. Jangan membuat selera makanku musnah," Ethan berkata pelan, namun berhasil membuat suasana terasa mencekam.
"Ya ya ya, baiklah, suamiku. Tak mengapa. Mari kita makan, karena aku ingin bicara secara pribadi pada Bella, setelah makan malam ini," ucap Leticia kemudian.
"Baiklah," Bella mengangguk.
Ethan hanya bisa menatap kedua wanita beda aura di depannya ini. Ada banyak emosi rumit yang Ethan sembunyikan, dan hal itu cukup membuat Leticia tak bisa membaca jalan pikirannya.
**
__ADS_1
Usai makan malam, entah kemana Ethan pergi. Leticia tadi sudah mengatakan bahwa ia ingin bicara empat mata dengan Bella. Kini, dalam ruangan bertemakan klasik Eropa, antara Bella dan juga Leticia saling hadap, mencoba untuk bicara sebagai sesama wanita.
"Berapa usiamu, Bella?" tanya Leticia dengan sorot mata datar.
"Dua puluh lima Tahun," jawab Bella datar pula. Sebisa mungkin, Bella mengimbangi Leticia yang terlihat sangat acuh padanya.
"Bagus. Kau lebih muda empat tahun dari suamiku. Aku berusia tiga puluh tiga tahun," ungkap Leticia, membuat Bella mengerjapkan mata tak percaya.
Bila dilihat dari penampilan, Leticia terlihat seumuran dengan Bella. Meski tubuh wanita itu ditopang oleh kursi roda, namun wajah Bella masih cantik terawat.
"Bila kau terlibat kesepakatan dangkal dengan Ethan, melahirkan anak untuknya, apakah kau akan tetap bertahan disisi lelaki itu demi anakmu?" tanya Leticia kemudian.
"Aku tak tahu, semua itu tergantung Ethan sendiri bagaimana maunya," jawab Bella skeptis. Membicarakan tentang sebuah pertahanan Bella untuk Ethan, harusnya Leticia sadar bahwa pernikahan mereka terbentuk, karena dilandasi oleh sebuah kesempatan dangkal.
"Bagaimana bila aku memintamu, agar menjadi istri sesungguhnya suamiku, dan kau, bersumpah lah kau akan selamanya mendampingi suamiku? Apakah kau bersedia?" tanya Leticia.
Di saat yang bersamaan, sebuah moncong pistol yang Leticia genggam, kini telah terarah pada pelipis kiri Bella. Tentu saja Bella syok, dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Ap, apa maksudmu, Leticia?" tanya Bella gemetar.
Emosi Bella tampak kacau, dengan keringat dingin yang mulai muncul di pelipisnya. Wanita yang tak pernah tahu ilmu beladiri itu, merasa seolah kematiannya berada di pelupuk mata.
"Jika Ethan bisa membuat kesepakatan dangkal denganmu, maka aku pun bisa membuat kesepakatan denganmu, Bella," jawab Leticia dengan suara yang lebih dalam dan penuh penekanan.
"Apa, apa mak ... maksudnya ini, Let ... Leticia?" Bella berkata sambil terbata-bata.
"Aku ingin, jadilah istri sesungguhnya untuk suamiku setelah ini ini, Bella, bukan sekadar istri sewaan untuk mendampinginya. Aku sudah mencari tahu semua latar belakangmu. sedikit saja kau menolak kesepakatan ini, aku pastikan, kau tak akan pernah bisa melihat lagi bagaimana bentuk rupa matahari pagi yang hangat esok hari!" Seru Leticia pada Bella yang mematung tak percaya.
**
__ADS_1