
Salah besar.
Senja mulai tiba, ketika kediaman Bella di datangi oleh sosok dua orang yang membawa paper bag besar dengan label butik dan desainer ternama. Mereka datang dengan menggunakan mobil, mengonfirmasikan pada pengawal yang berjaga di pintu depan, bahwa ada pesanan nyonya mereka yang tengah diantar.
Max yang mendelegasikan semua ini pada bawahannya, tersenyum kecil, saat mendapati gaun itu mekar saart di keluarkan dari paper bag nya. Bahkan ukuran dan tingkat kemewahan gaun itu, jauh lebih tinggi daripada gaun Bella saat dikenakan ketika menikah dengan Daniel Ronnie.
"Suruh masuk segera, Max. Letakkan manekin di dalam kamarku dan dua hari lagi perias akan datang kemari. Aku tak tahu mengapa gaun ini berbeda dari saat pertama kali aku membelinya. Entah, Ethan memang suka menambahkan dan teliti dengan semua yang ia beli," Bella berkata demikian, hanya agar Max tidak curiga.
Benar saja, Max berpikir, Bella memang telah lama mengenal calon suaminya itu.
"Tak apa, Nyonya. Jika dilihat dan diteliti dari sikap dan seleranya ini, Tuan adalah orang yang perhatian dan sangat teliti dengan performanya. Tak jarang, orang seperti itu adalah orang yang penyayang dan berhati lembut," ujar Max tiba-tiba.
Bella melotot tak percaya pada Max. Apa katanya tadi? Penyayang dan berhati lembut?
'Kau harus mulai mengerti satu hal, Max. Seorang pembunuh bayaran tidak akan pernah memiliki hati lembut dan penyayang. Apa yang ia lakukan saat ini, adalah kamuflasenya.'
Bella mencebik tak suka.
"Jauh berbeda dengan apa yang kau katakan. Ethan adalah lelaki yang keras kepala dan kaku, Max. Jangan katakan dia berhati lembut dan penyayang. Dia orang yang ... sedikit jahat, kurasa," jawab Bella apa adanya.
"Itu hanya permukaan, Nyonya. Tetapi yang menjadi penilaian utama adalah, pilihan dan selera yang menentukan karakter. Semua itu bisa dilihat dari pembawaan. Saya rasa, tuan adalah lelaki yang sangat menyenangkan," ujar Max kemudian.
"Terserah kau saja, Max. Aku yang lebih mengenal Ethan lebih lama," desah Bella penuh pasrah. Bola mata wanita itu memutar jengah, merasa Max sok tahu dan sok mengenal Ethan.
__ADS_1
"Tetapi meski begitu, anda menyukainya, Nyonya. Saya harap, setelah anda menikah dengan tuan Ethan nanti, anda tidak melupakan kerutinan anda mengunjungi makam tuan," Max berkata, seraya melempar tatapan sendu pada Bella. Hati yang seharusnya Max jaga, kini terpaksa harus Max berikan juga pada sosok suami majikannya setelah ini.
"Tentu saja, Max. Meski aku menyukai Ethan, itu bukan berarti aku harus melupakan Daniel begitu saja. Aku mencintai mendiang Daniel, sesuai dengan porsi yang sudah ada. Oh ya, ngomong-ngomong, apakah Ramon ada kabar? Lelaki itu tiba-tiba menghilang selama dua hari ini. Semoga saja dia tetap baik-baik saja," harap Bella.
"Entah, saya rasa Tuan Daniel tengah mengurus sesuatu yang entah itu apa," ungkap Max kemudian. Lelaki itu tersenyum kecil, saat mengingat bagaimana reaksi syok Daniel kala mendengar sebuah telepon, bersamaan dengan kabar Bella akan menikah dengan seseorang yang bernama Ethan Alric.
"Patah hati? Maksudmu? Aku tak mengerti," ungkap Bella menggelengkan kepala.
Wanita itu menatap max dengan penuh rasa ingin tahu. Sayangnya, max terkekeh kecil dan seolah tengah mengejek Bella.
"Tidak tahukah anda dengan masalah sahabat Tuan Daniel itu? Beliau sedang terjebak masalah dengan seseorang, dan harus melindungi dirinya."
Bella mengerjapkan matanya berkali-kali, merasa tak percaya dengan apa yang Max sampaikan itu.
"Ya, semoga saja urusan Tuan Ramon segera membaik. Saya hanya khawatir, dia menyerah dan berakhir kalah. Selama ini, hanya Tuan Ramon yang menunjukkan ketulusan paling murni diantara teman-teman anda yang lain," Max kembali mengungkapkan isi hatinya.
**
Di sebuah sudut tersembunyi, gedung tua tak terpakai tengah digunakan untuk acara pertemuan dua orang dengan bos besar mereka. Mereka adalah dua orang beda penampilan dan beda usia, yang sengaja menjadi penyusup di rumah janda mendiang Ronnie.
Sebelum keberhasilan misi mereka dalam menghabisi Daniel Ronnie, mereka sengaja menyuap dua orang untuk menjadi mata-mata di dekat Bella.
"Bagaimana kabar wanita itu?" tanya seorang lelaki bertubuh tinggi berperawakan gagah. Lelaki itu duduk di sebuah kursi besi yang kokoh. Menatap tajam dua wanita yang menunduk di hadapannya ini.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Tiga hari lagi, Bella akan mengadakan resepsi besar-besaran secara dadakan. Tak hanya itu, semua relasi bisnis mendiang suaminya diundang secara online. Mungkin, anda sudah mendengarnya," jawab seorang wanita yang berpenampilan anggun, memakai dress hitam setinggi lutut.
"Ya. Aku memang telah mendapatkan undangannya. Hanya saja, aku belum mengetahui siapa suaminya," jawab lelaki itu, serata mengetukkan ujung rokoknya pada asbak, mengakibatkan abunya tercecer.
"Ethan Alric, Tuan. Lelaki cupu yang menggunakan kacamata, dengan pembawaan yang kalem," ungkap wanita satunya.
"Bagus. Jika Bella berhenti bertingkah, aku akan membiarkan dia bahagia. Akan tetapi jika wanita itu kembali bertingkah dan suaminya membiarkannya, mereka akan habis ditangan ku," Tegas lelaki itu.
Kedua wanita yang setia pada Bella itu, mengangguk. Keduanya tak berani sama sekali pada lelaki yang telah membayarnya mahal itu.
"Baiklah, sekarang pergilah, kembali lakukan seluruh tugasmu dengan baik. Ingat, jangan sampai Max yang tolol itu mengendus bau pengkhianatan kalian. Jika Max mengetahui semuanya, aku tak jamin kau akan selamat nanti," ungkap lelaki itu dengan senyuman.
"Bukankah anda menjanjikan keselamatan untuk kami berdua?" tanya seorang wanita bertubuh jenjang dan ramping itu.
"Keselamatan dari bahaya yang melukai kalian di luar, akan tetapi bukan berarti aku menjanjikan keselamatan kalian di rumah Bella. Ingat, sekalipun kau mengikuti perintahku untuk mengkhianati Bella Skylar Patricia Ronnie, tetapi disini aku telah membayar kalian dengan sangat mahal. Jadi kurasa, kalian patut tahu diri," Ujar laki-laki itu. Suaranya mantap dan tegas, mengandung kekerasan yang diisyaratkan.
"Baiklah, Tuan. Saya mengerti," jawabnya.
Kedua wanita itu menunduk dalam pada sang lelaki, mundur tiga langkah sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Ada sorot kecewa yang terpancar dari sorot mata mereka. Tampang polos dan jenaka yang terbiasa mereka pamerkan, kini berubah menjadi sebuah ketakutan uang coba mereka sembunyikan.
Di dalam gedung, tinggallah lelaki itu, lelaki yang menjadi salah satu musuh Daniel Ronnie. Tujuannya memang sudah tercapai, menghabisi Daniel Ronnie dan satu-satunya keturunan Daniel.
Sayangnya, ia telah salah besar karena tak membungkam serta Bella.
__ADS_1
**