Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran

Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Episode 6


__ADS_3

Tak bisa mundur.


Dua Minggu berlalu semenjak pertemuan Bella dan Night Demon. Bella tak menerima kabar apapun, juga tidak menemukan petunjuk dari lelaki pembunuh bayaran yang ia sewa itu, sebagai tanda-tanda untuk mereka bertemu.


Maka dengan sedikit bebas, Bella merasa lebih tenang menjalani hari. Bila bertemu dengan lelaki berjuluk Night Demon itu, bisa dipastikan Bella akan merasa terintimidasi tanpa henti.


Wanita berparas cantik dengan wajah berbentuk hati itu, berjalan melewati anak tangga satu persatu, melangkahkan kakinya dengan anggun layaknya peri kayangan. Auranya begitu kuat, meski ia sendiri merasa bahwa dirinya biasa saja.


Pintu kamar terbuka dari luar, dan Bella segera menutup pintu lantas menguncinya. Wanita itu dengan tenang membalikkan badan, dan betapa syoknya dia saat mendapati pria tinggi tegap menghadap ke arahnya. Lelaki itu mengenakan jubah hitam panjang, dengan masker dan penutup kepala yang selalu ia gunakan.


"Ka ... kau, siapa kau?" tanya Bella. Wanita itu refleks mundur dua langkah, hingga punggungnya mengenai tembok, dan membuatnya tak bisa melindungi diri lagi.


"Aku adalah Night Demon. Aku datang untuk bicara empat mata denganmu," kata lelaki itu dengan suara khas dan dalam. Bella gemetar, dan merasakan kulitnya dingin akibat aura mencekam dari lelaki itu. Tatapan membunuh yang begitu kuat terpancar dari sorot matanya, mau tak mau membuat Bella gentar.


Lelaki itu maju dua langkah, meraih kursi di bawah meja rias dan mendudukinya. Duduk dengan tegap dan menopangkan kaki kanannya, pada kaki kiri. Kedua lengannya yang kokoh, ia lipat di depan dada. Sungguh anggun.


"Duduklah di atas ranjangmu, Nyonya. Mari kita bicara dengan santai, mengenai kesepakatan kita yang harus kita jalankan segera," perintah lelaki itu pada Bella.


"Mari duduk di sofa saja," Bella mencicit lirih, dengan suara gemetar.


"Sayangnya, aku tak terbiasa duduk di sofa," jawab laki-laki itu, menolak terang-terangan tawaran Bella.


Hei, apa-apaan ini? Bella sudah menawarkan hal baik sebagai tuan rumah, namun lelaki berjuluk Night Demon itu justru berlagak layaknya tuan rumah yang berkuasa.


"Kau membatin dan jengkel padaku?" tanya lelaki itu kemudian. Senyum iblis tercetak pada wajahnya yang masih tertutup.

__ADS_1


"Tid, tidak. Kau, kau ... bagaimana bisa kau datang kemari? Maksudku, bagaimana bisa kau bisa memasuki kamar utama?" tanya Bella terbata.


"Keamanan rumahmu memang cukup terjamin. Hanya saja, ada beberapa bagian rumahmu, dan juga alarm sistem keamanan yang telah dibobol oleh bawahanmu sendiri," ucap lelaki itu, masih menatap tajam Bella yang canggung dan kikuk. Tak lupa, lelaki itu juga tidak bergerak sama sekali sejak Bella mendudukkan tubuhnya. "Tidak semua bawahan memiliki kesetiaan yang serupa satu sama lain."


"Lalu, ada apa datang kemari? Kau membawa kabar tentang pelaku dibalik kematian suamiku?" tanya Bella dengan berani. Bila mengingat tentang kematian Daniel Ronnie, mendiang suaminya, Bella tak merasa takut sama sekali, termasuk pada pembunuh bayaran yang memiliki aura dingin sepanjang semua manusia yang Bella temui.


"Kendalikan emosimu, Nyonya Daniel Ronnie. Kau layaknya buku yang mudah terbaca, isi hati dan jalan pikiranmu mudah ditebak. Dengar, musuhmu bisa membaca rencanamu dengan mudah, jika kau sedikit saja menampakkan riak emosimu," ucap lelaki itu, masih dengan tatapan tajamnya.


Bella menunduk, dengan jemari-jemari lentiknya yang memilin ujung kemeja tipis berwarna putih tulang, yang dikenakannya. Sungguh, Bella tak berani meski hanya untuk membatin tentang pria di hadapannya ini.


Meski suhu AC tidak terlalu dingin menyengat, namun udara kian dingin bak di dalam kutub. Bella mendadak seperti meriang karena aura lelaki itu, begitu menampakkan aura membunuh yang kuat.


"Aku adalah seorang pembunuh, Bella Skylar Ronnie. Jika seandainya kau bisa menjaga rahasia tentang identitasku, dari Max ataupun Ramon sekalipun, kau akan melihat wajahku dan kau akan aman. Aku yang akan menjagamu nantinya. Tetapi jika kau tidak cerdas dalam mengambil langkah, maka jangan salahkan aku, jika aku mengirim dirimu untuk menyusul suamimu dalam tanah," ujar lelaki itu, masih dengan tatapan mengintimidasi.


"Baiklah. Lantas, bagaimana dengan imbalannya. Aku ingin kau menjadi simpananku, sampai waktu yang aku tentukan, juga sampai kau berhasil melahirkan putra untukku," ucap lelaki itu.


Mata Bella melebar dengan sempurna seketika. Bagaimana mungkin dirinya dijadikan simpanan, oleh seorang pembunuh bayaran? Dan lagi, Bella diminta untuk melahirkan?


"Mintalah uang atau aset, mobil, atau apapun yang berharga, kumohon. Jangan meminta diriku," Bella menatap dengan berani, pada lelaki itu.


Bella terlihat berani, dan juga berhasil memancing penasaran lelaki di hadapannya ini.


"Maka aku tak akan melanjutkan misi kali ini," lelaki itu tegas menolak.


"Tidak. Baik, aku akan menerima permintaanmu, asal kau bisa membantu diriku," Bella berpikir cepat.

__ADS_1


Mencari dan menemukan Night Demon, bukanlah hal yang mudah. Bella bahkan banyak mempertaruhkan waktu dan tenaganya. Saat sudah menemukan lelaki itu, mana mungkin Bella akan bersedia melepasnya begitu saja?


"Artinya, kau menerima kesepakatan dariku?" tanya lelaki itu kemudian. Bella mengangguk dengan berani. Tekad dan keteguhan hati Bella, dapat dilihat jelas oleh lelaki itu.


"Baiklah, mari kita berkenalan secara resmi, dan jaga rahasia identitasku," tambah lelaki itu.


Lelaki itu membuka penutup kepalanya secara perlahan, membuka kacamata hitam dan juga masker hitam yang bertengger menutupi sebagian wajahnya itu. Jantung Bella mendadak berdetak tak karuan.


"Ingat, Bella, sedikit saja kau membuka rahasiaku, aku pastikan, kau akan mencium bau tanah kematianmu, secepat singa berlari," lelaki itu kembali mengintimidasi Bella.


"Aku Ethan Mark Timothy!" Seru lelaki itu, dengan mengunci manik mata Bella.


Tampan.


Itulah kata yang pantas Bella sematkan pada lelaki itu. Lihat saja, kulit kuning bersih, hidung menjulang tinggi, dan juga tulang rahang kokoh dan tulang pipi yang tinggi, memberi kesan jantan pada lelaki itu. Jangan lupa tatapan tajam lelaki, dibingkai dengan alis tebal, terlihat begitu tegas. Rambut lelaki itu yang terlihat berantakan, berwarna coklat keemasan, serupa dengan warna bola matanya.


Sejenak, Bella terpaku pada netra matanya yang serupa dengan warna emas cair yang mengalir dibawah terik mentari, berkilau dan sangat bening. Bella tak percaya, bahwa lelaki itu adalah seorang pembunuh berdarah dingin, yang memiliki pesona mematikan layaknya Zeus.


Tatapan Bella turun pada dada bidang lelaki itu yang tampak tangguh, lengan kokoh Ethan yang perkasa, dan perut yang terlihat samar, begitu sixpack. Otak Bella mendadak berfantasi, seperti menghidupkan kembali hasrat yang telah lama mati semenjak kematian Daniel.


"Jangan mempublikasikan wajahku pada orang lain, Bella. Aku beritahu kau satu hal, kau harus melahirkan anakku, dan aku akan melenyapkan siapapun yang ingin kau bungkam. Setelah kau tahu wajahku, aku tak akan mengizinkan dirimu membatalkan kesepakatan ini. Melihat wajahku, sama artinya dengan kau menyerahkan hidupmu padaku," tegas Ethan.


Bella tak bisa berkata-kata. Kini, wanita itu sudah terlanjur menceburkan dirinya pada sebuah tragedi, yang akan menguras banyak emosi.


**

__ADS_1


__ADS_2