
Dinihari nyaris tiba, ketika Leticia masih tetap terjaga selepas makan malam bersama Bella. Wanita itu masih setia menunggu suaminya di atas ranjang, dengan memainkan ponselnya untuk mengusir kejenuhan.
Tak hanya itu, Leticia tengah menyusun sebuah rencana untuk Ethan. Sebagai wanita yang mengenal betul bagaimana Ethan, Leticia tahu apa yang terbaik untuk Ethan. Bahkan seorang pembunuh bayaran seperti Ethan, memiliki sebuah kelemahan yang hanya Leticia dan kedua orang tuanya yang tahu.
"Kau menungguku cukup lama, Leticia?" Suara Ethan muncul dari arah pintu kamar yang terbuka, menampakkan suami Leticia itu yang tengah membuka penutup kepalanya.
Leticia yang masih terjaga dan menatap Ethan, tersenyum dan mengangguk kecil.
"Ya, aku menunggumu selepas makan malam tadi. Aku pikir, kau bermalam dengan Bella malam ini? Tadinya aku sudah memutuskan untuk tidur,"Jawab Leticia kemudian. Wanita itu lantas terdiam, menatap suaminya dengan tatapan penuh binar.
"Jangan menjebakku pada situasi yang lumayan rumit, Leticia. Aku tak mungkin meminta dia menidurkan aku, sebelum aku menikahinya. Kau ini," sahut Ethan kemudian.
Dengan cepat, Ethan membuka jubah kebesarannya, menyisakan sweater rajut tebal lengan panjang berwarna hitam, dengan celana jeans hitam yang membalut kaki jenjangnya. Tak lupa, Ethan meletakkan jubahnya, tepat pada gantungan sebelah almari.
"Aku tak mengapa andai kau jatuh cinta padanya, Ethan. Kuharap, nanti kita bisa mengasuh putramu bersama-sama di rumah ini," ungkap Leticia, mengutarakan isi hatinya dan ingin membujuk Ethan pelan-pelan.
"Sayang, apa yang kau bicarakan. Aku tak ingin membahas Bella malam ini," sahut Ethan, seraya berganti piyama tidur dan duduk pada ranjang disebelah Leticia, "Oh ya, kau sudah meminum obatmu?"
"Ya, tentunya selepas makan malam tadi," jawab Leticia sambil mengerlingkan sebelah matanya dengan nakal.
"Jangan menggodaku. Jangan banyak memikirkan sesuatu yang tak penting. Aku sudah menuruti keinginan dirimu, untuk memiliki garis keturunan. Sekarang, berjanjilah tetap semangat demi kesembuhan mu. Kau mengerti?" tanya Ethan pada wanita disampingnya ini.
Leticia menatap Ethan, mengamati garis wajah tegas suaminya itu. Ada banyak kenangan dulu, bagaimana Ethan mengejar-ngejar dirinya saat itu, dan Leticia menolak keras tersebab usia mereka yang terpaut beberapa tahun lebih tua Leticia.
__ADS_1
"Aku mengerti, Ethan. Namun ada satu hal yang membuat diriku sendiri tersadar. Aku tak mungkin bisa tetap berharap pada sebuah benang tipis yang sanggup putus kapan saja. Segala kemungkinan buruk, pasti akan terjadi dan aku, mau tak mau harus siap dengan segala kemungkinan buruk itu sendiri," jawab Leticia dengan senyum.
"Apa maksudmu berkata begitu, Leticia? Kau menyerah begitu saja?" tanya Ethan tak mengerti. "Kau sudah berjanji padaku, untuk tetap sembuh, setelah aku menuruti dirimu untuk mencari wanita yang bersedia melahirkan anakku!" Seru Ethan lagi.
"Ya, aku memang berjanji untuk segera sembuh, Ethan. Tetapi tahukah kau? Bahkan dokter sudah mengatakan bahwa kemungkinan aku untuk sembuh, itu sangat kecil," ungkap Leticia pelan, sambil mengingatkan dan membuka pola pikir suaminya itu.
"Secara realistis saja, Ethan. Memaksakan air untuk bening di tengah sawah yang terus dibajak, itu tak mungkin. Aku bahkan sudah siap segalanya, termasuk batin dan mentalku. Aku hanya ingin, kau sanggup melanjutkan kisah hidupmu. Aku percaya, cinta Bella terhadapmu nanti, sama besarnya dengan cintaku padamu. Kau harus pegang kata-kataku," ungkap Leticia lagi.
"Dinihari nyari tiba, Leticia. Tidurlah. Kurasa kau mengigau karena terlalu kelelahan," Ethan merebahkan tubuhnya. Matanya terpejam pertanda tak ingin meladeni ocehan istrinya yang konyol itu.
"Ethan, kau harus sadar atau hal. Bella sangat istimewa," kata Leticia setengah berbisik di sebelah suaminya. Bagus. Leticia masih mampu memancing Ethan agar menatapnya.
"Apa yang kau katakan ini, Leticia?" tanya balik Ethan, meski ia tahu dan membenarkan bisikan suaminya itu.
"Terserah padamu saja. Aku tak ingin membahas Bella untuk saat ini. Setelah janda mendiang lelaki legendaris seperti Daniel Ronnie itu kehilangan fungsinya, aku akan membuangnya begitu saja," ungkap Ethan dengan suara tenang. Kilat matanya datar, tak menampakkan riak emosi sedikitpun.
"Bagaimana bila aku meninggalkan wasiat sebelum aku tiada, agar kau menjaganya saja?" Leticia menatap dalam suaminya dari arah samping. "Ada anak yang harus kau sayangi, kau limpahkan kasih sayang bersama ibunya. Aku yakin, kau bisa menjalani dan melewati itu semua, Ethan. Aku percaya padamu," ungkap Leticia kemudian.
"Jika kau bersikeras untuk membuatku menikahi Bella dan menjadikan dia istriku yang sesungguhnya, aku tak akan melanjutkan rencana konyolmu ini," ungkap Ethan kemudian. Mata pria itu masih setia terpejam.
Leticia terdiam cukup lama. Wanita itu pikir, cukuplah sampai disini membujuk Ethan.
"Baiklah, aku akan diam dan berhenti membicarakan Bella."
__ADS_1
"Bagus. Ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Ethan sebelum tidur.
"Oh ya, bagaimana dengan misimu menjalan tugas untuk melenyapkan John Maxwell?" tanya Leticia tiba-tiba untuk mengalihkan pembicaraan. Wanita itu benar-benar mampu mengimbangi Ethan.
"Akan aku jalani esok pagi menjelang siang. Semua sudah siap," jawab Ethan.
"Berhati-hatilah, Ethan. Kau selalu seorang diri dalam setiap menjalani misimu. Jangan lupa untuk tetap disana selepas kau membungkamnya. Aku tak ingin, identitasmu diketahui oleh siapapun. Hanya Bella yang boleh mengetahuinya," ungkap Leticia kemudian.
"Ya. Kadang aku berpikir, mungkinkah surga dan neraka itu ada? Untuk ukuran seorang pembunuh sepertiku, apakah aku mampu mengentaskan hidupku dari jalan kelam ini?" tanya Ethan kemudian.
"Aku percaya kau mampu menjalani hari dan bahagia dengan baik, Ethan. Suatu saat nanti, aku percaya sosok yang aku agung-agungkan itu mampu mengentaskan dirimu dari kegelapan," suara Leticia dalam dan penuh makna.
Dalam sebuah kehidupan yang luar biasa itu, seseorang terkadang dihadapkan pada pilihan yang tidak diinginkan. Namun siapa yang menyangka, bahwa terkadang pula sesuatu yang tak diinginkan itu, menjadi sebuah kejutan bahagia tersendiri.
Leticia sendiri adalah wanita yang realistis. Ia dihadapkan pada situasi dimana kematian bisa menjemputnya kapan saja. Bila Leticia tidak memikirkan untuk masa depan suaminya, mungkin Ethan tak akan tetap berjaya.
Untuk melahirkan garis keturunan Ethan, Leticia pun tak main-main. Kriteria yang ia cari, adalah jenis wanita rapuh, namun memiliki tekad yang kuat.
"Bella? Wanita yang kau maksud itu mana mungkin bisa melindungiku? Dia tak lebih dari sekedar wanita rapuh. Fungsinya hanya melahirkan keturunan, sebelum kemudian ia merengek meminta perlindungan," ejek Ethan terang-terangan.
"Kau tak akan tahu nilainya, jika kau memandangnya sebelah mata, suamiku," tandas Leticia yang berhasil membuat Ethan bungkam.
**
__ADS_1