Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran

Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Episode 23


__ADS_3

Paul Edward.


Di sebuah sudut bumi, Ethan tengah duduk menyendiri dengan sebuah laptop yang bertengger manis di atas pangkuannya. Lelaki itu menatap sebuah foto pernikahannya bersama Leticia, dengan balutan gaun khas Eropa.


Entah sudah berapa kali, Ethan menghembuskan napasnya kasar. Ada sebongkah hati yang merasa bersalah, namun juga Ethan tak bisa mengendalikan secuil rasa nyaman ketika bersama Bella.


Tadinya, Ethan berpikir hanya akan memanfaatkan Bella, usai dirinya memakai fungsi wanita itu. Andai Leticia sanggup memberikannya keturunan, Ethan tak mungkin mencari wanita lain di luaran sana.


Sebagai lelaki Hedon dengan kepribadian yang selektif, Ethan bukanlah tipe laki yang suka memakai dan meniduri wanita sembarangan sejak dulu. Ethan selalu memilih wanita yang bersih, dengan begitu, ia bisa menekan risiko buruk yang sewaktu-waktu melandanya.


Bella Skylar Patricia.


Nama itu demikian melekat dalam pikiran Ethan. Bahkan Ethan pun merutuk nama Bella agar tak begitu terpatri pada kepalanya. Sayangnya, sekuat apapun Ethan menepis, Bella seolah tertancap dalam dalam lubuk hati dan pusat otaknya.


"Hai, Boy. Bagaimana kabarmu? Tumben kau menghubungi aku lebih dulu, dan mengajakku bertemu?" Suara lelaki yang datang menghampiri Ethan, cukup membuat Ethan menatap lelaki itu.


Seorang lelaki tua berperawakan pendek, dengan penampilan nyentrik, datang dengan sorot mata ramah dan menyenangkan. Kemeja kuning dengan celana silver, serta topi Koboy berwarna hitam, begitu pantas melekat pada tubuhnya. Rambut hitam yang nyaris berubah putih semua, tampak terlihat abu-abu. Jangan lupakan warna pupil matanya yang abu-abu, serta cincin akik yang banyak tersemat pada nyaris seluruh jari-jarinya, membuat lelaki itu sedikit seram, meski pembawaannya menyenangkan.


"Duduklah, Paul. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," Alih-alih menjawab, Ethan justru memerintah lelaki yang dipanggil Paul itu, untuk duduk.


"Kau tampak sad hari ini. Ada apa? Apa ada masalah?" tanya lelaki itu, membuka percakapan. Sorot mata lelaki itu tampak tenang dan menyenangkan, namun sanggup menenggelamkan siapapun yang tertipu oleh tingkahnya yang ramah.

__ADS_1


"Aku ingin sharing masalah perasaan denganmu," jawab Ethan.


Sejenak, Paul Richard itu tegang, seolah Ethan tengah dalam bahaya panjang, sebelum akhirnya paul tertawa lantang bertingkah layaknya apa yang ia dengar itu, adalah sebuah lelucon.


"Aku tidak sedang bercanda, Tuan Timothy? Astaga. Hahahaha .... Sejak kapan Memangnya, seorang pembunuh bayaran sepertimu, memiliki perasaan? Aku rasa itu terlihat aneh dan tak mungkin," Paul tertawa, hingga sudut matanya berair.


Hingga tak lama kemudian, Paul berhenti tertawa secara spontan, ketika netra Ethan menatapnya tajam. Udara turun hingga beberapa derajat, melahirkan dingin sejuk menusuk tulang tua Paul. Paul gentar dan sedikit ngeri menerima tatapan Ethan.


"Oh, Baiklah, maaf. Aku akan dengarkan apa keluh kesahmu," ujar Paul kemudian.


Siapa yang berani menabuh genderang perang dengan seorang pembunuh kelas kakap seperti sahabatnya itu? Paul menyadari, bahkan saat ia telah lama menjadi pembunuh bayaran jauh sebelum Ethan terjun dalam dunia gelap. Meski Paul lebih senior, namun reputasi Ethan terbilang cukup lebih tinggi dari Paul.


"Ya, lantas?" tanya Paul kemudian.


"Aku telah menikahi seseorang kemarin, dia seorang janda mendiang Daniel Ronnie. Kami terlibat sebuah kesepakatan dangkal," ungkap Ethan tenang.


"Jadi, kau Ethan Alric itu?" tanya Paul datar, dengan mimik wajah yang serius.


"Aku tak tahu mengapa, aku takut, Paul. aku dilanda ketakutan tak berdasar. Aku terjebak sebuah rasa nyaman dengannya," jawab Ethan kemudian.


"Apa salahnya? Bukankah kau bisa menikmati waktu selagi bersamanya?" tanya Paul masuk akal.

__ADS_1


"Tetapi disisi lain, aku tak ingin dirinya terjebak dalam masalahku. Aku adalah seorang pembunuh bayaran yang sewaktu-waktu berada dalam situasi bahaya, dan tak ingin menarik siapapun untuk membahayakan nyawanya. Dia ingin aku mencari dan melenyapkan pembunuh Daniel Ronnie, dan dia bersedia melahirkan pewaris untukku," jawab Ethan panjang lebar.


"Lantas mengapa, andai nanti kau sungguh jatuh cinta padanya, Ethan? Bukankah Dokter telah memvonis Leticia hidupnya tak akan lama? Kau adalah lelaki yang pandai mengendalikan perasaan. Aku rasa tak akan berat bila andai nanti Leticia tiada, tergantikan oleh istri muda mu itu. Aku bukan mendoakan Leticia agar segera pergi darimu, aku hanya menyampaikan pendapatku secara logis, dan pemikiran yang realistis," ungkap Paul kemudian.


Ethan mengangguk beberapa kali, menyesap minuman beralkohol yang menjadi favoritnya.


"Tetapi aku rasa begini, Istri kedua ku bukanlah tipe wanita kuat seperti Leticia. Bahkan untuk beladiri saja, ia tak bisa. Jika dia terseret dalam bahaya dan masalahku, bukanlah itu artinya ini diluar kesepakatan? Dan lagi, perasaan sialan ini muncul, pada wanita yang sama sekali bukan tipe ku," kata Ethan.


"Jika kau merasa kau tak siap dan tak sanggup memikirkan masa depanmu bersamanya, jalani saja takdir ini, Ethan. Andai nanti kau butuh bantuan ku, aku tak akan keberatan untuk membantumu. Jangan segan untuk itu," timpal Paul.


Ethan tersenyum kecil, senyum yang bahkan tak pernah dilihat oleh siapapun selain orang terdekatnya, dan juga Leticia.


"Terima kasih, Paul. Ngomong-ngomong, sepertinya para musuh-musuhku sedang gencarnya memburuku hingga membabi buta. Adakah solusi untuk itu?" tanya Ethan kemudian.


"Sudah aku beritahu dirimu, lakukan Operasi wajah dan rubah sebagian besar bentuk wajahmu, agar tak ada yang mengenalimu. Aku akan buatkan biodata palsu untukmu nanti. Itu bukan hal yang sulit," Sahut Paul lagi.


"Aku bukan banci yang menghindari masalah dengan cara sepicik itu, Paul," ungkap Ethan.


"Kalau begitu, terserah padamu. Kau meminta solusi, aku beri solusi, kau pun tak ingin menerima dengan senang hati. Aku menyerah bicara denganmu!" seru Paul. Membuat Ethan sedikit terhibur saat ini.


**

__ADS_1


__ADS_2