Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran

Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Episode 16


__ADS_3

Layaknya angin yang datang berhembus, seperti itulah gambaran datangnya sosok Daniel saat ini. Bella yang tengah mengunjungi makam Daniel, memejamkan mata, seolah tengah menerima pelukan hangat dari suaminya, yang telah tinggal tulang saja di dalam tanah.


Surai lembut Bella, beterbangan diterpa angin yang berhembus. Bulu mata letiknya, bergetar samar. Kulitnya yang seputih pualam, ditambah dengan garis wajahnya yang lembut berbentuk hati, membuat Bella terlihat bak peri yang baru turun dari langit.


Kerinduan itu masih besar, dengan ukuran serupa dengan cinta Bella. Hati Bella nyatanya tak sekuat itu untuk menerima kenyataan bahwa mendiang Daniel telah tiada. Meski tampak baik-baik saja, nyatanya Bella merasa hancur lebur dalam hatinya. Terluka tentu saja, namun Bella tak putus aral, Bella akan berusaha memperjuangkan keadilan sebisanya.


Jika keadilan terasa tabu bagi rakyat biasa yang buta teknologi, maka Bella akan mencari keadilannya sendiri.


Belum reda rasanya duka yang Bella rasakan selepas kepergian mendiang Daniel, wanita itu kini mendapat sebuah kesialan yang menambah kehancuran Bella. Ditekan dan dipaksa untuk menikah dan melahirkan keturunan seorang pembunuh bayaran, membuat Bella merasa bersalah pada Daniel.


Mungkinkah Daniel akan cemburu?


Sekali lagi, Bella bernapas dengan pelan, seolah tengah menetralkan perasan yan bergejolak.


"Daniel, aku bukan tak setia padamu. Hanya saja, aku berharap kau mau mengerti dengan situasi ini. Demi mencari keadilan seorang diri bersama Max dan orang-orang kita yang setia, aku bahkan rela menukarnya dengan diriku. Jika aku menikah lagi, marahlah kau padaku. Aku akan menerimanya. Tetapi kau harus tahu, Daniel. Aku tetap tak bisa memalingkan hatiku darimu. Kehadiranmu seolah masih terasa dalam keseharian diriku. Kami semua, termasuk Max dan semua pekerjamu, sangat menyayangimu," Bella bermonolog seorang diri.


Sesekali, daun bunga Kamboja berguguran dari atas, menerpa rambut lembut dan wajah kalem milik Bella Patricia. Wanita itu, berdiri di areal makam, selayaknya tengah berdiri di tengah keramaian.

__ADS_1


"Aku siap bila kau menuntutku, Daniel. Aku rela. Tetapi sampai setahun berlalu, aku tetap tak rela para pembunuhmu itu berkeliaran bebas tanpa rasa dosa dan tak merasakan derita sakit saat kau dijemput malaikat kematian. Hatiku sakit mengingatnya," tambah Bella lagi.


Air mata tidak lagi jatuh membasahi pipi Bella. Bukan berarti Bella tak lagi merasakan kesedihan. Hanya saja, Bella merasa air matanya telah kering saat ini. Kehilangan Daniel, berhasil menguras seluruh tenaga, air mata dan emosi Bella yang tersembunyi.


"Saat aku akan menjalani pernikahan nanti, aku akan datang lagi mengunjungi dirimu disini. Maaf jika aku mengambil keputusan gila ini sepanjang hidupku. Kau pasti akan menentang keras keputusanku ini. Tetapi aku tak bisa tinggal diam membiarkan semua ini terjadi, maka, beri aku restumu. Aku tak bisa mengandalkan siapapun untuk memburu musuhmu. Hanya Night Demon yang menjadi satu-satunya yang bisa membantuku," ungkap Bella lagi, masih bermonolog dan bertemakan hembusan angin perlahan.


Bayangan Daniel masih sangat jelas dalam ingatan Bella.


"Banyak rintangan untuk kita bersatu dulu, Daniel. Tak mudah untuk bisa sampai ke titik dimana aku dan kau menikah, mengikat janji suci dan setia sehidup semati. Sayangnya, Tuhan tak membiarkan kita bisa bahagia lebih lama lagi. Maafkan aku, Daniel. Aku dan Max berjanji, aku akan menghukum mereka satu persatu, mencari keadilan dan menegakkan nya sendiri. Jangan khawatir, bila saat itu tiba, kupastikan kau tak tertawa puas di surga sana," kembali Bella mengeluarkan unek-uneknya, seolah Daniel mendengar apa yang ia ucapkan.


"Beristirahatlah dengan tenang, Daniel. Aku berjanji akan datang lagi nanti. Jangan sedih, aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu dengan caraku, dan dengan porsi maksimal yang aku punya. Beristirahatlah dengan tenang, dan jangan lupa sampaikan salamku pada Joseph. Mommy sangat merindukannya. Nanti, peluk aku setelah tuhan menghendaki aku menyusul kalian," Bella tersenyum, berusaha menampilkan kebahagiaan di depan Daniel, meski pendar matanya menunjukkan sorot terluka.


Wanita itu lantas membalikkan badan, menghampiri Max yang tengah menunggu di mobil. Kali ini, Bella kembali tak mengizinkan Max untuk menemani dirinya ke makam Daniel.


"Nyonya, jujur saja saya ingin mengunjungi tuan, tetapi Nyonya tidak mengizinkan. Apa alasannya?" tanya Max kemudian, ketika Bella telah tiba di dalam mobil.


Pandangan mata Max lurus ke depan, mengamati anak-anak jalanan yang tengah bermain di sekitar makam. Bila masih ada, mungkin bayi yang istri max kandung saat itu, sudah sebesar mereka.

__ADS_1


Sayangnya, semua telah pergi.


"Aku hanya ingin bicara empat mata dengan Daniel, Max. Ini pribadi dan pembicaraan suami istri. Jangan mengganggu, kau tidak tahu, ya? Bahwa aku merindukan suamiku?" Bella balik menanyai Max. Kekehan ringan tampak meluncur dari bibirnya yang seksi menawan.


"Ya tuhan, Nyonya. Mengapa harus empat mata? Bukankah itu istilahnya bicara dua mata. Sepasang mata itu tak akan kembali terbuka, karena Tuan telah menyatu dengan tanah," jawab Max yang masuk akal secara logika. "Saya tahu bagaimana perasaan anda, Nyonya. Tetapi sadarlah, Tuan ingin anda melanjutkan hidup dengan baik."


Sebenarnya, bukan masalah bila max ikut berdampingan dengan Bella untuk mengunjungi daniel. Hanya saja, Bella khawatir bila nanti Max mendengar apa yang ia katakan di depan makam mendiang Daniel Ronnie. Tidak, itu tidak boleh terjadi.


"Kau benar, Max. Tubuhnya memang telah tiada, tetapi hati dan jiwanya, senyumnya, kebaikannya, ketulusannya, akan tetap abadi di dalam sini," sahut Bella sambil memejamkan matanya, menepuk dadanya beberapa kali demi menunjuk dimana hatinya berada.


"Tuan adalah orang baik, Nyonya. Kematiannya disebabkan karena orang lain. Jangan lupa juga, Tuhan pasti telah menempatkan Tuan di dalam surga bersama Tuan muda Felix. Tuan tak sendiri sekarang. Sedang anda, anda bisa melanjutkan hidup dengan Ethan Alric dan mempunyai anak lain. Saya yakin, anda akan bahagia dengan cara anda," Max tersenyum, menatap dari arah bangku kemudian, pada Bella yang duduk disampingnya. "Jangan menoleh lagi ke belakang meski Tuan tetap anda kenang."


Hanya sebuah Cinta yang begitu besar, yang berhasil membuat seseorang tetap hidup dalam hati. Meski dimensi Daniel dan Bella telah berbeda, namun tentunya itu tidak menyurutkan cinta Bella untuk mendiang Daniel.


Max yang duduk di tempatnya, mengenang kembali kematian istrinya dulu. Cintanya untuk istrinya begitu besar, hingga membuat Max tak ingin memiliki wanita lain dalam hidupnya. Menduda seumur hidup, adalah pilihan Max.


**

__ADS_1


__ADS_2