
Seperti Kekasih.
Sekujur tubuh Bella seolah gemetar seketika. Ia telah jatuh pada sumur kesepakatan dan tak akan bisa berhenti hingga kesepakatan telah usai. Menjadi simpanan, adalah sebuah harga mati yang night Demon tetapkan untuknya.
Bella seolah berhenti bernapas, ketika night Demon mengunci tatapannya. Lelaki itu juga mendekat pada Bella, dengan gerakan pelan dan tak bisa ditebak. Bella yang punggungnya membentur dinding, tentu saja tak bisa bergerak kemana pun. Semua pergerakannya seolah terkunci dengan mudahnya.
Bella, layaknya binatang kecil yang tengah dihadapkan pada pemangsa.
Dan ketika jarak mereka hanya satu langkah, secara spontan, Night Demon mengecup bibir Bella dengan sensual. Bella yang tak memiliki kesiapan sama sekali, tak bisa menolak. Ada pesona tersendiri yang berhasil membuat Bella seolah luluh lantak dan tak memiliki daya untuk melawan.
Ada apa ini? Mengapa Bella mendadak merasakan kakinya lemas?
"Kau .... " Bella menatap lelaki itu dengan bingung.
"Sebuah kecupan aku artikan sebagai kesepakatan yang telah disetujui. Jadi, perkenalkan aku di depan Max, Ramon dan semua orang terdekatmu, sebagai Ethan Alric," Ethan menjelaskannya.
"Nanti malam, aku akan datang lagi menjemputmu dan membawamu ke kediaman pribadiku. Ingat Nyonya Bella, Enam hari dari sekarang, kita akan menikah. Katakan pada semua orang, kau mencintaiku karena pernah mengenal semenjak bangku sekolah dulu, agar tidak ada yang curiga. Sekalipun pelayan. Aku mencurigai pelayan yang juga terlibat atas kematian Daniel Ronnie. Jadi, bila kau ingin kita bekerjasama dengan halus, jangan sekali-kali melanggar kesepakatan yang kita buat. Kau mengerti?" Ethan menatap Bella tajam.
Tubuh Bella serasa luluh. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengangguk dan pasrah.
**
Seorang lelaki tengah menatap layar laptopnya, dengan mode serius yang tinggi. Lelaki itu tengah duduk dengan ditemani secangkir kopi panas tanpa gula, dengan asap yang mengepul ke udara.
Ada banyak hal yang tengah laki-laki itu pelajari, termasuk tentang kasus kematian mendiang Daniel Ronnie setahun silam. Meski pihak kepolisian negara menyatakan bahwa Daniel meninggal akibat kecelakaan murni, namun ada sebuah pesan pada ponsel mendiang Daniel, yang telah diretas oleh musuh.
Ethan mempelajari satu persatu benang merah yang saling terhubung. Mengaitkannya dan mencoba untuk memberikan kesimpulan cerdas. Lelaki itu, bahkan bisa menjadi apa saja sesuai dengan peran yang dibutuhkan dalam situasi terdesak.
__ADS_1
Menghentikan pekerjaannya, Ethan lantas menyesap secangkir kopi kualitas terbaik. Lelaki itu bangkit, dan menuju ke jendela, untuk menyalakan rokok dan menghisapnya dengan anggun. Meski terlihat tampak diam begini, siapa sangka, bahwa Ethan tengah memikirkan banyak hal.
Istri yang selama ini menjadi pusat dunianya, tak bisa memberinya keturunan. Wanita itu bahkan dengan konyolnya, menyuruh Ethan mencari wanita secara random, untuk melahirkan garis keturunan untuk Ethan.
Entah kegilaan apa yang dilakukan oleh Leticia. Ethan hanya takut, ia tak bisa membuat istri simpanannya dan Leticia bahagia di saat yang bersamaan.
Meski Ethan adalah seorang pembunuh bayaran, namun Ethan memiliki sifat menghargai wanita. Itu adalah prinsip dirinya sejak kecil. Prinsip yang ditanamkan oleh keluarganya, termasuk orang tuanya yang utama.
Pintu diketuk dari luar, Jack muncul dengan wajah datar.
"Kau sudah siap bertemu dengan Bella Patricia, sebagai Ethan Alric?" kata Jack, satu-satunya kaki tangan Ethan, sekaligus teman dekat Ethan.
"Ya. Aku akan datang, dan kau, jaga tempat ini. Aku akan menjemput Bella seorang diri," Ethan menjawab datar.
Ethan berlalu pergi, dengan memasukkan dompetnya ke dalam saku celananya. Sebagai pembunuh bayaran yang menjadi incaran banyak orang yang berusaha menggali identitasnya, Ethan harusnya membawa bekal senjata. Tetapi itu merepotkan baginya, sebab seorang Ethan Mark Timothy, bisa melumpuhkan dan merenggut nyawa orang lain, hanya dengan tangan kosong saja.
Lelaki itu bisa membunuh, dengan metode apa pun. Bahkan ia tak pernah membunuh orang lain, dengan meninggalkan jejak sama sekali. pekerjaannya demikian rapi. Jika sampai Ethan meninggalkan jejak, bisa dipastikan dirinya sudah tertangkap sejak empat tahun terakhir. Karier pria itu dalam bisnis gelap, cukup terkenal. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang tahu, selain sahabat-sahabatnya yang setia.
Setibanya di depan rumah Bella, seorang pengawal menghentikan mobilnya. Ethan tersenyum palsu. Selain ahli membunuh, rupanya Ethan juga adalah pria yang pandai berakting.
"Aku Ethan Alric, sudah mengadakan janji dengan Bella Patricia," Ethan memurahkan senyum, meski ia merasa jijik sendiri dengan tingkahnya kali ini.
"Sebentar, Tuan. Saya akan menelepon Nyonya untuk kesediaannya menerima tamu," jawab pengawal.
Ethan tersenyum kemudian. Lelaki itu lantas menunggu, dan mengamati lingkungan sekitar. Tak ada aura menakutkan yang Ethan keluarkan. Dirinya sedang memainkan drama, datang sebagai kekasih Bella.
"Silahkan masuk, Tuan. Tuan Max datang dan menunggu anda di teras depan. Nyonya Bella masih di kamar dan sebentar lagi turun. Mari, saya antar," pengawal berkata datar, tidak menampakkan kilat emosi apapun.
__ADS_1
Ethan berjalan pelan, menuju ke teras depan dan sudah ada Max yang menunduk padanya. Max sendiri bisa merasakan, Ethan memiliki aura yang luar biasa kuat.
"Selamat datang, Tuan. Nyonya Bella sudah menunggu di dalam," sapa max pertama kali.
"Terima kasih, Tuan Max," jawab Ethan.
"Panggil saya Max saja. Saya hanyalah bawahan nyonya Bella," ungkap max menimpali.
Ethan melangkah masuk, dengan Bella yang menyambutnya dengan penampilan yang sempurna. Rambut Bella, diurai dengan sempurna, dengan sebuah jepitan rambut berbentuk pita berhiaskan permata mahal, bertengger manis di atas pelipis kanan Bella.
"Hai, Bella," Ethan menyapa Bella dengan senyum manis, seolah ia adalah seorang pria dewasa yang tengah jatuh cinta. Kedua tangan Ethan terbuka, seolah mengisyaratkan Bella untuk berhambur ke dalam pelukannya.
"Ethan, kau datang?" sapa Bella dengan kikuk. Tak ingin disalahkan Ethan, Bella lantas memeluk Ethan layaknya wanita yang merindukan kekasihnya.
"Ya, kau merindukanku?" tanya Ethan, selayaknya tak ada siapapun disana. Pengawal dan juga Max, sampai saling pandang, bertanya tanpa kata.
"Max, dia ... em, perkenalkan, dia adalah kekasihku. Namanya Ethan Alric. Dulu, dia adalah teman sekolahku. Entah, Tuhan mempertemukan aku dengannya, seolah memiliki maksud lain dibalik kehancuranku akibat kehilangan Daniel," Bella berkata dengan mantap. Raut wajahnya begitu ceria.
"Saya Max, Tuan," sapa Max kemudian.
"Aku Ethan Alric, Max. Kau bisa memanggilku Ethan ataupun Alric. Senang bertemu denganmu," jawab Ethan tersenyum ramah.
"Senang bertemu denganmu juga, Tuan. Baiklah, saya pamit ke belakang," pamit Max yang berlalu begitu saja.
Mata tajam Ethan berkeliling mengitari ruangan. Beberapa pelayan tampak hilir mudik.
Ethan kembali memeluk Bella, seperti tengah haus belaian Bella dan merindukan kehangatan wanita itu. Namun mata Ethan terus memperhatikan setiap pergerakan seluruh orang yang ada disana.
__ADS_1
Dengan pelan, Ethan berbisik pada telinga Bella seraya berkata, "Aku mencurigai dua orang yang menjadi penyusup musuh mendiang Daniel, Bella. Tetap jaga keromantisan kita, jika kau ingin langkah kita tidak dicurigai oleh mereka."
**