
Gaun pernikahan.
Entah kegilaan apa yang saat ini tengah Bella lakukan bersama Ethan. Bella tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki pembunuh seperti Ethan. Lihat saja, bahkan baru sehari mereka berjalan bersama, namun segalanya telah didominasi oleh lelaki itu.
Ethan layaknya lelaki berkuasa yang tak ingin dibantah. Segala sesuatunya harus sesuai dengan keputusannya dan berjalan rapi.
Berkali-kali Bella mencoba gaun pengantin yang sudah jadi, hasil dari rancangan desainer ternama, namun berkali-kali pula Bella harus melepaskan dan mencoba yang lain lagi, akibat Ethan terlalu cerewet dan tidak suka. Bahkan, Bella ingin sekali mengumpat akan kelakuan calon suaminya itu, sayangnya, Bella tak memiliki nyali sedikit pun. Bella hanyabtak mau saja, ia menjadi target Night Demon untuk dijadikan tumbal.
"Coba yang lain lagi, kurasa itu terlalu ramai dan aku tak suka. Cari yang simpel, namun elegan dengan kesan glamor yang kuat," ujar Ethan meminta pada pemilik butik. Tidak tanggung-tanggung, bahkan Ethan meminta pemilik butik sendiri yang turun tangan melayaninya.
Lelaki itu bahkan tidak malu dengan penampilannya yang sebegitu cupunya. Bella sendiri tak mengerti, kemana kiranya arah pikiran lelaki itu. Mengapa harus melakukan penyamaran seperti ini? batin Bella berteriak protes.
"Ethan, mengapa harus ganti lagi? Aku lelah .... " keluh Bella dengan suara pelan.
"Baiklah, biar aku yang mencarinya sendiri dan aku akan pastikan kau mencobanya untuk yang terakhir kali. Setelah itu, kita akan melakukan perjalanan untuk bertemu dengan Leticia," jelas Ethan kemudian.
"Leticia? Siapa dia?" tanya Bella penuh rasa ingin tahu.
Bella justru melihat Ethan membalikkan badan sambil menjawab, "Istriku."
Jantung Bella terasa memanas seketika, saat Ethan mengatakan untuk membawanya bertemu dengan istrinya. Bagaimana nasib Bella nanti, bila ia bertemu dengan Leticia? Bella hanya tak mau saja, dirinya berakhir menjadi bahan bully oleh istri Ethan nanti.
Dengan dibantu oleh salah satu karyawan butik yang ramah, Bella melepas gaun yang ia pakai tadi. Karyawan butik itu pun hanya tersenyum kecil, ketika mendengar pengakuan terang-terangan Ethan tadi.
"Pakai ini," perintah Ethan kada Bella, sambil menunjuk sebuah gaun yang dibawa oleh karyawan lain. Sebuah gaun berwarna putih gading yang dihiasi batu permata mahal berwarna emas kemerahan.
Mata Bella menatap gaun itu dari atas hingga bawah. Jadi, beginikah selera seorang pembunuh bayaran? Bila dilihat dari seleranya, Ethan tak nampak seperti psikopat ataupun pembunuh bayaran pada umumnya. Justru Ethan terlihat layaknya masyarakat normal biasa.
__ADS_1
"Ini pilihanmu?" tanya Bella.
"Apa kau pikir aku membawa pilihan hantu?" jawab Ethan kemudian.
Hei, Bella hanya bertanya tadi, lantas mengapa Ethan jadi mendadak ketus seperti itu? Lagipula Bella bertanya baik-baik, bukan?
"Baiklah, aku akan mencobanya," tukas Bella kemudian, dengan suara yang mencicit lirih. Ethan menatapnya tajam, dengan sebuah penekanan suara yang jelas.
Begitu Bella keluar dari ruang ganti, Bella terlihat kikuk. Pasalnya, gaun yang Bella kenakan itu, tampak pas dan membalut sempurna, dengan belahan dada yang begitu sensual dan terbuka.
Karakter Bella bukanlah wanita yang suka berpakaian minim maupun terbuka. Selama ini Daniel selalu suka bila Bella mengenakan pakaian yang tertutup. Bahkan, seringkali Daniel mencebik kesal saat dirinya melihat Bella memakai pakaian seksi saat di luar kamar.
"Ini baru cocok untukmu. Lihat, hiasan mutiara dan batu permata berpadu dengan cocok. Aku akan ambil ini saja untukmu," Ethan menatap datar Bella, seolah Bella bukanlah calon istrinya.
"Tetapi ... em, aku kurang nyaman dengan pakaian ini, Ethan. Aku, ini menurutku terlalu terbuka dan aku tak terbiasa memakai pakaian terbuka. Aku risih," ungkap Bella pelan.
Ethan menatap Bella dengan pandangan tak mengerti. Entah mengapa, ada daya tarik tersendiri dari dalam kepribadian Bella. Ethan pikir, Bella sama seperti wanita lainnya yang suka mengumbar tubuh dan belahan dada mereka yang menonjol.
Bella berlalu mengganti gaun dengan pakaian yang ia kenakan dari rumah tadi. Hingga Etha keluar dari lorong ruangan desainer pemilik butik, Bella segera menghampiri Ethan.
"Aku sudah bicara dengan pemilik butik, Bella. Ayo kita keluar dan temui Leticia di cafe VVIP. Dia mengajakku bertemu denganmu disana," ajak Ethan kemudian. Lelaki itu melihat Bella yang mengangguk, sambil meraih dan menggandeng tangan Bella mesra.
Bella terhenyak, sentuhan Ethan membuatnya bertanya-tanya, mengapa ada getaran aneh serupa sengatan listrik bertegangan tinggi? Namun disisi lain, Bella merasa aman dan terlindungi.
Ethan pun sengaja menggandeng mesra tangan Bella, karena ia bisa merasakan, ada pengawal yang tengah mengawasi mereka. Ethan hanya tak mau, sandiwaranya bersama Bella terbongkar begitu saja.
**
__ADS_1
Di sudut lain, Ramon tengah mengamati Bella yang sedang keluar dari butik, bersama seorang pria yang menggandeng mesra Bella. Ramon tentu saja terkejut
"Livia, kau mengenal lelaki itu?" tunjuk Ramon pada lelaki culun yang tengah mengandung Bella. Bukannya apa, Ramon hanya merasa curiga, dan tak percaya Bella bisa secepat ini berubah. Sejak awal, bukankah Bella tak berniat membuka pintu hatinya untuk lelaki manapun? Ramon mendengar sendiri penuturan Bella.
Livia, teman Ramon yang juga mengenal Bella, menatap Bella dengan seksama. Wanita itu belakangan memang kerap kali mengekori Ramon. Mungkin, Livia memiliki perasaan khusus untuk Ramon. Entahlah.
"Tidak. Aku pun tak pernah melihatnya. Mungkin kekasih baru Bella," jawab Livia kemudian.
"Aku tak percaya," ungkap Ramon kemudian.
"Memangnya kenapa jika itu kekasih Bella? Kau cemburu?" tanya Livia, membuat Ramon tertawa renyah.
"Tak ada perasaan apapun untuk Bella. Sungguh, aku sungguh hanya sebatas penasaran saja pada lelaki itu," jawab Ramon sambil menyesap ujung rokoknya.
"Aku, aku kasihan pada Bella, Livia. Tetapi bukan berarti aku menyukainya. Dia bukan tipe ku. Kau tahu itu," ungkap Ramon lagi.
"Lantas, bagaimana perasaanmu? Wanita seperti apa yang kau inginkan?" tanya Livia lagi.
"Aku menginginkan wanita kuat dan tidak bergantung dengan siapapun. Istilahnya, wanita mandiri. Aku perhatian pada Bella, karena Bella adalah istri dari sahabatku," ungkap Ramon kemudian.
"Maaf, aku salah sangka. Jika memang kau penasaran sekali tentang lelaki yang baru saja bersama Bella itu, alangkah baiknya kau mendatangi Bella malam nanti?" tanya Livia kemudian.
"Ide bagus," jawab Ramon sambil tersenyum.
Livia terdiam, menikmati rasa sakitnya seorang diri. Sejujurnya, Livia menaruh hati skslaigus harapan untuk dapat bersama Ramon. Tetapi sayangnya, Livia tak bisa berbuat banyak. Satu hal yang Livia mampu adalah, ia bisa mencari tahu banyak hal tentang Ramon.
'Andai kau tahu bagaimana perasaanku, Ramon. Aku rasa kau mungkin akan lebih merangkul ku dalam dadanya.'
__ADS_1
Batin Livia.
**