Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran

Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Episode 20


__ADS_3

Latar belakang iri.


Sebuah kepercayaan, yang dikhianati dengan sangat kejam oleh pelakonnya, terkadang seringkali menimbulkan percikan api permusuhan. Sejak awal harusnya Bella tahu, dirinya tidak patut memberikan kepercayaan penuh, meski pada orang terdekatnya sekalipun. Kini, dihadapkan dengan sebuah fakta yang menyakitkan, nyatanya membuat kepercayaan itu tergilas tanpa sisa.


Entah bagaimana caranya, lelaki yang tengah membawa Bella, membawa Bella ke dalam terowongan dengan membawa mobil. Bella dibuat bertanya, hendak dibawa kemana dirinya. Namun sayang, Bella tak ingin banyak bertanya.


Hingga mobil yang mereka kendarai terlepas dari terowongan, Bella baru sadar, bahwa kini mobil yang membawanya telah sampai di sebuah rumah. Rumah bawah tanah yang tak diketahui oleh siapa pun.


"Silahkan, nyonya. Tuan ada di dalam menunggu anda," ujar lelaki itu. Bella mengangguk, membiarkan dirinya dibukakan mobil oleh seorang lelaki yang menggunakan topeng yang sama, dengan lelaki yang pertama kali Bella temui bersama night Demon.


Tak terkejut lagi, Bella menatap datar dua wanita yang terikat kaki dan tangannya, pada sebuah kursi kayu jati yang kuat.


Lain Bella, lain lagi dengan dua wanita itu. Mereka menganga tak percaya, seolah mereka masih berada di dalam permainan mereka sendiri.


Kebohongan, serapat apapun menutupinya, tentunya akan tetap tercium juga busuknya.


"Bella .... "


"Nyonya .... "


Gumam dua wanita tersebut. Bella menatap datar dua wanita itu. Bella sudah bertekad sebelumnya, ia akan meneguhkan pendiriannya, untuk menegakkan keadilan kematian anak dan suaminya setahun yang lalu.


Tatapan mata Bella terpaku pada seseorang yang memakai topeng di sudut ruangan, tengah memegang senapan laras panjang, dan mengarahkan moncongnya tepat pada kepala keduanya.


Bella yang mengenal perawakannya, bisa menyimpulkan bahwa itu adalah night Demon. Lelaki itu menatap lurus dua orang yang tengah diikat kuat itu.


"Apa kabar, Livia, dan kau, Syua?" Tanya Bella, yang kini tengah berdiri, menatap tajam mereka. "Maaf mengganggu tidur kalian diwaktu dinihari begini," tambah Bella lagi.


Baik Syua maupun Livia, mereka menganga tak berdaya. Pengkhianatan seperti yang telah mereka lakukan, tak mungkin bisa menyembuhkan luka Bella meski setahun lamanya telah berlalu.

__ADS_1


"Bella, akhirnya kau tahu juga," ungkap Livia dengan suara pelan. Senyum kecil terbentuk pada bibirnya yang merah.


"Ya, seperti yang kau lihat. Aku bahkan telah mengetahui semuanya," Bella menatap datar dua ular di hadapannya ini.


"Kau mau membunuhku?" Livia terlihat pasrah, dengan senyum hangatnya. Dulu, Livia pernah memiliki senyum ini. Sayangnya, kini Bella tak Sudi lagi untuk menerimanya.


Jangan tanya bagaimana hancurnya perasaan Bella. Bella tak mungkin tega membungkam seseorang yang demikian dekat dengannya. Tetapi karena mereka berdua telah membunuh Daniel, Bella terpaksa menempuh jalur ini.


Bella ingat betul, tak mudah menemukan Night Demon, untuk mencari pelaku.


"Jangan khawatir, aku ingin bertanya banyak hal padamu, dan juga pada Syua. Termasuk bagaimana dengan rencana kalian selanjutnya? Kalian tertarik menyeret Ramon dan Max yang tak tahu apa-apa itu? Baiklah, kali ini aku akan kembali bertanya, apa motif kalian bersedia bekerja pada Luis Edward? Mengapa harus Daniel dan putraku yang menjadi korbannya? apakah selama ini, Daniel tidak pernah bersikap baik pada kalian?" tanya Bella datar.


Baik Syua maupun Livia, sama-sama bungkam.


"Katakan padaku, Syua, Livia, berapa kau dibayar oleh Luis Edward? Apakah itu setara dengan harta yang aku miliki? Dan kau, Syua, bukankah sebuah kerugian besar, mengingat kau hingga saat ini masih menjadi pelayan di rumah Daniel? Jika kau mau, bukankah Daniel mampu menggaji dirimu lebih mahal, daripada bayaranmu menjadi pengkhianat?" tanya Bella bertubi-tubi.


"Nyonya .... " Baru saja Syua membuka mulutnya, Bella menyela lebih dulu.


"Saya memang bersalah, Nyonya. Tetapi saya menyesali semuanya," jawab Syua pendek.


"Dasar ular," maki Bella dengan suara lembut dan nada yang pelan.


"Kau berkata kau bersalah dan menyesali semuanya, sementara kau berencana membantu musuh Daniel untuk melenyapkan siapapun gang menjadi pelindungku, Max dan Ramon. Kau masih waras, Syua?" tanya Bella.


Baik Livia maupun Syua, diam tak berkutik. Mereka benar-benar menyesal. Tetapi sayangnya, penyesalan mereka telah terlambat. Bella tak akan lagi percaya dengan mulut mereka. Kini, kedua budak musuh mendiang Daniel itu, menatap Bella dengan tatapan terkejut.


"Bel, sungguh. Aku benar-benar tak ingin melenyapkan Ramon. Tetapi orang-orang Luis menekan diriku, dan aku tak berkutik untuk sekedar menolak. Percayalah, Bella. Percayalah, mereka mengancam aku akan membunuhku jika sampai aku menolak bekerja sama dengan mereka lagi. Percayalah, Bella. Aku, aku dan Syua tak memiliki cara lain," ungkap Livia.


"Sayangnya, aku tak percaya pada mulut kotor kalian lagi. Kepercayaan yang sudah lama aku berikan pada kalian, kini sudah mati. Sekarang, bersiaplah untuk kalian menyusul Daniel, merasakan kematian yang menyakitkan!" seru Bella dengan pelan.

__ADS_1


Mata tajam night Demon melirik Bella, menunggu jawaban pasti, untuk mengeksekusi semuanya.


"Kau, apakah kau dibantu oleh suami barumu?" tanya Livia memberanikan diri. Tatapan matanya terarah pada lelaki bertopeng yang memegang senjata di sudut ruangan, siap memanggil malaikat kematian kapanpun yang lelaki itu mau.


"Kau curiga?" tanya Bella balik, menatap datar orang yang sangat dibencinya itu.


"Aku hanya bertanya. Tetapi andai kali ini aku berhasil lolos darimu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Livia.


Berbanding terbalik dengan Livia, Syua justru lebih banyak diam. Wanita itu terlihat sekali, memendam penyesalan, penyesalan yang terlambat. Night Demon saja melihat itu dengan jelas. Ada sebuah keadaan yang membuat Syua terpaksa melakukanya.


"Tak ada. Mengapa, mengapa Livia, mengapa kau dengan tega melakukan itu padaku, setalah kebaikan yang aku lakukan untukmu?" tanya Bella dengan menatap nanar Livia.


Livia tertawa lantang, menatap Bella dengan bara kebencian. Dasar wnakta ular!


"Kau yakin kau ingin mendengar alasanku, Bella? Kau yakin kau kuat mendengar alasanku?" tanya balik Livia.


"Katakan!" seru Bella dengan sengit. Tak ada nada datar yang sejak tadi bertahan pada kalimat Bella.


"Kau terlalu sempurna dan kau terlalu bahagia, Bella. Bahkan ketika kau menikah dengan Daniel dan memiliki anak, aku iri dengan semua bahagia yang kau miliki. Kau terlalu sempurna, hingga membuat semua orang menggilaimu, termasuk Daniel yang aku suka, dan juga Ramon!" seru Livia kemudian, "kau mengambil semua cintaku!"


Bella tak berdaya, dan tubuh ringkihnya meluruh ke lantai. Dada Bella terlalu sesak mengetahui fakta, bahwa selama ini sahabat terbaiknya, rupanya penuh kepalsuan.


"Kau memang pantas mati. Kalian berdua harus merasakan apa yang Daniel rasakan," Teriak Bella.


Dor dor dor dor ....


Empat tembakan terarah pada kepala Livia dan Syua.


Inilah akhirnya, inilah jalan menuju puncaknya. Kematian yang dilatar belakangi oleh dendam, seolah menjadi lingkaran setan yang mencerai berai hubungan baik seseorang.

__ADS_1


**


__ADS_2