
Sumpah setia Max.
Ethan berjalan dengan langkah teratur di sebuah gedung. Langkah kakinya tak bersuara, menciptakan kesan menakutkan bagi siapapun yang memperhatikannya. Sayangnya, tak ada satu orang pun yang memperhatikan pria yang tengah mengenakan masker dan topi itu.
Siang hari ini, seorang motivator sekaligus publik figur tengah mendatangi gedung itu, untuk melakukan konferensi pers. Beberapa media dan tamu yang diundang untuk hadir, sudah menunggu di dalam, seolah mereka tengah menunggu harta karun datang.
Beberapa pengawalan ketat dari arah pintu masuk, menarik perhatian Ethan. Lelaki itu datang dengan setelah pakaian Hitam dengan kemeja putih bergaris biru. Jaket hitam serta topi yang menjadi andalannya, melekat sempurna menutupi gesture tubuhnya. Tak lupa, masker hitam dengan kacamata berwarna serupa, menutup sempurna wajah Ethan.
Sebuah id card yang menggantung di dada Ethan, menunjukkan seolah lelaki itu datang sebagai wartawan pemburu berita. Jam tangan murah dengan harga tak lebih dari dua puluh dolar, menghiasi tangannya. Sengaja Ethan memakai barang-barang murah untuk menutupi jejaknya.
Lelaki itu naik ke lantai atas, dengan menggunakan perjalanan melalui anak tangga. Bila sedikit saja Ethan menampakkan siluet tubuhnya pada CCTV depan ruang lift, bisa dipastikan dirinya akan mudah disorot dan dicari jejaknya. Beruntung, media untuk naik ke lantai atas tak disorot oleh kamera CCTV.
Setibanya di lantai atas, Ethan melihat sekeliling yang tampak sepi. Sebuah gudang tak terpakai yang dulu pernah menjadi pembuangan alat kebersihan yang tak terpakai, menjadi pilihan Ethan.
Sejenak, ruangan itu terlihat angker bagi sebagian orang. Tetapi Ethan justru suka dan malah memakainya sebagai tempat persembunyian sementara. Sebagai pembunuh professional dan memiliki kepribadian introvert, Ethan tak suka keramaian, dan suka menjalankan aksinya seorang diri. Tak ada anak buah, juga tak ada pengawal yang melindunginya.
Lelaki itu mengeluarkan teropong dari dalam tasnya, memastikan tak ada satupun mata yang melihatnya. Seorang Ethan, memiliki ketajaman insting dan kekuatan naluri yang terasah sejak Ethan berusia sembilan tahun. Jiwanya seolah telah disetel untuk memiliki kewaspadaan yang tinggi. Sedikit saja ada pergerakan yang berbau mencurigakan, Ethan selalu tahu.
Sebuah pistol yang telah terisi peluru, moncongnya terarah tepat pada kening sasaran. Lelaki yang separuh rambutnya telah berubah putih itu, tinggal beberapa detik lagi berjumpa dengan malaikat kematian. Entah bagaimana caranya, mendadak Ethan tersenyum iblis.
__ADS_1
Satu tembakan tepat mengenai kening tengah lelaki itu. Tak butuh banyak tembakan, sekali saja peluru menembus kepala lelaki itu, lelaki itu menggelepar dengan darah yang tercecer ke lantai yang dingin.
Teriakan, suara langkah, disertai dengan suara gaduh para wartawan yang hadir, berhasil membuat Ethan lolos. Lelaki itu menuju jendela besar, keluar dari sana dan turun ke bawah melalui sebuah tiang, dengan gaya khasnya yang anggun. Tak lupa, sarung tangan yang tadi ia kenakan untuk menggerakkan pistol, sudah berada di dalam kantong jaketnya untuk Ethan bakar nanti.
Tak ada satu orang pun yang perhatian pada pergerakan Ethan, lelaki itu berjalan dengan tegap, menenteng tas ranselnya dengan gaya anak kuliahan. Sialan, usia dua puluh sembilan tahun tetapi memiliki style ala anak kuliahan. Ini sulit dipercaya.
Sebuah senyum tercetak pada bibir Ethan, senyum iblis yang hanya tuhan dan Ethan sendiri yang tahu, apa maknanya.
**
Di kediaman Ronnie, janda mendiang Ronnie itu demikian syok dengan berita yang baru saja beredar di televisi.
Lelaki yang terkenal baik dan dermawan itu, siapa yang mengira, bahwa ia memiliki musuh? Pembawaan ramah dan juga baik, nyatanya tak menjadi jaminan untuk seseorang tak memiliki musuh tersembunyi.
Spontan saja Max yang ada disebelah Bella menatap tak percaya. Berita yang baru saja dikatakan oleh pembawa acara, cukup membuat Bella dan juga Max menganga tak percaya.
"Martin Jordi? Kurasa orang sebaik dirinya tak memiliki musuh, Max. Aku pikir, hanya Daniel yang punya banyak musuh saingan bisnisnya. Astaga, aku salah sangka rupanya," Bella mengerjapkan matanya tak percaya.
"Saya juga berpikir demikian, nyonya. Tetapi bila dipikir-pikir, setiap orang baik pasti memiliki hatersnya tersendiri. Banyak yang tak suka dan menghujat kebaikan orang, tersebab sebuah rasa iri. Kita tak bisa menebak kasar," jawab Max kemudian.
__ADS_1
"Aku percaya jika ada yang mengatakan bahwa dunia itu kejam, Max. Daniel mati di tangan musuhnya. Padahal jikaa dilihat dari kepribadian Daniel yang menyenangkan dan pembawaan yang kalem, kurasa hanya orang tolol yang memusuhinya," ungkap Bella mengeluarkan unek-uneknya.
Max tersenyum maklum, saat emosi majikannya itu meledak. Ada banyak hal yang mampu membuat Max begitu setia pada Bella, selepas Daniel tiada. Selain cinta tulus yang begitu besar milik Bella untuk Daniel, Max bisa melihat bagaimana usaha Bella mencari keadilan.
"Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk berbuat baik terhadap kita, Nyonya. Sejatinya, kita akan selalu salah di mata orang yang membenci kita. Sebaliknya, kita akan selalu didukung oleh siapapun yang memandang kita dengan ketulusan. Itulah mengapa, mendiang Tuan besar selalu mengatakan bahwa yang utama adalah ketulusan. Letakkan ketulusan dan prasangka baik diatas segalanya," Max mencoba untuk bernostalgia kembali dengan kenangan saat berbincang dengan Daniel.
Dari beragam kejadian yang menyertai dunia bisnis, Max tak jarang menemukan intrik kotor dalam karakter seseorang yang manipulatif. Bila sedikit saja Daniel lengah, mungkin sudah sejak berusia muda Daniel tewas di tangan para pesaing bisnisnya. Banyak ditemui, para relasi bisnis Daniel yang menunjukkan betapa mereka menghalalkan segala cara untuk merebut dunia dan isinya.
Sayangnya, saat ini Daniel telah kalah dalam taktik. Musuh Daniel bukan hanya satu, melainkan ada banyak dari kalangan bisnis yang sama.
"Ya, kau benar, Max. Tidak semua orang baik, kita pun tidak bisa memaksa seseorang untuk berbuat baik pada kita. Hanya saja, kita tak boleh lelah untuk berbuat baik terhadap sesama manusia. Segala kebaikan, Tuhan tak akan menutup mata untuk itu," Bella berkata, sambil matanya menatap nyalang jasad Martin Jordi yang tengah dikerumuni massa.
"Bagaimana menurut anda, nyonya? Apakah Martin Jordi termasuk orang yang baik, atau tidak?" tanya Max kemudian.
Bella tersenyum, menatap Max dengan pandangan yang hangat sambil berkata, "Aku tak tahu kesehariannya, Max. Kau tahu, bahkan dalam satu keluarga, belum tentu kita mengenal betul bagaimana karakter dan pembawaan sifat salah satu anggota keluarga. Hanya seorang ibu ayah dan anak-anak lah yang mengetahui bagaimana karakter seseorang itu sendiri. Jika saudara, itu belum tentu," jawab Bella masuk akal.
Max diam-diam mengagumi pola pikir polos majikan wanitanya itu. Pantas saja Daniel dulu begitu tergila-gila. Kepolosan dan kebaikan hati Bella, menarik perhatian siapapun. Bella hanya tidak tahu, sekejam apa intrik dalam lingkungan kediamannya saat ini.
Sebisa mungkin, Max akan menjaga Bella seperti sumpahnya dulu pada mendiang Daniel.
__ADS_1
**